Aku Bukan Wonder Woman

Aku Bukan Wonder Woman
Aku Menyukaimu


__ADS_3

Dua minggu kemudian, Karyawan ATM beserta pengawalannya sudah menempati ruangan gedung PT CC pusat. Sena pun kembali bergabung dengan Security Kantor Pusat.


Sena satu shift dengan Secwan Tina dan Lili. Tina agak sedikit judes tapi baik hati. Lili juga sangat lembut seperti Ani. Walau begitu Sena senang memiliki teman-teman yang baik pada nya.


Selama kembali ke kantor Pusat, Tina dan Lili secara bergantian memberitahu Sena ruangan mana saja yang boleh Dia masuki apalagi perihal pengantaran surat-surat penting untuk kepala bagian atau untuk Bigbos.


Kalau untuk Bigbos biasanya di taruh di ruang sekretaris nya yaitu ruangan Ibu Winda. Ibu Winda terlihat berwibawa tapi sangat baik dan ramah.


Security pengawalan juga menempati ruangan di lantai dua dekat dengan CIT. Jadi kalau ada pengiriman sudah tahu satu ruangan dan bisa gerak cepat.


Hari ini Sena masuk pagi. Sena bertugas di ruang bodycheck lantai tiga bersama Lili. Sena dan Lili banyak mengobrol saat tak ada karyawan yang keluar atau pun masuk.


Ternyata Lili masih gadis, belum menikah. "Kak Sena kenapa gak ngekos saja. Kan jauh pulang nya." Kata Lili.


"Kalo Aku ngekos, gimana dengan anakku. Dia pasti mencariku." Kata Sena.


"Oh iya juga... Ya nanti sekali-kali Kak Sena tidur dikosan Aku kalau Kak Tina gak ada. Aku suka ditinggal-tinggal sama Dia." Kata Lili.


"Oohhh Lili satu kos sama Tina?" Tanya Sena.


Lili mengangguk. "Kak Tina kan juga punya anak, suami nya sudah meninggal. Jadi sering bolak-balik juga pulang ke rumah orangtua nya." Jelas Lili.


Sena mengangguk. "Iya insya Allah nanti kapan waktu Aku nginep di kosan Kamu."


"Asyiiikkk... Jadi kan Aku gak kesepian." Kata Lili.


___________________________


Sudah seminggu Sena di Kantor pusat. Dia bertugas di Loby Kantor menemani receipsionis sampai jam lima sore. Namanya Seny. Makanya Security dan staf menggoda Mereka. "Sena dan Seny adik kakak yah?" Canda salah seorang CIT.


Seny mengrucutkan bibirnya. Sena tersenyum. "Gak lah Pak... Seny kan cantik, putih, beda jauh sama Saya." Canda Sena.


Seny tersenyum dengan jawaban Sena.


"Eehhh tapi Kamu walau hitam tapi hitam manis... Gak kaya Seny cantik tapi pait... Hahaha..." Orang CIT itu menggoda Seny.


Sena hanya tersenyum lain halnya dengan Seny yang sudah memukul orang CIT itu dengan sebuah buku.


"Aduuuhhh... Tuh kan bener, pait... Galak banget." Canda Orang itu.


Sena hanya menggeleng-geleng saja melihat kelakuan kedua orang itu.


Sena melihat mobil Mr. Lesly berhenti di depan Loby. Sena bergegas membukakan pintu dan memberi hormat pada Mr. Lesly. Dia adalah Bigbos di PT CC.


Mr. Lesly mengangguk sambil tersenyum pada Sena. Kemudian Dia segera berlalu menuju lift.


Sena kembali ke meja Receipsionis.


"Bu Sena... Sini duduk. Tegang yah kalo di Loby." Canda Seny.


Sena mengangguk.


"Tenang aja Bu, nanti kalau Mr. Lesly keluar, Bu Winda akan telpon Seny. Jadi Bu Sena bisa siap-siap." Kata Seny.


"Oohh gitu yah?" Tanya Sena.


Seny mengangguk sambil tersenyum. Sena pun ikut tersenyum. "Senyum Ibu manis banget sih." Goda Seny.


Sena terdiam dan menutup senyumnya.

__ADS_1


"Diiihhh Ibu... Kenapa ditutup?" Tanya Seny bingung.


"Malu ah..." Canda Sena.


"Ibu lucu iiihhh..." Tawa Seny.


Hari ini Seny bertugas di Loby tanpa beban dan menunggu waktu lama, karena Sena selalu membuatnya tertawa. Hingga pekerjaannya terasa ringan.


"Besok-besok Aku minta ditemani sama Bu Sena aja ah. Atau Mbak Lili." Canda Seny.


"Jangan gitu dong Seny... Saya disini gak nyaman. Saya lebih senang di Ruang body checking atau di posko daripada disini." Canda Sena.


Seny mengrucutkan bibirnya. "Iiihhh Ibu gitu."


"Hahahaha..." Sena tertawa tapi buru-buru menutup mulutnya dan bergegas ke pintu ketika melihat Pak Taufik dan Pak Roni datang dari luar.


Sena kembali memberi hormat dengan sikap sempurna.


"Sena... Ikut ke ruangan Saya..." Pinta Pak Taufik. Pak Roni tersenyum.


Tapi beda dengan Sena, jantung nya berdebar. "Aku punya Salah apa?" Batin Sena. Tapi langkah Sena mengikuti kedua komandannya itu.


