
Semalam Aldi menghubungi Sena. Dia mengatakan akan pulang dalam dua hari ini. Aldi berjanji akan segera menemui Sena begitu Dia sampai di Jakarta.
Sena sangat senang mendengarnya. Sena berharap Aldi adalah laki-laki terakhir yang akan menemani hidup nya sampai ajal menjemput.
Sena sangat tidak sabar menunggu kepulangan Aldi. Waktu sangat lama berputar.
Sena menyibukan hari-hari nya agar tidak terlalu memikirkan Aldi. Namun tetap saja tidak bisa. Perhatiannya pada Rizki berkurang. Sena sering terlihat melamun sambil senyum-senyum sendiri. ( Kayak Orang Stress Ya?🤣🤣)
Sena berkutat membantu Bunda menyelesaikan jahitannya. Mengesum dan merapihkannya.
"Kamu kenapa sih, Sena? Dari kemarin Bunda perhatiin, Kamu melamun terus?" Tanya Bunda.
"Masa sih, Bun?" Tanya Sena malu.
"Masa sih, masa sih..." Ketus Bunda. "Anak Kamu sampe gak diperhatiin tuh." Tunjuk Bunda.
Sena melihat kearah Rizki yang tak bersemangat bermain sendiri. "Astaghfirullaah..." Batin Sena. Sena langsung mendekat pada Rizki.
"Dek...." Panggil Sena.
"Mama..." Rizki langsung berhambur pada Sena dan memeluk Sena. Menciumi wajah Sena.
"Nanti sore, Kita jalan-jalan yuk." Kata Sena yang berhasil membuat Rizki tertawa. Luka hatinya terobati hanya dengan sedikit perhatian dari Sena. "Maaafkan Mama ya Nak..." Batin Sena. Sena menggendong Rizki dan mengajaknya ke warung. Melayani pembeli yang berbelanja.
____________________________
Sudah dua hari terlewat dari hari yang dikatakan Aldi akan kembali hari itu. Namun sampai kini tak ada kabar berita dari Aldi.
Beberapa kali Sena menghubungi nya tapi ponsel nya tidak pernah aktif. Hingga Sena melupakannya.
Ponsel Sena berdering. Nomor tak dikenal. Sena enggan mengangkatnya. Namun ponsel Sena terus berdering.
Mau tak mau Sena mengangkatnya. "Halo..." Sapa Sena.
"Assalamu alaikum..." Sapa disana.
"Wa alaikumussalaam..." Jawab Sena dengan ragu. Suara nya sangat asing bagi Sena. "Siapa ya?" Tanya Sena.
"Maaf kalau mengganggu. Boleh Saya tanya?" Tanya diseberang dengan sopan.
"Tanya apa?" Tanya Sena masih dipenuhi tanda tanya.
"Ini nomor telpon siapa yah? Soalnya riwayat telpon nya banyak nomor Kamu terhubung disini." Kata nya.
"Hah?! Kok bisa? Memang Kamu siapa?Tapi nomornya Sena baru kenal." Tanya Sena.
"Kenalkan nama Saya Sandi." Mungkin waktu ditelpon, ponsel Kamu gak aktif." Kata nya.
"Kamu ada dimana?" Tanya Sena berharap dugaannya salah.
"Apa kalau Saya jawab jujur, Kamu masih mau bicara dengan Saya?" Tanya Sandi.
"Memang nya alasan apa Saya menolak bicara dengan Kamu, kalau Kamu nya sopan?" Tanya Sena.
"Iya yah..." Dia terkekeh. "Saya ada di dalam penjara." Kata Sandi.
__ADS_1
"Hah?!" Sena terkejut. "Ya Allah, kenapa nomot ponsel Ku jadi tersebar di kawasan penjara?" Batin Sena.
"Penjara mana?" Tanya Sena.
"Saya di Jawa Barat." Kata nya lagi.
"Kenapa bisa dipenjara? Atau Kamu opsir sana?" Tanya Sena.
"Hehehehe... Bukan, Saya seorang napi. Dipenjara karena tertangkap sebagai kurir Narkoba." Jelas nya.
"Oohhh... Kok aneh yah?" Tanya Sena.
"Aneh kenapa?" Tanya nya.
"Kenapa nomor ponsel Saya jadi tersebar ke para Napi yah?" Tanya Sena.
"Memang Kamu, kenal dengan salah satu napi?" Tanya nya penasaran.
"Iya." Jawab Sena. Tanpa diminta Sena menceritakan perkenalannya dengan Rasya dari Martha. Hingga ke Jawa Tengah.
"Ya memang gitu..... Hhmmm boleh tahu nama Kamu?" Tanya nya masih sopan.
"Sena." Kata Sena.
"Memang gitu Sena. Kalau nomor ponsel Kamu dipegang salah satu napi, nanti akan ada lagi napi yang menelpon Kamu. Sebaiknya Kamu buang nomor yang ini, ganti yang baru." Jelas Sandi.
"Oh gitu ya Bang. Kalau gitu nanti Sena ganti nomor ponsel Sena." Kata Sena.
