Aku Bukan Wonder Woman

Aku Bukan Wonder Woman
Teman Yang Baik


__ADS_3

Satu per satu anak-anak ATM di body checking oleh Sena. Tak lama Linda dan seorang temannya juga masuk selesai istirahat.


"Sudah lega Bu?" Tanya Linda.


"Alhamdulillaah sudah Linda." Kata Sena.


"Enak kan Bu. Gak antri." Kata Linda.


"Iya... Di atas sini kan, ruang monitoring?" Tanya Sena.


"Haaahhh?!" Linda dan seorang temannya terperanjat.


"Kata Kamu ruang monitoring diatas ruang security. Ya berarti di atas sini kan?" Tunjuk Sena ke lantai yang ada di atas kepala nya.


"Jadi Ibu tadi ke atas sini." Tanya Linda yang ikut menunjuk.


Sena mengangguk. "Bener kan?" Tanya Sena sedikit bingung.


"Ya ampun Bu... Ruang monitoring di seberang, di atas ruang security pengawalan. Kalau di atas sini mah Bank, Bu. Kan gak ada orang di atas. Ya ampun Ibu berani banget." Kata Linda tak percaya.


"Ada orang kok di atas. Jadi Ibu pikir itu ruang monitoring." Kata Sena santai.


"Bu... Diatas itu Bank. Jam 4 sore juga sudah pada kabur karyawannya karena takut. Kalau kata Ibu ada orang, berarti siapa?" Linda bergidik.


"Terus yang tadi lagi ngetik keyboard komputer diatas siapa? Ada kursi putar bergerak kaya abis diduduki, siapa dong?" Sena nampak gusar.


"Hiiiihhhhh... Mana Kita tahu Bu... Beneran Bu tadi kayak ada orang diatas?" Tanya Linda bergidik.


"Iya... Malah waktu Ibu di toilet ada suara perempuan nyanyi. Ibu pikir orang monitoring ada yang perempuan." Jelas Sena.


"Hiiiihhhh Ibu berani banget siihh... Lagian itu kan tangga nya juga sudah dipalangin... Ngapain juga Ibu lewatin." Kata Sinta teman Linda menimpali.


"Bu... Di pantry aja anak-anak gak ada yang berani lama-lama. Keluar dari pintu ini gak mau lihat ke pantry." Kata Sinta lagi.


"Memang kenapa?" Tanya Sena.


"Orang pernah ada yang lihat ada perempuan berdiri menghadap tembok. Pake gaun putih rambut nya panjang. Hiiihhh..." Linda berlari masuk kedalam begitu pula dengan Sinta.


Sena menggeleng. "Dasar anak-anak. Tapi masa siiihhh??" Sena masih tak percaya.


Sena kembali duduk ke kursi nya dan membuat laporan kerja hari ini.


Satu jam kemudian Dewi masuk ke dalam ruang Body checking. "Bu... sudah istirahat?" Tanya Dewi.


Sena menggeleng. "Belum."


"Memang sering telat istirahat ya Bu?" Tanya Dewi.


"Gak juga. Ini hari lagi tumben." Kata Sena.


"Ya Bu... Hari ini lagi banyak pengiriman. Banyak ATM yang kosong." Jelas Dewi.


Sena mengangguk.


"Bu... Ini buat Ibu. Dimakan yah... Nanti Ibu masuk angin karena gak di back up istirahat." Dewi menyodorkan bungkusan pada Sena.


"Dewi jangan repot-repot." Kata Sena tak enak.


"Gak apa Bu... Tadi Aku dibeliin sama pacar ku dua bungkus. Aku sudah makan satu bungkus. Dia malah langsung pulang." Kata Dewi.


"Memang Dia kerja sampai larut gini?" Tanya Sena.

__ADS_1


"Gak Bu... Dia tadi abis main. Terus lewat sini, mampir." Kata Dewi.


Sena tersenyum. "Terima kasih yah... Pacar Kamu perhatian banget...." Puji Sena.


Dewi tersipu malu. Setelah dichek, Dewi langsung masuk.


Sena melihat isi bungkusan itu. "Alhamdulillaah... Sate ayam sama lontong." Kata Sena senang. Sena pun segera menyantabnya.


Desas desus tentang Sena yang ke toilet Bank langsung tersebar. Anak-anak ATM langsung menyerbu Sena ingin tahu kebenarannya.


"Ya ampuuun Linda dan sinta....!" Sena menepuk jidadnya sendiri.


"Ya sudah... Semua benar. Kalian jangan perpanjang lagi yah... Takut nya nanti yang diatas turun ke bawah gimana?" Canda Sena.


"Iiiihhh Ibu.... malah nakut-nakutin...." Kata Anak-anak ATM.


"Ibu bukan nakut-nakutin tapi nyata kalau Mereka denger disebut-sebut terus, Mereka akan menampakkan diri disini." Sena makin menakuti anak-anak ATM.


"Huaaaaahhhh.... Ibu Senaaaaaa....." Mereka berteriak.


"Hihihihi.... Lagian pada penasaran banget." Sena tertawa geli.


"Hhmmm..." Pak Jamal keluar.


"Eh Bapak...." Sena nampak segan.


