
Satu Minggu Kemudian
"Mas... Kok Kita gak ke rumah Ibu? Biasanya kalau hari minggu, Kita ke rumah Ibu." Kata Sena yang sedang menggendong Rizki sambil memberinya susu.
Sena juga merasa heran, sudah seminggu bayi nya di rumah, tapi tak satu pun dari saudara-saudara Fajri yang datang menengok.
"Ibu gak suka Kita mengasuh Rizki." Kata Fajri pelan.
"Apa..?!" Sena terperanjat.
"Mas tahu darimana?" Tanya Sena. Seketika tubuhnya menjadi lemas.
"Kemarin waktu Aku lagi di pasar, Ibu telpon. Terus Aku disuruh ke rumah Ibu. Aku kesana pake motor Bang Tiar. Terus Ibu bilang Kita harus kembalikan bayi itu." Fajri menunduk.
"Gak Mas.. Aku gak mau... Huk... huk... huk..." Sena yang sudah menahan sedihnya dari kemarin-kemarin akhirnya pecah juga tangisnya.
"Aku sangat menyanyangi Rizki. Jangan pisahkan Aku dengan anakku. Huk.. huk.. huk..." Sena masih menangis.
"Aku juga gak mau, Dek. Aku juga sayang sama Rizki." Kata Fajri yang segera mengusap punggung Sena.
"Kenapa Ibu gak bilang langsung waktu Kita minta ijin. Kalau gak boleh, Aku juga gak maksa." Sena nampak kecewa.
"Ibu mau nya Kita mengasuh anak-anak Mas Dwi. Kamu kan tahu sendiri, Mas Dwi akan bercerai dengan Wati." Kata Fajri.
Sena memang mendengar tentang perceraian Abang iparnya dengan istrinya. Semua karena uang.
Waktu itu Ibu cerita kalau Wati mengadu dipukul oleh Mas Dwi. Tapi Ibu menanyakan pasti ada alasannya Dwi memukul Wati.
Wati bilang karena dia menggadaikan surat rumah untuk bayar hutang.
Dwi bekerja sebagai Security. Wati mendapat warisan tanah dari orangtua nya. Dwi meminjam uang di kantor untuk membangun rumah dan membayarnya dengan potong gaji tiap bulan.
Wati membantu mencari uang dengan cara meminjamkan uang berbunga menjalankan modal orang lain. Ibu pun ikut menikmatinya.
Dan kini yang hutang pada tidak bayar, akhirnya Wati yang dikejar oleh pemilik modal.
Sebenarnya Dwi sudah ikhlas jika rumahnya dijual untuk menutupi hutang-hutang Wati yang secara langsung, Dwi dan Ibu nya juga menikmati.
Tapi Wati bilang jual rumah saja tidak cukup. Dia ditawari menjadi istri kesekian dan hutang-hutangnya akan dibayar lunas.
Dwi sangat terpukul dengan keputusan Wati.
Fajri pernah membawa anak sulung Dwi yang berusia 8 tahun. Tapi Sena merasa anaknya Dwi seperti cemburu pada Sena. Dia melarang Fajri tidur dengan Sena. Padahal dulu, dia begitu dekat dengan Sena.
Makanya Sena gak bisa merawat anak sulung Dwi. Belum apa-apa sudah seperti itu, bagaimana nanti ke depannya?
___________________
"Untuk sementara ini, Kita gak usah ke rumah Ibu." Kata Fajri.
"Biarlah Kita hidup bertiga. Gak apa kalau saudara-saudara ku tak menjenguk Kita. Ibu melarang Mereka menjenguk Kita." Kata Fajri yang terlihat sedih.
Sena mengangguk. "Jangan pisahkan Aku dengan Rizki, Mas. Aku mohon."
__ADS_1
"Kamu jangan mikirin yang tidak-tidak. Tidak mungkin Aku memisahkan Kamu dengan Rizki. Aku menyayangi Kalian." Hibur Fajri.
Tiba-tiba Rizki menangis. Sena langsung masuk ke kamar. Sena memang langsung menaruh Rizki ke kamar ketika Sena berbicara dengan Fajri.
Sena gak mau, Rizki merekam pembicaraan Mereka dalam otaknya walau Dia masih bayi. Sena hanya ingin Rizki mendengar yang baik-baik saja.
Sena memeriksa keadan Rizki. Ternyata Rizki pup.
"Anak Ayah kenapa nangis?" Tanya Fajri yang sudah berada di kamar.
"Aku pup, Ayah." Kata Sena yang menirukan suara anak kecil.
Mereka tertawa. Karena kelakuan Mereka seperti anak kecil.
"Aku ke pasar aja ya. Kalau hari minggu gini, biasa nya kios Bang Tino rame. Tapi Aku ke rumah Bunda dulu. Takut ada yang dibawa." Kata Fajri.
