Aku Bukan Wonder Woman

Aku Bukan Wonder Woman
Bebas


__ADS_3

Andi sering menghubungi Sena. Sena sering curhat pada Andi.


"Kamu gak usah sedih lagi yah." Kata Andi.


Andi banyak cerita tentang hubungan Rasya dengan Milla selama ini.


"Kenapa Abang gak pernah cerita?" Tanya Sena.


"Abang gak mau merusak hubungan Kamu. Abang melihat Kamu sangat bahagia dengan Rasya." Kata Andi.


"Kalau Abang udah tahu Rasya tidak baik, kenapa Abang kasih nomor Sena ke Rasya?" Sena tak mengerti.


"Abang gak pernah ngasih ke Rasya. Tapi Rasya sendiri yang meminta pada Abang. Dan tanpa ijin, Dia langsung menyimpan nomor Kamu." Jelas Andi.


Sena menghela nafas.


"Sena.... Sebenar nya Abang juga suka sama Kamu...." Tiba-tiba Andi menembak Sena.


"Haaahhh??!!" Sena sangat terkejut. "Tapi...."


"Yah Abang tahu, Kamu baru saja terluka. Tapi Abang janji akan mengobati luka Kamu. Abang gak akan berkhianat seperti Rasya." Janji Andi.


Sena menghela nafas.


"Sebulan lagi Abang bebas, Sena." Kata Andi.


"Lalu?" Tanya Sena.


"Abang janji, Abang akan mencari kerja apa aja yang penting halal. Abang akan menafkahi Kamu dengan hasil yang halal. Kamu mau kan?" Andi terdengar memaksa.


"Maaf Bang... Sena masih trauma." Kata Sena.


"Iya Abang ngerti. Tapi Kamu jangan menjauh dari Abang yah. Abang ingin mengenal Kamu lebih dekat. Abang juga ingin Kamu tahu kalau Abang sungguh-sungguh." Janji Andi.


Sena menghela nafas. "Sena akan coba. Tapi jangan memaksa Sena." Pinta Sena.


"Abang gak akan maksa Sena. Kamu mau menerima telpon Abang aja, Abang udah seneng banget." Kata Andi.


____________________________


Hari demi hari berlalu. Perhatian Andi membuat Sena luluh. "Mungkin benar kata orang, Obat sakit hati bisa terobati dengan hati." Batin Sena.


"Dek... Tiga hari lagi Abang bebas. Kamu mau jemput Abang?" Tanya Andi.


"Maaf Bang... Sena masuk pagi." Kata Sena terdengar menyesal.


"Yah gak apa. Mungkin Abang gak bisa menghubungi Kamu dulu untuk sementara. Nanti kalau Abang sudah di rumah, Abang janji akan mengabari Kamu." Kata Andi.


"Ya Bang.. Sena minta maaf gak bisa jemput Abang." Kata Sena.


Setelah Andi memutus sambungan telpon, Sena kembali menulis laporannya. Sena sedang bertugas di posko. Malam ini Sena masuk shift malam.

__ADS_1


Sena tak menggubris godaan Badri yang terus nyeletuk saat Andi menelpon Sena.


"Iissshhh... Tega nya Sena! Berbicara dengan pria lain di depan Abang..." Goda Badri.


"Abang mau yaaaahhh????" Goda Sena.


"Mau dong Yang." Goda Badri.


"Kasih gak yaaahhh???" Tanya Sena.


"Memang Kamu mau kasih apa, Yang? Aku akan terima dengan ikhlas..." Goda Badri.


"Beneran? Gak nyesel?" Tanya Sena.


"Bener Yang. Apa sih yang gak buat Yayang...." Badri makin genit.


Sena membuka laci dan mengeluarkan sebuah foto. "Dia sedang mencari calon Suami. Kayak nya cocok deh sama Bang Badri." Kata Sena manahan tawa nya, dan menyerahkan foto itu pada Badri.


Sena mengambil ancang-ancang untuk segera kabur dari posko sebelum Badri benar-benar melihat foto yang Sena berikan pada nya. Sena memang harus segera ke lantai tiga.


"Waadddaaaawwww...!!!! Senaaaaa!!! Jangan kabur!!" Teriak Badri.


Sedangkan Sena sudah tertawa terpingkal-pingkal meninggalkan Badri yang terlihat sangat gondok.


"Badriiii...!! Kamu terima Dia sebagai calon Istri mu?" Tanya Danru Ridwan yang baru saja tiba berpapasan dengan Sena yang sangat geli ketawa nya.


Danru Ridwan menahan tawa melihat foto yang sedang Badri pegang. Danru Ridwan sangat mengerti, karena foto itu Dia yang bawa. Dia mengatakan pada Sena, Tina dan Lili kalau Badri mengganggu, kasih saja foto itu.


