
Sena langsung memberi aba-aba dengan melambaikan tangan pada Tina. Tina tahu maksud Sena.
"Danru Taufik? Ada apa?" Tanya Tina.
"Kok Tina sih yang jawab? Saya mau bicara dengan Sena." Ketus nya. Telpon sengaja di loadspeaker oleh Tina agar Sena mendengar.
"Maaf Dan, Sena sedang istirahat." Tina beralasan.
"Kalau Sena tidak ada, mana Lily?" Danru Taufik terdengar tidak percaya.
"Lily sedang ke toilet, Dan." Tina mengeles.
Brak....! Tut... tut... tut.... Taufik memutus hubungan telpon dengab kasar.
"Yeeeeiii... Boleh nya sewot!" Tina mencibir pada gagang telpon.
Sena terkekeh melihat kelakuan Tina. "Kok tadi Kamu bilang Suami ku, Tin? Suaranya Danru Taufik?" Sena penasaran.
"Tadi bukan suara Danru Taufik, makanya Aku sampaikan ke kamu, ngaku suami Kamu." Jelas Tina.
"Banyak banget akalnya." Keluh Sena.
"Kok Danru Taufik bisa tahu ya, Kamu di lantai 3?" Tina nampak berfikir.
"Seny... Ya pasti Dia telpon Seny. Dan Seny bilang Aku disini." Tebak Sena.
"Hhmmm... Bisa jadi. Heran tuh orang, gak ada kapoknya." Gerutu Tina.
"Nanti kalau Dia telpon lagi, gimana?" Sena nampak khawatir.
"Alaaahhh... Gampang. Cari alasan lain. Apa kek." Tina menyepelekan.
Sena menghela nafas. "Ada-ada aja." Sena melirik jam di dinding. "Kok Lily belum naik ya?"
"Bentar lagi. Tadi Dia Aku suruh ngadep ke Danru Ridwan." Kata Tina.
Sena hanya mengangguk. "Tuh Dia..." Panjang umur. Sena melihat Lily yang sedang menaiki tangga lewat layar CCTV di ruangan itu. Sena langsung membukakan pintu akses untuk Lily.
"Aku langsung istirahat ya." Pamit Sena.
"Sena... Tunggu..." Panggil Tina. Tina beranjak menuju loker yang ada di ruangan itu.
"Ada apa?" Sena terlihat bingung.
"Nih ada titipan dari Mbak Dewi." Kata Tina memberikan bungkusan plastik hitam pada Sena.
"Ya ampun... Mbak Dewi suka gitu, deh...." Sena merasa gak enak sama teman-temannya. "Kalian mau gak?" Tawar Sena.
"Kita sudah kok tadi. Mbak Dewi beliin tiga bungkus. Satu buat Kamu, Aku dan Lily." Jelas Tina.
"Oohhh... Ya udah... Istirahat ya Aku..." Pamit Sena.
____________________________
"Aku merindukanmu...." Tiba-tiba seseorang memeluk leher Sena dari belakang.
Sena bergidik mengenali suara itu. Baru saja Sena selesai makan di pantry.
__ADS_1
"Dan Taufik... Jangan seperti ini." Sena terlihat gugup dan khawatir. Suasana pantry mulai sepi karena sudah banyak karyawan yang kembali ke ruangan masing-masing.
"Aku lepaskan dengan syarat...." Danru Taufik memberi syarat.
"Apa...??" Jantung Sena berdebar.
"Pulang kerja, Kamu, Aku antar sampai rumah." Tegas Danru Taufik.
"Tapi...." Sena hendak menolak.
"Tidak ada tapi.... Kalau gak mau, Aku akan terus memelukmu..." Ancam Danru Taufik.
Mau gak mau Sena mengangguk. "Ii.. iiyaa..." Kata Sena gugup.
Danru Taufik melepas pelukannya. Dia duduk di hadapan Sena. Taufik mengambil jemari Sena. Sena langsung menariknya. Danru Taufik nampak kesal.
"Aku menunggumu dari tadi disini. Kata Tina Kamu sedang istirahat, tapi gak ada Kamu disini." Danru Taufik nampak kesal.
"Sena tadi abis shalat dzuhur." Sena beralasan. "Dan.... Tolong jangan ganggu Sena. Danru Taufik kan punya istri dan Ri....." Belum selesai Sena berucap, Danru Taufik menyela omongan Sena.
"Aku sudah pisah dengan istriku. Rina??? Aacchhh... Dia bocah kemarin yang sudah kegatelan mau kawin." Kata Danru Taufik.
"Tapi Saya masih punya Suami." Kata Sena mencoba menolak Danru Taufik.
"Loh... Kamu kan sudah ditinggal Suami Kamu." Danru Taufik tak mau kalah.
"Status Saya masih Istri nya, walau Kita pisah ranjang. Jadi Saya mohon, jangan ganggu Saya... Saya gak mau Dia melihat Saya dengan laki-laki lain dan menyebar fitnah kalau Saya yang selingkuh." Sena mencoba meyakinkan Danru Taufik.
