Aku Bukan Wonder Woman

Aku Bukan Wonder Woman
Lapas


__ADS_3

💕Kalau Kau Memang Sayang, Kepada Ku


Ku Ingin Aku Saja Yang Kau Sayaaang...


Kalau Kau Memang Cinta... Kepada Ku....


Kuingin Aku Saja Yang Kau Cinta....


Siang Malam Ku Pinta, Dalam Doa


Semoga Cinta Ini Kan Terwujud


Diantara Kau Dan Aku Selalu Menyatu


Tiada-tiada Cinta Yang Lain...


Kalau Kau Memang Sayang Kepada Ku....


Tak Rela Tak Rela....


Kau Membagi Cinta...


Karena Diriku Untukmu Seorang


Tak Mampu Tak Mampu


Aku Menerima.....


Bila Kau Ada Cinta Yang Lain


Tunjukkanlah Sikap Mu


Kalau Kau Sayang Pada Ku....💕


Sena menyanyi dengan syahdu dalam sambungan telpon dengan Rasya. Rasya sangat penasaran dengan suara Sena yang merdu, hingga Rasya meminta nya untuk menyanyi juga mengaji.


"Udah ah...." Kata Sena tersipu malu walau sebenarnya Rasya tak dapat melihatnya.


"Kok udah sih? Bagus tahu suara nya. Aku sampe meresapi lagu nya.... Aku sayang sama Kamu, Aku cinta Kamu... Aku gak akan berpaling dari Kamu." Rayu Rasya.


"Hhuuuhhhh... Gombal..." Jawab Sena.


"Aku gak gombal. Aku serius." Jawab Rasya. "Jadi mau ketemu Kamu..." Suara Rasya terdengar sedih.


"Emang bisa?" Tanya Sena.


"Bisa... Tapi jangan. Kamu jangan kesini. Tunggu Aku bebas aja yah?" Kata Rasya lembut.


"Emang kenapa?" Tanya Sena penasaran. Perkenalan Mereka sudah berlangsung dua bulan. Rasya juga sudah ngobrol dengan Rizki walau lewat sambungan telpon.


Rasya juga sudah memperkenalkan Sena dengan Kakak Perempuannya lewat sambungan multi. Kakak Rasya juga senang menerima Sena, Dia berharap Sena dan Rasya berjodoh.


"Mahal kalau Kamu menjengukku kesini." Kata Rasya.

__ADS_1


"Emang berapa?" Tanya Sena penasaran.


Rasya menyebutkan nominal untuk bayar ijin ini dan itu, juga bayar per jam saat Mereka sudah bertemu.


"Nanti uang Kamu habis sia-sia." Kata Rasya.


"Gak sia-sia kok, Aku kan mau ketemu Yayang Aku..." Sena merajuk.


"Hhhmmmm.... Kalau Abang punya uang, Kamu gak perlu bayar..." Rasya merasa tak enak.


"Tiga hari lagi Aku gajian, Aku jenguk Abang yah?" Rajuk Sena lagi.


"Ya udah, mudah-mudahan kiriman uang untuk Abang sudah datang, jadi Kamu gak perlu keluar uang." Kata Rasya.


__________________________


Hari yang ditunggu pun tiba. Sena kemarin baru terima gaji dan Dia segera membelikan stok susu untuk Rizki juga belanja untuk menambah isi warung.


Sena juga sudah menyisihkan untuk ongkos nya kerja selama sebulan ke depan. "Ini akan kurang, tapi mudah-mudahan ada rejeki lain." Gumam Sena.


Telpon Sena berdering. Sena tersenyum melihat nama dilayar ponsel nya. "Radit." Sena memang menyingkat nama Rasya Aditya dengan RADIT.


"Assalamu alaikum." Sapa Rasya.


"Wa alaikumussalaam..." Jawab Sena senang.


"Kamu jadi kesini?" Tanya Rasya.


"Iya, kan Aku udah bilang semalam. Hari ini Aku libur." Jelas Sena. "Abang mau dibawakan apa?" Tanya Sena.


"Aku beli nasi padang ya? Buat makan siang." Usul Sena.


"Terserah Kamu. Ya sudah, nanti Kamu lapor di pos jaga bilang mau besuk Rasya Aditya kamar B Unit X." Rasya memberikan detil kamar tahanannya.


Sena mencatatnya.


"Sudah yah, Kamu hati-hati. Ponsel Ku akan mati karena jadwalnya Aku harus keluar Sel." Jelas Rasya.


"Ya Bang." Kata Sena. Dada nya berdebar kencang. Rasanya tak sabar ingin melihat sosok Rasya. Dia bilang tinggi nya 190cm. "Tak akan susah mengenali Mu." Gumam Sena. Sena sudah bersiap. Dia akan beli nasi padang di resto dekat Lapas saja.


___________________________


Sena menghentikan metro mini saat tepat di seberang Lapas. Jantungnya sudah tak karuan saat di terminal tadi. Sena malah sempat berdiam diri di Rumah Makan Padang demi menetralkan debaran jantungnya. Rasa nya Sena ingin pingsan sebelum bertemu Rasya.


