Aku Bukan Wonder Woman

Aku Bukan Wonder Woman
Cari Gara-gara


__ADS_3

"Tadi laki Lo, gw kasih duit 400 ribu." Kata Bang Tino.


"Lo suka dikasih gak?" Tanya Bang Tino.


Sena hanya mengangguk. Sena gak pernah dapat uang yang lumayan besar dari Fajri selama ini.


Tak lama Fajri datang membawa barang dagangan Bang Tino. Dia bergegas menurunkan dari motor.


Sena sudah selesai merapihkan jahitan yang akan dia bawa ke kontrakan.


Rizki sedang terlelap, Alvi selalu menjaganya. Sena merapihkan perlengkapan Rizki.


Fajri sudah selesai menurunkan barang-barang. Dia bergegas ke dapur untuk cuci tangan.


Kemudian... "Anak Ayah bobo..." Fajri mengganggunya dengan menciumi pipinya. Akhirnya Rizki terbangun dengan senyuman karena melihat sang Ayah.


"Sudah Yah?" Tanya Sena.


"Aku sudah selesai." Kata Fajri.


Sena dan Fajri berpamitan. Mereka berjalan kaki menuju kontrakan.


"Susu Rizki abis, Yah." Kata Sena.


"Beli lah..." Kata Fajri. "Aku gak pegang uang. Uang jahitan Aku sudah Aku bayarkan kontrakan." Kata Sena pelan.


Fajri menghela nafas. "Aku juga gak punya uang." Kata Fajri bohong.


Entah apa yang ada difikiran Fajri, padahal baru saja Abangnya mengatakan Fajri menerima uang 400 ribu dari Abangnya.


Sena menghela nafas. Dia benar-benar kecewa pada suaminya. Selama ini Vina selalu membelikan susu untuk Rizki, Fajri keenakan karena banyak yang membantu.


___________________


Hari ini Bang Tino ke kontrakan Sena bersama Fajri dan Abang Ipar Anto. Anto memang sudah menikah sebulan yang lalu tak lama dari pernikahan Reza.


"Tumben siang-siang udah pada pulang?" Tanya Sena.


"Ya mau jemput barang." Kata Fajri.


"Udah ada belum Yah uang buat beli susu?" Tanya Sena lagi.


"Aku gak punya duit." Kata Fajri pelan.


"Semalam kata Bang Tino bilang, Ayah dikasih duit 400 ribu." Sena mengrucutkan bibirnya.


"Kamu itu gak percaya banget sih!?" Fajri membentak Sena di depan Bang Tino dan Bang Lili.


"Nih duit! Ambil tuh!" Fajri melepar uang seratus ribuan ke wajah Sena.


Sena menangis. Dia tak memungut uang itu.

__ADS_1


"Ambil tuuuhhh..!!! Katanya mau beli susu..!!??" Bentak Fajri.


"Emang Aku apaan? Ngasih duit dilempar. Aku minta baik-baik tapi begini cara ngasihnya!" Sena jadi terpancing.


"Oohh dah berani ngelawan ya! Mentang-mentang ada abang Lo, gitu?!" Fajri seperti jagoan.


Sena hanya menangis. Rizki melihat kearah Mama nya dan Ayahnya.


"Eehh kok malah ribut? Malu...." Kata Bang Tino.


Bang Tino memungut uang yang dilempar Fajri. "Sudah sana beli susu. Jangan ribut." Kata Tino pelan mencoba menenangkan Sena.


"Ngapain Abang pungut uang itu?! Memangnya Aku gak punya harga diri dikasih uang dilempar begitu?!" Sena masih kesal.


"Apa Kamu bilang?!" Fajri tersulut emosi karena perkataan Sena. Dia ingin mendamprat Sena tapi dihalangi Bang Tino.


"Sudah Ji.. gak boleh gitu. Kamu juga salah, ngasih duit dilempar." Kata Bang Tino.


"Sudah Sena kalau mau beli susu.. Kasihan tuh Rizki nanti susunya abis." Kata Bang Tino yang mengusap airmata Sena.


Sena mengangguk. Dia bergegas menggendong Rizki. Fajri mau membantu Sena memasangkan gendongan tapi Sena menepisnya. Sena masih kesal dengan Fajri.


Fajri malah memeluk Sena. "Maafin Aku... Aku memang cuma megang duit segitu. Semalam memang Bang Tino ngasih 400ribu, tapi kata Dia suruh disimpen buat jaga-jaga." Kata Fajri setengah berbisik.


"Ya tapi gak pake cara ngelempar itu duit?! Selama ini Aku gak pernah minta-minta. Aku juga minta buat anak Kita, bukan buat keperluan Aku!" Kata Sena yang masih kesal.


Fajri menciumi wajah Sena. "Ya sudah kalau mau beli susu, hati-hati." Kata Fajri yang tetap memaksa membantu memasangkan gendongan pada Sena.


