
Ponsel Sena berdering.
"Huuuhhh... Mau apa lagi sih Dia?" Sena sangat kesal melihat layar ponsel nya dan melihat nama Fajri melakukan panggilan telpon.
"Lupa Aku matiin ponsel. Tapi Dia selalu tahu kalo Aku sudah aktifin ini ponsel, Dia langsung telpon." Mau gak mau Sena mengangkatnya.
"Ya...." Sapa Sena malas.
"Kamu dimana?" Tanya Fajri.
"Lagi kerja." Ketus Sena.
"Oh masuk pagi." Kata Fajri.
"Ya... Ada apa sih?!" Tanya Sena tak suka. "Jangan-jangan mau pinjem duit lagi." Batin Sena.
"Ketus amat sih?!" Fajri jadi ikutan sewot.
"Ya udah cepet bilang ada apa? Aku lagi kerja." Kata Sena lagi.
"Besok Noval disunat. Kamu datang ya? Disuruh Ibu." Kata Fajri. "Ada sedikit selamatan besok. Datang ya?"
"Huuhhh selalu aja disuruh Ibu." Batin Sena sangat kesal. "Gak bisa. Besok Aku kerja, masih masuk pagi." Kata Sena tegas.
"Ya udah kalau gak bisa. Nanti Aku bawain nasi kotak nya ya?" Tawar Fajri.
"Terserah... Udah yah... Gak enak, lagi kerja." Kata Sena.
"Ponsel nya diaktifin terus dong. Aku kan mau ngobrol sama anakku." Pinta Fajri.
"Iyaaaa...." Jawab Sena malas. "Anakku? Mang Dia ngasih makan ke Rizki?" Batin Sena. Sena memutuskan sambungan telpon. "Tumben Fajri mau bawain Aku makanan, biasanya pelit banget." Batin Sena.
"Siapa Kak?" Tanya Lili.
"Mantan." Kata Sena singkat.
"Cieeee..... Mau nge date ya?" Goda Lili.
"Iiihhh apaan? Segala nge date." Sena mengrucutkan bibirnya.
"Besok tuh keponakannya mau disunat. Dia mau nganterin nasi kotak kesini." Jelas Sena.
"Asyiiikkkk...." Lili bertepuk tangan tanpa suara.
"Tumben aja." Kata Sena. "Biasa nya pelit banget."
"Waahhh.... Hati-hati Kak Sena, nanti dipelet loh... Hahahaha..." Canda Lili.
"Aku gak makan kok. Besok buat Kamu aja sama Tina." Kata Sena.
"Hhhmmm enak kayaknya." Lili membayangkan nasi kotak besok.
__ADS_1
"Emang enak. Mantan Mertua ku tuh orangnya royal kalau buat kesohor. Masakannya juga lumayan enak. Hihihihi..." Sena cekikikan.
___________________________
Sena baru saja naik Busway. Ponselnya berdering. Sena merogoh saku celananya. "Bang Rasya?" Gumam Sena. Sena langsung mengangkatnya dan segera duduk di kursi penumpang.
"Halo Sena." Sapa Rasya.
"Halo Bang..." Jawab Sena.
"Kamu dimana? Kok rame?" Tanya Rasya.
"Lagi di Busway mau pulang." Kata Sena.
"Jam segini masih di Busway? Mang jauh rumahnya dari kantor?" Rasya terdengar khawatir.
"Lumayan Bang. Sampe rumah jam 10an, paling cepet setengah 10." Jelas Sena.
"Jauh banget ya? sampe 2 jam perjalanan." Kata Rasya.
"Iya Bang, jadi Tua dijalan." Canda Sena.
"Hehehehe... Bisa aja Kamu. Ya udah, nanti aja Abang telpon lagi kalau Kamu sudah di rumah, boleh kan?" Kata Rasya.
"Oh iya Bang." Sena nampak ragu. Sena pun memutus sambungan telponnya.
Ponsel Sena bergetar kembali. Pesan masuk. Sena membuka dan membacanya.
Sena membalas pesan dari Rasya. "Gak."
"Mang Martha gak cerita?" Balasan pesan dari Rasya.
"Kata Kak Martha di Senen. Ini Aku pulang lewat Senen. Hehehe..." Jawab Sena.
"Ooohhh... Tapi Aku bukan di Senen. Nanti ya, kalau Kamu dah di rumah, Abang telpon lagi. Abang mau cerita banyak sama Kamu." Balasan dari Rasya.
"Iya Bang, tapi kalau gak diangkat jangan marah ya. Takut ketiduran." Jawab Sena lagi.
"Ya gak apa. Masih ada hari esok. Ya udah, Kamu hati-hati ya..." Pesan Rasya.
