Aku Bukan Wonder Woman

Aku Bukan Wonder Woman
Amarah Nina


__ADS_3

"Anak Gw balikiiiinnn....!!!!" Sena masih terus berteriak. Dia benar-benar sudah muak.


"Nih... Nih... Anak Lo... Bawa sono..! Gak ada yang bawa kabur anak Lo!" Kata Bunda ketus sambil menyerahkan Rizki pada Sena.


Rizki memeluk tubuh Sena. "Mama...."


"Kita pergi ya Nak. Kita gak diinginkan disini." Kata Sena.


Rizki hanya diam. Dia tak mengerti melihat Mama nya tadi dipukul Om nya.


Sena mendengar grasak grusuk dari ruang tamu. "Ngapain sih Dia teriak-teriak gitu!? Bikin malu aja.!" Sewot Vina.


"Suddaaaahhhh..." Bunda menepuk dadanya.


Mereka melihat Sena keluar rumah dari pintu samping. Karena memang kamar Sena mempunyai akses sendiri untuk keluar masuk tanpa melalui ruang tamu. Dia tak berpamitan pada orang rumah. Sena menganggap semua keluarganya membencinya karena Dia miskin dan selalu menumpang hidup.


"Itu kardus yang dibawa, apa?" Terdengar suara Kak Wely yang melihat kepergian Sena. Dan setelahnya Sena tak mendengar apa-apa lagi. Sena makin menjauh dari rumah.


Sena menggendong Rizki dengan kain gendongan yang terus melorot. Sena memang selalu meminta bantuan pada Bunda jika akan menggendong Rizki. Tapi kini tak ada yang membantunya malah mengusirnya dari rumah.


Sena menyetop angkot. Kemudian dia naik sambil menggendong Rizki dan menenteng dus.


Setelahnya Sena berganti dengan naik Bus menuju ke Jakarta Utara. Ponselnya berdering. Sena melihat siapa yang menelpon. "Sella..." Sena langsung mengangkatnya.


"Sena.. Kamu jadi kesini?" Tanya Sella.


"Jadi Sella... Aku sudah di atas Bus." Kata Sena.


"Berarti 45 menit Kamu sampe depan jalan rumah Aku ya. Ya udah nanti Aku jemput. Hati-hati Sena." Pesan Sella.


"Ya Sella, terima kasih." Kata Sena dan langsung memutus hubungan telponnya.


55 menit kemudian Sena tiba di depan jalan rumah Sella, karena tadi angkot yang menuju masuk arah rumah Sella agak lama nunggunya.

__ADS_1


"Sena...!" Panggil Sella.


Sena tersenyum pada Sella. Sella melihat Sena yang kerepotan dengan gendongannya dan barang bawaannya.


"Ya ampun Sena... Lo bawa-bawa dus? Mang Lo gak punya tas?" Tanya Sella.


Sena menggeleng. Sella mengambil dus dari tangan Sena. "Sini Aku bantuin. Kamu udah makan?" Tanya Sella.


Sena menggeleng. Sena menahan airmatanya yang dari tadi Dia tahan.


"Kita mampir beli lauk dulu ya. Kamu kan tahu, sejak Orangtuaku tiada, di rumah gak pernah masak." Jelas Sella.


"Ya Sellaaa....Gak apa. Aku terima kasih banget, Kamu mau nampung Aku." Kata Sena sedih.


Sella mengusap bahu Sena. "Kamu kan teman baikku dari dulu. Cuma Kamu yang berteman denganku, di kampus dulu." Kata Sella.


Sella memang sahabat Sena waktu di kampus. Walau Mereka beda jurusan tapi Mereka memang dekat sejak ikut pesantren kilat di kampus.


Terakhir kali, Kakak nya Sella, Maya, mengenalkannya pada seorang laki-laki tapi tak seimbang dengan wajah Sella. Sella juga sangat kecewa pada Kakak nya yang tak mengukur laki-laki itu dengan kecantikan Sella.


Bukannya Sella tak bersyukur, tapi Sena saja yang biasa-biasa saja, sempat shock melihat wajah laki-laki itu.


Sella pernah cerita pada Sena, kalau dulu Dia punya pacar dan entah mengapa putus, Dan sejak saat itu kalau ada laki-laki yang suka sama Sella, Sella gak mau tapi giliran Sella mau, Laki-laki nya gak mau.


Sella dulu juga punya pacar, Doni namanya. Doni sangat tampan, tapi orangtua Sella tak setuju karena masih memandang suku orang itu tidak baik. Akhirnya Mereka putus. Padahal Sena sudah bersusah payah meyakinkan Doni kalau Sella sangat menyayanginya.


