
"Assalamu alaikum...." Salam Sena dengan lesu. Dia tiba di rumah jam 5.30 pagi.
Sena langsung menuju kamarnya. Rizki masih terlelap. Sena mengecup kening Putera nya. Sena langsung ke dapur masak air untuk mandi.
"Baru pulang, Sena? Gak kerja?" Tanya Bunda yang baru keluar dari kamarnya setelah tadarus.
"Iya Bun. Sena ngantuk banget. Mandi dulu baru tidur." Jawab Sena.
"Mang Kamu dari mana?" Tanya Bunda menyelidik.
"Di Kantor Bun, ada teman yang gak masuk jadi Sena back up." Kata Sena berbohong.
"Ya udah." Kata Bunda.
Sena menyalakan kompor setelah panci yang berisi air sudah berada diatas nya.
Sena langsung membuka warungnya. Dia membereskan warung nya sambil menunggu air nya matang.
"Mama...." Panggil Rizki.
"Ya Dek..." Sena melongokan kepala nya ke kamar.
"Endong." Minta nya sambil mengangkat kedua tangannya.
Sena langsung menggendong nya.
"Mama ana?" Tanya Rizki.
"Mama abis kerja, Sayang... Maafin Mama ya..." Sena mencium pipi Rizki. "Bau Acem..." Canda Sena.
"Mo mandi..." Kata Rizki.
"Sebentar ya. Mama rapihkan ini dulu." Kata Sena yang masih sibuk membereskan warung sambil menggendong Rizki.
"Sena...! Air nya mendidih nih!" Teriak Bunda dari arah dapur.
"Ya Bun. Mandi yuk?!" Sena langsung melucuti piyama Rizki.
"Nda au ai anas..." Rizki menggeleng.
"Ya... Air panas nya buat Mama..." Kata Sena.
"Mama au bobo?" Tanya Rizki.
Sena mengangguk. Dia memandikan Rizki. Rizki kedinginan tapi Dia senang. Rizki tidak suka air hangat. Minyak kayu putih pun Dia tolak. Panas katanya, makanya Sena hanya memberikan minyak telon sedikit dan bedak tabur.
"Sekarang anak Mama udah wangi." Sena menciumi Rizki. "Mama mandi ya. Kamu sama Uwo dulu." Sena membawa Rizki pada Bunda.
______________________________
Baru saja Sena terlelap, ponsel nya bergetar. Sena melihat sebentar dan tak menghiraukannya. Sena melihat tanda amplop di ponsel nya. Banyak SMS disana.
Sena baru saja menghidupkan ponsel nya setelah semalaman Dia matikan. Ternyata SMS dan panggilan tak terjawab banyak sekali.
Sena tak menghiraukan ponselnya. Dia menjauhkan diri dari ponselnya. Sena sangat mengantuk dan juga pusing. Hanya tidur obat yang paling manjur.
__ADS_1
"Mama.... nasi uduk..." Rizki masuk ke kamar membawa sebungkus nasi uduk. Sena sebenarnya enggan untuk makan karena perutnya mual. Tapi karena Rizki yang membawanya, Dia tak mungkin menolak pemberian Putera nya.
"Terima Kasih Sayang Mama...." Sena tersenyum. Rizki juga membawakan sendok. Sena menyuap nasi uduknya dengan menahan rasa mual. Rizki juga meminta Sena menyuapkan padanya, padahal Rizki baru saja makan.
Sena dengan senang hati menyuapi Rizki, dengan begitu Dia tak perlu menghabiskan nasi uduk nya. Sena teringat obat dari dokter tadi.
"Mama bobo lagi ya..." Kata Sena.
Rizki mengangguk. Dan berlari keluar.
Sena segera mengambil obat di dalam ransel nya. Kemudian meminumnya. Tak lama obat bereaksi. Sena mengantuk dan terlelap.
____________________________
"Bangsat!! Dari mana aja Lo semalaman!?"
"Lo ng*nt*t sama orang, pake minta tolong sama Gw!"
"Dasar perempuan brengs*k! Lo*te!!"
Banyak SMS dari Aldi. Tak ada satu pun bahasa nya yang halus, semua penuh penghinaan dan makian. Sena menghela nafas. Sena tahu dirinya bersalah karena tidak melawan Andi. Sena masih merutuki kebodohannya karena tidak pergi saja waktu macet di pasar.
Ponsel Sena berdering. Sena melihat nama pemanggil, Sena malas mengangkatnya.
"Eh anjing! Angkat telpon Gw!"
SMS masuk lagi karena Sena tak menjawab telpon dari Aldi.
Ponsel nya kembali berdering. Dengan segan Sena mengangkatnya.
"Eh Setan dari mana aja Lo?!" Sapa nya sewot.
"Sena matiin nih kalo kasar gitu ngomongnya!" Sena mengancam.
"Eh Lo gak usah banyak permintaan ya! Darimana Lo semalaman?! Ponsel Lo matiin! Lagi enak-enakan Lo ya sama bangsat tua itu!" Kata nya lagi penuh emosi.