Tak lama Sena sudah pergi keluar membeli susu di sebuah mall yang tak jauh dari kontrakan Mereka. Karena Sena sudah mencari di warung, tak ada yang menjual susu formula.


Rizki sangat senang dibawa Sena naik angkot. Hanya 5 menit Mereka naik angkot, Sena tiba di Mall itu.


Sena bergegas membeli susu formula untuk Rizki dan beberapa keperluan rumah tangga, seperti sabun dan detergen juga pelembut pakaian.


Sena pun membayar belanjaannya. "Sudah yuk Sayang... Kita pulang." Kata Sena.


Rizki hanya tertawa senang karena diajak jalan-jalan.


Tak sampai satu jam Sena meninggalkan rumah. Dia sudah tiba di kontrakan. "Kenapa pintunya ditutup?" Batin Sena.


Sena membuka gerbang terasnya. Sena melihat ada cahaya biru diruang tamunya.


Tapi buru-buru hilang ketika Sena mengetuk pintu. Sena sangat heran tapi tak ada bau.


Sena memandang wajah Suami, Abangnya juga Bang Lili. Tak ada reaksi.


Abang Tino cengar cengir. "Kok cepet banget pulangnya? Gak jadi beli susunya?" Tanyanya.


"Sudah nih." Sena menunjukan belanjaannya. "Ngapain lama-lama, orang beli susu aja." Kata Sena sekenanya. Dia masih curiga apa yang sebenarnya dilakukan Mereka dikontrakannya.


Tak lama Mereka berpamitan karena ada kabar dari yang mau jual barang.

__ADS_1


Sepeninggal Mereka, Sena mencari-cari benda apa yang tadi Abang dan Suaminya buat dirumah ini. Tapi tak menemukannya.


Sena menghela nafas. "Bodo ah. Yang penting susu Rizki aman untuk seminggu ke depan." Sena tersenyum.


Tapi dalam hati Sena mengancam kalau Abang dan Suami nya berbuat macam-macam.


_____________________


Bu Juju menjual kontrakannya. "Bu Sena, sekarang pemilik kontrakan ini bukan Saya lagi." Kata Bu Juju memberitahu. Bu Juju juga memperkenalkan pemilik baru kontrakan.


"Ya Bu Juju... Sayang sekali. Saya sudah dekat dengan Ibu." Sena seperti punya perasaan tak enak dengan pemilik baru kontrakannya.


Ibu yang punya kontrakan memperkenalkan bersama dua orang anak laki-lakinya yang juga sudah beranjak dewasa.


"Nanti setiap tanggal 2 Saya kesini ya, Bu. Paling lambat tanggal 5." Kata Ibu itu.


"Tapi Bu, Saya masuk kontrakan ini tanggal 25." Kata Sena.


"Ya gak apa, Bu. Saya menghitungnya dari awal bulan saja." Katanya.


"Baiklah kalau begitu." Kata Sena.


Mereka pun berpamitan pada Sena dan penghuni kontrakan sebelah Sena. Tak lama.


"Kak Sena..." Panggil tetangga sebelah.


Sena yang baru saja akan masuk kedalam rumah, kembali keluar. "Ya Mama Ozi, ada apa?" Tanya Sena.


"Kok kayanya Saya kurang sreg deh sama pemilik baru." Kata Mama Ozi.


Sena tersenyum menanggapi perkataan Mama Ozi. "Mudah-mudahan saja, sama baiknya dengan Bu Juju." Kata Sena.


"Iya ya Kak Sena. Saya kalau yang baru judes, Saya mau pindah saja." Kata Mama Ozi.


Sena terkekeh. Mereka pun ngobrol. "Kak Sena ngerasa gak kalau rumah ini ada penghuninya?" Tanya Mama Ozi.


"Oh ya... Saya kalau lagi di kamar mandi, lagi nyuci atau cuci piring kaya ada yang nengok. Tapi pas Saya lihat gak ada." Kata Sena.


"Sama berarti. Saya juga. Tapi kata Papa nya Ozi, yang tinggal disini baik kok, 'Dia' hanya ingin bersih." Jelas Mama Ozi.


Sena pun mengangguk dan pamit masuk kedalam rumah.


Sena memikirkan perkataan Mama Ozi. Sena teringat waktu malam-malam, waktu belum ada Rizki, Mereka baru saja tiba di kontrakan. Fajri keluar beli nasi goreng dan Sena bergegas mandi.


Sena terlupa, sabun mandi habis. Dia memakai asal handuknya, tiba-tiba gelas diatas kulkas bergoyang kekiri dan kekanan. Sena sempat terpana.


"Astaghfirullaah..." Sena buru-buru membetulkan handuknya dan bergegas mandi. Tapi tak ada rasa takut atau khawatir dalam diri Sena


Mungkin mahluk itu kaget melihat Sena yang tiba-tiba keluar dari kamar mandi.


Sena tersenyum mengingat hal itu.

__ADS_1


__ADS_2