Aku Bukan Wonder Woman

Aku Bukan Wonder Woman
Kepergok Bunda


__ADS_3

Hampir Dua bulan sudah usia Rizki. Dan selama itu juga, Fajri tak pernah menyentuh Sena.


Sena sebenarnya menginginkannya. Tapi Fajri pernah menolaknya, alasannya takut Sena hamil. Nanti repot, Rizki masih kecil.


Sena memendam hasratnya. Dia akhirnya fokus mengurus Rizki agar terlupa dengan hasratnya. Sena tak pernah lagi meminta.


Tapi Sena sangat kesal dengan Fajri. Fajri tak pernah menyentuhnya tapi Fajri lebih senang nonton film jorok itu. Sena sering sekali tengah malam terbangun, Fajri sedang menonton Film itu.


"Kenapa orang lebih senang melihat yang bukan halal baginya tapi menjauhi yang halal baginya." Batin Sena. Sena sangat sedih. Sena mengusap airmatanya seraya menatap Rizki.


"Kamu penghibur hati Mama. Jangan pernah tinggalkan Mama..." Batin Sena yang mengusap pipi Rizki yang sedang tertidur.


___________________


"Sena, Kamu dimana, Sayang? Ibu lagi di rumah Bunda Kamu nih." Kata Ibu Fajri pada sambungan telpon.


"Sena lagi di kontrakan Bu." Jawab Sena. "Pantas saja panggil Aku Sayang, manis didepan Bunda." Batin Sena.


"Ayo ke rumah Bunda." Ajak Fajri.


Sena menggeleng. "Buat apa? Ibu kan gak mau ketemu Aku." Kata Sena.


"Tadi kan Ibu bilang sama Kamu mau ketemu Kamu." Kata Fajri.


"Ibu pasti mau ngejait baju sama Bunda. Reza kan mau nikah." Jelas Fajri.


"Iya tapi Aku gak mungkinkan tinggalin Rizki?" Kata Sena yang mengrucutkan bibirnya.


Fajri menghela nafas. "Justru ini kesempatan baik untuk Ibu bisa melihat anak Kita." Kata Fajri.


Sena tersenyum dipaksakan. Dia sudah tak bersemangat ketemu Ibu Fajri karena mencoba memisahkannya dengan Rizki.


"Kamu bisa unjukin ke Ibu, kalau Kamu bisa ngurus anak. Buktinya Rizki tumbuh sehat dan gemuk. Aku aja sampai kelelahan kalau menggendongnya." Hibur Fajri.


Akhirnya Sena mengangguk. Dia bergegas menyiapkan perlengkapan untuk Rizki.


Tak lama Mereka sudah berjalan menuju rumah Bunda.


"Ayah.. Gantian dong. Aku cape gendong Rizki, tambah berat sekarang." Pinta Sena.


Fajri tersenyum. Dia menyerahkan tas bayi pada Sena dan mengambil Rizki dari Sena.


"Assalamu alaikum..." Salam Sena dan Fajri yang sudah tiba di rumah Bunda. Sena dan Fajri langsung mencium punggung telapak tangan Ibu dan Bunda.


Rizki berada dalam gendongan Fajri. Ibu tak mau melihat Rizki. Matanya entah melihat kearah mana saat Fajri mencium tangannya.


Bunda melihat itu semua. Bunda sedikit bingung. Bunda langsung mengambil Rizki dari gendongan Fajri.

__ADS_1


"Duuhh Cucu Uwo tambah berat..." Bunda mencium pipi Rizki. Mata Bunda melihat Ibu yang langsung pura-pura ngobrol dengan Evi calon istri Reza. Memang tujuan Ibu kerumah Bunda mau menjahit seragam untuk pernikahan Reza dan Evi.


"Ini bahan Kamu, Sena. Modelnya sudah ada disana semua." Kata Bunda.


Sena hanya mengangguk. Sena kurang suka dengan warna kebaya yang diberikan padanya. Tidak cocok dengan warna kulit Sena yang gelap.


Bunda sangat tahu kekecewaan Sena. Bunda tersenyum. "Bawa Rizki kedalam. Mungkin Dia cape ingin rebahan." Pinta Bunda.


Sena mengangguk dan menggendong Rizki ke ruang tengah. Meletakannya di kasur depan tivi.


Alvi langsung mengajak main Rizki. Alvi terus menciumi Rizki. "Ini ade Aku, Tante." Kata Alvi.


Sena tersenyum. "Kamu sudah makan belum?" Tanya Sena.


"Aku mau makan, tapi Tante yang suapin ya." Pinta Alvi manja.


Sena tersenyum. "Ya Ateh ambilin makan. Kamu jaga Ade ya." Pinta Sena.


Sena langsung ke dapur mengambil makanan untuk Alvi. Kemudian menyuapi Alvi.


Kakak iparnya memang sedang ke pasar menemui Abang Tino. Dia tadi menitipkan Alvi pada Bunda.


"Ya Tante... Ade Rizki pipis." Teriak Alvi.


