
Fajri makin malas. Dia tak lagi mau pergi ke pasar. Kegiatan Sena pun makin banyak. Adiknya Sena, Vina, membuka counter pakaian anak-anak di sebuah Deptstore yang cukup terkenal di Jakarta.
Bunda dan Sena berdua saja mengerjakan jahitan baju-baju anak-anak.
Vina hanya memberi modal dan model. Sedang untuk melobi agar bisa masuk ke deptstore adalah Sena. Karena Sena yang mengerti bagaimana hitung-hitungan harga dan keuntungan.
Vina juga membuka lowongan pekerjaan sebagai sales counter untuk ditempatkan di Deptstore.
Fajri baru tidur saat larut malam, bahkan menjelang subuh, sedangkan bangun paling cepat sesudah dzuhur.
Sena sangat malu pada Bunda dengan kelakuan Fajri. Dia selalu menutup-nutupi kekurangan Suami nya tapi sepertinya Fajri lebih suka memperlihatkan aibnya sendiri.
Terkadang Bunda geleng-geleng kepala melihat kemalasan Fajri. Terkadang Bunda ngegrutu di depan Sena. Sena hanya bisa diam mendengarkan gerutuan Bunda.
Hari ini setelah sekian lama Bunda melihat kelakuan Fajri. Setelah hampir tiga bulan sudah Bang Tino dan Keluarganya pergi keluar Kota.
Sesudah subuh Sena dan Bunda tidak tidur lagi. Sena juga tak memegang pekerjaan rumah. Bunda juga tidak pergi ke pasar untuk keperluan dapur.
Hari ini Sena dan Bunda sepakat mengerjakan menjahit baju-baju anak-anak yang mulai banyak peminatnya.
Karena Vina akan membuka bazar di Apartemen tempatnya tinggal. Sebentar lagi pun puasa akan tiba. Tepatnya tiga hari lagi.
Matahari sudah meninggi. Tapi Fajri tak juga beranjak bangun. Padahal suara mesin jahit cukup ramai terdengar karena Sena dan Bunda benar-benar ngebut.
Sena berhenti sebentar untuk mengurus Rizki. Rizki pun merasa bosan karena tak ada teman nya untuk bermain. Sesekali Dia merengek, ada saja yang Dia minta hanya ingin mendapat perhatian dari Mama nya atau Ayahnya yang masih terlelap.
"Ayah bangun dong.... Rizki merengek terus nih...." Pinta Sena sambil membangunkan tubuh Fajri.
Tapi Fajri hanya membuka matanya sebentar terus memejamkan nya kembali. Fajri hanya bangun sebentar hanya pindah posisi tidur. Dari tempat tidur turun ke lantai.
Rizki kembali merengek manakala melihat Ayahnya tidur lagi.
Sena malah sudah dengan sengaja menyetelkan lagu anak-anak dalam Video dengan suara yang lumayan berisik. Tapi Fajri seakan mati tak mendengar.
__ADS_1
Rizki pun sudah berjoget-joget. Kadang Dia mengorek-ngorek hidung Ayahnya atau memasukan sesuatu ke telinga Ayahnya.
Itu membuat Fajri sangat kesal dan membentak Rizki. Alhasil Rizki menangis dan mengadu pada Sena.
Mau tak mau Sena harus menenangkan Rizki. "Ya Allah....Maaasss.... Ini sudah sore... Kenapa gak bangun-bangun? Aku lagi repot Mas. Kasihan Rizki dari tadi gak ada teman mainnya."
"Ck... Aahhh.... Ganggu aja siiihhh....!" Fajri bangun langsung ke kamar mandi. Dia mencari kopi tapi tak ada. Karena Sena belum membuatkannya kopi.
Fajri menyeduh kopinya sambil merokok. Rizki masih menangis karena kena amarah Fajri.
"Ngantuk kali Sena.... Coba ditidurin dulu." Kata Bunda.
"Ya Bun..." Jawab Sena sambil menggendong Rizki masuk ke kamar. Sena juga membuatkan susu untuk Rizki. Sena mengeloni Rizki. Benar saja, tak lama Rizki pun tertidur.
Fajri pun ikut tidur lagi setelah kopinya habis dan rokoknya tinggal puntung.
Fajri benar-benar tak peduli melihat keadaan rumah yang berantakan. Mainan Rizki berserakan juga cucian piring yang menumpuk.
Hingga menjelang maghrib akhirnya Sena dan Bunda menghentikan menjahitnya.
Sena mengangguk. Dia bergegas mandi dan melaksanakan shalat maghrib sendiri.
