
Gerimis masih terus mengguyur bumi halus. Namun Fajri tak juga menepi karena Sena yang memintanya untuk terus lanjut.
Sena nelangsa. Tak ada harapan baginya untuk kembali pada Fajri. Fajri begitu pengecut menghadapi gelombang lautan rumah tangga.
Padahal Sena sudah mau membantunya dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga tapi Fajri tak bersyukur, Dia malah mati keenakan dibantu tak ada pikiran.
Berulang kali Sena membuang sesak didadanya. Airmata sudah mengambang dari tadi dan tak ada niat untuk ditumpahkan.
Fajri menarik tangan Sena. Tapi Sena perlahan menariknya lagi. Dia tak mau terus berharap pada ketidakpastian.
"Apa Kamu tak mau lagi rumah tangga denganku?" Tanya Fajri yang memecahkan keheningan.
"Bagaimana Aku bisa rumah tangga denganmu kalau Kamu saja tak bisa Aku pegang Mas. Aku tak punya pegangan yang kuat." Kata Sena yang kembali terisak.
"Ya Allah... hanya segini saja kah perjalanan rumah tangga ku dengannya? Aku lelah mempertahankannya, karena Dia begitu mudah menghancurkannya. Aku gak kuat menahan pondasi yang awalnya memang sudah tak kokoh." Batin Sena.
Fajri memarkirkan motornya di depan teras kontrakan Kak Mita.
"Assalamu alaikum..." Salam Sena.
Mas Tito membuka pintu. "Sena... Fajri... Sini masuk. Eh ada Rizki... Sehat Sena?" Tanya Mas Tito.
Sena mengangguk pelan. Dia membawa Rizki masuk. Kemudian mengambil tas nya dari motor Fajri.
Kak Mita keluar. "Sini Ji masuk... Ngapain diluar? Masih gerimis ya?" Tanya Kak Mita.
Fajri pun masuk. Sena membuka jaket Rizki. Kemudian mengganti pakaian Rizki dengan sebelumnya mengelap badan Rizki dengan handuk basah.
Sena membalurkan minyak telon pada tubuh Rizki yang mulai terasa hangat. Sena memegang kepala Rizki. Panas.
Kak Mita membuatkan teh manis panas dan kopi untuk Sena dan Fajri. Sena menyuapi Rizki teh manis sesendok demi sesendok.
"Dari mana? Kenapa gak kesini?" Tanya Mas Tito.
"Kemarin Kamu nginep dimana Sena?" Tanya Kak Mita.
"Di rumah Sella, Kak." Kata Sena pelan.
"Terus ketemu Fajri?" Tanya Kak Mita lagi.
"Dijemput." Kata Sena pelan. Sena terlihat murung.
"Ji... Kita itu rumah tangga harus sama-sama. Kalau udah kerja, kerja laha yang benar. Kasihankan sama istri dan anakmu..." Kata Kak Mita.
Mas Tito juga menasehati Fajri tapi memang dasar Fajri, otaknya bebel. Masuk kuping kanan keluar kuping kiri.
Ponsel Fajri berdering. Dia mengangkatnya. Tak lama Dia berpamitan pada Kak Mita dan Mas Tito.
"Nanti deh Mas, Kak, kalau Fajri udah kerja, Fajri jemput Sena." Janji Fajri.
__ADS_1
Sena mengusap airmata nya. Dia tak berani berharap yang akan menambah lukanya makin menganga.
Fajri pun meninggalkan rumah Kak Mita.
"Lihat Sena... Gak ada usahanya si Fajri. Mana? Gak ada Dia mau usaha atau meyakinkan Kamu. Kalau Dia benar-benar mau rumah tangga yang benar sama Kamu, harus nya Dia gak membiarkanmu luntang lantung." Kata Kak Mita sewot. Dia tahu perihal rumah tangga Sena karena Bunda yang menceritakannya.
"Menitipkan Kamu saja disini gak. Huuuhhh... Kamu yang sabar aja deh Sena." Kata Kak Mita.
"Kamu dah makan belum? Makan dulu sana." Kata Kak Mita lagi.
Sena menggeleng. Rizki tak mau lepas dari Sena. "Rizki sini sama Ibu Kakak aja." Kata Kak Mita.
"Ndak au..." Kata Rizki menggeleng.
Sena mengambil nasi, sayur dan lauk juga sambel. Dia menyuapi Rizki yang memang juga belum makan.
"Nambah Sena...." Kata Mas Tito.
"Ya Mas... Ini juga belum abis." Kata Sena.
