
Hujan mulai turun rintik-rintik. "Mas gimana nih? Hujan Mas." Kata Sena.
"Tanggung, sebentar lagi sampai." Kata Fajri yang menambah kecepatan motornya.
Hujan makin deras, Fajri bergegas memasukan motornya ke pekarangan kos-kosan Tante Fajri. Sena langsung berlari sambil menggendong Rizki. "Mas tolong tas Aku..." Pinta Sena.
Fajri langsung menyambar tas Sena yang memang ditaruh di depan.
"Ayo masuk..." Ajak Fajri.
Sena mengusap kepala Rizki yang sempat basah terkena air hujan.
"Mas.. Apa Kamu sudah ijin sama Tante kalau Kita akan menginap disini?" Tanya Sena.
Fajri menggeleng. "Mas... Aku kira Kamu sudah mendapat ijin." Sena mengrucutkan bibirnya.
"Kamu tenang aja, nanti Aku yang ngomong." Kata Fajri.
Sena menghela nafas. "Kebiasaan...." Gerutunya.
Setengah jam kemudian, Tante nya Fajri tiba di kos-kosan.
Sena langsung mencium punggung telapak tangan Tante nya Fajri. "Udah lama Sena?" Tanyanya.
"Baru aja, Tante..." Kata Sena.
"Gini Tante... Fajri dan Sena mau nginep disini beberapa hari, sampai Kita dapat kontrakan rumah petakan." Kata Fajri.
Tante nya Fajri melihat tas yang tergeletak dekat kaki Sena. "Kamu bawa baju?" Tanya Tante nya Fajri.
"Sena diusir Tante, sama Bunda nya." Kata Fajri.
"Sena... Nama nya orangtua ngusir Kita mah, gak mungkin serius. Sebaiknya Kamu pulang... Gak baik kabur-kaburan begini." Kata Tante nya Fajri.
"Gak Tante... Sena gak akan kembali ke rumah Bunda." Kata Sena.
"Terus Kalian mau kemana? Fajri aja nganggur, mau bayar kontrakan darimana? Tinggal di rumah Ibu nya Fajri, Kamu juga gak mau." Kata Tante nya Fajri.
"Tapi kan Tante, kalau ke rumah Ibu, Ibu gak akan menerima anak Sena." Kata Sena.
"Kamu pikirkan lagi, Sena. Ngontrak, Fajri nganggur. Kamu juga gak kerja apa-apa." Kata Tante nya Fajri.
"Rencananya Sena mau kerja di garmen, Tante. Fajri juga akan mencari pekerjaan." Kata Fajri.
"Terus yang jaga anakmu, siapa?" Tanya Tante.
"Ya kalau Sena yang kerja, Fajri yang jaga. Kalau Fajri yang kerja, Sena yang jaga." Kata Fajri.
Tante Fajri terlihat tidak suka. Dia hanya menghela nafas.
__ADS_1
Fajri menggendong Rizki naik keatas. Kosan itu memang ada tiga lantai. Dan Tante Fajri yang menjaganya.
"Kamu fikirkan lagi Sena. Lebih baik Kamu pulang ke rumah Bunda Kamu. Kata Tante. Malam ini kalau Kamu mau nginep, silahkan. Tapi Tante sarankan Kamu pulang, minta maaf sama Bunda." Pinta Tante Yani.
"Sena gak bisa Tante. Sena udah gak tahan tinggal disana." Kata Sena.
"Apa lagi kalau Kamu kembali sama Fajri...." Tante menggantung kata-katanya.
"Maksud Tante?" Sena gak ngerti.
"Dia udah bilang sama Ibu nya, kalau Dia gak mau lagi sama, Kamu. Tante ngasih tahu ini karena Tante kasihan sama Kamu dan anak Kamu." Kata Tante Yani.
"Siapa Tante yang gak mau lagi sama Sena? Mas Fajri?" Tanya Sena.
"Ya iya Fajri, terus siapa lagi? Waktu itu Dia bilang ke Ibu nya kalau Dia sudah gak mau lagi sama Sena. Orang Ibu nya Fajri sendiri yang ngomong ke Tante." Jelas Tante Yani.
"Terus maksud Fajri menjemput Sena ke rumah Teman Sena, apa yah?" Tanya Sena.
"Mana Tante tahu..." Kata Tante Yani.
"Oohhh... Sena baru tahu. Pantesan saja Mas Fajri menyuruh Sena menjual barang-barang Sena yang ada di rumah Bunda. Jangan-jangan Mas Fajri belum bayar cicilan motornya, dan Dia ingin membayarnya dengan cara menipu Sena?!" Sena sangat kecewa.
"Ya bisa jadi. Lagian jangan Sena, Kamu jangan turuti kemauan Fajri, jual mah gampang, bisa kebeli lagi gak? Terus katanya mau ngontrak, kalau barang-barang Kamu dijual, kaya springbed misalnya, Kamu mau tidur dimana? Dilantai? Gak kan?" Jelas Tante Yani.
Sena terisak. Sena tak menyangka dalam keadaan dirinya sedang terjepit, Fajri malah ingin mengambil kesempatan dengan cara menipu Sena demi kepentingannya sendiri.
