Aku Bukan Wonder Woman

Aku Bukan Wonder Woman
Fajri Sakit


__ADS_3

Dua Hari Kemudian.


"Kamu kenapa Mas?" Tanya Sena yang melihat Fajri pulang kerja meringkuk di kasur.


"Aku meriang Sena." Kata Fajri.


Sena menyentuh kening Fajri. "Panas sekali...." Batin Sena.


"Kamu sudah makan Mas?" Tanya Sena.


Fajri menggeleng. "Aku gak nafsu makan." Kata Fajri pelan.


"Kamu mau Aku belikan bubur Bang Iwan?" Tanya Sena yang khawatir dengan Suaminya.


Fajri mengangguk.


"Ya sudah... Aku pergi beli bubur ya." Pamit Sena.


"Kamu mau kemana Sena?" Tanya Bunda melihat Sena membawa rantang.


"Sena mau beli bubur Bang Iwan. Mas Fajri sakit, Bun. Sena titip Rizki ya Bun." Kata Sena.


"Mama.... itut..." Rizki memeluk kaki Sena.


Sena berjongkok. "Mama cuma sebentar... Beli bubur buat Ayah." Kata Sena merayu Rizki agar tidak ikut.


"Rizki sama uwo aja ya..." Bujuk Bunda yang langsung menggendong Rizki. "Sudah sana cepat beli bubur." Pinta Bunda.


"Ya Bun." Sena bergegas pergi. Dia naik angkot karena Sena belum berani bawa motor ke jalan raya.


____________________


"Aku gak bisa, Dek. Kamu maksa banget sih?!" Ketus Fajri.


"Tapi kan sudah lama, Mas...." Kata Sena mengrucutkan bibirnya.


Fajri membuka celana pendeknya dan pakaian dalamnya. "Punya ku sakit... tuh bengkak..." Kata Fajri akhirnya. Fajri pun mengganti celana pendeknya dengan sarung. Dia tak lagi menggunakan pakaian dalam karena mulai terasa sakit.


"Astaghfirullaah... Itu kenapa bisa begitu, Mas?" Sena sangat kaget.


"Turun berok..." Ketus Fajri.


"Loh... Mang Kamu kerja angkat-angkat barang berat, Mas?" Tanya Sena yang tahu kalau turun berok itu karena terlalu kerja berat. Setahu Sena, barang-barang dagangannya gak berat.


"Mang Kamu gak lihat, itu barangnya berat?!" Ketus Fajri yang menunjuk Dus barang dagangannya yang belum sempat dia kembalikan ke kantor.


"Heehhh..." Sena mengrucutkan bibirnya. Fajri sudah sangat jarang menyentuhnya. Apalagi sekarang Fajri gak pernah lagi mengantarnya atau menjemputnya kalau Sena sedang terdesak.


Ada aja alasan Fajri. Lagi jauhlah, lagi sibuklah... Padahal dulu, sesibuknya Fajri, Dia akan segera sigap mengantar jemput Sena.


Apalagi sekarang, Fajri tak pernah menuruti keinginan Sena kalau Sena sangat menginginkannya. Alasan cape lah, apalah... Tapi saat Fajri menginginkannya, Dia akan keluar duluan tanpa menunggu Sena mencapai kenikmatannya.

__ADS_1


Itu membuat Sena sangat kesal dan sesudahnya kepala Sena akan sakit karena menahan hasratnya yang tak tercapai.


Dengan sabar Sena mengurus Fajri yang sedang sakit. "Jadi sakitnya karena ini?" Batin Sena yang baru mengetahui kemarin Fajri meriang gara-gara punya nya bengkak dan terlihat merah.


Tapi memang dasar Sena yang bodoh gak tahu apa-apa. Dia gak tahu penyakit apa yang sebenarnya Fajri derita.


Akhir-akhir ini, punya Sena sering merasa gatal. Sena fikir karena keputihan yang banyak. Tapi biasanya sesudah datang bulan paling lama seminggu dia mengalami keputihan. Tapi akhir-akhir ini malah tambah menjadi dan bau.


Sena memang tak mengerti apa-apa. Sena juga tak coba untuk memeriksa keadaannya ke dokter. Sena paling hanya mencucinya dengan air hangat atau dengan rebusan daun sirih.


_____________________


Fajri terlihat senyum-senyum sendiri membalas sebuah pesan di ponselnya.


"Ada apa sih Mas? Kok kaya nya senang banget?" Tanya Sena yang melihat kondisi Fajri mulai membaik.


"Gak ada apa-apa..." Ketus Fajri. Fajri segera menaruh ponselnya dibawah bantal saat Sena mendekat dan ingin tahu pesan apa yang Fajri baca.


"Sudah Kamu sana... ngapain sih? Tuh ada yang belanja." Kata Fajri setengah mengusir Sena.


Sena sangat kecewa. Fajrinya telah banyak berubah. Tak seperti dulu.


Sena pun bergegas ke warungnya. Ternyata sudah ada Bunda yang melayani orang belanja. Tapi Sena langsung membantu Bunda.