Kemudian Dia pergi ke dapur untuk mulai bebenah. Sena sangat kesal melihat puntung rokok Fajri yang dibuang begitu saja ke lantai.
"Maass...! Ya Allah... Bener-bener gak ada sedikitpun nolongin...! Bukannya bantuin bebenah atau apa malah nambahin sampah!" Sena sudah sangat kesal. Emosinya mulai tersulut.
"Dasar mang gak punya otak, gak punya perasaan! Kerjaannya tiduuurrr saja seharian... Bangun tinggal ngopi, rokok tinggal ngambil di warung. Gak ada pikirannya sedikitpun membantu!!" Sena makin menjadi kata-katanya.
Sena tak peduli lagi. Dia sudah sangat malu pada Bunda yang tak pernah memperlakukan Fajri kasar. "Kalau Mas jadi mantu orang lain, mungkin sudah ditendang dari dulu kali Mas!!" Sena sedikit teriak karena Sena mulai mencuci piring.
Fajri langsung bangun. Dia menghampiri Sena dan menjambak rambut Sena. "Kamu bilang apa, haaahh?! Begini cara Kamu bicara sama Suami?!" Fajri sangat marah, Dia menyakiti Sena.
Selama ini Sena tak pernah berbicara kasar pada Fajri. Tapi lama kelamaan Fajri benar-benar tak tahu diri. Sena pun meledak kemarahannya.
__ADS_1
"Memang Mas gak punya Otak! Gak punya malu! Numpang sama Bunda Aku, gak malu Mas! Orang dari beduk subuh sampai sekarang banting tulang, Mas malah enak-enakan tidur!" Kata Sena yang segera melepaskan jambakan Fajri.
Fajri kembali masuk ke kamar. Sena membanting-banting cucian piringnya. "Dasar gak punya Otak!" Teriak Sena.
Tiba-tiba remote tivi melayang tepat mengenai kepala Sena yang sedang mencuci piring.
PLETAK..!! Sena tersentak. Dia melihat kilatan amarah di mata Fajri. "Kurang ajar Lo ya lama-lama! Mentang-mentang gue numpang disini!" Bentak Fajri.
"Numpang gak ada pikiran! Mana ada orang tidur seharian. Sudah tahu Istri dan Mertuanya sibuk. Minta tolong jagain anaknya saja gak mau..!" Sena menantang Fajri.
"Ok!! Gue bakal pergi dari sini....! Mana KTP Gue yang dari rumah Ibu?!" Fajri melempar KTP yang dari tempat tinggal Bunda.
Sena melihat Fajri sudah menyiapkan tas dan memasukan beberapa lembar pakaiannya. Sena masuk kedalam kamar. Dan memberikan KTP Fajri yang dari rumah Ibu nya.
Kali ini Sena tak akan menghalangi lagi kepergian Fajri. Ini sudah yang kesekian kali, Fajri menggertak akan meninggalkannya. Dia berharap Sena akan memohon padanya untuk tidak pergi.
Namun Fajri salah. Sena sudah muak dengan kelakuan Fajri. Fajri dikasih hati minta jantung, dikasih jantung nginjak kepala.
Sena menguatkan dirinya agar tak menangis di depan Fajri. Sena gak mau ngalah lagi. Sena benar-benar sudah lelah dengan kelakuan Fajri yang tak pernah mau berubah.
Fajri segera meninggalkan rumah Bunda. Dia berpamitan pada Bunda. "Bun....Fajri pergi dulu ya....." Tanpa jawaban dari Bunda, Fajri meninggalkan rumah Bunda.
Sena sedikit berlari melihat kotak uang dagangannya. "Alhamdulillaah masih utuh...." Batin Sena. Sena tahu Fajri tak punya uang seperserpun.
"Dia pasti akan kembali minta ongkos...." Batin Sena.
Bunda sedang ada tamu yang akan menjahit baju. Bunda tak mau menghalangi Fajri. Dia malu dengan tamunya.
Sena kembali mencuci piring. Airmata nya mengalir begitu saja. "Ya Allah....Kalau memang pisah adalah jalan terbaik, kuatkanlah hati Aku untuk menghadapi ini semua." Kata Sena pelan.
Rizki tiba-tiba sudah memeluk kaki Sena. "Mama...." Rizki melihat dan mendengar keributan Mama dan Ayahnya.
Sena berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh mungil Rizki. "Gak apa ya Nak... Kita hidup tanpa Ayah... Huk... huk... huk...." Sena pun menangis.
__ADS_1
Rizki memeluk tubuh Sena. Tangan mungilnya mengelus rambut Sena