
Sena mengerjabkan mata. Malam ini dia tidur sendiri karena Fajri mulai bekerja di Pelabuhan.
Sena merasa ingin buang air kecil. Dia segera turun dari ranjangnya dan berlalu ke kamar mandi.
Karena Sena begitu mengantuk, Dia lupa baca doa masuk ke kamar mandi. Dia membuang hajatnya dan segera membersihkannya.
Tiba-tiba telinganya seperti ditiup-tiup. Dan Sena mendengar suara cekikikan tapi pelan nyaris tak terdengar.
Tapi Sena tak menghiraukannya. Dia sangat mengantuk. Sena langsung kembali ke kamar dan membaringkan tubuhnya.
Baru saja lima menit Sena terlelap, Dia merasa ada yang mengibas-ngibaskan selimutnya diatas tubuhnya.
"Hhhmmmm....." Sena menarik selimutnya dan kembali tertidur.
__________________
Sena sedang menjemur pakaian ketika Fajri baru saja pulang.
"Assalamu alaikum..." Salam Fajri.
"Wa alaikumussalam..." Jawab Sena yang segera mencium punggung telapak tangan Fajri.
"Aku masuk dulu ya. Aku ngantuk banget." Kata Fajri.
Sena mengangguk. Dia meneruskan menjemur. Tak lama Sena sudah masuk ke dalam.
Fajri baru saja keluar dari kamar mandi. Dia habis mencuci muka, tangan dan kaki.
"Kamu kenapa? Kok wajah Kamu pucat?" Tanya Fajri yang baru bisa melihat wajah istrinya dengan jelas setelah cuci muka.
"Haahh... Aku gak apa kok Mas." Kata Sena berbohong.
Fajri memegang kening Sena. "Semalam bisa tidur?" Tanya Fajri.
Sena mengangguk. Sena ingin bercerita tapi Sena gak tega kalau suaminya harus mendengarkannya. Karena Dia baru saja pulang dan harus istirahat karena sore Dia masih harus bekerja.
"Ya sudah, Mas tidur dulu ya. Oh ya.." Fajri mengambil dompetnya. Dia mengeluarkan selembar uang 50 ribuan.
"Ini penghasilanku semalam. Kamu pegang ya." Kata Fajri.
"Mas sudah ada buat ongkos?" Tanya Sena.
Fajri mengangguk. "Aku dikasih tips oleh supir-supir truk." Kata Fajri.
"Alhamdulillaah... Kalau gitu Sena mau belanja dulu ya Mas." Pamit Sena.
Fajri mengangguk. Dia tersenyum, Sena sangat memperhatikannya. Sena selalu membawakannya bekal kalau Dia mulai bekerja.
"Sena...." Panggil Fajri.
"Ya Mas." Sena menoleh.
__ADS_1
"Aku lupa, tadi waktu Aku dijalan, Bunda telpon. Coba Kamu telpon balik. Takut ada yang penting." Kata Fajri.
Sena mengangguk dan mengambil ponsel Fajri. Ponsel Sena sudah tidak ada karena dijual untuk membayar kontrakan.
Sena menghubungi Bunda. Tersambung.
"Assalamu alaikum Bunda... Ada apa?" Sapa Sena.
"Wa alaikumussalam." Jawab Bunda. "Kamu baik-baik saja? Kata Fajri Kamu sendirian semalam di rumah?" Tanya Bunda khawatir.
"Sena baik-baik saja, Bun. Mas Fajri baru pulang. Sedang istirahat." Kata Sena.
"Kamu pindah saja kesini, Sena. Ngapain jauh-jauh disana. Disini juga kontrakan banyak kalau Kamu gak mau tinggal di rumah Bunda." Kata Bunda.
"Tapi disana mahal bayar kontrakan, Bun." Kata Sena.
"Tapi mau kemana-mana dekat dan gampang. Sama saja kan?" Kata Bunda.
"Ya sih Bun. Ya udah nanti Sena pikirin lagi. Sena mau belanja Bun." Kata Sena.
"Ya sudah. Nanti Bunda suruh Anto cariin kontrakan disini buat Kamu, ya." Kata Bunda.
"Ya Bun. Terima kasih. Sena menutup pembicaraan Mereka." Sena menghela nafas.
FLASH BACK OFF
"Kok melamun terus sih dari tadi? Mana baju ganti Aku?" Fajri membuyarkan lamunan Sena.
"Kamu lagi mikir apa sih? Dari tadi gak kelar-kelar." Fajri mengelus rambut Sena yang panjang.
"Aku cuma lagi inget waktu tinggal di pondok gede, Mas. Waktu pertama kali Aku tidur sendirian di rumah, Aku digangguin sama 'penghuni' sana." Kata Sena yang bercerita pada Suaminya.
"Kok Kamu gak pernah bilang sama Aku?" Tanya Fajri.
