Aku Bukan Wonder Woman

Aku Bukan Wonder Woman
Sayur Asem


__ADS_3

Sena bertanya kepada seorang tukang ojek. "Bang maaf... Mau tanya. Rumah nya Pak Akbar dimana yah? Kontrakan Haji Imran." Kata Sena yang masih menggendong Rizki dan menenteng belanjaan.


"Oohh itu Neng yang ada tukang es cendol. Nah itu kontrakan Haji Imran. Pak Akbar rumah pertama yah." Jelas tukang ojek itu.


"Terima kasih Bang." Sena meninggalkan tukang ojek dan berjalan menuju tempat yang telah diarahkan.


Tak lama...


"Assalamu alaikum...." Sapa Sena.


"Wa alaikumussalaam..." Jawab seorang wanita berumur kira-kira 60 tahun. "Cari siapa Neng?" Tanya nya.


"Bu... Apa benar ini rumah Pak Akbar?" Tanya Sena.


"Iya benar... Kamu siapa?" Tanya Ibu itu.


Sena tersenyum. "Saya teman nya Bang Andi. Bang Andi nya ada Bu?" Tanya Sena.


"Oohhh... Kamu Sena yah?" Tanya Ibu itu.


Sena sedikit bingung tapi buru-buru mengangguk. "Iya Bu, Saya Sena."


"Ya ampun...! Ini anak nya tidur yah? Sini masuk... masuk... Dini...!! Panggil Bang Andi... Ada Sena nih!" Teriak Ibu itu.


Rizki terbangun karena mendengar teriakan si Ibu.


"Mama..." Rizki merasa takut. Dia pikir Sang Mama dimaki-maki orang.


"Ssttt...." Sena kembali menimang nya. Belanjaan nya sudah Sena letakan di meja.


"Mimi..." Rengek Rizki.


"Nanti yaahhh..." Sena mengeluarkan air mineral dari dalam tas nya. Sena memberikan pada Rizki. Rizki meminumnya dengan cepat.


"Hhhmmmm... Haus yah?" Tanya Sena.


"Sena..?? Kok Kamu ada disini?" Andi yang baru masuk kedalam rumah sangat senang karena Dini mengatakan kalau ada Sena di rumah Ibu.


Sena tersenyum. "Tadi Sena abis dari Mall gak jauh dari sini. Jadi Sena mampir. Oh ya Bang... Ini dibawa masuk aja." Pinta Sena menyodorkan belanjaannya.


"Kok Kamu sempat-sempat nya belanja sih?" Tanya Andi merasa tak enak.


"Gak apa Bang....Sena kepengen makan sayur asem buatan Ibu. Kalau orang betawi kan pinter masak sayur asem." Canda Sena.


Ibu Andi yang datang dari dapur membawakan dua gelas teh manis. "Sena mau Ibu masakin sayur asem? Kenapa gak ngomong? Gak perlu repot-repot belanja segala." Kata Ibu nya Andi ramah.


"Gak apa Bu... Tadi Sena lewat pasar, jadi sekalian aja belanja." Kata Sena.


"Ya udah.. Kamu ngobrol aja sama Andi... Nanti Ibu dan Dini masakin sayur asem buat Kamu." Kata Ibu nya Andi sambil menenteng belanjaan ke rumah Dini.

__ADS_1


Andi tak lepas senyum nya dari tadi. Dia mendekat pada Sena. Andi merangkul Sena. Tapi Rizki langsung menepis tangan Andi.


"angan egang Mama Aku..." Ketus Rizki.


"Ooohhh... Maaf..." Andi tertawa. "Ini Rizki yah?" Tanya Andi.


Sena mengangguk. "Maaf Bang... Rizki memang gitu kalau belum kenal." Kata Sena.


"Gak apa. Rizki sini sama Bapak... Nanti Bapak gendong..." Rayu Andi.


"Ndak Au." Kata Rizki sambil menggeleng dan menyembunyikan kepalanya di dada Sena.


"Ternyata Kamu lebih manis kalau dilihat dari dekat." Goda Andi.


"Abang bisa aja." Sena tersipu malu.


"Kok Kamu gak bilang sih kalau mau kesini? Kan Abang bisa jemput Kamu. Kasihan kan Kamu... Repot-repot bawa anak sambil bawa belanjaan." Kata Andi.


"Kan semalam Aku nanya alamat rumah Abang." Kata Sena.


"Abang kira cuma mau tau aja. Gak tau nya nyampe sini." Andi merangkul bahu Sena lagi dan mengecup kening Sena.


Dada Sena berdesir. Sena merasa nyaman berada disebelah Andi.


Rizki kembali menepis tangan Andi.