Entahlah....Rahasia apa yang ada dibalik semua ini. Sena saja sudah berusaha jadi istri yang baik, anak yang penurut, saudara yang melindungi Adik-adiknya. Tapi nasibnya tak pernah beruntung.


____________________________


Sella menangis mendengar cerita Sena. Sena juga menangis mencurahkan isi hatinya yang selama ini menderita.


"Sudah Sena... Kamu tinggal disini saja. Kasihan anak Kamu... Hik.. hik.. hik..." Sella masih terisak.

__ADS_1


Di saat yang bersamaan.


"Gw tahu bagaimana Kak Sena. Dia pasti dibudakin di rumah. Gw tahu banget Kakak Gw gak bisa lihat nasi sebiji pun ada di lantai." Kata Nina. Dia sangat kesal mendengar Sena pergi dari rumah karena diusir Bunda.


"Kak Lana dianjing-anjingin sama Sena. Mang salah Kak Lana apa?" Dia mengeluarkan airmata Buaya.


Tak ada yang mendengarkan keluhan Lana. Nina memutar matanya malas. "Dasar penjilat..." Gumam Nina.


"Eh Lana... Namanya Kita satu rumah sama saudara ipar harus saling ngertiin, jangan mau nya enak sendiri. Lagi pula Sena numpang sama Bunda bukan sama Tino. Gak sepantasnya Lo bersikap kaya gitu sama Sena." Kak Mita juga memarahi Lana.


"Sampe semua orang denger kalau Dia gak pernah makan dirumah! Tapi udah kaya babu, Dia yang cuci piring dan masak nasi. Apa enak tuh denger kaya gitu?!" Kata Kak Mita lagi.


"Lagian pada gak ada yang ngertiin Kak Sena, Dia kan baru aja ditinggal suaminya, statusnya juga belum jelas. Bukannya dihibur malah terus digencet!" Kata Anto terdengar kesal.


"Abis mulutnya itu gak tahan Gw dengerinnya." Bang Tino membela diri.


"Eh Tino, dari dulu Sena itu begitu mulutnya kalau Dia disenggol tapi kalau gak disenggol juga Dia gak akan kurang ajar mulutnya." Hardik Kak Mita.


"Coba Lo pikir kenapa Sena kurang ajar sama Lo? Dia dagang cuma segitu-gitu nya tapi Lo ambilin terus, ya rokok, Mie juga yang lain!" Kata Kak Mita.


"Tapi kan Gw bayar...." Bang Tino masih membela diri.


"Kapaaaan..!?" Tanya Bunda ketus. Bunda juga menyesal terbawa emosi dan mengusir Sena. Bunda juga sangat menyesalkan dirinya tak mendengarkan keluh kesah Sena yang selalu mendapat perlakuan seenaknya dari Lana. Padahal Sena itu anak kandungnya.


"Lo juga Kak Vina. Ngapain juga Lo ngirim SMS kayak gitu!? Bilang Kalau Kak Sena cuma babu Lo yang ngurusin Rizki, hanya karena Lo pernah ngasih air susu Lo pada Rizki?! Lo kan gak tahu apa-apa, kenapa Lo ikut-ikutan musuhin Kakak Lo sendiri?!" Nina makin sewot.


"Yeee...! Lo kan gak tahu, Usaha gw bangkrut karena Sena. Mana modal Gw gak balik?! Laki Gw marah-marah sama Gw." Vina sewot pada Nina.


"Lo ada bukti kalau Kak Sena yang bikin bangkrut usaha Lo? Lo gak sadar, baju-baju yang Sena jahit Lo ambil-ambilin terus buat Lo kasih kado ke teman-teman anak Lo! Sena dah cape ngeloby biar usaha Lo masuk deptstore terkenal, Dia ngitung harga dan keuntungan, Dia juga yang jahit. Dia juga yang nyuplay... Apa Lo gak mikir kalau Lo sewa jasa orang profesional, Berapa gaji yang harus Lo bayar?! Tapi apa Kak Sena pernah minta gaji sama Lo?! Gak kan? Bagi Dia yang penting asal anaknya bisa minum susu juga udah Alhamdulillaah..." Cecar Nina.


"Lo juga Tino, enteng banget tangan Lo, dikit-dikit main tampar, yang salah siapa, tangan Lo enteng ke wajah Sena. Udah rusak kaya apa kali tuh otak adek Lo! Masih syukur Dia gak gila, punya saudara pada egois!" Kata Kak Mita.


Bunda mengusap airmatanya. Bunda menyesal tak berfikir dulu sebelum mengusir Sena. "Ya Allah... Sekarang dimana Sena? Apa dia sudah makan? Gimana Rizki? Dia belum makan tadi waktu pergi. Huk... huk... huk..." Bunda menangis.

__ADS_1


__ADS_2