Sena langsung mengelap perlak yang basah dan segera membersihkan tubuh Rizki dengan tisu basah. Kemudian memberinya bedak dan mengganti popok dan baju nya yang basah.


Fajri masuk kedalam ruang tengah. "Anak Ayah lagi apa?" Tanya Fajri yang melihat Sena mengganti popoknya.


"Mas... Aku ke belakang dulu. Mau ngucekin popok Rizki. Aku titip Rizki ya." Pesan Sena.


Fajri mengangguk. "Alvi makannya sudah belum?" Tanya Fajri.


"Dikit lagi Om." Kata Alvi.


Tak lama Sena sudah kembali. Dia sudah menjemur popok Rizki yang sudah Dia cuci.


"Sena... Fajri...." Panggil Bunda.


Fajri menggendong Rizki. Sena menggandeng Alvi. 'Ya Bun.." Sahut Mereka.


"Ibu mau pamit nih." Kata Bunda.


"Ibu pulang dulu ya." Ibu melirik Rizki, masih enggan untuk sedikit saja membuka hatinya untuk menerima bayi yang tak berdosa itu.


Sena dan Fajri mencium telapak tangan Ibu. Fajri mengantar keluarganya sampai ke depan komplek.


Sena tak ikut karena gak mau meninggalkan Rizki.

__ADS_1


"Kok Ibu nya Fajri begitu? Kaya yang gak suka sama anak Kamu?" Tanya Bunda tiba-tiba.


Sena menghela nafas. "Sena juga bingung Bu."


"Memang Kamu gak jadi minta ijin waktu mau mengasuh Rizki?" Tanya Bunda.


"Sudah Bun. Malah Bapak yang nyuruh daripada Dia terlantar dijalan." Jelas Sena.


"Terus Ibu nya?" Tanya Bunda.


"Waktu itu iya iya aja. Eh pas Sena udah mengambil Rizki, tiba-tiba Mas Fajri bilang Ibu gak suka. Malah nyuruh Sena dan Fajri mengembalikan Rizki." Jelas Sena.


"Terus Kamu mau?" Tanya Bunda.


"Ya gak lah Bun. Orang dikasih rejeki nomplok kok malah dikembalikan? Orang aja susah mau ngasuh anak." Kata Sena.


"Kok begitu banget sih Ibu nya Fajri. Bunda baru lihat orang kaya gitu. Pantes saja waktu Bunda ajak Fajri mampir ke rumah Ibu nya, Dia gak mau." Kata Bunda.


"Ibu mau nya Sena mengasuh anaknya Mas Dewi, Abang Mas Fajri. Ya Sena juga mikir kali. Sudah besar beda didikan." Kata Sena.


"Mending ngasuh anak orang lain yang ikhlas memberikan pada Kamu. Daripada mengasuh anak saudara, nanti kalau kenapa-napa malah kesalahan." Kata Bunda.


"Ya Bun. Sena juga mikirnya gitu. Nanti dikasarin salah dilembutin ngelunjak." Kata Sena.


"Terus nanti pernikahan Reza, Kamu datang gak bawa Rizki?" Tanya Bunda.


"Ya gak lah Bun. Kalau Rizki gak boleh diajak, Sena mending gak usah datang. Mending ngurus Kamu, ya Sayang." Kata Sena sambil mencium pipi Rizki.


"Kamu yang sabar. Gak usah pikir yang gak penting. Urusin aja Rizki yang benar, nanti Rizki besar, sukses, Neneknya pasti ngakuin." Hibur Bunda.


"Ya Bun. Insya Allah... Apapun Sena lakukan untuk kebaikan Rizki. Yang pastinya halal." Janji Sena.


"Maafkan Ibu nya Fajri ya Bun." Tiba-tiba Fajri sudah tiba dirumah.


Bunda menghela nafas. "Yah mau diapain lagi. Bunda cuma kecewa saja." Jawab Bunda santai.


"Fajri juga bingung sama Ibu, apa salahnya Fajri mengasuh Rizki." Kata Fajri terlihat sedih.


"Kamu yang sabar. Banyak berdoa, mudah-mudahan Ibu Kamu dibukakan hatinya untuk bisa menerima anak Kalian." Kata Bunda.


Fajri mengangguk. "Iya Bun."


"Ji.. Bunda minta tolong dong. Bikinin sambungan listrik kesini." Bunda menunjukan tempat yang ingin dibuat stop kontak.


Fajri mengukur untuk panjang kabel. Dia mencatat apa saja yang akan dibeli. Kemudian.


"Ini Bun bahan-bahan yang harus dibeli." Kata Fajri menunjukan catatannya.

__ADS_1


"Bunda gak ngerti. Ini uangnya, Kamu belanjakan saja. Kalau kurang talangin dulu nanti Bunda ganti." Kata Bunda.


Fajri tersenyum. "Gampang Bun." Fajri pun bergegas ke toko listrik. Rizki sudah terlelap di kasur.


__ADS_2