Aku Bukan Wonder Woman

Aku Bukan Wonder Woman
Ke Pondok Gede


__ADS_3

Sena dan Fajri baru saja tiba di rumah kontrakan. Sena membuka kunci gembok pagar dan segera membuka kunci pintu.


Fajri memarkirkan motor di samping kontrakan sampai mesin motor dingin.


Sena segera membereskan barang bawaannya. Kemudian dia bergegas mandi.


Fajri masih berdiri di depan rumah sambil menghisap rokoknya. Sena sudah berulang kali mengingatkan pada Fajri untuk berhenti merokok tapi Fajri seperti tak punya telinga.


Sena sudah keluar dari kamar mandi dan bergegas memakai baju. Kemudian Dia merapihkan tempat tidurnya. Menyapunya dengan sapu lidi khusus kasur.


"Mas.... sudah malam." Kata Sena.


Fajri segera membuang rokoknya yang tinggal puntung. Dia bergegas memasukan motornya kedalam kontrakan.


Kemudian dia mengunci pagar dan mengunci pintu rumah.


Fajri bergegas mandi. Tak lama dia sudah keluar dari kamar mandi. Fajri memang tak tahan berlama-lama dikamar mandi jika sudah malam.


Sejak menikah dengan Sena, Dia selalu mandi jika darimana pun walaupun pulang larut.


"Besok Aku mulai kerja di pelabuhan. Ada tongkang masuk." Kata Fajri.


Sena mengangguk. Mas Alif yang menawari pekerjaan kepada Fajri, tapi bekerjanya kalau ada tongkang datang yang akan dibongkar muatannya di pelabuhan tanjung priuk.


Tapi sekali tongkang datang, Fajri bisa bekerja selama 3 hari atau 4 hari tergantung muatan yang datang banyak atau tidak.


"Besok pagi Aku bantu Bang Tino dulu di pasar. Paling jam 12 Aku sudah pulang." Kata Fajri.


Jam kerja di pelabuhan memang malam hari dan baru pulang pagi hari. Masuk jam 7 malam pulang jam 7 pagi.


Sena hanya mengangguk. Sena mengerti. Berarti untuk beberapa hari Dia akan tidur sendiri di rumah.


Tapi setidaknya Sena merasa aman ditinggal sendirian disini daripada waktu tinggal di pondok gede.


FLASH BACK ON


Batuk Sena makin menjadi. Perasaan Sena selalu tertekan. Dari Abang dan Kakak Iparnya, juga dari Mertuanya.


Sena tak pernah menceritakan masalahnya pada Bunda atau siapapun. Kebohongan Fajri pun selalu Sena telan sendiri.


Fajri sudah berulang kali mendapat teguran dari kantor tempatnya bekerja karena tak pernah menyetorkan hasil jualannya.


Sena tak mengetahuinya. Sena malah ikut membantu menjualkan produk teh yang Fajri bawa.


Sena sudah menghitung. Jika dia mengambil kreditan motor, Gaji Fajri cukup untuk membayar cicilan motor dan kontrakan.


Untuk makan sehari-hari Sena berniat membuka warung dan menerima jahitan. Sena sudah tak kuat hidup nyampur dengan Abang dan Kakak iparnya di rumah.


Mereka sok kuasa di rumah. Sena malas selalu ribut di rumah. Kasihan sama Bunda yang terus mengelus dada. Nina juga sudah tak tahan selalu disindir oleh Lana.


Sena sudah mengutarakan niatnya pada Fajri. Fajri menyetujuinya. Fajri juga khawatir melihat kondisi Sena yang makin hari terlihat kurus dan tak nafsu makan.


Sena juga sering muntah-muntah. Tapi tak mau pergi ke dokter. Fajri akan memijatnya dan mualnya akan hilang.


Motor kreditan sudah datang. Hari ini Fajri berniat mengajak Sena ke pondok Gede. Karena teman dekatnya tinggal disana dan lingkungan disana masih asri.


"Motornya belum ada plat, Mas. Nanti di stop polisi gimana?" Kata Sena.

__ADS_1


Fajri mengambil spidol dan dus bekas. Dia menulis TES pada karton sebesar plat motor. Kemudian Fajri memasangnya di tempat plat motor.


"Gak apa memang Mas?" Tanya Sena.


"Gak apa dong." Kata Fajri sambil tersenyum. "Ya udah, kamu siap-siap sana." Pinta Fajri.


Sena mengangguk dan bersiap-siap.


Hari ini Hari Sabtu. Fajri berniat mengajak Sena keliling berjualan produk tehnya. Dia bekerja setengah hari dan langsung ke Pondok Gede dari Kantornya.


Fajri sudah berangkat ke kantor. Sena sedang bersiap. Karena dari kantor Fajri akan menjemput Sena.


