Aku Bukan Wonder Woman

Aku Bukan Wonder Woman
Gado-gado


__ADS_3

"Sena...!!" Panggil seseorang yang suara nya tak asing bagi Sena.


Sena mencari dan mendapati sosok nya sedang menunggu nya diatas motor. "Sudah lama, Bang?" Tanya Sena.


"Baru 30 menit." Canda Andi. "Tadi Aku melihat Martha. Dia tambah tua yah?" Canda Andi.


"Mang Abang makin muda, gitu?" Ledek Sena.


"Hahahahaha... Kamu bisa aja." Andi menoel hidung Sena. "Ayo naik." Pinta Andi.


Sena langsung naik ke atas motor setelah memakai helm yang diberikan Andi. Andi menarik tangan Sena agar memeluk nya.


Andi mengelus tangan Sena. Sena menempel pada punggung Andi. "Kita jalan-jalan dulu yah? Malam minggu ini." Ajak Andi.


"Mang Abang gak ngojek lagi?" Tanya Sena.


"Abang ngojek dari pagi, abis nganter Kamu sampe Kamu mau pulang kerja, masa Abang narik lagi?" Kata Andi.


"Yaahhh kali aja... Abang semangat gitu." Ledek Sena.


"Semangat cari duit buat modal nikah sama Kamu, yah?" Goda Andi.


Sena merapatkan pelukannya. "Sena takut, Abang kecewa sama Sena..." Kata Sena.


Andi menghentikan laju motor nya. "Kenapa?" Tanya Andi.


"Sena takut gak bisa memberikan Abang keturunan." Kata Sena.


"Loh tapi Kamu kan sudah punya Rizki. Berarti baik-baik aja, kan?" Tanya Andi.


"Sena sering keguguran, Bang." Kata Sena.


"Tapi Abang yakin bisa bikin Kamu hamil lagi. Lagi pula kalau gak dikasih anak juga, Abang gak masalah. Udah ada Rizki." Kata Andi.


Sena terdiam. Andi kembali melajukan motor nya. "Kamu belum makan kan?" Tanya Andi.


"Belum." Kata Sena singkat.


"Abang kepengen makan gado-gado deket pangkalan ojek Abang. Cuma buka nya malam. Sekarang udah buka kayak nya. Kamu mau, gak?" Tanya Andi.


"Boleh Bang... Sena juga udah laper..." Kata Sena manja.


Lima belas menit kemudian, Mereka sudah sampai di warung gado-gado yang Andi maksud.


Andi memesan dua porsi gado-gado.


Ponsel Sena berdering. Sena mengambilnya dari dalam tas ransel nya.

__ADS_1


"Siapa?" Tanya Andi.


"Gak tau Bang... Ngaku nama nya Aldi terus ganti lagi." Kata Sena.


"Kok dia tahu nomor Kamu?" Tanya Andi sedikit kesal.


"Kayak nya dari Rasya, tapi Dia gak ngaku. Dia malah nanya, siapa Rasya?" Jelas Sena.


"Ya udah gak usah diladenin. Matiin aja ponsel Kamu." Kata Andi dengan nada kesal.


"Abang marah, yah?" Tanya Sena tak enak hati.


Andi langsung merangkul pinggang Sena. "Abang tuh sayang Kamu... Abang gak mau Kamu berpaling dari Abang." Bisik Andi dan mendaratkan bibir nya ke pipi Sena.


"Iissshhh Abang... Malu tau..." Sena menunduk menyembunyikan wajah nya dari tatapan sinis orang yang sedang makan gado-gado.


"Emang kenapa? Orang sama Istri sendiri." Kata Andi dengan suara ditinggikan.


Penjual gado-gado tersenyum melihat kemesraan Andi pada Sena.


"Duuhhhh... Sayang banget Bang Andi sama Istri nya... Kayak Pengantin baru." Canda Penjual gado-gado.


Penjual gado-gado memang kenal dengan Andi. Dan Dia juga tahu saat Andi masuk penjara. Tapi Dia tidak pernah kenal dengan Istri nya Andi. Jadi Dia pikir, Sena adalah Istri Andi.


"Ya dong Bude... Istri Saya ini, Istri yang setia, nunggu Saya sampe pulang. Jadi pas ketemu kayak pacaran lagi..." Canda Andi.


____________________________


Andi memarkirkan motor nya di belakang sebuah gedung.


"Bang... Ngapain kesini?" Tanya Sena.


Andi menstandarkan dua motor nya. Dia duduk terbalik menghadap Sena. "Kita mau pacaran disini." Goda Andi. Wajah Andi sudah mendekat pada wajah Sena.


"Iissshhh Abang... Jangan....." Belum sempat Sena selesai bicara, Andi sudah membungkam mulut Sena dengan bibir nya.


