Aku Bukan Wonder Woman

Aku Bukan Wonder Woman
Fajri Berulah Lagi


__ADS_3

Sudah sebulan Fajri bekerja. Tapi Sena tak juga menerima gaji nya. Sena hanya bisa mengurut dada.


Ada saja yang dijadikan oleh Fajri sebagai alasan. Buat nombok setoran lah, buat bensin lah. Haaaahhhh... Sena udah bosan mendengar kebohongan-kebohongan Fajri.


Sebisa mungkin Sena mencari nafkah untuk diri nya dan juga Rizki, Sena hanya ingin memberikan yang baik pada Rizki.


Sena tahu, Suami nya tak bisa jujur. Segala macam cara dia lakukan untuk mendapatkan uang. Sena hanya mengambil sisi positif nya saja tak diberi nafkah oleh Fajri.


Setidaknya tak akan ada sesuatu yang haram yang masuk ke tubuh Rizki. Sena ingin Rizki tumbuh menjadi anak yang baik.


"Mas... Motor nya kemana? Kok dibonceng?" Tanya Sena heran.


"Dipinjam Rendi. Motor Dia mogok, jadi pulang bawa motor Aku. Kasihan rumahnya jauh." Fajri beralasan.


Sena hanya mengangguk tapi tetap saja perasaannya gak enak.


Esok harinya Fajri kerja dijemput Rendi. Sena hanya menghela nafas.


Rendi hanya cengengesan melihat Sena. "Maaf ya Mbak, motor nya dipake sebentar." Kata Rendi.


Sena masih melihat motor Abangnya yang dipake Rendi.


Tiga hari kemudian.


"Mas...!! Kok berani-berani nya sih?!" Sena sangat kesal pada Fajri.


"Itu kan motor Abang ku! Lancang sekali Mas menggadaikan motor Bang Tino! Ya Allah.... apa yang akan Aku katakan pada Abangku.. Huk.. huk.. huk..." Sena menangis histeris.


Sena gak tahu apa yang bisa dia lakukan untuk menebus motor itu, sedangkan Abang nya terus saja menanyakannya.


"Bukan Aku yang menggadaikan motor itu, tapi Rendi. Rendi bilang pinjam sebentar, tapi malah digadai." Fajri mengelak.


"Kenapa Kamu kasih, Maass!!? Dari awal Aku sudah gak enak hati melihat Rendi membawa motor itu! Tapi Kamu seenaknya saja membiarkan Dia membawa motor itu!" Sena makin histeris.


Kamu punya pikiran gak sih Mas?! Kamu bikin ulah terus! Aku malu Mas?! Sena tak juga menurunkan emosi. Dia benar-benar sangat marah pada Fajri.


Fajri hanya diam. Dia tahu dia salah.


"Huk... huk... huk...." Sena masih menangis.


"Ma.. Ma.... Ma... Ma..." Rizki yang sudah bisa merangkak, mendekati Sena. Dia terlihat bingung melihat kedua orang tua nya.


Sena memeluk Rizki. Dia masih menangis. Sena benar-benar buntu. Dia tak punya apa-apa untuk dijual guna menebus motor itu.


____________________


"Pokok nya sekarang juga Kita kerumah Rendi!" Sena belum juga tenang.


Dari pagi Bunda nya terus menelponnya. Sena bingung jawaban apa yang akan dia katakan kalau Bunda dan Bang Tino menanyakan motor itu.


"Mas tuh ya, dikasih pinjem buat kerja malah dikasihin ke orang! Digadai lagi!" Sena masih sangat kesal. Semalaman Sena gak bisa tidur. Dia sudah mencoba pinjam uang sama temannya, tapi tak dapat.


"Kamu bawel banget sih?! Nanti sore Rendi kesini! Pulangin tuh motor!" Fajri malah ngotot.


"Baik! Kita tunggu sampai sore, kalau Rendi gak datang, Gimana?!" Tanya Sena sengit.


"Ya.... Baru Kita kesana...." Fajri nampak kikuk.

__ADS_1


Sena meninggalkan Rendi yang masih terpaku. Sena masuk ke kamar dan membanting pintu. Dia menelunkupkan wajahnya ke bantal.


Kepala nya sangat sakit, terasa mau pecah. Sena kurang tidur. Rizki memeluk tubuh Sena. Sena berbalik merasakan tangan mungil itu menyentuhnya.


"Sini Sayang... Bobo ya sama Mama." Kata Sena lembut.


Baru saja Sena terlelap, Sena mendengar ponsel Fajri berdering. Sena mencoba mendengarkan percakapan Fajri dengan yang telpon.


"Lo usahain dong... Gw dimarahin sama bini gw dari kemarin. Gw kan udah nolongin Lo, masa sekarang Lo gak bisa nolongin gw?" Kata Fajri.


Sena mengerutkan keningnya. "Apa maksudnya? Sebenarnya apa yang terjadi?" Batin Sena. "Hhuuuhhh....Pusiiing..." Sena memijat keningnya.


Sena segera bangun dari tidurnya. "Siapa Mas?" Tanya Sena tiba-tiba.


"Eh.. ini... itu..." Fajri nampak gugup.


"Siapa?! Rendi? Apa katanya?" Tanya Sena sedikit ketus.


"Ya Rendi. Dia bilang gak bisa mengembalikan motornya hari ini. Dia belum ada uangnya." Kata Fajri sambil menunduk.


"Sekarang juga Kita ke rumahnya. Aku yang ngomong! Enak saja... Ditolongin malah ngegigit!" Kata Sena.


