Aku Bukan Wonder Woman

Aku Bukan Wonder Woman
Mulai Berubah


__ADS_3

Keadaan Ekonomi Sena dan Fajri mulai lumayan. Pesanan kue nastar Sena dari Nina makin banyak. Teman-teman Nina memang sering memesan nastar walau bukan hari raya idul Fitri.


Usaha dagang Bang Tino juga sedang lumayan ramai. Fajri sering pulang membawa uang yang dikasih Bang Tino untuk upahnya membantu di pasar.


Tapi Sena sangat kecewa. Uang yang diberikan Abangnya tak pernah sampai ke tangan Sena.


Alasan Fajri, uang yang diberikan Abang Tino, dipinjam kembali oleh Bang Tino untuk membayar barang lain.


Sena gak terlalu mempermasalahkan. Sena sudah alhamdulillah dengan pesanan kue nastarnya dan juga pesanan pulsa dari Nina.


Nina memang menyuruh Sena berjualan pulsa. Karena teman-teman Caddy nya sangat royal dengan pulsa. Nina bisa saja dia sendiri yang jualan. Tapi dia gak sempat untuk berbelanja.


Nina memberikan modal pada Sena untuk berjualan pulsa. Nina tak meminta keuntungan dari Kakaknya yang penting Kakak nya senang. Itu yang Nina inginkan.


Hari ini Fajri tak ada kerjaan di pelabuhan.


"Mas....Nanti pulang dagang, anterin Aku ke kosan Nina, ya. Nganter pesanan nastar." Pinta Sena.


"Ya nanti lihat dulu. Kadang-kadang Abang Kamu minta temanin ngambil barang." Kata Fajri yang mulai tak mesra lagi pada Sena.


"Nanti Aku minta ijin sebentar sama Bang Tino." Kata Sena.


"Ya..." Kata Fajri yang langsung pergi tanpa berpamitan pada Sena.


Sena hanya menghela nafas. "Ya Allah... Dulu rejeki Kami kurang tapi kasih sayang Mas Fajri berlebih. Kini rejeki Kami lumayan tapi kasih sayang Mas Fajri berkurang." Batin Sena.


"Tante Sena...." Panggil Rita.


"Eh mbak Rita dan Ilham. Sini mbak, main." Ajak Sena.


"Om Fajri udah berangkat?" Tanya Rita.


"Baru aja. Kenapa?" Tanya Sena.


"Aku mau minta tolong Sena." Kata Rita.


Sena sedang asik menggendong Ilham anak Rita.


"Minta tolong apa Mbak?" Sena mencium pipi Ilham gemas. Sena sangat merindukan seorang anak. Tapi Allah belum memberikannya kepercayaan. 2x sudah Sena mengalami keguguran. Dan Fajri tak juga membawanya ke dokter.


"Aku mau pinjam uang tadi sama Om. Eh Om sudah jalan." Rita memang membahasakan Fajri, Om karena anak-anaknya sangat dekat dengan Fajri.


Rita seorang janda yang ditinggal meninggal dunia oleh suaminya saat Ilham masih berusia 6 bulan di kandungan Rita. Kini Ilham sudah berusia 4 tahun.


"Mau pinjam berapa?" Sena berbisik pada Rita agar Rita tak malu di dengar tetangga depan kontrakan Sena yang suka usil.


"Gak banyak, 20 ribu aja. Abangnya Ilham mau berangkat sekolah gak punya ongkos." Kata Rita.


Sena tersenyum. "Bentar ya." Sena menurunkan Ilham. Dia masuk ke kamar. Kemudian Sena mengambil uang 20 ribu.


"Nih Mbak. Buruan sana nanti Agra telat masuk sekolah. Ilham disini saja sama Aku." Kata Sena.


"Makasih yah Sena." Mbak pulang dulu. Rita berlalu meninggalkan Ilham yang asik main sama Sena.

__ADS_1


Tak lama Rita sudah kembali.


"Kak Sena lagi gak sibuk?" Tanya Rita.


"Lagi santai nih. Mau masak Mas Fajri udah jarang makan dirumah." Kata Sena murung.


"Kita bikin pastel aja yuk." Ajak Rita.


Sena sangat senang. "Serius? Bahannya apa aja?" Tanya Sena yang memang sangat menyukai pastel.


"Kak Sena mau isi apa? Bihun aja ya biar cepat." Kata Rita.


"Ya gak apa. Nanti pake sambel kacang yang pedes." Kata Sena.


"Kak Sena ada terigu? Margarin?" Tanya Rita.


"Ada dong. Aku kan selalu stok itu." Kata Sena.


"Ya udah berarti beli isinya aja." Kata Rita.


Sena mengangguk dan memberikan uang pada Rita untuk belanja.