Sena langsung mematikan ponselnya. Dan menon-aktifkan. Kepala nya sakit. Belum juga Dia terlelap dengan tenang. Sena meneguk air yang Dia taruh di meja dekat tivi. Sena kembali memejamkan mata.
_______________________________
"Maaf Dan, Sena sakit. Mungkin besok Sena kembali kerja." Kata Sena dalam panggilan telepon.
"Ya sudah, tapi jangan lupa besok bawa surat ijin sakit nya ya." Kata Dan Roni.
"Siap Dan... Terima kasih." Sahut Sena.
Pak Roni mematikan sambungan telpon.
Sena menghela nafas. Dia melihat banyak SMS yang masuk tapi belum Dia buka. Satu per satu Sena membaca nya.
Kebanyakan SMS dari Aldi dengan kata-kata kasar dan menghina. Sena langsung menghapusnya tanpa membaca.
"Sayang... Kamu udah bangun? Kamu baik-baik aja kan?" SMS dari Andi.
Sena memutar bola mata nya malas. "Gara-gara Lo, gw jadi bolos kerja." Gerutu Sena sendirian.
__ADS_1
Ponsel nya Sena berdering. "Aahh Dia lagi..." Sena malas menghadapi kata-kata kasar Aldi.
Ponsel nya bergetar.
"Kamu kenapa Sayang? Semalam kemana? Angkat dong telpon Aku."
SMS dari Aldi, kali ini dengan kata-kata manis.
"Aku semalam kerja. Lembur di Kantor." Balas SMS dari Sena.
Ponsel nya berdering. Dari Aldi, Sena ragu untuk mengangkatnya. Tapi akhirnya Sena mengangkatnya.
"Hhmmm... Ada di kantor semalam?" Aldi tanpa basa-basi.
"Iya." Jawab Sena.
"Eh... Gw itu semalam telpon ke kantor Lo! Tapi Orang kantor Lo bilang, Lo udah pulang dari jam 7." Aldi terdengar sewot tapi tak berteriak seperti tadi.
Deg.....
Sena bingung akan menjawab apa. Kalau Dia jujur, Aldi pasti sangat marah dan akan mengata-ngatai nya lagi.
"Jawab! Kalo Lo kenapa-napa, Gw cari Lo kemana?!" Kata Aldi lagi.
"Tapi janji gak marah sama Sena..." Sena memelas. "Sena lagi sakit..."
"Sakit apa Lo?! Kemarin kan Lo kerja?! Sakit kebanyakan dipake k*nt*l Lo ya?!" Aldi kembali sewot.
"Gak... Sena gak melakukan itu. Sena mau pulang tapi... Sena malah dibawa ke rumah nya." Sena langsung menepis buruk sangka Aldi.
"Terus Lo enak-enakan ng*nt*t sama Dia, Lo kabarin ke Gw?!" Ketus Aldi.
"Ya Sena mau minta tolong sama siapa? Kan Kakak bilang anak buah Kakak ada dimana-mana? Selalu mantau Sena, masa Sena dibawa paksa, anak buah Kakak gak tau?!" Sena malah ketus, Dia kesal dengan kata-kata Aldi yang kasar.
"Bisa-bisa nya Lo mengkhianati Gw!" Ketus Aldi.
"Sena gak mengkhianati Kakak, tapi Kakak yang ngedeketin Sena, udah tahu Sena sama Bang Andi." Sena makin kesal.
"Lo tambah berani nyaut sama Gw, Sena!" Geram Aldi.
"Kan Kakak yang ajarin jangan takut sama orang." Kata Sena lagi.
Sena memang sudah menceritakan perihal rumah tangga nya dan bagaimana Dia begitu penurut pada Suami nya, juga perihal Abang nya yang suka main tangan dan Kakak ipar nya yang sok kuasa dan suka mengadu pada Abang Sena.
Aldi mendengarkan dan mengajari Sena agar melawan apa pun bentuk kekerasan yang merugikan diri Sena, Rizki dan Bunda. Tapi Sena bilang kalau selalu mengalah karena menimbang perasaan Bunda.
"Terus Lo ngapain semalaman sama Anjing itu!?" Tanya nya masih dengan nada kesal.
"Andi nama nya Kak, bukan Anjing. Gak ngapa-ngapain, Dia cuma minta tidur ditemani Sena. Tapi Sena gak mau." Jelas Sena.
"Kenapa Lo kesannya belain Dia?!" Ketus Aldi.
"Sena bukan belain tapi emang nama nya Andi." Kata Sena.
"Persetan dengan nama nya. Mana nomor telpon nya. Gw mau ngomong sama Dia!" Pinta Aldi.
__ADS_1
Sena dengan bodohnya memberikan nomor ponsel Andi pada Aldi. Sena sebenarnya Sayang sama Andi tapi perlakuan Andi semalam membuat Sena sakit hati dan membenci Andi.