
Fajri tak menyerah. Dia terus menghubungi Sena.
Sena sudah terjepit. Kakaknya Sella terus saja bawel mengingatkan Sena.
Mau gak mau Sena mengangkat panggilan telpon dari Fajri.
"Dek... Kenapa gak diangkat-angkat?" Fajri langsung membrondong pertanyaan kala Sena menjawab panggilannya.
"Aku gak denger, Mas." Alasan Sena.
"Kenapa Kamu gak balik telpon?" Tanya Fajri tak suka.
"Gak ada pulsa Mas." Kata Sena lagi.
"Kamu dimana sekarang? Aku jemput sekarang." Kata Fajri akhirnya.
"Ngapain Kamu jemput Aku, Mas?" Tanya Sena.
"Nanti Kita bicarakan setelah bertemu." Kata Fajri.
Sena menghela nafas. Dia tak ada pilihan selain memberitahu keberadaannya. Dia sendiri bingung mau kemana. "Ya Allah... Semoga Mas Fajri tak membohongiku lagi." Sena melamun.
"Dek..." Panggil Fajri.
"Eh iya Mas... Maaf." Kata Sena.
"Malah bengong." Kata Fajri.
"Aku di rumah Sela, Mas." Akhirnya.
"Baiklah....Aku akan kesana sekarang. Kamu siap-siap ya." Pinta Fajri.
"Iya Mas." Kata Sena. Dia memutuskan sambungan telpon.
"Cieeee... Cieee... Ditelpon bebeb." Goda Alpa.
Sella mencubit tangan Alpa.
"Sella... Aku mau merapikan pakaianku..." Kata Sena.
"Kamu akan pergi dengan Fajri?" Tanya Sella.
"Aku gak ada pilihan Sella.." Sena menghela nafas. Perasaannya gak enak.
Sella mengangguk. Dia melihat wajah Sena yang murung. "Kalau ada apa-apa, Kamu kesini lagi aja..." Kata Sella yang merasakan kesedihan Sena.
"Terima kasih Sella... Sudah mau menampung Aku disini." Kata Sena.
"Maaf Aku gak bisa kasih apa-apa buat Kamu." Kata Sella.
"Gak apa Sella... Tiga hari disini, Aku sudah sangat merepotkan." Kata Sena. Sena mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu. Dia menyerahkan pada Sella.
"Apa ini Sena?" Tanya Sella bingung.
"Buat bantu bayar air. Selama disini Aku pakai air sangat boros." Kata Sena.
Sella mengembalikan uang Sena. "Kamu simpan saja. Buat beli susu Rizki. Aku ada kok buat bayar air."
"Tapi Sella...." Kata Sena tak enak.
__ADS_1
"Sena... Kita berteman sudah lama. Dulu waktu Aku sakit, Kamu yang menjengukku. Waktu Aku bersedih, Kamu yang menghiburku. Waktu pernikahan Maya dan Ani, Kamu membantu Kita disini. Semua yang Kamu lakukan tak sebanding dengan menampungmu selama tiga hari disini... Kak Novi aja yang gak punya perasaan..." Sella mengrucutkan bibirnya.
"Kamu gak boleh marah sama Kak Novi. Itu hak Dia mau terima atau menolak tamu yang datang kesini. Ini kan rumah kalian." Kata Sena.
"Ya tapi kan Kamu sedang kesusahan..." Kata Sella lagi.
Sena tersenyum. "Kamu doakan saja, setelah hari ini, hidupku akan lebih baik." Pinta Sena.
"Aamiin...." Kata Sella dan Sena.
Satu Jam Kemudian.
Motor Fajri terparkir di depan teras rumah Sella.
"Sena... Laki Lo udah datang tuh." Kata Alpa.
Sena bergegas keluar. Rizki sedang tidur.
"Gak usah dibangunin. Tunggu saja sampai anak Kamu bangun." Pinta Sella.
Sena mengangguk. Dia meninggalkan Rizki yang terlelap di kasur Sella.
Cuaca hari ini sangat panas. Sepertinya akan turun hujan sore nanti.
Sena keluar dan mendapati Fajri yang sedang duduk di bangku teras.
Fajri melihat Sena. Dia langsung memeluk tubuh Sena. "Kamu baik-baik saja, kan?"
Sena mengangguk. Fajri melerai pelukannya. "Anak Aku mana? Jangan bilang Kamu gak membawanya..." Fajri terlihat gusar.
Sena menghela nafas. "Gak mungkinlah Aku meninggalkan Anak Aku." Sena mengrucutkan bibirnya.
"Lagi tidur. Sella melarangku membangunkannya. Nanti saja perginya kalau Rizki sudah bangun." Jelas Sena.
Fajri menghela nafas lega.
"Sena....Ajak masuk sini." Kata Sella.
"Gak usah Sella... Disini aja." Kata Fajri.
"Kamu mau kopi Mas?" Tanya Sena.
