Aku Bukan Wonder Woman

Aku Bukan Wonder Woman
Terganggu


__ADS_3

Nina menjemput Sena. "Kak... Ini ada susu dari Kak Vina buat Rizki." Kata Nina.


"Dek... Lebih baik Kamu kembalikan. Kakak gak mau terima bantuan apapun dari Dia. Nanti diungkit-ungkit lagi." Tegas Sena.


"Udah sih Kak... Jangan diperpanjang. Kak Vina udah menyesal. Dia juga udah Aku marahin tempo hari." Kata Nina.


"Sakit Dek rasanya.... Mentang-mentang Kakak lagi susah, semua orang menghina Kakak." Sena menunduk sedih.


"Sudahlah Sena.... Vina waktu itu ikut emosi karena Abang Kamu mengompori Vina. Makanya Dia jadi tak sadar menghina Kamu..." Nasehat Kak Mita.


"Ya gak apa. Tapi Aku minta kembalikan susunya." Kata Sena.


"Gini aja deh Kak. Kan anaknya Vina gak minum susu formula. Ini susu nya tetap buat Rizki, tapi Aku yang bayar. Nanti Aku kasih uangnya ke Vina." Kata Nina akhirnya.


Sena mengangguk. "Baik... Tapi Kamu telpon Dia sekarang di depan Kakak. Bilang seperti yang Kamu sarankan tadi." Pinta Sena tegas.


Sena juga bisa keras kepala jika harga dirinya diinjak-injak.


Nina menghela nafas. Dia melihat kearah Kak Mita. Kak Mita mengangguk. Nina mengambil ponselnya. Dia menelpon Vina.


"Aku udah transfer uang ke rekening Kakak sejumlah harga susu yang Kakak kasih buat Rizki." Kata Nina.


"Loh memang kenapa?" Tanya Vina heran.


"Kak Sena gak mau menerima apapun lagi dari Kakak." Kata Nina.


"Ya udah... buang aja susunya..." Jawab Vina ketus.


"Ya gak bisa gitulah Kak. Kan udah Aku ganti uangnya....." Kata Nina.


Tut... tut.... tut.... Vina memutus sambungan telpon.


"Udah puas Kak? Jadi tambah runyem kan?" Kata Nina.


"Gak apa Dek... Memang harus digituin sekali-kali biar gak lupa dulu siapa diri Kita ini..." Kata Sena.


"Ya udah Kak... Nanti kesorean. Kak Mita... Kita pamit ya..." Kata Nina.


_____________________________


Adzan isya baru saja selesai berkumandang.


Ponselnya Sena terus berdering. Rizki mengangkatnya. "Ayaaaahhh..."


Sena terkejut dan mengambil ponsel nya dari Rizki dan langsung mematikan ponsel itu.


"Mama....! Huk...huk....huk..." Rizki menjerit mencoba merebut ponsel dari Sena.


"Bukan Ayah, Nak. Ini Tante Nina... Kata Tante mau beli nasi goreng kan?" Bujuk Sena.


Rizki tersenyum mendengar nasi goreng. Dia berhenti menangis.


Ponsel berdering lagi. Sena melihat siapa yang menelpon. "Nih Tante telpon kan?"


"Halo Kak..." Sapa Nina.


"Ya Dek." Jawab Sena.


"Kenapa Rizki? Kok suaranya kaya abis nangis?" Tanya Nina khawatir.


"Tadi Dia telpon. Rizki yang angkat. Terus Kakak rebut. Jadi nangis." Jelas Sena.

__ADS_1


"Oohh... Mana Kak, sini Aku mau ngomong." Pinta Nina.


"Ateh.... Mama...." Rengek Rizki. Rizki memang belum bisa berbicara lancar.


"Jangan nangis... Beli nasi goreng gih sama Mama... Nanti Ateh bagi ya..." Canda Nina.


Rizki mengangguk dan mengusap air matanya. "Mama... Asi oyeng..." Kata Rizki sambil menengadahkan tangannya minta digendong.


"Ya... Kita beli nasi goreng." Kata Sena.


"Kak... Tahu kan tempatnya?' Tanya Nina.


"Di depan, pinggir jalan raya, kan?" Kata Sena.


"Ngapain jauh-jauh Kak.... Dari kontrakan Kakak belok kanan, lurus aja nanti ada sebelah kanan jalan." Jelas Nina.


"Ooohhh... Ya udah.." Kata Sena.


"Ya Udah Kak. Oh ya, nanti kunci pintu jangan dicantel kuncinya. Lepas aja Kak. Biar Aku dan Septi bisa masuk tanpa ganggu Kakak." Pinta Nina.


"Ya Dek... Kalian hati-hati pulang malam-malam." Kata Sena.


"Ya Kak." Kata Nina seraya menutup sambungan telponnya.


Fajri terus menelpon Sena dan juga mengirimi pesan buat Sena.


"Dek... Kamu dimana? Tadi Aku mau jemput Kamu di rumah Kak Mita. Tapi Kata Kak Mita Kamu ikut sama Nina. Kamu dimana Dek? Kenapa Telponku tadi diputus?"


Sena menghela nafas. Dia men-silence ponselnya agar tak mengganggu Rizki lagi. Dia tinggalkan ponselnya dan keluar berdua Rizki membeli nasi goreng.