"Berarti Saya gak bisa telpon Kamu lagi yah?" Canda nya, ada nada kecewa disana.
"Kalau Sena kasih nomor baru Sena, nanti disebar lagi." Kata Sena.
"Kalau Sena baik, Suami Sena gak akan selingkuh dan meninggalkan Sena." Sena terdengar sedih.
"Memang Sena sudah berapa lama pisah sama Suami?" Tanya nya sabar.
"Dari sebelum puasa." Kata Sena.
"Kalau boleh tahu, masalahnya apa?" Tanya nya.
"Biasa.... Ikut campur Orang Tua. Ibu nya selalu menyalahkan Sena." Sena terdengar sedih.
"Maaf yah.... Kalau Aku bikin Kamu sedih." Kata Sandi merasa gak enak.
"Eh... maaf... Sena jadi curhat. Maaf yah. Baru juga kenal, Sena malah curhat." Sena merasa tak enak hati.
"Gak apa-apa....Kalau Kamu butuh teman curhat, Aku mau jadi pendengar yang baik. Aku gak bisa bantu Kamu apa-apa, karena Aku juga lagi terkurung." Jawab nya.
"Tapi Abang masih ada yang perhatiin kan walau ada didalam?" Tanya Sena.
"Ada... Ambu dan Abah sering nengok kesini, bawa makanan." Kata Sandi terdengar dibuat-buat bahagia nya.
"Istri nya gak pernah jenguk?" Tanya Sena.
"Dulu waktu baru-baru iya, sekarang mah udah gak pernah. Sudah pisah. Dia minta cerai karena hukuman Saya yang lama. Dia kembali sama mantan Suami nya." Cerita Sandi.
__ADS_1
"Ooohhh... Maaf ya... Sena jadi gak enak." Kata Sena.
"Gak apa Sena. Kejadiannya juga sudah lama." Kata Sandi.
"Memang sebelumnya Bang Sandi kerja dimana? Kok milih jadi kurir Narkoba?" Tanya Sena.
Sandi memberitahu pekerjaannya. Sena tahu tempat Sandi bekerja karena gak jauh dari rumah Sena.
"Nanti kalau Abang udah bebas, Kamu bisa cari Abang disana." Canda Sandi.
"Gak ah takut....Disana kan banyak premannya. Galak-galak lagi." Kata Sena.
"Memang Kamu pernah kesana ngapain?" Tanya Sandi.
"Dulu mau nengokin Ade ke pesantren. Bis nya ngetem disitu. Was-was Sena. Jantung Sena deg-degan." Cerita Sena.
"Hahahaha....Kamu lucu Sena. Sama preman takut tapi sama napi kayak Saya gak takut." Canda Sandi.
"Tadi Abang sopan. Makanya Sena mau bicara sama Abang." Sena terkekeh.
"Kalau Kamu ada disana, cari Abang aja, gak akan ada yang berani mengganggu Kamu." Kata Sandi.
"Jangan-jangan Abang kepala preman nya?" Sena terdengar cemas.
"Hahahahaha... Sena... Sena... Kamu bisa aja. Aku bukan kepala preman. Cuma preman sana segan aja sama Aku, gak tahu kenapa... Mungkin karena Aku gak pernah reseh dan gak suka ikut campur urusan orang lain kali yah....." Kata Sandi.
"Memang Abang kapan bebas nya?" Tanya Sena.
"Enam bulan lagi." Kata Sandi.
"Sena boleh besuk Abang gak?" Sena menguji.
"Ngapain?" Tanya Sandi.
"Sena mau ketemu Abang. Abis Abang kayak nya baik." Kata Sena.
"Jangan....Kamu gak boleh kesini.. Ini bukan tempat yang baik buat Kamu. Abang gak mau nanti ada yang menandai Kamu disini." Kata Sandi.
"Memang begitu yah Bang?" Tanya Sena.
"Loh bukti nya nomor Kamu tersebar kemana-mana, ya kan?" Kata Sandi.
"Iya... Abang benar. Terima kasih udah ingetin Sena. Abang baik." Puji Sena.
"Kamu juga baik. Mau ngobrol sama Abang yang seorang napi...." Kata Sandi.
"Napi kan juga manusia, Bang. Kalau Sena berteman sama siapa aja gak masalah, yang penting sopan." Kata Sena.
"Berarti besok-besok, Abang boleh telpon Sena lagi?" Tanya Sandi.
"Boleh Bang. Tapi Sena beli nomor yang baru dulu yah. Janji yah Abang gak kasih nomor Sena." Pinta Sena.
"Kalau itu Abang janji, nomor Kamu aman sama Abang." Kata Sandi.
"Ya udah Bang... Maaf, Sena lagi bebenah. Lain kali disambung lagi. Nanti Sena SMS pake nomor baru yah." Pamit Sena.
__ADS_1
"Ya Sena, makasih yah udah mau jadi teman Abang. Assalamu alaikum...." Sapa Sandi.
"Wa alaikumussalaam..." Jawab Sena.