Sena bergegas bersiap. Sena juga sudah menyiapkan perlengkapan Rizki. Tak lama Rizki bangun, Sena langsung memandikan Rizki. Sena juga menyuapi Rizki.


Kemudian. "Ayo Mas...!" Paksa Sena.


Fajri nampak enggan pergi ke rumah Rendi.


"Ayo Mas... nanti kemalaman sampe rumah." Sena gregetan.


"Naik apa kesana? Aku gak punya uang untuk ongkos." Fajri masih terus menghindar.


Fajri tak dapat mengelak lagi. Mereka pun berangkat.


Satu Jam Kemudian.


"Assalamu alaikum..." Salam Sena dan Fajri di depan sebuah rumah.


"Wa alaikumussalaam..." Jawaban dari dalam. Pintu dibuka.


"Oh Bang Fajri. Masuk Bang, Mbak..." Kata perempuan itu.


"Rendinya mana?" Tanya Fajri.


"Gak ada Bang. Dia tadi keluar." Kata perempuan itu yang ternyata istrinya Rendi.


"Loh.. Kan tadi Saya sudah bilang mau kesini, kok malah pergi. Pergi kemana?" Tanya Fajri.


"Gak tahu..!" Ketus istrinya Rendi.


Melihat sikap istri Rendi yang gak ramah, Sena jadi tersulut emosinya.


"Eh Mbak... Kita kesini datang baik-baik....Kok jawabnya ketus gitu?!" Kata Sena ketus juga.


"Suami Kamu tuh ya, udah ditolong gak tahu diri.! Sekarang istrinya juga kaya gini..!" Sena kesal.


"Eh Mbak... Yang gadaikan motor itu Suami Mbak, jangan nyalahin orang!" Kata perempuan itu.

__ADS_1


Sena terperanjat. "Apa?!"


"Eh Mbak... Jelas-jelas Rendi yang gadaikan motor Saya, kok Mbak malah nuduh Saya?" Fajri jadi kalut.


"Loh kan Abang yang nyuruh suami Saya gadaikan motor itu untuk bayar nutupin penjualan." Sarkas istri Rendi.


Sena makin gak mengerti. "Sebenarnya siapa yang salah?" Batin Sena.


"Sudaaahhh... kenapa jadi pada ribut?! Sekarang Rendinya mana?! Saya mau tahu yang sebenarnya." Kata Sena kesal.


"Yang salah tuh Suami mbak, Dia yang minta tolong sama suami Saya untuk nyari tempat gadai motor, janjinya nanti Rendi dikasih pinjam uang itu untuk nutupin utang Mereka berdua." Jelas istri Rendi.


"Mas...!! Sebenarnya apa yang terjadi?! Apa yang dikatakannya benar?" Tanya Sena tegas.


Fajri menunduk. "Bukan Aku, Rendi yang ngajari Aku gadaikan motor itu." Fajri masih mengelak.


"Mbak... Sekarang Saya minta bawa Rendi kesini. Saya ingin tahu dimana Dia gadaikan motor itu..!" pinta Sena.


Istri Rendi keluar dari rumah dan menutup pintu dengan membantingnya.


"Lihat Mas?! Kamu lihat kan? Kita yang punya motor tapi tak berharga di depan Mereka?! Aku bingung sama Kamu Mas... Kerja gak pernah kasih gaji Kamu ke Aku, tapi masalah terus yang Kamu kasih ke Aku?!! Sampai kapan sih Mas, Kamu mau berubah?!" Mata Sena mulai berkaca-kaca.


"Aku malu Mas sama keluargaku... Kesalahan Kamu, Aku tutupi tapi Kamu sendiri yang terus memperlihatkan." Sena makin kesal.


Lama Mereka menunggu tapi Rendi dan istrinya tak kunjung datang.


"Ini sebenarnya Dia niat baik gak sih?" Sena mulai gelisah karena hari sudah menunjukan jam 9.15 malam.


"Sudah 2 jam lebih Kita nunggu disini, tapi gak ada kejelasan. Sekarang Mereka malah kabur. Kamu Mas... percaya saja sama orang yang baru kenal!" Sena terus mengoceh.


Hampir jam 10 malam, Rendi baru memperlihatkan batang hidungnya.


Fajri langsung merangkul bahu Rendi. Entah apa yang Mereka bicarakan.


Sena ingin tahu, tapi sebenarnya Fajri sengaja menjauh agar tak diketahui Sena.


Setengah Jam Kemudian.


"Sebaiknya sekarang Mbak pulang. Besok Saya akan menghadap Abang Mbak. Saya akan tanggung jawab." Kata Rendi menunduk.


"Terus Saya harus bilang apa sama keluarga Saya? Pulang gak bawa motor itu?!" Ketus Sena.


"Nanti Saya yang akan menjelaskannya pada Keluarga Mbak." Rendi makin menunduk.


"Saya tunggu yah. Kalau besok gak ada itikad baik Kamu, terpaksa Saya akan pake jalur hukum." Tegas Sena.


Rendi mengangguk. "Ya Mbak."


Di angkot.


"Kita pulang ke rumah Bunda." Kata Sena tiba-tiba.


"Tapi ini sudah malam. Kamu jangan ganggu Bunda." Fajri nampak takut.


"Bang Tino belum tidur. Aku gak mau menanggung dosa-dosa Kamu lagi. Aku cape menutupi kebohongan Kamu." Sena nampak kesal.


"Kalau besok Rendi gak datang. Biar Abang langsung menghubungi temannya yang polisi." Ancam Sena.

__ADS_1


Fajri hanya diam. Dia tak bisa berkata-kata lagi.


__ADS_2