Sena mengangguk. "Hati-hati ya Yah." Kata Sena.
Fajri mengangguk. Dia mencium pipi Rizki. Sena mencium punggung telapak tangan Fajri.
"Dadaaahhh Ayaah..." Kata Sena yang menggendong Rizki.
____________________
Sudah sebulan lebih Sena tak berkunjung ke rumah orang tua Fajri. Semua itu karena Ibu Fajri tak mau melihat Bayi Mereka.
Sena baru saja selesai bebenah dan memasak. Hari ini 40 hari sudah usia Rizki. Sena membuat nasi kuning dan lauk pauknya.
Sena ingin mengadakan syukuran kecil-kecilan untuk kelahiran bayinya.
Bu Juju yang punya kontrakan juga diundang, tapi Dia gak bisa datang karena juga sedang ada pengajian di rumahnya.
Acara pengajian diadakan sesudah ashar. Bunda tiba dikontrakan bersama Bu Ustadzah. Ibu-ibu tetangga tak lama mulai berdatangan.
Bu Ustadzah memimpin acara pengajian. Doa-doa pun dipanjatkan.
Rizki sangat anteng. Dia jarang rewel. Kalau menangis karena lapar atau pipis dan Pup. Bangun tidur pun tak pernah nangis.
Pengajian selesai sebelum maghrib. Sena membagikan kotak nasi dan kotak kue pada Ibu-Ibu.
Sena juga membagikan pada tetangga yang tak datang dan tak diundang.
"Semoga berkah ya." Kata Ustadzah.
"Aamiin... Terima kasih Bu Ustadzah. Maaf nih Sena jadi ngerepotin." Kata Sena.
"Gak apa Sena. Kalau Bu Ustadzah bisa, pasti datang. Ini lagi kosong, makanya bisa hadir. Kamu kan tahu sendiri...." Canda Ustadzah.
Sena mengangguk.
"Jangan lupa lusa latihan. Ajak saja Puteramu." Pinta Ustadzah.
"Insya Allah Ustadzah." Kata Sena yang sedang menggendong Rizki.
__ADS_1
Fajri baru tiba di rumah. "Assalamu alaikum." Salam Fajri.
"Wa alaikumussalaam..." Sahut Sena, Bunda dan Ustadzah.
"Ayah pulang..." Kata Sena kepada Rizki.
Fajri mencium punggung telapak tangan Bunda dan Ustadzah.
"Sudah selesai ya pengajiannya? Maaf nih Ayah gak ikut. Ibu-ibu semua." Canda Fajri.
"Mandi dulu, Fajri. Baru pegang Rizki." Pinta Bunda.
"Ya Bun. Ini juga mau mandi." Kata Fajri.
"Kalau begitu, Saya pamit ya. Jemputan udah datang." Canda Ustadzah.
Sena mengangguk. Sena dan Bunda mengantar Ustadzah sampai jemputannya. Sena menyelipkan amplop pada Ustadzah.
"Apa ini Sena?" Ustadzah kaget.
"Diterima ya Ustadzah." Pinta Sena.
Ustadzah tersenyum. "Alhamdulillaah... Terima kasih ya... Biar rejeki nya lancar.. Aamiin.."
"Aamiin..." Sahut Sena dan Bunda.
"Bunda mau pulang juga ya." Kata Bunda yang sedang berjalan ke arah kontrakan Sena.
"Mas... Bunda mau pulang." Kata Sena.
"Ayo Bun, Fajri antar." Fajri memang membawa motor Bang Tino karena bang Tino yang menyuruh untuk jemput Bunda.
___________________
Seminggu Kemudian.
Hari ini Rizki sangat rewel. Sena sampai kewalahan sendiri.
Fajri sudah berangkat dari pagi. Tidak biasanya Rizki rewel.
Umi sampe datang ke rumah. "Rizki kenapa Sena?" Tanya Umi yang melihat Sena menggendong Rizki sambil dinina-bobokan.
"Gak tau nih Umi, dari tadi rewel." Sena bingung.
Umi mengambil Rizki dari gendongan Sena. Umi memeriksa badan Rizki. "Gak kenapa-napa." Kata Umi. Umi memang biasa mengurut bayi.
Sena mengambil kembali Rizki dari Umi. "Sena masuk dulunya Mi. Mungkin Rizki mau bobo." Kata Sena.
Umi mengangguk. Umi mengerti, ada tetangga sebelah rumahnya yang suka usil lewat, makanya Sena buru-buru masuk. Umi juga buru-buru masuk.
Sena pun bergegas masuk dan menutup pintu rumah.
Sena membawa Rizki ke kamar. Dia merebahkan Rizki perlahan dan mengusap kepala Rizki sambil membacakan doa.
__ADS_1
Tak lama Rizki terlelap. "Alhamdulillaah..." Sena lega. Rizki berhenti menangis dan terlelap.