1 jam kemudian.


Sena dan Rizki telah tiba lagi di kontrakan. Dia sedikit was-was melihat kiri kanan takut bertemu Fajri. Dia tak mau melukai hati Rizki lagi dengan mempertemukan dengan Fajri.


"Aaa Ma...." Pinta nya.


"Sabar dong... Masih panas... Baca bismillaah dulu ya..." Pinta Sena lembut.


Sena mengajari Rizki membaca doa makan dan dengan sabar menyuapi Rizki yang tak sabar minta nasi gorengnya agar cepat masuk ke mulutnya.


Sena melihat ponselnya yang terus berkedip. Rizki masih terus tak mau berhenti makan nasi goreng.


"Udah ya Nak..." Pinta Sena lembut. "Ya Allah... udah lebih dari setengah makannya..." Batin Sena.


Sena bukan tak mau menyuapi sampai habis, tapi hari sudah malam, gak bagus bagi Rizki makan terlalu banyak.


"Aaa Maaaa...." Rengek Rizki.


"Eh tadi, kata Tante apa? Nasi gorengnya Tante minta." Kata Sena.


Rizki teringat dan mengangguk. Keringat sudah bercucuran dari kepalanya.


Sena tersenyum karena anaknya menurut. Sena memberikannya minum.


Rizki bertahak beberapa kali. "Alhamdulillaah..." Sahut Sena.


"Bobo... Ma..." Kata Rizki.


"Nanti ya Nak. Gak boleh bobo dulu. Nanti muntah." Kata Sena sambil menirukan orang yang muntah.


Lagi-lagi Rizki mengangguk. "Ma... pon..." Rizki minta ponsel Sena, Dia mau main game.

__ADS_1


"Yah... ponsel Mama mana ya?" Sena pura-pura mencari. Rizki membantunya.


"Ndak da... abis..." Kata Rizki.


Sena tertawa. "Bukan abis Sayang... tapi hilang..." Kata Sena.


"Abiiisss...." Rizki memperlihatkan kedua telapak tangannya yang mungil, tak memegang apa-apa.


Sena memeluk Rizki. "Anak Mama pinter banget sih..." Sena menciumi pipi Rizki. Rizki membalas menciumi balik wajah Sena.


Sena mengganti baju Rizki yang sudah basah dengan keringat. Dan membersihkan mulutnya dengan tisu.


Rizki terus menguap. Sena tak tega melihatnya. Namun Rizki belum lama selesai makan.


Sena menggendong tubuh Rizki. Tak lama Rizki terlelap.


Sena menghela nafas. "Memang sudah tak bisa ditahan lagi." Gumam Sena.


Sena merebahkan tubuh Rizki perlahan di kasur kecil milik Nina. Sena mengusap kepala Rizki. "Maafkan Mama ya Nak... Mama belum bisa membahagiakan Kamu..." Gumam Sena.


Sena mengambil ponselnya dari balik bantal. Dia melihat ada belasan kali Fajri menghubunginya.


Sena melihat ada beberapa pesan masuk.


"Dek angkat."


"Aku mau ngomong penting."


Sena menghela nafas. "Apa lagi sih?!" Sena kesal.


Ponselnya kembali berkedip.


Sena mengangkatnya.


"Mana anak Aku? Aku kangen mau ngobrol sama dia." Fajri terdengar kesal.


"Udah tidur Mas." Kata Sena santai.


"Kamu tuh ya... Kenapa sih kesannya menjauhi Aku sama anakku?" Fajri tambah kesal.


"Terus abis Mas bicara sama Dia, Dia sakit, apa Mas mau tau?" Ketus Sena.


"Ya Kamu kasih kabar Aku dong. Bagaimana Aku bisa tahu anakku baik-baik saja atau tidak?" Fajri sewot.


"Ok... Aku kasih kabar... Lalu sesudahnya apa Kamu yakin akan menemani anakmu terus?" Sena menekan kata-katanya agar Rizki tak terbangun.


"Kan Kamu yang gak mau hidup sama Aku." Fajri memutar balik fakta.


"Sudahlah Mas... Aku cape berdebat terus sama Kamu." Sena memutus sambungan telponnya.


Fajri terus menghubunginya. Tapi Sena tak menghiraukannya. Sena beranjak ke piring nasi goreng. Perutnya sudah tak tahan menahan lapar.


Tak lama Sena selesai makan. Dan melihat ponselnya. Dia mengirimkan pesan pada Nina.


"Dek... Ponsel Kakak matiin ya. Dari tadi Fajri telpon terus. Kakak udah ngantuk."


Sena pun mematikan ponselnya setelah pesannya terkirim.


____________________________________________________________________________________


🌷HAI READER....πŸ‘πŸ˜šπŸ˜˜ MOHON MAAF ATAS KETERLAMBATAN UP LANJUTAN NOVEL INI. KONDISI CUACA YANG TAK MENENTU MEMBUAT TUBUH AUTHOR AGAK MELEMAH. JADI UNTUK MENULISPUN RASANYA KEPALA TERASA BERAT.🌷

__ADS_1


MOHON DOA NYA, AGAR AUTHOR SEGERA SEHAT SEDIA KALA. SEMOGA READER DALAM LINDUNGAN ALLAH SWT. AAMIIN.πŸ‘πŸ˜˜βš˜


__ADS_2