Sena terbelalak dengan pekik tertahan. Namun sentuhan Andi yang lembut dan permainan lidah nya yang lembut membuat Sena terbuai.


"Balas dong Sayang... Hhmmm....." Pinta Andi dengan nafas tersengal.


"Baaaang... Nanti dilihat orang..." Manja Sena tapi berdesah.


"Mau yah nikah sama Abang... Abang udah gak tahan...." Kata Andi disela-sela menghirup udara.


"Hhhmmmm..." Kata Sena yang terbuai dengan kelembutan Andi.


Nafas Mereka terengah. Andi menempelkan keningnya pada kening Sena. "Bibir Kamu manis, persis kayak orang nya..." Goda Andi dengan nafas terengah-engah.

__ADS_1


"Aabbaaang...." Manja Sena.


"Ya sayaang...." Jawab Andi.


"Pulang yuuukkk... Nanti Kita ditangkep Satpam..." Kata Sena spontan.


"Hahahaha..." Andi tertawa mendengar perkataan Sena. "Masa Satpam nangkep Satpam?" Andi tak berhenti tertawa.


"Iihhh Abang... Lagian ini gedung kalau gak salah tempat teman-teman satu leting Aku tugas disini." Sena mengrucutkan bibir nya.


Andi kembali membungkam bibir Sena. Sena tak dapat mengelak. Otak nya menolak namun tubuh nya merespon. Sena benar-benar merindukan kasih sayang dari seseorang yang bisa membawa nya keluar dari Neraka rumah Bunda nya.


Kalau Sena tak memikirkan Rizki, mungkin dari jauh-jauh hari Sena sudah meninggalkan rumah, bekerja yang jauh dari Jakarta dan tak akan kembali.


Tapi Sena juga tidak tega dengan Bunda nya yang selalu berkeluh kesah. Abang dan Kakak Ipar nya benar-benar ingin menguasai rumah peninggalan Almarhum Ayah Sena.


Adik Sena yang bontot, memilih ngekos jauh dari rumah karena Kakak Ipar nya yang tanpa perasaan merebut kamar yang sudah disediakan untuk nya oleh Sena. Kini kamar itu ditempati oleh Nenek Sena.


Adik Sena yang laki-laki, diatas bontot, juga pergi meninggalkan rumah setelah menikah. Dia memilih ngontrak di tempat yang tak pantas disebut sebagai pemukiman.


Sena teringat kata-kata Kakak sepupu nya. Kata nya Lana akan memerintahkan Istri dari adik laki-laki Sena untuk mengerjakan pekerjaan rumah kalau Mereka tinggal di rumah Bunda.


Saat itu Sena sempat emosi mendengar penjelasan Kakak sepupu nya. "Gw aja yang berhak tinggal disitu, gak ada kepikiran buat ngebudakin Adik Ipar Gw!" Ketus Sena. "Dia yang cuma numpang ikut Abang Gw, malah sok kuasa." Sena sangat geram.


"Makanya Sena, Kamu tahanlah tinggal di rumah Bunda. Siapa lagi yang akan menjaga Bunda, juga rumah peninggalan Almarhum Ayah Kamu, kalau bukan Kamu. Adik-adik Kamu itu, bagaimana Kamu." Kata Kakak sepupu Sena.


Sena memang sering curhat dengan Kakak sepupu nya itu. Sepupu yang dulu menampung Sena saat Sena diusir Bunda dari rumah.


"Gak usah diladenin Lana mau ngoceh apa! Yang penting Kamu jaga Bunda dan jangan sampai Kamu tinggalkan rumah Bunda. Dia sudah tinggal.diatas, kan?" Tanya Sepupu Sena.


Sena mengangguk. "Iya Kak. Tapi tiap hari mulut nya teriak-teriak, nyindir-nyindir kalau lagi marahin anak nya, Alvi." Jelas Sena.


"Bodo amat aja sekarang. Kamu kerja kan? Nah gak udah di denger ocehan Dia itu." Kata Sepupu Sena.


"Ya tapi Kak, Bunda tiap hari ngadu sama Sena. Ada aja yang diributin si Anjing itu." Kata Sena.


"Pokok nya apa pun yang terjadi Kamu jangan sekali-kali tinggalin rumah Bunda..." Terngiang perkataan Kakak sepupu Sena.


Andi menghentikan ciumannya karena Sena tak meresponnya. Kamu melamun, hhmm?? Ada apa? Kok sedih?" Tanya Andi.


"Pulang ya Bang... Sena gak enak badan." Pinta Sena.


Andi memegang kening Sena. "Anget... Beli obat dulu yah?" Tawar Andi sedikit cemas.


"Gak usah Bang. Sena cuma kurang tidur. Besok Sena masih masuk pagi." Kata Sena.


Andi mengangguk dan mulai menghidupkan motor nya. Mengantar Sena pulang.

__ADS_1


__ADS_2