
Sena menangis sesegukan. Sudah beberapa hari ini Dia benar-benar bedrest, tapi rejeki belum dapat diraih.
Dia melihat dasternya yang berlumuran darah. "Apa kata Mas Fajri nanti? Aku gak bisa menjaganya. Huk... huk... huk..."
Sena bergegas ke kamar mandi, dia mencuci dasternya yang kena darah. Darah itu keluar dari organ intinya. Keluarnya pun sangat kental membentuk gumpalan-gumpalan seperti daging.
Sena mengganti pakaian dalamnya setelah membersihkan semua. Dia juga menggunakan pembalut. Rasa nyeri akan keluarnya darah itu sangat terasa. Sena tak tahu harus berbuat apa.
Sena takut dengan kemarahan Fajri yang sangat mengharapkan kehamilan ini. Tapi Mas Fajri tak juga membawanya untuk periksa ke dokter kandungan.
Deru mesin motor terdengar di teras kontrakan. Nindi tak sanggup untuk bangun karena perutnya sakit.
"Assalamu alaikum." Salam Fajri yang sedikit bingung, Sena tak menyambutnya, dan lampu belum dinyalakan, karena hari menjelang maghrib.
"Wa alaikumussalaam..." Jawab Sena pelan.
"Kamu kenapa?" Tanya Fajri sedikit khawatir. Menyentuh kening Sena.
"Mas....Maafin Sena... Sena gak bisa menjaganya. Huk..huk...huk..." Sena sangat takut Fajri akan marah.
"Kamu abis ngapain?! Aku sudah bilang jangan ngapa-ngapain?!" Fajri terlihat kesal yang mengerti dengan maksud perkataan Sena dan tangisannya.
"Aku gak ngapa-ngapain Mas. Aku tiduran saja.... Huk..huk...huk..." Sena sangat terpukul.
Fajri bergegas ke dapur dan kamar mandi. Sena tak bohong. Cucian kotor sudah menumpuk. Cucian piringpun tergeletak di dapur.
Fajri menghela nafas. Fajri bergegas mandi dan mengguyur tubuhnya tanpa membuka pakaiannya.
"Ya Allah...." Fajri menyesal telah membentak istrinya.
Sena bangun, menahan rasa sakitnya. Dia mengantarkan handuk dan menyiapkan baju ganti untuk Fajri.
"Maaas..." Panggil Sena pelan.
Fajri membuka pintu kamar mandi. Sena terperanjat melihat Fajri yang belum membuka pakaiannya.
Fajri mengambil handuk dari tangan Sena dan segera menutup kembali. Sena kembali ke tempat tidur.
Tak lama Fajri sudah keluar dari kamar mandi. Dia memakai baju yang sudah disiapkan Sena.
"Maafkan Aku karena telah membentakmu." Kata Fajri menyesal dengan berjongkok dipinggir ranjang. Mengusap pipi Sena yang basah dengan airmata.
"Aku ngerti Mas. Mas pasti sangat kecewa." Kata Sena yang masih terisak.
Sena memegang perutnya yang makin terasa sakit.
"Apanya yang sakit?" Tanya Fajri tak tega melihat Sena yang terus merintih menahan sakit.
"Perutku sakit. Kakiku pada pegal." Kata Sena.
"Memang tadi lagi ngapain sampe keluar begitu?" Tanya Fajri.
"Aku lagi duduk di ruang tamu. Bengong gak ngapa-ngapain. Aku jenuh. Tiba-tiba terasa anget-anget. Aku kaget. Terus Aku bangun, tapi gak berenti darahnya keluar." Jelas Sena yang kembali menangis.
Fajri duduk dipinggir ranjang dan memijat perlahan betis Sena.
Fajri sedikit menyingkap daster Sena dan meminta Sena untuk tengkurap.
Sena menurut. Fajri membalurkan minyak kayu putih dan memijit kaki Sena dari telapak hingga ke paha.
"Sakiiitt Maaasss...." Rengek Sena.
"Ini pelan-pelan kok, Dek..." Kata Fajri.
__________________
Sena kaget. Dia terbangun. Seprei kasurnya sudah berlumuran darah. Pembalutnya telah penuh.
__ADS_1
Pijatan Fajri tadi membuatnya terlelap dan tak terasa dengan keluarnya darah yang cukup deras.
"Maasss...." Sena membangunkan Fajri pelan.
"Hhhmmm..." Fajri enggan membuka mata.
"Maaasss... Bangun dulu... Kasur Aku kena darah." Kata Sena.
"Haaahhh...." Fajri segera bangun.
Sena segera mengganti seprei.
"Kamu ke kamar mandi saja, biar Aku yang pasang sepreinya." Kata Fajri yang gak tega melihat Sena yang sudah tak betah dengan darah di dasternya.
"Besok saja dicucinya. Sekarang bersihkan saja tubuh Kamu." Fajri setengah berteriak.
Tak lama Sena sudah keluar dengan berbalut handuk. Dia segera memakai pakaian dalamnya dan pembalut. Dan mengganti dasternya.
Sena hanya mencuci pembalutnya dan pakaian dalamnya. Sedangkan dasternya belum dia cuci. Karena Fajri yang melarangnya.