"Mau kalau ada." Kata Fajri.
Sena beranjak dari duduknya. Dia pergi ke dapur untuk membuat kopi. Sella memang suka minum kopi. Jadi Sena menawarkan Fajri kopi.
"Mama...." Panggil Rizki dari dalam kamar. Rizki mencari Sena. "Mama..." Rizki berjalan keluar kamar. "Mama...." Panggilnya lagi.
"Eehhh.. Anak pinter udah bangun...!" Teriak Alpa. "Sini sama Tante...!" Ajak Alpa.
"Nda au..." Kata Rizki yang menggembungkan pipinya.
"Ya ampun... Ngegemesin banget sih." Alpa menghampiri Rizki. Dia ingin menggendong Rizki tapi Rizki menolaknya.
"Nda au...!" Teriak Rizki.
"Alpa... Jangan dipaksa.." Kata Sella.
"Sini Nak..." Kata Sella. "Mama lagi di dapur." Kata Sella.
__ADS_1
"Rizki..." Panggil Fajri yang masuk ke ruang tamu karena mendengar suara Rizki.
"Ayaaahhh..." Rizki berlari menghampiri Fajri.
Sena terpaku di pintu menuju ruang tamu. Dia melihat Rizki yang memeluk Fajri dan menciumi wajah Fajri.
"Anak Mama sudah bangun..." Tegur Sena.
Rizki menoleh. Dia melerai pelukannya dan langsung menghampiri Sena. Rizki memeluk kaki Sena.
"Mas maaf... Ini kopinya." Kata Sena yang tak bisa bergerak karena Rizki memeluk kakinya.
Fajri langsung menggendong tubuh Rizki. "Sama Ayah aja ya..." Kata Fajri seraya mencium pipi Rizki.
Sena membawakan kopi untuk Fajri ke teras. Fajri juga sudah duduk di teras sambil memangku Rizki.
Fajri mengeluarkan rokoknya. Fajri memasukan rokoknya ke mulut dan hendak mengambil koreknya.
Rizki langsung mengambil rokok Fajri dan mematahkannya. Kemudian patahan rokok itu Dia lempar ke jalan.
"Kok rokok Ayah dibuang sih?" Tanya Fajri lembut.
"Ayah ndak oyeh okok..." Kata Rizki.
Sena hanya tersenyum melihat kelakuan Rizki. "Biar tahu rasa." Batin Sena.
"Tapi Ayah mau ngopi sambil ngerokok." Kata Fajri.
Rizki menarik kumis Fajri yang mulai tumbuh karena sudah jarang dicukur.
"Aduuuhhh.... Ampuuun... Galak banget iiihh..." Canda Fajri.
Rizki langsung turun dari pangkuan Fajri. Fajri memegangnya agar tak jatuh.
Rizki langsung pindah ke pangkuan Sena. "Ayah au..." Kata Rizki.
Sena mencium pipi Rizki. "Kamu juga bau belum mandi." Canda Sena.
"Jadi gimana Dek? Kamu mau ya ikut sama Aku. Nanti Kita cari rumah petakan. Kalau Kamu mau kerja, nanti Aku yang jaga Rizki. Atau kalau Aku kerja, Kamu bisa mgewarung lagi." Kata Fajri.
"Tapi untuk awal hidup Kita, Kamu jual dulu barang-barangmu yang ada di rumah Bunda." Kata Fajri.
Sena menghela nafas. Dia memang masih mencintai Fajri. Walau Fajri sering menyakitinya tapi Fajri sangat pintar membuat Sena membuka hatinya lagi.
"Atau nanti Kita cari kontrakan dekat kawasan biar Kamu bisa menjahit konfeksi atau dibawa pulang. Jadi Rizki juga ada yang urusin." Kata Fajri lagi.
"Terus Kamu ngapain, Mas? Kamu tidur aja di rumah?" Tanya Sena.
"Ya gak lah... Aku juga akan mencari kerja." Kata Fajri mencoba meyakinkan Sena.
Sena dari tadi memperhatikan motor Fajri yang terlihat masih baru. Fajri memang pernah mengatakan kalau Dia akan kredit motor lagi.
Sena, Rizki dan Fajri pun akhirnya berpamitan pada Sella. Sella juga berpesan pada Fajri agar menjaga dan membahagiakan Sena dan Rizki. Fajri hanya tersenyum, entah apa yang ada dibenaknya.
"Kita mau kemana, Mas? Aku gak mau pulang ke rumah Bunda." Kata Sena di perjalanan.
"Kita ke tempat kos-kosan Tante. Kayanya masih ada kamar kosong disana. Sambil nanti Aku cari kontrakan untuk Kita." Kata Fajri.
Sena mengangguk. Fajri menarik tangan Sena agar memeluknya. Sena hanya menurut.
__ADS_1
Hari mulai gelap karena langit mendung di sore hari. Fajri mempercepat laju motornya.