"Aku cuma gak mau Mas khawatir. Jadi Aku pendam sendiri." Kata Sena. Sena pun menceritakan perihal dia diganggu.
"Kamu tahu gak? Kalau Kamu mendengar suara cekikikan pelan berarti dia ada di dekat Kamu. Tapi kalau kamu dengar cekikikan melengking, itu Dia malah jauh." Jelas Fajri.
"Serius Mas?!" Sena terperanjat. "Berarti waktu itu 'dia' sedang dekat sama Sena dong. Pantes saja kuping Sena ditiup-tiup. Hiiihhh... Untung saja Kita sudah pindah kesini." Kata Sena lega.
"Mas juga tahu kok disana ada Kunti. Tapi Mas gak mau ngomong sama Kamu. Takut Kamu gak betah." Canda Fajri.
"Kamu inget waktu Kamu ngelitikan Mas dan Kamu sudah berhenti tapi Mas masih kegelian?" Tanya Fajri.
Sena mengangguk.
"Itu 'dia' yang kelitikin Mas. Dan cerita Kamu yang mengatakan Adik perempuan Pak Petrus yang mati bunuh diri? Nah memang arwahnya yang gentayangan disana. Dia muter aja di kontrakan itu." Jelas Fajri.
"Tapi kok Mas, Sena aja yang diganggu? Yang ngontrak disana gak?" Tanya Sena.
"Karena wajah Kamu mirip sama perempuan yang akhirnya nikah sama pacarnya setelah dia bunuh diri." Canda Fajri.
__ADS_1
Sena memukul tangan Fajri. "Mas...iiihhh... Malah nakutin Sena." Sena mengrucutkan bibirnya.
"Hahahaha.... Becanda Dek. Lagian Kamu takut banget sih." Goda Fajri.
"Ya udah ah... Aku cape. Mas besok mau bantu Abang kan?" Tanya Sena.
Fajri mengangguk. "Kamu tidur duluan ya. Mas belum ngantuk." Kata Fajri yang mengecup kening Sena.
Sena mengangguk. "Jangan terlalu larut malam Mas tidurnya." Pinta Sena.
"Yaaa...." Jawab Fajri yang sudah di depan tivi.
Dua Jam Kemudian.
Sena mengerjabkan mata, dia meraba kasur sebelahnya. Kosong. Sena mendongak. "Mas Fajri belum tidur?" Batin Sena.
Sayup-sayup Sena mendengar suara desahan orang sedang bercinta. Sena turun dari ranjang perlahan. Dia membuka pintu kamar. Sena mengintip.
"Astaghfirullaah... Mas... Belum tidur? Mas nonton apa? Kok jorok banget sih?!" Sena menutup wajahnya malu melihat tontonan yang diputar di VCD.
Memang semenjak pindah kesini, rejeki Sena dan Fajri lumayan. Mereka bisa membeli Tivi dan VCD.
"Deekkk... Sini...." Fajri menoleh. Fajri tersenyum melihat Sena yang menutup wajahnya.
Sena menggeleng masih menutup wajahnya. "Mas kenapa belum tidur? Dah jam berapa ini?"
"Ya sebentar lagi juga abis kok filmnya." Kata Fajri.
Sena langsung masuk ke kamar. Akhir-akhir ini Sena sering mergokin Fajri yang menonton Video porno. Dan Fajri juga sudah mulai jarang menyentuhnya.
Terkadang Sena sangat ingin. Tapi Fajri beralasan cape untuk melakukannya. Malah pernah sekalinya Fajri minta, Fajri mencapai klimaks duluan sehingga Sena merasa hasratnya tak terpenuhi.
Sena membaringkan tubuhnya. Dia sangat sedih dengan perlakuan Fajri akhir-akhir ini. Mungkin Fajri sudah terbiasa waktu dia masih bujang. Cuma karena setelah menikah baru kali ini Mereka mempunyai Tivi dan VCD.
Tak lama Fajri masuk ke kamar dan berbaring disebelah Sena. Fajri memeluk perut Sena.
"Kamu marah yah?" Tanya Fajri.
Sena menggeleng. "Aku hanya kecewa. Mas lebih suka menonton itu daripada memenuhi hasratku." Kata Sena pelan.
"Itu kan buat bumbu aja Dek. Biar Aku punya gaya-gaya baru." Kata Fajri yang sudah membuka kancing daster Sena.
"Mas mau ngapain?" Tanya Sena.
"Mempraktekan yang tadi Mas tonton." Kata Fajri asal.
"Tapi Mas. Nanti Mas keluar duluan." Sena mengrucutkan bibirnya.
Fajri tersenyum. "Gak deh. Mas akan tungguin Kamu keluar dulu. Baru Mas selesaikan hasrat Mas." Janji Fajri.
Fajri pun melancarkan aksinya. Sena hanya pasrah mengikuti gaya-gaya baru yang Fajri inginkan darinya.
__ADS_1