"Paling diatas, tadi Dia bilang mau main game. Berarti Dia ke lantai tiga." Jelas Tante Yani.
Sena bergegas naik. Menaiki tangga kayu yang sangat tinggi hingga tiga lantai. Nafasnya sangat ngos-ngosan saat tiba di lantai tiga.
"Mas... Apa benar, kata Tante kalau Mas bilang ke Ibu kalau Mas udah gak mau lagi sama Aku?" Sena emosi sambil terisak.
Fajri terperanjat. Dia sedang asik main game sama Rizki. "Iya... Aku bilang gitu ke Ibu." Kata Fajri santai.
Sena langsung mengambil Rizki dari pangkuan Fajri. "Kalau begitu buat apa Kamu terus menelponku, dan menjemputku di rumah Sella?!" Amarah Sena meledak.
Dia menarik Rizki. "Anak Aku jangan dibawa." Kata Rizki.
"Anak siapa Mas? Anak Kamu? Apa Kamu ngerasa pernah ngasih Dia makan?!" Sena makin emosi. Dia mulai menuruni tangga sambil menggendong Rizki.
Nafas Sena sudah tak beraturan. Antara letih dan bebannya yang begitu berat harus Dia tanggung sendiri.
"Nyesel Mas, Aku kasih tahu Kamu, aku ada dimana." Ketus Sena.
Sena mengambil tas nya dekat meja tempat tadi Dia duduk.
"Kamu mau kemana Sena...? Masih hujan di luar. Besok saja pulangnya." Kata Tante Yani.
"Gak Tante, biar Sena pergi! Tega banget... Aku lagi susah kayak gini, Kamu malah mau memanfaatkan Aku... Kamu lagi butuh uang buat bayar cicilan motor kan, Mas? Makanya Kamu ngebaikin Aku mau hidup sama Aku!?" Hardik Sena.
__ADS_1
"Ng... Gak juga..." Fajri terlihat gugup karena sudah ditebak oleh Sena tentang rencananya.
Sena mengangkat tas nya. Dia sudah sangat nekad.
"Sena... Di luar masih hujan. Lagi pula sudah malam. Kasihan sama anak Kamu." Kata Tante Yani.
"Tuh... Tante lihat kan, emang gitu tuh Sena, gak bisa dibilangin. Keras kepala! Siapa yang mau tahan!" Kata Fajri yang seakan dapat angin untuk menutupi kelicikannya.
"Ngapain Aku tidur disini? Dikosan Tante, lagi pula kan Dia gak menganggapku istrinya lagi." Kata Sena.
"Dan sekeras-keras nya hatiku, Aku masih punya perasaan Mas. Aku gak akan mengambil kesempatan dari kesempitan orang yang sedang kesusahan." Ketus Sena.
Sena mulai melangkah keluar dari pintu kosan.
"Fajri... Antar Sena pulang. Antar ke rumah Bunda nya. Jangan kemana-mana lagi." Perintah Tante Yani yang tak bisa menghalangi Sena yang sedang marah dan kecewa pada Suaminya.
Sena memakaikan jaket pada Rizki. Dia tak menghiraukan dirinya yang akan kehujanan.
"Ayoooo...! Kalau mau pulang!" Fajri sangat kesal karena tak bisa mengelabui Sena.
"Gak usah... Aku bisa naik bis. Lagi pula Aku gak akan pulang ke rumah Bunda!" Tegas Sena.
"Lihat kan Tante...! Siapa yang tahan ngelihat kelakuannya kaya gitu?" Cibir Fajri.
Fajri langsung mengambil motornya. Sena sudah meninggalkan kosan Tante Yani setelah berpamitan pada Tante. Sena sudah malas meladeni ocehan Fajri yang selalu ingin menang sendiri.
"Ayo naik!" Fajri berhenti di samping Sena yang tergopoh-gopoh menggendong Rizki dan menenteng tas.
Sena tak mendengar. Dia malah menyetopkan bus yang tujuannya ke rumah Kak Mita.
Fajri menarik tangan Sena. Dan membuat tubuh Sena tak seimbang. Sena hampir saja terjatuh tapi Fajri langsung menahan tubuh Sena.
"Lihat kan? Belum apa-apa Kamu sudah mau jatuh! Urus dirimu sendiri saja gak becus, gimana mau ngurus Rizki?!" Hardik Fajri.
"Sudah Mas, Kamu gak usah menghina ku terus! Kamu ngaca Mas! Apa Kamu juga sudah benar!?" Sena jadi tambah tersulut.
Fajri menyuruh supir bus untuk jalan. "Jalan Bang! Gak jadi naik!" Teriak Fajri.
"Mas...!!! Aku mau naik kenapa Kamu suruh pergi?!" Kata Sena yang kembali menangis.
"Cepat naik. Atau Aku tinggal! Yang tadi bus terakhir!" Kata Fajri.
Mau tak mau Sena naik ke motor Fajri. Rizki terlihat ketakutan dari tadi.
Sena memperhatikan jalan. "Mas... Aku gak mau pulang ke rumah Bunda! Kalau Mas memaksa, Aku akan lompat." Ancam Sena.
"Terus Kamu mau kemana?" Tanya Fajri ketus.
"Ke rumah Kak Mita." Pinta Sena.
__ADS_1