"Tega banget sih Dan... Masa Saya diamprokin sama kambing!" Badri memajukan bibir nya.


"Ya ampun Dan, Secwan di Grup ini tuh cakep-cakep. Sena yang manis, Tina yang Aduhai dan Lily yang cantik." Puji Badri.


"Huuhhh...!!" Danru Ridwan menoel jidad Badri. "Kamu kalau mau dapat Istri yang cakep, rubah dulu sifat Kamu yang suka main perempuan dan mabuk." Kata Danru Ridwan.


"Dan... Kalau Sena mau sama Saya... Saya janji bakal jadi Suami yang baik." Kata Badri.


"Ngimpi Lo!" Kata Danru Ridwan.


"Sungguh terlalu Kau, Dan." Kata Badri yang mengelus dada nya.


_____________________________


"Hallo Dek...." Sapa Andi.


"Ya Bang..." Jawab Sena. "Abang sudah di rumah?" Tanya Sena.


"Sudah Dek. Maaf kemarin Abang gak langsung telpon Kamu. Abang cape banget. Pulang gak punya ongkos. Abang jalan kaki sampe rumah." Cerita Andi.


"Ya ampun... Beneran Bang?" Sena sangat terkejut.


"Bener Dek... Jadi Abang langsung istirahat di rumah." Kata Andi.

__ADS_1


"Tapi Abang baik-baik aja kan?" Sena terdengar mengkhawatirkan Andi.


"Duuuhhh senengnya ada yang khawatir." Goda Andi.


Sena terdiam. Sena tersipu malu


"Dek... Kamu mau kan terima Abang?" Tanya Andi.


"Sena... Sena...." Sena bingung mau jawab apa. Sena memang selalu memikirkan perasaan orang lain. Dia tak ingin menyakiti orang lain yang mempunyai niat baik. Tapi Sena tak akan segan melabrak orang yang menyakiti hati nya.


"Mulai lusa Abang akan mulai cari kerja. Mungkin Abang akan ngojek di daerah pusat. Tempat Abang dulu pernah mangkal disana." Kata Andi.


"Emang Abang udah ada motor nya?" Tanya Sena.


"Teman Abang banyak disana. Mereka pasti akan menyewakan motor nya pada Abang." Jelas Andi.


"Oohh syukurlah kalau gitu." Kata Sena.


"Nanti Kamu, Abang antar jemput yah." Kata Andi.


"Iya Bang." Kata Sena.


_____________________________


Hari ini Sena libur. Dia mengajak Rizki pergi jalan-jalan. Memanjakan Rizki ingin apa yang Dia inginkan.


Setelah Rizki mendapatkan keinginannya, Sena ke pasar dengan menggendong Rizki. Sena membeli tempe, cabe, bawang dan lain-lain sayuran untuk masak.


Sena menyetop sebuah angkot. Sena mengingat alamat yang diberikan pada Sena. Sena membuka ponsel nya berharap alamat itu masih ada di ponsel nya.


"Mama... Mo ana?" Tanya Rizki yang menyadari jalan yang Mereka lalui asing bagi nya.


Rizki memang cepat tanggap. Dia tahu arah pulang. Dia akan mengetok atap angkot kalau sudah mau berhenti di tempat biasa Mama nya menyetop angkot.


"Kita main ke rumah teman Mama, yah." Sena mencium pipi Rizki


Rizki langsung duduk di pangkuan Sena. Memeluk erat tubuh Mama nya. Rizki menyandarkan kepala nya ke dada Sena.


"Ngantuk yah?" Tanya Sena.


Rizki mengangguk. Sena langsung mengelus punggung Rizki dengan lembut setelah memposisikan tubuh Rizki agar nyaman.


Tak lama Rizki terlelap. Sena duduk di pojok angkot. Sena tahu Dia akan turun belakangan karena tempat yang Sena tuju memang sudah hampir dekat perhentian terakhir angkot yang Dia tumpangi.


Tiga puluh menit kemudian.


"Bang... Pinggir yah..." Teriak Sena.


Supir angkot berhenti. Sena menggendong Rizki dan menenteng belanjaannya. Sena memeriksa barang bawaannya agar tak ada yang tertinggal.


"Tunggu ya Bang..." Kata Sena.

__ADS_1


"Ya Neng... Anak nya tidur yah?" Tanya supir angkot.


"Ya Bang..." Kata Sena. Kemudian memberikan uang ongkos angkot nya. Setelah menerima kembali, Sena berlalu. Dan angkot juga tancap gas lagi.


__ADS_2