"Aaaa Ma...." Kata Rizki
"Ya Nak... Sabar dikit. Masa ditelan aja, gak dikunyah?" Kata Sena. Sena memang sengaja menuangkan kuah sayur agak banyak supaya Rizki mau makan.
Kak Mita mengusap kepala Rizki. "Kok kepala Rizki panas?" Tanya Kak Mita.
"Ya Kak... Rizki selalu gitu kalau udah ketemu Mas Fajri terus ditinggal. Makanya mending gak usah ketemu sekalian." Kata Sena kesal.
Sena mengangguk sambil terus menyuapi Rizki.
_________________________
Keesokan harinya.
Kepala Rizki tambah panas. Dia muntah-muntah dari tadi. "Ya Allah... Kenapa lagi dengan anakku?" Batin Sena yang mulai mengambang airmatanya.
Sena memberikan teh manis kalau Rizki sudah mulai demam.
"Kenapa dengan Rizki?" Kata Kak Mita.
"Rizki memang akhir-akhir ini sakit Kak, sejak ditinggal Mas Fajri." Kata Sena.
"Oh ya... Nih ada titipan dari Bunda." Kak Mita mengeluarkan sebotol air mineral. "Kamu kasih minum Rizki, Kamu juga minum. Terus cuci muka. Selebihnya kasih Kakak." Kata Kak Mita.
Sena hanya menurut. Dia tak mau bertanya mengapa harus begini mengapa harus begitu. Sena melakukan yang disuruh Kak Mita.
Kemudian Kak Mita menyipratkan sisanya di teras depan rumah nya dan teras dapurnya.
"Besok Aku mau bawa Rizki berobat ke mpok Ella." Kata Sena.
__ADS_1
"Dimana rumahnya?" Tanya Kak Mita.
"Di belakang Mall dekat rumah Bunda." Kata Sena.
"Ya sudah... Besok abis bawa Rizki berobat, Kamu mampir ke rumah Bunda. Minta maaf sama Bunda." Pinta Kak Mita.
"Aku gak mau balik ke rumah Bunda kalau masih ada Anjing itu." Tegas Sena.
"Lana maksud Kamu?" Tanya Kak Mita.
Sena mengangguk.
"Kemarin Kak Mita ke rumah Bunda. Bunda bilang Dia sudah masak sendiri diatas. Cuci piring sendiri di atas. Jadi Kamu gak akan terusik." Cerita Kak Mita.
"Tapi kalau Kamu gak mau tinggal dirumah Bunda, gak apa. Yang penting besok Kamu tengokin Bunda, jangan sampe gak. Kasihan Bunda. Dia kemarin curhat sama Kakak. Bunda juga nyesel udah ngusir Kamu. Kamu kesana gak usah pedulikan Lana. Itu rumah Bunda bukan rumah Tino." Tegas Kak Mita.
"Waktu arisan juga, Nina marah-marah sama Vina dan nyindir ke Lana. Anto juga membela Kamu." Kata Kak Mita.
"Cuma Vina aja yang sepertinya kena hasut Lana..." Kata Kak Mita lagi.
"Ya Kak... Sena sedih dibilang babu nya Dia, cebokin Rizki." Sena menunduk.
"Ya memang Vina keterlaluan. Kemarin juga udah dimarahin sama Nina." Kata Kak Mita.
_________________________
Sena berpamitan pada Kak Mita.
"Hati-hati... Jangan sampai gak mampir ke rumah Bunda. Nanti Kakak tanya ke Bunda. Kakak marah kalau Kamu gak ke rumah Bunda." Pesan Kak Mita.
"Ya..." Sena pun berlalu lewat pintu depan kontrakan Kak Mita.
Dia menyetop minibus yang lewat.
Disaat bersamaan.
"Loh... Sena baru aja pergi, memang gak ketemu? Baru banget." Kata Kak Mita.
"Mang Sena mau kemana Kak?" Tanya Fajri.
"Mau berobat. Rizki sakit. Kepalanya panas. Muntah-muntah dari kemarin." Kata Kak Mita.
"Ya udah Kak, coba Fajri susul barangkali belum jauh." Kata Fajri basa-basi.
"Iya... Hati-hati." Kata Kak Mita.
Fajri pun berlalu. Entah benar atau tidak, Dia menyusul Sena.
Yang jelas Sena sampai di rumah Mpok Ella diantar minibus. Dan Dia harus turun naik berganti minibus.
__ADS_1
Dasar Fajri.... Basiiii!!!