Rizki berontak namun Andi langsung menggendongnya dan membawa keluar. Membelikannya es krim. Andi menyogok Rizki agar boleh dekat-dekat dengan Mama nya.


Sena keluar mengikuti langkah Andi karena Rizki yang berteriak memanggil Mama nya.


"Bapak beliin es krim, mau yah?" Rayu Andi.


"Nda au..." Rizki menggeleng dengan bibir nya yang terus manyun.


"Bener nih gak mau???" Andi mengeluarkan es krim cup dari dalam pendingin. "Ada rasa coklat, vanila dan strawberry..." Kata Andi.


Rizki mengambil dua cup es krim rasa coklat dan strawberry.


"Mau ini gak?" Andi mengambilkan wafer coklat. Rizki menggeleng. Dia langsung membuka es krim nya.


"Nanti dulu... Bayar dulu... Sendok nya belum ada..." Kata Andi sabar.


Andi mengeluarkan beberapa lembar uang ribuan dan menyerahkan pada yang punya warung. Setelah mendapat sendok, Andi meninggalkan warung dengan terus menggendong Rizki yang sibuk menyendok dan menjilati es krim nya.


Sena tersenyum melihat Andi menghampiri nya. "Kok beli es krim sih?" Tanya Sena mengrucutkan bibir nya.


"Mang gak boleh?" Tanya Andi.


"Rizki mah gak bakal nolak kalau dikasih es krim. Tapi nanti belepotan...: Kata Sena.

__ADS_1


"Udah... Kamu tenang aja. Nanti Abang yang bersihin." Kata Andi sambil merangkul pinggang Sena dengan tangannya yang bebas.


"Ayo... Bilang apa sama Bapak?" Tanya Sena pada Rizki.


"Ma acih Pak..." Kata Rizki.


Andi tersenyum dan mencium pipi Rizki. "Abang tambah sayang sama Kamu..." Bisik Andi.


Sena menunduk tersipu malu.


Rizki di dudukan di sofa. Sena duduk disebelah Rizki. Andi duduk disebelah Sena. Andi terus memeluk pinggang Sena.


Sena menyuapi Rizki es krim agar tidak belepotan. Andi menempelkan dagu nya di bahu Sena melihat kelakuan Rizki yang gak mau disuapin.


"Lucu yah anak nya." Puji Andi yang mengecup leher Sena.


"Bulu kuduk Sena sampe merindik. Iisshhh Abang... Jangan gitu ah..." Sena menggerakan kepala nya karena geli.


"Abang kangen sama Kamu..." Bisik Andi.


"Besok Abang mulai ngojek di Jakarta Pusat. Nanti Kamu, Abang antar jemput yah?" Kata Andi yang masih berada di sisi Sena.


"Terserah Abang aja." Kata Sena merasa tak enak.


"Abang serius sama Kamu... Mau jadikan Kamu, Istri Abang." Kata Andi.


"Tapi Bang... Status Sena masih gantung." Kata Sena.


"Kita nikah sirih saja dulu." Kata Andi. "Kan Kamu bilang, Kamu gak mau kembali lagi sama mantan Kamu. Dan Kamu sudah pisah rumah sama Dia hampir satu tahun kan?" Tanya Andi.


Sena mengangguk. Sena memang sudah banyak cerita pada Andi tentang kehidupannya.


"Tapi Sena masih takut, Bang..." Kata Sena.


"Abang janji gak akan menyakiti hati Kamu. Abang bukan laki-laki suka selingkuh. Kalau sudah satu, sampai kapan pun itu saja. Yang penting Kamu mau nerima Abang apa ada nya." Kata Andi yang terus merangkul pinggang Sena dan meletakkan dagu nya di bahu Sena.


Sena menguap tapi Dia tutup mulut nya.


"Kamu cape yah? Rebahan dulu deh. Biar Rizki sama Abang." Pinta Andi.


"Gak usah Bang. Sena disini saja. Gak enak, masa bertamu malah tidur." Kata Sena.


"Gak apa... Bapak sama Ibu sudah tahu kok kalau Abang serius sama Kamu." Kata Andi.


Tangan Andi memijat tubuh Sena. Ternyata pijatan Andi sangat nyaman dirasa oleh Sena.


Andi menarik kepala Sena agar bersandar di dada nya. Andi terus memijat tubuh Sena. Dari bahu, leher, punggung juga lengan. Sesekali Andi mengecup pipi Sena.


Sena merasa nyaman dengan perlakuan Andi. Perlahan mata nya terpejam. Andi memeluk tubuh Sena dari belakang dalam posisi duduk sambil memperhatikan Rizki yang masih sibuk dengan es krim nya.

__ADS_1


__ADS_2