
Sena sangat kesal pada Fajri. Sena memberikan uang untuk menyicil bayar kontrakan tapi bukannya diberikan pada Bu Hajjah malah dipakai untuk menutupi penjualannya sebagai sales.
Makanya Sena mencoba pinjam sama Vina. Tapi Vina malah cerita pada Bunda. Makanya Bunda menyuruh Sena untuk kembali ke rumah.
Akhirnya Sena pindah ke rumah, berharap Fajri akan berubah.
Lagi-lagi Fajri menyembunyikan sesuatu. "Sudah Kamu bereskan yang lain saja. Biar kamar Aku yang merapihkan." Pinta Fajri yang sedang menata kamar di rumah Bunda.
Mereka menempati kamar yang dulu Vina dan Nina tempati. Lebih besar karena kamar Nina dan Vina dibongkar dijadikan satu.
Sena hanya menurut. Sebenarnya Sena masih penasaran. Dia teringat dengan kotak yang dulu. Tapi untuk saat ini, Sena menahan emosinya. Dia gak mau Bunda tahu tentang rumah tangganya.
Sena meneruskan buka warung di rumah Bunda. Sena selalu menutupi kekurangan Fajri. Tapi Fajri sedikit demi sedikit membuka sendiri aib nya.
Setiap pagi mau berangkat kerja, Dia mengambil rokok di etalase dagangan Sena.
Bunda melihat. Setiap hari Fajri mengambil rokok dan tak membayar. Bunda hanya menggeleng-gelengkan kepala. "Belum juga penglaris sudah diambilin. Manalagi untungnya?" Gumam Bunda.
Fajri juga sering membawa teman-temannya satu kerjaan ke rumah Bunda.
Sena sering mendengar pembicaraan Mereka.
"Jodi tempo hari diangkut ke kantor polisi karena gak setoran." Kata Bani.
"Ya jae juga tempo hari diangkut, tapi bini nya langsung nebus Dia. Makanya bebas Dia sekarang." Kata Gugun.
Sena mengerutkan keningnya. "Apa Suamiku memakai uang kantor juga?" Batin Sena.
Akhir-akhir ini Mas Alif sakit dan istrinya tak mengurusnya. Dijah malah pulang ke rumah Bapaknya.
Sena juga sedikit heran dengan sikap Ibu yang sangat manis padanya. Tapi Sena gak tahu ada apa. Sena hanya merasa senang, akhirnya Ibu mau menyayanginya dan tidak membanding-bandingkan lagi dirinya dengan mantunya yang lain.
Dijah sudah gak tahan karena Ibu nya Mas Alif yang terus marah-marah sama Dijah yang tak mengurus anaknya yang sakit.
Sena juga pernah bertemu Dijah di Mall dekat rumah Bunda. Sena agak kaget, jauh-jauh Dijah kerja di Mall itu.
"Gw males Sena... Ibu nyalahin gw terus. Duit kuranglah buat berobat. Gw gak bantu lah. Mending gw kaya gini, bebas... Mau ngejablay juga bebas." Kata Dijah saat itu.
Dan Mereka tak sempat bicara banyak karena Fajri sudah menelpon Sena. Fajri sudah sampai di depan Mall. Sena bergegas pulang.
Di jalan Sena menceritakan pada Fajri kalau Dia bertemu Dijah.
"Ngomong apa saja Dijah sama Kamu?" Tanya Fajri.
Tanpa ada maksud apapun, Sena menceritakan semua yang dikatakan Dijah.
__ADS_1
Alhasil Fajri mengadu pada Ibunya perihal perkataan Dijah pada Sena.
Akhirnya Sena diintrogasi oleh Ibu Fajri dan juga Mas Alif.
Sena kesal pada Fajri kenapa omongannya disampaikan oleh Fajri pada Ibu.
"Biarin saja... Biar Mas Alif tahu bagaimana istrinya itu....Kasihan Mas Ku." Kata Fajri.
"Ya tapi kan Aku yang jadi diintrogasi. Terus Dijah pasti akan marah sama Aku." Kata Sena.
"Sekarang ngapain Kamu dekat-dekat sama Dijah? Perempuan gak bener! Suami sakit bukannya diurusin, Dia malah kelayapan." Fajri sangat kesal.
Sena hanya menghela nafas. Dia tak menyangka, karena omongannya yang tak sengaja dan ada maksud apa-apa malah jadi seperti ini.
Dan akhirnya Ibu nya Fajri mendatangi Dijah ke rumah orangtuanya dan menceritakan betapa kecewanya Ibu karena perkataan Dijah pada Sena.
Dijah sangat kesal pada Sena. Dia mengancam akan membalas pada Sena.
____________________
Beberapa bulan kemudian.
"Teman Kamu, Elin, katanya mau jual rumahnya yang di Serpong. Over kredit." Kata Bunda.
"Denger-denger sih 5 juta (saat itu memang masih murah). Cicilannya tinggal tiga tahun lagi. Cicilan bulanannya 360 ribu." Jelas Bunda.