Seny langsung menelpon ke posko untuk memback up Sena yang dibawa Pak Taufik dan Pak Roni.


Di lantai lima.


"Duduk!" Ketus Pak Taufik seperti biasa.


Sedangkan Pak Roni hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Pak Taufik dan wajah pucat Sena.


Sena menuruti perintah Pak Taufik. Dia duduk berhadapan dengan kursi Pak Taufik tapi dibatasi meja.


"Masih Dan. Kaki Sena sakit." Kata Sena.


"Coba Kamu pakai ini." Pak Taufik mengulurkan dus Sepatu baru.


"Ya Allah... Aku kira ada masalah apa?" Batin Sena sambil menunduk melepas sepatu nya.


Sena memakai sepatu yang baru Pak Taufik kasih. "Pas Pak." Kata Sena.


"Dan ini sepatu PDH nya." Pak Taufik memberikan Dus sepatu yang lain.


Sena menerimanya dan mencoba nya kembali.


"Bagaiimana? Sudah pas?" Tanya Pak Taufik.


Sena mengangguk.


"Sikap sempurna Sena!" Bentak Pak Taufik.


"Siap Dan." Kata Sena kaget. "Huuuhhhh..." Batin Sena.


Pak Roni tetap tersenyum.


"Jangan ngagetin Sena kenapa sih Dan?!" Sena mengrucurkan bibirnya.


Tiba-tiba Pak Taufik menarik tangan Sena. Sena terperanjat terpaku. Pak Taufik membawa Sena ke ruangan.


Jantung Sena berdebar dag dig dug.

__ADS_1


"Sekarang Kamu coba nih baju PDH nya." Pinta Pak Taufik.


Sena membuka plastik seragam baru. Sena memandang Pak Taufik yang masih berdiri terpaku.


"Bagaimana Sena mau ngepas baju ini? Kalau Komandan masih berdiri disitu?!" Ketus Sena.


"Hah? Oh... Ehh... Maaf." Pak Taufik langsung keluar. Sena segera menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Sena melihat ke sekeliling takut ada CCTV. Setelah merasa aman, Sena membuka pakaiannya tapi tetap menutupi takut ada CCTV tersembunyi.


Tok... tok... tok.... "Sena kok lama sih?!" Pak Taufik memanggil dari luar.


"Ya Dan... Sebentar." Teriak Sena. "Aduuhhh pendek banget rok nya. Gimana Aku mau keluar kaya gini?" Batin Sena.


"Sena...!" Panggil Pak Taufik.


"Rok nya kependekan Dan. Sena gak mau keluar." Teriak Sena dari dalam. Sena bergegas mengganti rok nya dengan Celana PDL nya lagi. Kemudian Sena membuka kunci pintu.


"Loh kok gak dipake rok nya?" Tanya Pak Taufik masih ketus.


"Gak mau Pak. Rok nya pendek banget." Sena menyampirkan rok nya dari pinggang. "Tuh Pak... Masa cuma segitu panjangnya? Saya Security atau SPG?"


"Hahahaha..." Pak Taufik mendekat pada Sena. Semakin dekat.


"Bapak mau apa?!" Sena terlihat gugup.


"Aku menyukaimu..." Bisik Pak Taufik.


Sena terbelalak. Sena langsung mendorong tubuh Pak Taufik. "Pak, Sena mau ganti baju dulu." Sena terus mendorong tubuh Pak Taufik keluar. Sena segera mengunci kembali pintu nya.


Di luar ruangan Pak Roni tertawa terbahak. "Sudah Saya bilang... Sena itu special. Hahahahaha....."


Pak Taufik menggaruk kepala nya yang tak gatal.


"Harga diri nya sangat tinggi walau Dia itu seorang janda... Ya walau masih digantung." Kata Pak Roni.


Pintu ruangan terbuka. Pak Taufik menoleh kearah Sena. Pak Roni langsung diam.


"Sudah kan Dan? Gak ada lagi?" Tanya Sena nampak gugup.


"Kamu belum bikin buku rekening yah?" Tanya Pak Roni.


"Belum Dan." Sena melirik ke arah Pak Taufik yang terus memandangnya. Sena menunduk.


"Harus bikin ya Sena. Akhir Bulan gaji Kamu langsung ditransfer. Yang lain gajian akhir bulan karena sudah punya Rekening Bank. Kamu saja nih yang belum." Kata Pak Roni.


Sena mengangguk. "Ya Dan. Nanti istirahat Sena ke Bank."


Pak Roni memberikan pengantar pada Sena untuk ke Bank.


"Aku antar yah?!" Pinta Pak Taufik.


Sena menggeleng, tapi mata Sena melihat ke arah Pak Roni yang mengangguk. "Terima saja Sena... Dari pada nanti Kamu kelamaan istirahat gak sempet makan." Pinta Pak Roni.


Sena menunduk. "Bagaimana nanti saja Dan." Kata Sena sambil berlalu.


"Eehhh... Ini baju dan sepatunya dibawa." Kata Pak Taufik.


"Tapi kan rok nya kependekan Dan." Sena mengrucutkan bibirnya.


Pak Taufik menyodorkan kantung plastik besar pada Sena.

__ADS_1


Mau gak mau Sena memasukan semua barang-barangnya dan membawanya ke loker termasuk rok pendek itu.


__ADS_2