Namun makin lama Sena memperlambat pertemuan Mereka, debaran jantungnya makin kencang. Akhir nya Sena naik Metro mini juga.


Sena memandang gedung di depannya. Dengan tembok tinggi dengan gulungan kawat besi diatas tembok yang menjulang tinggi.


"Bismillaah..." Sena melangkah masuk ke halaman Lapas dan bertanya pada penjaga.


Setelah mendapat arahan dari penjaga depan, Sena kembali berjalan ke tempat pendaftaran.


Setelah menyelesaikan Administrasi, Sena di check body dan petugas meminta Sena mematikan ponselnya dan melepas batre ponsel.

__ADS_1


Sena diarahkan ke sebuah ruangan seperti aula. Disana banyak kursi-kursi panjang. Seseorang menghampiri Sena dan meminta Sena menyerahkan kertas dari luar tadi. Sena memberikan kertas itu.


"Kakak duduk dimana?" Tanya nya.


Sena memilih salah satu kursi yang kosong. "Disini saja." Jawab Sena. Sena memandang ke sekeliling. Beberapa Napi yang bertugas ditempat itu memandang kearah nya. Sena segera menunduk. Ada perasaan cemas di hati nya.


Lima menit berlalu. Sena melihat sosok menjulang tinggi mencari keberadaannya. Sena segera mengenalinya setelah seorang porter menunjuk nya ke arah Sena. Sena melambaikan tangan.


Dia tersenyum. "Ya Allah... Senyum nya manis sekali." Batin Sena. Sena balas tersenyum sambil melambaikan tangan.


Rasya langsung menghampiri Sena dan memeluk Sena setengah mengangkat tubuh Sena. Sena menengadah menatap wajah Rasya.


Rasya mengecup kening Sena. Dan membawa Sena untuk duduk. Debaran Jantung Sena tidak beraturan. Keringat dingin mengucur di dahi nya.


Rasya tak henti-hentinya tersenyum tanpa melepas pandangannya kearah Sena. Rasya kembali memeluk Sena. Mereka memang duduk berhadapan. Dengan melangkahkan kursi panjang.


Rasya membuka kerudung yang dipakai Sena menyampir ke bahu nya. "Rambut nya pendek yah? Imut-imut dengan wajah Kamu yang mungil." Puji Rasya. Rasya memasang kembali kerudung Sena, Dia tak ingin orang lain di dalam sana melihat tegas wajah Sena.


Wajah Sena bersemu. "Aku deg-degan." Lirih Sena.


"Iya, Aku merasakannya." Kata Rasya. "Kenapa hhmmm?" Tanya Rasya yang masih memeluk Sena.


"Mungkin karena Aku bahagia." Kata Sena.


Rasya melerai pelukannya. "Bener Kamu bahagia bertemu Aku?" Tanya Rasya menatap manik mata Sena.


Sena mengangguk. Airmatanya mengalir.


Rasya mengecupi wajah Sena. Menghisap airmata Sena. Kemudian kecupan Rasya sampai ke bibir Sena. Sena sudah terbuai dengan perlakuan Rasya. Dunia rasa milik Mereka berdua.


Mereka tak peduli banyak mata melihat kedekatan Mereka.


"Bibir Kamu manis. Seperti orang nya." Rasya terus merayu Sena. Tangan Rasya sudah meraba kemana-mana.


"Abang...." Sena menangkap tangan Rasya saat akan menyentuh dada nya.


"Aku akan bertanggung jawab. Setelah bebas, Aku akan menikahi mu." Kata Rasya menatap wajah Sena.


"Abang gak nyesel ketemu Aku?" Tanya Sena.


"Kenapa nanya seperti itu? Apa Kamu meragukan Abang?" Rasya nampak kecewa.


Sena memeluk Rasya. "Aku takut Abang ingkar janji. Aku takut Abang...."


"Ssstttt.... Jangan bicara lagi. Nikmati yang sekarang ada. Abang bahagia bisa bertemu Kamu." Rasya mengelus punggung Sena. Mengelus leher Sena dengan hidung mancungnya dan mengecupi leher jenjang Sena. Tangan Rasya masuk kedalam kemeja Sena lewat belakang tubuh Sena


"Aahhh Abang..." Desah Sena. Sena merasa sesuatu berkedut di bawah sana. Rasya memegang tangan Sena dan mengarahkan ke milik nya.


"Baaang... Banyak yang lihat..." Bisik Sena.


"Gak apa. Disini sudah biasa ngelihat yang lebih parah dari ini." Bisik Rasya dengan nafas memburu. "Kalau ada kamar, Aku mau...." Goda Rasya.


"Iihhh Abang... Kok gitu sih?" Sena mencubit paha Rasya. Rasya meringis sakit.

__ADS_1


"Abis Kamu bikin junior Abang bangun." Bisik Rasya sambil menggigit telinga Sena pelan. "Tunggu Abang pulang yah..." Kata Rasya masih memeluk Sena.


__ADS_2