Sena mengangguk. "Nanti Sena coba bicarakan sama Mas Fajri, Bun."
Sore hari pas Fajri sudah tiba di rumah. Sudah istirahat dan sudah mandi. Sena membicarakan perihal rumah Elin.
"Jauh tempatnya. Sepi lagi disana. Kita butuh kendaraan, karena disana belum ada angkot." Jelas Fajri.
"Ya tapi kan Mas, nanti juga rame. Itu juga masih bisa nego." Kata Sena.
"Ya nantilah lihat dulu." Kata Fajri.
"Memang Mas sudah pakai uang kantor berapa?" Tanya Sena.
"5 juta. Tapi barangnya ada kok. Aku belum nagih." Kata Fajri bohong. Sena hanya menghela nafas tak berani berharap.
___________________
Sena menangis. Dia terlihat panik. Dia sudah mencari-cari tapi tak ketemu. Sena ingat betul Dia menaruhnya dimana.
"Coba ingat-ingat lagi. Masa di kamar sendiri bisa hilang?" Kata Bunda.
__ADS_1
"Sena gak lupa Bun. Sena taruh di dompet. Tadinya Sena mau simpan disini tapi gak jadi, karena Sena pikir mau Sena bawa buat belanja pulsa hari ini." Jelas Sena.
Sena kehilangan uang 400 ribu. Itu uang hasil penjualan pulsa. Dia akan belanja hari ini karena stok pulsa yang sudah banyak yang kosong.
Padahal itu uang di transfer sama Nina, bayaran uang pulsa dari teman-teman di tempat kerjanya. Dan Nina juga meminjamkan uang untuk Fajri 400 ribu.
Semalam Dia meminta ijin sama Fajri, besok mau ke Roxi. Awalnya Sena minta dianter besok. Tapi Fajri gak bisa. Besok Dia jualan di area jakarta timur.
Akhir-akhir ini, Fajri sangat sibuk. Dia juga gak pernah lagi mengantar Sena belanja warung. Ada saja alasannya. Lagi jauh lah atau apalah. Semua Sena lakukan sendiri. Imunisasi Rizki juga, Fajri tak pernah lagi mengantarnya.
Tapi hari ini Sena mendapati dompetnya kosong. Sena tak mengikuti kata hatinya untuk memindahkan uang itu. Sena berfikir hanya Fajri yang tahu tempat Dia menyimpan uang.
"Apa ada yang masuk, Bun?" Tanya Sena.
"Gak ada. Cuma kemarin Ria mencari Kamu. Dia memang ke dapur lewat sini." Kata Bunda. "Tapi masa iya Ria yang ngambil?" Tanya Bunda tak percaya.
Sena masih menangis. Sena gak enak sama Nina yang mempercayakan modal pulsa padanya.
Sore hari saat Fajri pulang, Sena masih terlihat murung. Setelah dirasa cukup Fajri beristirahat Sena menanyakan perihal uang itu.
"Buat apa Aku ambil? Aku kalau mau, minta." Kata Fajri sedikit ngotot.
"Kamu kan tahu, kemarin Aku pinjam uang sama Nina. Kalau Aku butuh Aku akan minta." Jelas Fajri.
"Tapi Mas kan lihat Aku simpannya dimana." Kata Sena.
"Sumpah Demi Allah... Aku gak ngambil. Kalau Aku yang ambil, gak selamat deh Aku." Kata Fajri yang dengan mudahnya bersumpah dengan nama Allah.
Sena kembali menangis. Sena bingung mau ganti uang itu darimana. Sedang hasil jualan warungnya sudah Dia belanjakan, karena banyak barang yang sudah kosong.
"Biarin aja. Pokoknya Aku gak ikhlas... Aku gak ridha. Yang ambil uang Aku, hidupnya biar blangsat tujuh turunan." Doa Sena yang menyumpahi maling uangnya.
"Kamu gak boleh ngomong begitu, Dek... Gak baik...." Fajri menutupi rasa keterkejutannya.
"Biar Mas... Aku gak ridho... Itu uang bukan uang Aku. Aku susah payah mengumpulkannya. Dan ada tambahan modal dari Nina disitu. Ya Allah....Tega banget tuh orang yang ambil." Sena masih terisak.
Akhirnya Sena memberanikan diri mengabari pada Nina kalau uang buat belanja pulsa telah hilang.
Nina tidak marah sama Kakaknya. Tapi Nina tetap meminta Sena untuk belanja ke Roxi karena pesanan sudah menumpuk.
"Besok kalau mau berangkat belanja ke Roxi, telpon aja. Nanti Nina langsung transfer." Kata Nina.
"Ya Na... Terima kasih. Kakak minta maaf.....Karena gak bisa menjaga amanah." Kata Sena.
"Ya udah sih Kak... Mau diapain lagi udah hilang." Kata Nina mencoba menenangkan Sena.
__ADS_1