"Iya Bang. Terima kasih." Jawab Sena.
___________________________
Sena sudah terlelap saat ponselnya berkedip. Sena memang sengaja men silent nya, juga mematikan getarnya.
Tadi saat pulang kerja, Rizki sangat rewel. Susah untuk dibujuk. Badannya hangat. Rizki meminta gendong pada Sena.
"Ya Sayang... Sebentar, Mama mandi dulu. Bau asem... gak enak lengket." Sena mencoba menenangkan Rizki sambil menggendongnya.
"Sini sama Uwo dulu. Mama mandi dulu ya..." Rayu Bunda.
__ADS_1
Sena menyerahkan Rizki pada Bunda dan bergegas mandi.
Tak lama Sena sudah terlihat segar walau tubuh nya sangat lelah. Sena menggendong Rizki pakai kain. Rizki meminta keluar rumah. Apa aja diminta tapi gak ada yang berkenan setelah Dia mendapatkannya.
Bahu Sena terasa nyeri, karena memang Rizki yang sudah semakin berat. Namun Sena bertahan demi menyenangkan buah hati nya.
Ponsel Sena berdering. "Ayaaahh...." Kata Rizki mendongak.
"Bukan Ayah... Ini teman kerja Mama..." Kata Sena berbohong. Sena langsung me nonaktif kan ponsel nya. Tapi Rizki mau pegang ponsel Sena. Sena menuruti. Rizki menekan-nekan tombol ponsel yang sudah mati itu.
Jam sebelas malam Rizki baru terlelap. Sena membaringkan tubuh Rizki di kasur. Sena mengambil sapu tangan dan baskom yang berisi air hangat. Sena mengompres kepala Rizki.
Bunda menengok Sena ke kamar. "Sudah tidur?" Bisik Bunda.
"Sudah Bun." Jawab Sena pelan. "Rizki kenapa Bun?" Tanya Sena.
"Tadi berantem lagi sama Alvi. Rebutan sepeda. Adikmu membelikan Rizki sepeda." Kata Bunda.
"Terus sepeda nya mana?" Tanya Sena sambil mencari.
"Di atas. Dibawa Alvi. Bunda pusing... Anaknya yang ribut, emaknya ikutan ribut. Rasa nya mau Bunda usir aja itu orang. Kalau gak ingat kasihan, udah Bunda usir dari kemarin. Ini listrik aja udah dua bulan belum dibayar sama Abang Kamu." Bunda berkeluh kesah.
Sena hanya menghela nafas. Gaji nya sudah Sena belikan susu untuk Rizki juga menambah modal warung. Warung ya gitu, diambilin terus sama Abang Sena dan Kakak iparnya entah kapan akan dibayar. Sisa nya untuk ongkos Sena pergi kerja.
"Kalau ada uang warung, pake aja Bun buat bayar listrik." Sena juga merasa gak enak menumpang disini.
"Padahal warung Kamu lumayan rame, cuma modalnya habis terus diambilin." Keluh Bunda.
"Yah mau diapain lagi Bun. Daripada gak ada pemasukan sama sekali." Kata Sena.
"Ya udah, Bunda mau istirahat dulu. Kamu istirahat juga. Besok masih masuk pagi, kan?" Tanya Bunda.
"Ya Bun. Oh ya Bun, tadi Mas Fajri telpon, besok mau nganter makanan buat Sena ke kantor." Kata Sena.
"Tumben? Ada acara apa?" Tanya Bunda.
"Anaknya Kak Alif disunat." Kata Sena.
"Jangan Kamu makan yah. Terima saja. Kasih teman Kamu kek." Kata Bunda.
"Ya Bun. Sena juga pikir gitu." Kata Sena lagi.
"Ya udah, Bunda masuk dulu ya." Pamit Bunda.
Sena hanya mengangguk sambil mengganti kain kompres untuk Rizki.
Sena pelan mengambil ponselnya yang masih digenggam tangan mungil Rizki. Rizki sedikit bergerak. Sena menepuk-nepuk pantat Rizki pelan. Sena mengaktifkan kembali ponselnya.
Banyak misscall dari Fajri dan Rasya. Sena menghela nafas dan men silent ponselnya. Pesan masuk pun tidak Sena buka. Karena kalau Sena buka, kedua orang itu pasti akan segera menelponnya. Sedangkan Sena sudah sangat ingin istirahat.
Sena menyelimuti tubuh Rizki sampai ke dada. Tapi Rizki menariknya turun ke bawah. Sena hanya menghela nafas. Rizki memang paling gak betah tidur diselimutin. Sena mengecup pipi Rizki dan segera berbaring disebelah Putera semata wayangnya.
__ADS_1