Danru Taufik menghela nafas. "Susah banget sih naklukin Kamu, Sena." Batinnya. "Baik....Tapi ingat janji Kamu, nanti malam Saya antar pulang!" Danru Taufik langsung beranjak meninggalkan Sena yang masih termangu.
"Ya Allah... Lindungi Sena." Sena menengadah. Sena langsung meninggalkan pantry, takut Danru Taufik akan kembali lagi.
_________________________
"Ada Danru Taufik." Kata Sena sambil tersengal nafasnya karena naik tangga ke lantai 3.
"Apaaa??!!" Tina dan Lily kompak berteriak kaget.
"Aku gak boong. Dia ada di pantry. Saat Aku baru selesai makan, Dia langsung memelukku." Sena menunduk takut.
"Kenapa Kamu gak teriak?" Tanya Tina.
Sena menggeleng. "Aku gak mau bikin keributan lagi. Aku malu...."
Sena pun menceritakan kejadian di pantry tadi. Dan permintaan Danru Taufik.
Tina menghela nafas. "Gini aja, nanti saat pulang, Kamu ikut Aku ke parkiran, Kamu tahu mobil Aku, kan?" Tanya Tina.
Sena mengangguk.
"Tapi kan Kak Tina gak bawa mobil, tadi." Lily menyela.
"Nanti Aku ijin sebentar sama Danru Ridwan ke kosan. Aku pasti cerita juga tentang Kamu di pantry tadi." Kata Tina.
"Baiklah... Tapi Aku jadi merepotkan Kalian." Sena merasa gak enak.
"Sudah Kak, tenang aja." Kata Lily mencoba menghibur.
__ADS_1
_______________________________
Sena mengendap ke arah mobil Tina yang terparkir. Sena berjalan memutar melewati lobby. Lily mengalihkan perhatian Danru Taufik yang dari tadi sudah menunggu Sena.
Lily melihat Danru Taufik yang celingak-celinguk.
"Lily...." Panggil Danru Taufik.
"Loh... Ada Danru Taufik. Kapan datang Dan?" Lily berbasa basi pura-pura gak tahu.
"Tadi siang. Letkol memanggil Saya." Kata Danru Taufik. "Sena dan Tina mana? Kok belum turun?" Tanya nya penuh intrik.
"Kak Sena lagi ganti baju. Sekalian shalat isya, takut sampe rumah keburu cape, katanya. Kalau Kak Tina udah pulang dari tadi, Dia kan di posko, tadi." Lily berbohong.
Danru Taufik hanya mengangguk.
Lily bergegas menuju posko dan langsung keluar gerbang. Lily melihat mobil Tina yang sudah berada di depan gerbang, menunggu dibuka.
Lily sedikit berlari mengejar mobil Tina.
Di pinggir jalan, Tina meminggirkan mobilnya demi menunggu Lily.
"Ayo cepat masuk." Pinta Tina.
Lily segera masuk kedalam mobil dan celingukan. "Kak Sena mana?" Lily nampak khawatir.
"Aku disini." Kata Sena yang langsung menyembul dari jok belakang.
"Syukurlah....Alhamdulliiaah." Kata Lily dengan lega.
Tina mengendarai kendaraannya diatas rata-rata. Dia gak ingin Danru taufik sadar kalau sedang dikerjai oleh Mereka bertiga.
"Kalian gak usah antar Aku sampai rumah, kejauhan." Pinta Sena.
Lily dan Tina saling menatap.
Lagi pula besok Kita masih masuk pagi. Sena berharap.
"Baiklah... Nanti Aku turunin Kamu deket halte busway di perempatan sana." Kata Tina.
Di PT CC
"Aarrgggg..... Sena..!! Kamu menipu ku!!" Danru Taufik terlihat geram. Sudah setengah jam Dia menunggu Sena, namun Sena tak terlihat batang hidungnya.
Tiba-tiba Seseorang memeluk Danru Taufik dari belakang.
"Akhirnya Kamu datang juga." Danru Taufik tersenyum senang. Dia membalikkan tubuhnya sambil mencoba membalas pelukan itu.
Tapi menyadari siapa yang memeluknya, Danru Taufik refleks mendorongnya keras, hingga tubuh itu nyaris tersungkur ke belakang.
"Dan Taufik!!! Iihhh....!!" Rina sudah terduduk. Dia memukulkan tangannya pada aspal karena kesal.
"Ngapain Kamu? Pake peluk-peluk segala? Ini kantor, bukan tempat happy...!" Danru Taufik sangat kesal.
"Rina kan kangen..." Rina merajuk manja dan menggoda. Dia mengulurkan tangannya meminta Danru Taufik untuk membangunkannya.
Danru Taufik berlalu begitu saja, tanpa mau menolong Rina yang masih terduduk di aspal, samping loading dok.
__ADS_1
Rina terlihat keki dan sangat geram. "Ini pasti gara-gara Sena! Awas saja Lo, Sena!!" Geram Rina.