Satu Jam kemudian Fajri tiba di rumah Bunda. Sena sudah rapih. Hanya pakaian santai. Celana jeans dan kaos oblong dengan suiter dan sepatu sport tanpa tali.


Sena berpamitan pada Bunda. "Jangan malam-malam pulangnya. Inget kesehatan Kamu." Pesan Bunda.


"Iya Bun." Kata Sena.


Fajri juga berpamitan pada Bunda.


Mereka pun berangkat. Sena duduk diatas sadelbag yang berisi kotak teh di kanan kiri bag nya.


Fajri sangat senang ditemani Sena. Setiap ada warung atau toko, Mereka berhenti menawarkan produk tehnya.


Ada yang beli ada juga yang menolak. Sena membawa bekal nasi dan minum agar lebih irit tidak membeli makan di pinggir jalan.


Jam 12, Fajri memutar motornya ke arah kantor.


"Nanti Kamu tunggu di depan aja ya." Kata Fajri pada Sena.


"Ya Mas." Jawab Sena.


Beberapa karyawan yang tak mengenal Sena, menggoda Sena.


"Mbak nunggu siapa? Ikut Saya aja yuk." Goda Mereka.


Sena hanya diam tak menjawab perkataan Mereka.


Setengah jam kemudian Fajri keluar dan segera menghampiri Sena dengan motor.


"Lama ya." Tanya Fajri.


Sena mengangguk.


"Ada yang menggoda mu gak?" Tanya Fajri.


"Banyak." Jawab Sena singkat.


Fajri hanya tersenyum.


"Kok malah senyum-senyum sih Mas? Bukannya marah." Sena mengrucutkan bibirnya.


"Ngapain harus marah? Berarti istriku cantik, banyak yang goda." Canda Fajri.


Sena terlihat tak suka dengan perkataan Fajri.


"Ayo naik. Pake helmnya." Pinta Fajri.

__ADS_1


Sena pun menuruti Fajri. Fajri melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Sena hanya diam.


Satu Jam Kemudian.


Fajri memarkirkan motornya di depan sebuah kontrakan.


Fajri dan Sena bergegas turun dari motor. Fajri mengetuk rumah kontrakan itu.


"Lucas...." Panggil Fajri.


Tak lama pintu terbuka.


"Eh Lo Ji, udah sampe." Kata Lucas. "Sini masuk. Itu bini lo?" Tanya Lucas.


"Ya iyalah bini gw, masa bini orang gw bawa-bawa." Canda Fajri.


"Sini mbak, masuk." Ajak Lucas.


Sena mengangguk. Sesekali Sena terbatuk. Fajri akan memijit tengkuk Sena.


"Tenang aja, kalo jadi tinggal disini nanti juga sehat. Di sini udaranya masih segar." Kata Lucas.


Sena hanya tersenyum.


Tak lama istri Lucas keluar membawa 2 botol air mineral dan cemilan.


"Gimana Ji? Enakan disini?" Kata Kristin, istri Lucas.


"Sejuk disini. Tapi gak tau, bini gw mau apa gak tinggal disini. Soalnya lumayan jauh dari rumah Bunda nya dan tempat kerja gw." Kata Fajri.


"Enak disini, Adem, Sejuk, tenang." Kata Sena membuka suara.


"Tuh... Bini lo aja setuju apa kata Gw. Kenalin, nama Gw Kristin." Kristin mengulurkan tangannya dan disambut oleh Sena.


"Gw disini cuma berdua. Tetangga Gw gini hari lagi dagang Dia. Nanti Gw anterin ke kontrakan yang kosong. Banyak disini. Masih murah lagi." Kata Kristin.


Sena mengangguk.


"Kamu makan dulu ya." Pinta Fajri karena batuk Sena tak berhenti.


"Gw gak masak Ji." Kata Kristin.


"Gak usah repot, bini gw bawa dari rumah, biar irit." Canda Fajri.


Sena beranjak menuju motor dan mengambil bekalnya. Sena membuka bekalnya. "Kak Kristin, Bang Lucas gak makan?" Tanya Sena.


"Kita udah makan. Disini gak pernah masak. Kalau laper beli." Kata Lucas.


"Tapi nanti kalo Lo dah disini, masakin buat gw ya. Kayaknya enak masakannya." Kata Kristin.


"Masakan bini gw mah enak." Puji Fajri.


"Nih Kak Kristin mau cicipin?" Tanya Sena.


"Gak usah. Ibu nya Fajri sering ngomongin Lo, masakan Lo enak." Kata Kristin.


Sena hanya menunduk. Dia gak suka dipuji.

__ADS_1


Sena dan Fajri makan bersama.


__ADS_2