Fajri membalurkan minyak kayu putih ke perut Sena. "Apa masih sakit?" Tanya Fajri.
Sena menggeleng. Fajri tersenyum. "Sekarang tidur lagi ya." Pinta Fajri.
Sena mengangguk.
Tirai kerangnya berbunyi, seperti ada yang lewat.
"Maaass...." Panggil Sena pelan.
Fajri mengedipkan mata pada Sena agar tak bersuara.
Fajri membaca doa. Demikian dengan Sena.
Fajri memeluk tubuh Sena memberinya perlindungan agar tidak takut.
Tak lama Mereka terlelap.
__________________
Fajri membantu Sena cuci piring setelah Sena merendam cucian.
"Mas... Aku kepengen makan nasi uduk yang diujung jalan." Kata Sena.
"Nanti pulang kerja, Kita kesana yah." Kata Fajri.
Sena mengangguk. Karena tukang nasi uduk yang dimaksud memang buka malam hari.
_________________
Pulang kerja Fajri menepati janjinya. Sena duduk dibonceng Fajri.
Fajri mengendarai motornya dengan santai. Tak lama mereka sudah tiba diujung jalan.
Sena turun dan segera memesan nasi uduk 2 bungkus.
Tak lama Adzan Isya berkumandang. Mereka bergegas kembali ke kontrakan.
Tiba-tiba...
"Astaghfirullaah..." Teriak Fajri.
"Kenapa Mas?!" Sena terkejut karena Fajri yang berteriak dan mengerem motornya mendadak.
"Ular, Dek." Kata Fajri.
Sena melihat ke depan motor. "Astaghfirullaah... Maaass... Sena takut...." Kata Sena.
__ADS_1
Fajri terus menyorot Ular itu dengan lampu motor. Ular itu seperti kebingungan. Tubuhnya besar seperti batang pohon pisang tapi pendek. Panjangnya hanya semeter.
Anjing milik Pak Petrus lewat. Tapi tak ada reaksi dari anjing itu. Ular itu terus menjauh dari motor turun ke bawah disamping tembok kontrakan biasa Sena menjemur cucian.
Ular itu tak terlihat lagi.
"Mas... Kok aneh yah bentuknya." Kata Sena.
"Itu bukan ular beneran." Kata Fajri.
"Tadi anjingnya Pak Petrus biasa saja, lewat begitu saja." Kata Sena heran.
"Iya penglihatan Dia mungkin beda dengan Kita." Kata Fajri.
"Aku takut Mas. Nanti ular itu masuk ke kamar mandi. Hhiiiihhh..." Sena bergidik.
"Gak... Sudah turun ke bawah dia." Kata Fajri menenangkan Sena.
Esok paginya Sena merengek minta ikut sama Fajri. Dia masih teringat dengan ular itu.
Fajri akhirnya membawa Sena ke rumah Ibu. Fajri bergegas ke kantor.
____________________
Menjelang Ashar.
"Permisi...." Dua orang Pria mengetuk pintu rumah Bunda.
Sena membuka pintu. "Cari siapa?" Tanya Sena bingung.
"Apa benar ini rumah Sena Fatimah?" Tanya salah seorang dari Mereka.
Sena mengerutkan keningnya. "Iya benar. Ada apa ya?" Tanya Sena.
"Apa Ibu, Sena Fatimah?" Tanyanya lagi.
Sena mengangguk. Sena mempersilahkan Mereka masuk.
"Kami dari leasing motor, Bu. Ibu sudah menunggak membayar cicilan motor selama dua bulan. Kapan nih Ibu mau bayar?" Tanyanya.
"Haaahhh..?!" Sena terkejut.
"Kata Suami Saya, sudah bayar. Saya selalu mengingatkan dia untuk bayar cicilan tiap bulan." Kata Sena.
"Ada bukti pembayarannya, Bu?" Tanyanya.
"Ya Saya gak ada Pak. Ada sama suami Saya." Kata Sena.
"Suami Ibu dimana?" Tanyanya lagi.
"Lagi kerja." Kata Sena.
"Mereka saling berbicara pelan. Ya sudah kalau gitu nanti Kita kembali lagi. Jam berapa Suami Ibu pulang?" Tanyanya.
"Jam 5 Pak." Kata Sena.
"Baiklah kalau begitu Kami permisi dulu, nanti kita kesini lagi." Kata nya.
Sena mengangguk. Mereka pun meninggalkan rumah Bunda.
"Siapa Sena?" Tanya Bunda.
"Depkolektor Bu. Katanya Mas Fajri belum bayar cicilan. Padahal Sena selalu memgingatkan. Sena juga gak ambil gaji Mas Fajri, karena memang buat bayar motor." Kata Sena.
"Memang Fajri gak ngasih kwitansinya?" Tanya Ibu.
"Waktu itu Sena sudah minta. Kata Mas Fajri sama Suci. Dia lupa bawa. Terus Sena tanya Suci katanya sudah sama Mas Fajri. Sena jadi bingung, terus Sena gak tanya lagi." Jelas Sena.
__ADS_1
Bunda menghela nafas. "Nanti ditanyakan lagi sama Fajri."
"Ya Bun." Sena mengangguk.