Aku Bukan Wonder Woman

Aku Bukan Wonder Woman
Sena Berdamai


__ADS_3

Sena sudah selesai manyapu dan mengepel. Dia juga sudah memandikan Rizki Sena membuatkan Rizki susu.


"Kamu disini ya minum susu. Mama mau mandi dulu. Jangan pegang apa-apa kalau susunya abis." Kata Sena lembut.


Sena menggelar kasur kecil di depan tivi. Sena menyetel tivi siaran anak-anak.


Sena bergegas mandi. Sena ingin mandi keramas. Dia merasa dirinya sangat kucel dan lusuh.


15 menit kemudian Sena sudah berpakaian memakai baju rumahan. Setelan celana dan blus dari bahan yang nyaman untuk di rumah.


Rambutnya basah tergerai. Dia terlihat segar walau wajahnya sangat pucat. Bibirnya juga agak membiru.


Sena mengelus kepala Rizki yang sedang menonton tivi.


Suara deru mesin motor yang tak asing di telinga Sena, berhenti di depan kontrakan. "Ayah pulang." Bisik Sena pada Rizki.


"Mama mau ke kamar belakang." Kata Sena pelan.


Sena menekan tombol off pada remote tivi dan langsung menggendong Rizki masuk ke kamar belakang.


Terdengar kunci pintu dibuka. Sena memang tak memasang kunci di pintu. Dia memang mengunci pintu. Fajri selalu membawa kunci cadangan.


Sena pura-pura sedang merapihkan bahan-bahan baju anak-anak yang akan Dia potong besok.


"Assalamu alaikum..." Sapa Fajri.


"Wa alaikumussalam..." Jawab Sena dalam hati.


Rizki duduk di pangku oleh Sena. Rizki ikut-ikutan membantu Sena melipat-lipat bahan.


Fajri berdiri terpaku di depan pintu kamar belakang. Dia melihat Sena dengan rambut basah tergerai. Wajahnya menunduk menutupi luka di bibir dan pipinya.


Fajri mendekat pada Sena. Fajri duduk dihadapan Sena tapi Sena memutar tubuhnya.


Fajri menahan tubuh Sena. Dia memeluk tubuh Sena. "Maafkan Aku.... Aku khilaf." Fajri menangis. Airmatanya tumpah ke pipi membasahi rambut Sena yang memang basah.


Sena sedikit mengelak menolak pelukan Fajri. Fajri merasakan tubuh Sena panas. "Kamu sakit?" Tanya Fajri menyentuh kening Sena tapi Sena langsung mengelak.


"Apa Kamu benar gak mau Aku pulang?" Tanya Fajri. Dia menaikan dagu Sena karena Sena terus saja menunduk tak mau menjawab.


Airmata Sena sudah jatuh ke pipi. Fajri melihat wajah Sena yang pucat juga bibirnya. Dia melihat luka di sudut bibir Sena yang biru, juga bekas gambar tangannya dipipi Sena.


Sena meringis nyeri manakala Fajri menyetuh pipinya. Fajri kembali memeluk Sena. "Maafkan Aku..." Fajri mengelus rambut panjang Sena.


"Kamu udah makan?" Tanya Fajri yang melerai pelukannya. Dia menatap wajah Sena. "Lihat Aku..." Pinta Fajri.


Sena menatap wajah Fajri. "Apa Kamu masih marah sama Aku?" Tanya Fajri.


Sena kembali menundukkan wajahnya. Dia enggan memberi jawaban.


Fajri menghela nafas. Percuma Dia bertanya pada Sena yang masih marah padanya.

__ADS_1


Fajri merasa sangat lapar. Dia beranjak ke dapur karena tak mendapat jawaban apa-apa dari Sena.


"Yah... Yah..." Rizki memanggilnya minta digendong. Fajri menggendongnya. "Mama udah mamam belum?" Tanya Fajri.


Rizki menggeleng. Fajri membuka tutup panci langseng nasi. Dia melihat nasi yang sudah basi dan mulai berjamur.


Fajri menghela nafas. "Berarti Kamu gak makan dari kemarin." Fajri terlihat sangat bersalah. Dia tahu Sena sangat terpukul dengan sikapnya yang telah main tangan pada Sena.


Fajri menurunkan Rizki. "Kamu ke Mama dulu ya. Ayah mau masak. Nanti Kita mamam." Kata Fajri.


Rizki mengangguk dan masuk kedalam kamar dimana Mama nya berada.


Fajri membuang bekas nasi yang basi ke tempat sampah. Dia merendam langseng dengan air. Fajri mengambil panci dan beras. Dia mencucinya. Fajri memasak nasi. Dia juga membuka kulkas melihat isinya.


"Hanya ada telur." Gumamnya. Fajri mengiris bawang dan cabe. Dia membuat dadar telur sambil menunggu nasi aron.


Fajri sedang menggoreng telur dadar dengan api kecil. Dia mencuci langseng.


Sena mendengarkan saja suara-suara perpaduan panci dan alat masak lain. Dia tahu suaminya bisa masak. Makanya Dia hanya diam saja tak mengambil alih.