Tak lama Rita sudah kembali membawa belanjaan. Sena sekalian titip sayuran buat masak. Dia ingin makan bareng ilham dan Rita.


Rita mengajari Sena cara membuat pastel. Sesekali Sena mempraktekan membentuk pastel. Sena memang cerdas. Hanya dengan melihatnya saja, Dia sudah bisa membuatnya.


"Kak Sena cepat belajar ya." Puji Rita.


"Kenapa Mbak Rita gak dagang pastel aja?" Tanya Sena.


"Ooohhh... Nanti kalau dagang, Aku ditawarin ya." Kata Sena sambil mengangguk.


"Ini jadinya banyak sekali?" Sena tak percaya.


"Ya Kak. Untungnya lumayan. Cuma lama aja bikinnya." Kata Rita.


"Iya yah." Kata Sena. "Ini mau digoreng semua?" Tanya Sena.


"Terserah Kak Sena." Kata Rita.


"Memang kalau gorengnya sore-sore gak apa? Buat Mas Fajri." Kata Sena.


"Gak apa Kak. Kakak kan punya kulkas, masukin aja. Buat besok juga gak basi kalau masuk kulkas." Jelas Rita.


Sena mengangguk. Dia membagi dua hasil buatan pastelnya pada Rita.


"Iihhh banyak banget Kak. Dirumah udah pada bosan. Aku bawa dikit aja. Tar kalau Aku mau, Aku tinggal kesini minta." Canda Rita.


"Oh ya deh. Boleh... boleh..." Sena tersenyum.


"Aku pulang dulu ya. Udah kenyang." Canda Rita.


Sena terkekeh. Mereka memang abis masak bersama dan makan bersama.

__ADS_1


___________________


"Hhhmmmm....Enak... Kamu yang bikin?" Tanya Fajri.


"Tadi Mbak Rita main kesini..Terus Dia ngajarin Aku bikin pastel." Kata Sena.


"Bisa Kamu bikinnya setelah diajari Rita?" Tanya Fajri.


"Insya Allah bisa Mas." Kata Sena.


Fajri tersenyum. Dia tak meragukan kemampuan Sena. Apa pun bisa Sena lakukan. Hanya Anak saja yang Sena belum bisa berikan.


"Jadi ke tempat Nina?" Tanya Fajri.


"Jadi dong Mas. Nina udah nanyain terus. Itu... Udah Aku packing dari kemarin. Tinggal kirim." Kata Sena.


"Ya... Aku istirahat sebentar." Kata Fajri.


Satu jam Kemudian. Sena dan Fajri sudah bersiap.


"Om mau kemana?" Tanya Rita yang menggendong Ilham.


"Kita mau anter pesanan." Kata Sena.


"Ooohhh... Aku kesini mau ngembaliin uang yang tadi pagi Aku pinjem." Kata Rita.


Sena tersenyum. "Bawa aja, buat Agra dan Ilham jajan."


"Janganlah... Besok-besok Aku mau pinjem jadi malu." Kata Rita.


"Gak apa. Aku ikhlas kok. Besok-besok kalau perlu lagi, kalau ada Aku kasih." Kata Sena.


"Terima kasih ya Kak Sena. Ya udah hati-hati dijalan." Kata Rita.


Sena mengangguk. Fajri tersenyum. Fajri tahu, Sena memang orangnya gak tegaan apalagi sama anak Yatim.


Sena juga pernah jadi anak yatim. Dia tahu betul kesusahan Bunda nya. Makanya Sena tak pernah pelit untuk berbagi pada anak Yatim.


Fajri dan Sena telah berangkat. Ada 12 toples nastar yang Sena bawa.


Fajri mengendarai motornya. Sena memangku dus nastarnya.


"Mas abis ini balik lagi ke rumah Bunda?" Tanya Sena.


"Ya....Aku kan harus balikin motor Abang Kamu. Kenapa? Kamu mau ikut?" Tanya Fajri.


Sena mengangguk. "Aku sekalian mau ambil jahitan. Tadi sore Bunda telpon." Kata Sena.


Fajri mengangguk. "Tadi juga Bunda titip pesan sama Aku." Kata Fajri.


Sena tersenyum. Tangan nya yang sebelah memegang Dus dan yang sebelahnya lagi memeluk pinggang Fajri.


Fajri mengelus tangan Sena. Akhir-akhir ini Fajri selalu bersikap sedikit kasar pada Sena.

__ADS_1


"Nanti pulang dari tempat Nina, Aku mau makan bubur Bang Iwan." Kata Fajri.


"Iya Mas. Aku juga dah lama gak makan bubur Bang Iwan." Kata Sena menyetujui.


__ADS_2