Rizki sedang bermain dengan Alvi. Alvi memang lebih suka ke rumah Bunda. Dia gak betah di rumah yang ditempati sekarang, katanya serem.


Sesekali Rizki berlari ke arah Sena. Dan Sena segera menggendongnya dan menciumnya. Rizki juga selalu mencium Sena.


"Ya Kak... Sena juga sayang banget sama Rizki." Kata Sena yang memberi kembalian pada Kak Rosa.


_____________________


Beberapa hari Kemudian, Dua minggu Setelah Sena kehilangan uang.


Siang ini Sena sedang tidur siang bersama Rizki.


Hari ini hari sabtu. Biasanya jam 2 siang Fajri sudah berada di rumah.


Sena sangat terlelap tidur siangnya. Hingga Dia tak mendengar ada yang belanja.


Bunda sempat menengok Sena ke kamar. "Kasihan anakku... Dia seperti sudah lama gak pernah tidur siang." Batin Bunda.


Bunda pun akhirnya melayani orang yang belanja.


Dalam tidur siangnya Sena bermimpi.


🌷"Aku titip Rizki ya... Aku minta tolong sama Kamu, urus semuanya...." Kata Fajri yang begitu menyayangi Sena. Fajri tak juga melepas pelukannya dari Sena.🌷


Sena mengerjabkan mata. Dia merasakan Fajri masih memeluknya dan menciumnya. "Ada apa ya? Kok perasaanku gak enak?" Batin Sena.


"Kenapa siang-siang Aku mimpi Mas Fajri?" Sena terlihat melamun. Sena sudah duduk dipinggir ranjangnya. Dia masih memikirkan arti mimpinya yang terasa seperti nyata.

__ADS_1


"Bangun tidur kok malah melamun?" Tanya Bunda tiba-tiba.


"Eh Bunda..." Sena tersadar dari lamunannya.


"Ini harganya berapa?" Tanya Bunda menunjukan barang dagangan.


"7 ribu Bun. Sini Bun biar Sena saja." Kata Sena yang langsung turun dari ranjangnya.


Bunda tersenyum dan menyerahkan barang tersebut pada Sena. Sena menerimanya dan Bunda melanjutkan jahitannya.


Sena melayani pembeli. Dan setelah itu Dia kembali ke kamar melihat Rizki. Ternyata Rizki juga sudah terbangun.


Rizki tersenyum melihat sang Mama dan langsung berdiri mengangkat tangannya minta digendong.


Sena langsung menggendong Rizki. Sena membuka kulkas dan mengambil es mambo yang dia buat sendiri.


Rizki selalu minta kalau Sena membuka kulkas mengambil Es Mambo rasa susu coklat. Sena memberikan pada Rizki tapi hanya separuhnya. Sena membuatnya sangat bersih dan sehat. Dia menggunakan susu kental manis coklat dan gula pasir asli yang dimasak hingga mendidih.


Sena selalu jujur dalam berjualan. Makanya warungnya banyak pembelinya walau belum lengkap seperti warung besar di dekat lapangan basket.


"Tinggal sedikit itu Sena. Kamu gak membuat lagi?" Tanya Bunda.


"Iya Bun. Ini lagi mau masak air." Kata Sena yang menurunkan Rizki dari gendongannya. "Kamu duduk sini dulu." Rizki tersenyum senang karena ditangannya ada es mambo walau dia memakannya perlahan karena dingin.


"Kok cucu Uwo, makan es, sih? Uwo bagi dong...." Canda Bunda.


Rizki langsung menyodorkan es nya pada Bunda.


"Duuuhhh... Cucu Nenek pinter banget.... Gak pelit lagi..." Puji Bunda.


Sena sudah kembali ke warung yang tak jauh dari tempat Bunda menjahit.


Sena mencatat barang-barang yang sudah abis. Rencananya Dia akan belanja minta antar sama Fajri jika pulang nanti.


"Kok Fajri belum pulang, Sena?" Tanya Bunda.


"Gak tahu Bun, tumben. Biasanya jam segini sudah pulang." Kata Sena yang melihat jam dinding menunjukkan jam 4 sore.


"Sudah minum es nya?" Tanya Sena yang melihat Rizki sudah belepotan dengan es coklatnya.


"Sudah ya... Sudah lengket semua. Mandi yuuukkk...." Ajak Sena yang segera membuka pakaian Rizki dan membawanya ke kamar mandi.


Tak lama Rizki sudah terlihat tampan dengan bedak putih di wajah dan leher juga wangi minyak kayu putih.


Air yang Sena masak juga sudah mendidih. "Kamu sama Uwo dulu. Mama mau masak susu." Kata Sena.


"Sekalian saja ambilkan makannya Sena.... Biar Bunda suapin." Kata Bunda sedikit teriak.


"Ya Bun." Sahut Sena. Tak lama Sena memberikan nasi buat Rizki.


Bunda mengajak Rizki jalan-jalan sore dengan kereta dorong yang dibelikan Vina untuk Rizki.

__ADS_1


Sena pun sudah selesai memasak susu. Tinggal menunggu adem baru akan dibungkus dengan plastik.


__ADS_2