"Ada apa Bu Sena?" Tanya Pak Jamal.


"Gak ada apa-apa Pak. Biasa anak-anak mau tahu saja..." Sena tersenyum. Sena mengecek Pak Jamal.


"Bu... Ini ada uang palsu." Kata Pak Jamal menyerahkan berkas.


"Oh iya Pak... Sebentar Saya catat dulu." Kata Sena bergegas membuat laporan.


__________________________


"Kita bakal pindah ke Pusat Bu..." Kata Dewi. Dewi memang salah satu karyawan yang menjadi asisten Pak Jamal.


"Kapan Mbak Dewi?" Tanya Sena.


"Dua minggu lagi. Tapi Kita pindah seminggu lagi." Kata Dewi.


"Kok gitu, Mbak?" Sena nampak bingung.


"Ya Bu... Karyawan lain, anak-anak ATM duluan pindah. Ibu juga. Yang masih disini Pak Jamal dan kepala Security dan beberapa anak buah nya. Untuk mengurus kepindahan asset-asset." Kata Dewi.


Sena mengangguk. "Memang kantor pusat bagus tempat nya Mbak. Cuma...." Sena tak meneruskan perkataannya.


"Iya Bu... Aku juga tahu... Lebih enak disini gak ketemu sama bigbos." Canda Dewi.


Sena terkekeh. "Iya.. Hehehehe..."


"Bu... Nanti kalau sudah pindah jangan lupa sama Dewi ya." Canda Dewi.


"Ya gak lah... Kita kan bakal ketemu lagi. Mudah-mudahan Kita satu shift lagi ya." Kata Sena.


"Aamiin..." Dewi tersenyum. Dewi sudah memberikan laporan uang palsu pada Sena. Sena juga sudah mencatatnya.


"Kalau palsu gini dikemanain, Mbak?" Tanya Sena.


"Dikembalikan Bu ke Bank nya. Nanti diganti nominal nya." Jelas Dewi.

__ADS_1


Sena mengangguk.


"Ibu kenapa gak melamar jadi anak ATM atau CIT saja, waktu dulu?" Tanya Dewi yang melihat Sena sangat cepat tanggap.


"Gak keterima lah, Mbak. Aku kan sudah tua." Kata Sena merendah.


"Memang umur Ibu sudah berapa?" Tanya Dewi.


"32 tahun." Kata Sena.


"Tapi Ibu gak kelihatan sudah 32 tahun. Waktu pertama Saya lihat Ibu, Saya pikir Ibu sama kayak Mbak Ani. Masih 23 tahun." Kata Dewi memuji.


"Mbak Dewi bisa saja." Sena tersipu.


"Beneran loh Bu... Ibu kayak yang belum punya anak. Badannya masih bagus." Puji Dewi.


Sena hanya diam. Sena sadar, Dia memang belum pernah melahirkan. "Mbak Dewi bisa saja. Jangan tinggi-tinggi Mbak, memuji Saya, nanti jatuhnya sakit..." Canda Sena.


"Ibu bisa saja. Bu... Dewi mau beli makan. Ibu mau titip apa?" Tanya Dewi. Hari ini Mereka sedang Shift pagi.


"Gak usah Mbak Dewi. Nanti Saya beli sendiri." Kata Sena menolak.


"Gak apa Bu... Aku tadi abis terima transferan dari pacar Aku. Dia lagi tugas luar Kota." Kata Dewi.


"Waaahhh... Kayaknya sebentar lagi janur kuning melengkung nih." Canda Sena.


"Doain aja ya Bu... Nanti Ibu, Aku undang." Kata Dewi.


"Insyaa Allah..." Kata Sena.


"Bu... Serius... Mau makan apa?" Tanya Dewi lagi.


"Sudah gak usah." Sena masih merasa tak enak.


Dewi menghela nafas. "Ibu suka begitu..." Dewi mengrucutkan bibir nya.


Sena tersenyum melihat tingkah Dewi. Dewi pun keluar dari ruangan bodycheck.


15 menit kemudian Security yang back up Sena, datang.


"Sena... Istirahat dulu gih." Kata Pak Ignatius.


"Kok tumben Bapak yang back up? Biasa nya gak mau?" Goda Sena.


"Gak ada orang Sena. Nanti Kamu sakit lagi, telat makan. Sudah sana..." Kata Pak Ignatius.


Sena terkekeh. Sena kemudian mengambil botol minumnya. Kemudian Sena ke loker. Tak lama Sena berjalan keluar dari gerbang.


"Buuu...!!" Panggil seseorang.


Sena menoleh dan tersenyum setelah melihat siapa yang memanggil.


"Ibu mau kemana?" Tanya Dewi.


"Makan siang." Kata Sena.


Dewi menyodorkan bungkusan. "Nih Bu... Aku sudah beliin." Kata Dewi.


Sena menghela nafas.


"Sudah Bu... Rejeki gak boleh ditolak. Orang Aku sudah niat kok... Hehehe..." Kata Dewi.

__ADS_1


"Ya sudah. Terima kasih banyak. Kalau gitu yuk Kita masuk lagi." Ajak Sena.


"Yuk..." Kata Dewi senang. Dewi menggamit lengan Sena.


__ADS_2