
Sena merasakan ponsel nya bergetar tanda pesan masuk.
"Apa? Siapa yang kirim pulsa?" Gumam Sena terkejut. Tak lama satu pesan masuk kembali.
"Sekarang Kamu punya Pulsa jadi gak ada alasan lagi untuk tidak membalas pesan Ku atau menolak menghubungi Ku. "
"Oohh jadi Dia yang kirim.... Hhmmm... Ok..." Sena mengetik kode pengiriman berbagi pulsa kepada nomor yang telah mengirimnya pulsa. Berhasil terkirim.
Sena lalu mengetik pesan balasan.
"Saya gak kenal Kamu, jadi tolong jangan ganggu Saya. Maaf Saya tidak bisa terima pulsa dari orang tak dikenal."
Terkirim....
Sena menunggu sesaat... Kemudian.... Tak ada balasan lagi dari orang itu.
Ponsel sena bergetar lagi. Baru saja Dia hendak memaki tapi ternyata pesan dari Bang Andi.
"Sayang... Gimana keadaan Kamu? Sudah baikan? Besok Abang jemput siang yah?"
Sena tersenyum, tapi senyum nya hilang seketika mengingat Andi yang tidak bisa menahan hasrat nya.
Sena mengetikkan pesan balasan.
"Sena masih pusing, Bang. Tadi abis dikerokin sama Bunda. Kok siang sih, Bang? Sena masuk jam 7 malam. Jadi abang jemput jam setengah enam aja."
"Abang kangen sama Kamu, Sena. Sebelum Kamu kerja, Abang mau kangen-kangenan dulu sama Kamu."
Andi kembali mengirimkan pesan pada Sena.
Sena membalasnya.
"Maaf Bang, Sena gak bisa. Kerjaan Sena banyak. Sena juga mau tidur siang biar gak ngantuk kerja nya."
Lama Andi tak membalas pesan dari Sena. Sena sudah menguap. Sena mensilent ponsel nya. Tak lama Sena terlelap.
Ponsel Sena berkedip berulang-ulang. Ada panggilan masuk. Lamaaaa.... Kemudian gelap. Tak lama berkedip lagi. Sepanjang malam ponsel Sena berkedip tapi Sang Punya Ponsel sudah terlelap terbuai dalam alam mimpi nya.
_________________________
Andi terlihat kesal. Biasa nya kalau dari jauh Sena terlihat oleh nya, Andi buru-buru menghampiri Sena. Tapi kali ini Andi diam saja di tempat. Sena paham kenapa Andi terlihat kesal dan Sena sudah punya jawabannya.
__ADS_1
"Maaf yah Bang lama. Sena lupa ngecas ponsel Sena, jadi nunggu penuh dulu." Kata Sena tanpa menunggu pertanyaan dari Andi.
"Ya iyalah mati, Orang semalaman abis telponan sama cowon lain!" Ketus Andi.
Sena mengerutkan keningnya. "Kok Abang nuduh Sena yang gak gak sih? Emang Abang ada bukti?" Tanya Sena sewot.
"Ada nih..." Andi menyodorkan ponsel nya. Beberapa panggilannya tak dijawab Sena. Semalaman Ponsel Sena sibuk.
"Tapi itu belum tentu benar! Harus nya Abang tanya baik-baik dong, jangan asal tuduh aja!" Ketus Sena.
"Semalam abis balas pesan Abang, Sena nunggu balasan dari Abang, tapi Sena tunggu-tunggu gak ada balasan. Yah udah Sena tidur, udah ngantuk. Tapi ponsel nya Sena silent. Nih kalau gak percaya. Ponsel Sena belum Sena hidupin dari semalam. Tadi mau sms Abang, gak tau nya lowbet." Sena mengulurkan ponsel nya.
Andi menerima nya dan menghidupkan power ponsel Sena.
Tak lama beberapa pesan masuk dan panggilan tak terjawab juga timbul disana.
"Siapa kunyuk?" Tanya Andi.
"Sena gak tahu." Ketus Sena.
Andi gak mau memperpanjang masalah dengan Sena. Dia menahan diri untuk tidak membuka banyak pesan dari kontak bernama KUNYUK.
Andi menarik tangan Sena dengan lembut. "Maafkan Abang yah? Abang sayang banget sama Kamu... Abang gak mau Kamu berpaling dari Abang." Kata Andi merayu Sena.
Namun Sena masih cemberut. Andi memakaikan helm ke kepala Sena. "Ayo... Nanti telat. Jalanan macet, jam pulang kerja." Kata Andi lembut.
Masih dengan wajah cemberut Sena naik ke motor. Andi menstarter motor nya kemudian motor melaju. Andi menarik tangan Sena agar memeluknya.