40 menit kemudian Fajri sudah siap memasak. Dia mengambilkan nasi ke piring makan untuk Sena juga potongan dadar telur.


Fajri menghampiri Sena. "Kamu makan ya?" Fajri menyodorkan piring. Tapi Sena tetap tak bergeming.


Fajri mulai menyuap nasinya. Sena tetap diam tak menyentuh nasi nya. Fajri akhirnya menyuapkan nasinya pada Sena.


Sena membuang muka menolak suapan Fajri.


Sena menatap Fajri, menantangnya. Matanya nyalang tak ada rasa takut. Fajri sejenak terperanjat dengan tatapan Sena.


Fajri meletakkan piringnya. Dia kembali memeluk Sena. "Tolong... Maafkan Aku. Apa Aku harus bersujud mencium kakimu, agar Kamu mau memaafkanku?" Tanya Fajri dengan memelas.


Sena masih terdiam. Matanya tertunduk. Tiba-tiba Fajri bersujud ingin mencium lutut Sena. Sena terperanjat. Sena langsung menghindar, Dia mundur tapi kepalanya malah terbentur meja mesin jahit.


"Aduuuhhh...!!" Sena mengelus kepalanya.


Fajri mendongak. Dia langsung menangkup kepala Sena.


"Mas ngapain sih? Hik... hik... hik..." Sena terisak merasakan kepalanya sakit, belum juga sembuh sakitnya yang kemarin, kini malah bertambah lagi.


"Abis Kamu nyuekin Aku. Aku bingung... Aku mohon... maafin Aku." Fajri mengelus kepala Sena yang terbentur.


"Kamu makan dulu ya. Abis itu Aku obatin." Pinta Fajri.


Sena hanya mengangguk. Akhirnya Dia berdamai dengan hatinya. Dia tak tega melihat Fajri yang sangat memelas meminta maaf darinya.


Fajri menyupi Sena. Mulut Sena terasa kaku saat membuka menerima suapan. "Aaauuuwww..." Sena mengeluh.


"Pelan-pelan ya." Pinta Fajri lembut.


Sena mengunyahnya perlahan. Fajri merapikan rambut Sena yang menutupi sebelah wajahnya. Fajri menyelipkan ke belakang telinga Sena.

__ADS_1


"Sudah Mas.... Perutku sakit. Rasa nya lemas." Rengek Sena.


"Baru tiga suap..." Kata Fajri yang kembali menyuapi Sena.


"Aku gak bisa Mas... Nanti malah Aku muntahkan semua." Kata Sena pelan.


Fajri mengambil air minum kemudian memberikan pada Sena.


Sena meneguknya hingga habis. Sena memang hanya ingin minum dan minum. Dia merasa haus terus walau perutnya sudah terasa kembung.


Fajri meneruskan makannya. Dia menghabiskan nasi Sena.


Sesekali Fajri juga menyuapi pada Rizki yang ribut minta mamam. Fajri memilihkan potongan telur yang tidak ada cabe nya.


Sena malah meringkuk di lantai dengan beralas kain gosokan.


"Kok Kamu malah tidur di lantai? Nanti malah tambah sakit...." Fajri sedikit kesal.


"Badanku serasa lemas. Perutnya gak enak." Kata Sena yang memegangi perutnya.


"Sabar ya. Aku habiskan makananku dulu." Kata Fajri.


Tak lama Fajri merapikan bekas makan Mereka. Fajri kemudian membersihkan dirinya. Tak lama Fajri sudah menggunakan celana pendeknya tanpa kaos.


Fajri melihat Sena yang masih meringkuk di lantai di kamar belakang. Fajri menghela nafas. Dia bergegas menghampiri Sena dan segera menggendong tubuh Sena.


"Maass....!" Sena terkejut. Dia yang sedang memejamkan mata, tak menyangka kalau Fajri akan menggendongnya.


Fajri tak menghiraukan tolakan Sena. Fajri membawa tubuh Sena ke kamar dan merebahkannya di kasur perlahan.


Fajri mengambil minyak kayu putih. Dan memulai mengurut kaki Sena.


"Maass.... Mau ngapain?" Sena tak enak hati.


"Badan Kamu panas banget. Ada yang Kamu rasa sakit. Kata Fajri.


"Buka baju Kamu, yah?" Pinta Fajri.


"Rizki belum tidur Mas." Kata Sena.


Rizki yang dari tadi membuntuti Ayahnya, ikut merebahkan dirinya di kasur.


Sena mengelus kepala Rizki. Rizki memang sudah sangat mengantuk. Tak lama Rizki terlelap.


"Sekarang buka baju Kamu." Kata Fajri.


Sena menuruti. Fajri mulai mengurut tubuh Sena dari kaki hingga ke punggung juga kepala.


Sesekali Fajri iseng meraba bagian sensitif dari tubuh Sena.


"Maaasss...." Sena melenguh. "Aku lagi sakit Mas..." Tolak Sena.

__ADS_1


Fajri hanya bisa menghela nafasnya, meredam nafsunya.


__ADS_2