"Rasya masih suka telpon Kamu, gak?" Tanya Andi.
"Buat apa tanya-tanya penghianat?!" Ketus Sena. Sena mulai terisak. Sena kecewa karena Andi tak pernah mempercayai nya.
Andi mengelus tangan Sena. "Maaf kalau Abang salah menilai Kamu. Tadi Milla telpon Abang, minta nomor Kamu yang baru. Soalnya Milla gak bisa hubungi Kamu. Terus Abang bilang, Sena gak punya nomor lain. Nomor nya masih itu-itu aja. Mungkin Sena gak mau Kamu ganggu, jadi nomor Kamu diblokir. Tadi Abang bilang begitu." Jelas Andi.
"Terus apa kata perempuan brengsek itu?!" Ketus Sena.
"Dia mau nyampein pesan dari Rasya, kalau Kalung Kamu diambil sama petugas waktu Rasya akan dipindahkan ke Jawa Tengah." Kata Andi.
"Alasan... Bilang aja kalung nya dijual buat makan disana!" Ketus Sena.
"Memang kalung nya mahal?" Tanya Andi.
__ADS_1
"Gak sih, cuma kalung perak, tapi liontinnya batu, batu nya mata kucing warna biru keunguan terus ada garis putih nya kayak mata kucing." Jelas Sena.
"Waaahhh.... Kalau itu emang mahal batu nya. Kenapa Kamu kasih ke Rasya?" Tanya Andi.
"Dia bilang pinjam nanti kalau Dia bebas, akan dikembalikan dengan kalung emas. Sena bilang gak perlu kalung emas, yang penting kalung itu kembali utuh, soalnya itu kalung pemberian Bunda." Jelas Sena.
"Sena... Sena.... Sampai segitu nya Kamu sayang sama Rasya... Tapi Rasya malah menghianati Kamu...." Andi menggelengkan kepalanya.
Sena terdiam. Dia merutuki kebodohannya yang memberikan kalung itu pada Rasya. Tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur, gak bisa balik lagi. Kecuali Sena mengobrak-abrik mencari petugas yang mengambil kalung dari Rasya. "Tapi buat apa? Toh kalung itu selalu kusut kalau hati Sena juga kusut." Batin Sena. Sena menghela nafas.
_________________________
Sena menerima wesel. Ada nominal tertulis di wesel itu. Dari Aldi.
"Oh jadi nama nya Aldi? Kok Dia tahu alamat kantor ini yah?" Batin Sena. Sena kembali melihat nominal di Wesel itu, sangat menggiurkan. "Tapi itu orang terobsesi banget yah? Kayak gak ada lagi perempuan di dunia ini." Batin Sena.
"Gimana ini? Apa Aku sobek aja? Tapi nanti uang Dia kembali gak yah? Takut nya malah dimakan sama orang kantor Pos, terus si Aldi itu nyangka, Aku udah gunakan uang Dia tapi gak mau terima telpon Dia...." Sena terlihat gelisah.
"Kak Sena... Kok mondar mandir aja sih dari tadi? Pusing tahu Lili ngeliat nya. Kalau mau cairin wesel nya, Ayo besok Lili anterin ke kantor Pos dekat sini." Kata Lili.
Karena Sena baru terima wesel itu dari Seny jam 3 sore. Sena sedang dilantai 3.
Ponsel Sena berdering. KUNYUK.
Sena mengangkat nya.
"Hallo... Gimana? Kamu sudah terima uangnya? Tanya disana.
"Belum. Sena mau robek wesel nya." Kata Sena santai.
"Eeehhh... Jangan... Kalau dirobek, hilang dong duit Aku. Itu kan buat Kamu. Buat kebutuhan Kamu sehari-hari. Kamu gak usah kerja lagi jadi satpam. Cukup mengurus anak Kamu saja di rumah." Kata nya.
Sena terperanjat. "Bagaimana Dia bisa tahu kalau Aku punya anak? Aku kan belum ngomong apa-apa sama Dia?" Batin Sena.
"Kamu gak usah kaget gitu. Anak buah Ku banyak di Jakarta. Jadi Kamu gak usah khawatir kalau pergi kemana-mana. Dan itu lagi tua bangka, Kamu tinggalkan aja, ngapain sih betah banget sama Dia?" Ketus nya.
"Bukan urusan Kamu. Saya minta tolong yah. Kasih alamat Kamu sekarang. Besok Saya kembalikan uang Kamu. Atau Saya gak peduli uang nya hangus." Tegas Sena.
"Ya gak bisa gitulah. Kamu harus mengganti uang Aku 2x lipat dari yang Aku kirim. Ingat, anak buah Ku ada dimana-mana." Kata Dia lagi.
"Bodo amat!" Sena menon aktifkan ponselnya.
__ADS_1