
Telpon di rumah Bunda berdering. Sena langsung mengangkatnya. Sena sedang menyapu.
"Assalamu alaikum...." Sapa disana.
"Wa alaikumussalaam..." Jawab Sena.
"Ini siapa? Sena bukan?" Tanya disana.
"Ya... Ini Sena... Ini siapa?" Tanya Sena bingung.
"Kak Wely... Kakak mau tanya. Arisan di rumah Vina yah?" Tanya nya.
Sena mengerutkan keningnya. "Maaf Kak Wely, Sena gak tahu."
"Bunda mana?" Tanya Kak Wely.
"Bunda lagi belanja Kak. Nanti Kakak telpon aja lagi. Sena benar-benar gak tahu kalau masalah arisan." Kata Sena.
"Ya gak apa Sena. Nanti Kak Wely telpon lagi. Salam sama Bunda ya. Assalamu alaikum..." Kak Wely memutuskan hubungan telpon.
"Wa alaikumussalaam." Sena meletakan kembali gagang telpon pada tempatnya. Sena kembali meneruskan menyapunya.
Tak lama Bunda tiba di rumah.
"Bun... Tadi Kak Wely telpon." Kata Sena.
"Kamu bilang kan arisan di rumah Vina." Kata Bunda.
"Sena gak tahu Bun. Sena kan gak pernah diajak kalau ada arisan." Kata Sena pelan.
"Masa Kamu gak tahu. Kamu memang gak mau tahu urusan di rumah ini." Bentak Bunda. Bunda sangat kesal pada Sena.
"Tapi kan Sena memang gak tahu Bun. Dan gak ada yang kasih tahu sama Sena." Sena membela diri. Sena serba salah, Dia ikut campur katanya mau tahu saja urusan orang. Sekarang Sena gak tahu apa-apa dibilang gak peduli di atas rumah.
"Tinggal bilang IYA aja apa susahnya, Sena?!" Bunda makin emosi. "Nanti Dia gak datang tuh arisan!"
"Sena gak tahu Bunda. Kenapa sih di rumah ini Sena selalu disalahkan?" Sena pun tambah sengit.
Bang Tino dan Lana yang mendengar keributan Bunda dan Sena langsung turun ke bawah. "Ada apa?!" Tanya Bang Tino tak suka.
"Tuh Sena, Wely telpon nanya arisan di rumah Vina, malah jawab gak tahu!" Bunda masih ngotot.
"Lo tuh ya, bisa gak sih gak bikin masalah!? Hah!!" Bentak Bang Tino.
"Ya salahin aja semua ke Sena. Tadi telpon bunyi kenapa gak angkat sendiri. Mang ada yang pesan kalau ada arisan di rumah Vina?! Mang Sena selama ini ada yang anggap?!" Sena tersulut emosi. Sena tak mau lagi terus jadi bulan-bulanan keluarganya. Selalu jadi kambing hitam.
Plaaakkk... Bang Tino melayangkan tamparan ke pipi Sena.
Sena tak terima. Dia mengambil gunting baju Bunda. Sebenarnya Sena bisa langsung menusukkan ke tubuh Bang Tino, tapi Sena masih sadar. Dia masih istighfar untuk bersabar.
Bang Tino yang baru melihat Sena memegang gunting langsung memelintir tangan Sena. Dia melayangkan kembali tamparan ke pipi Sena.
Sena terhuyung. Dia tak dapat lagi menyeimbangkan tubuhnya. Tubuh Sena membentur dinding.
__ADS_1
"Kurang ajar Lo ya! Lo mau bunuh Gw?!" Hardik Bang Tino.
"Diihh... gitu? Main gunting bisanya!" Cibir Lana ikut campur.
Sena memegangi pipinya yang terasa panas karena tamparan 2x dari Tino.
"Bunuh aja Gw sekalian! Tanggung Lo terus nampar Gw! Bunuh aja Gw!!!" Sena berteriak. Dia sudah tak memikirkan apa-apa lagi. Dia sudah muak dengan semua keluarganya yang tak pernah menganggapnya.
"Kalau Kamu gak mau tinggal disini, silahkan pergi!" Bunda mengusir Sena.
"Oh Bunda ngusir Sena. Baik... Sena akan pergi dari sini." Sena bergegas ke kamar. Dia menyiapkan pakaiannya.
Bang Tino menghalangi Sena yang merapihkan baju-bajunya. "Lo jangan gitu, Bunda gak serius ngusir Lo!"
"Diem Lo! Lo senengkan nyiksa Gw di rumah ini!? Lo belain terus bini Lo disini. Jadi ratu dia disini, sedangkan Gw jadi babu disini!" Bentak Sena.
Bunda menarik tubuh Tino. "Sudah... Kamu berangkat sekarang, bawa Rizki sekalian." Bisik Bunda.
Tino memang akan menjemput Vina ke Sekolah.
"Eh... anak Gw mau diajak kemana?!" Sena berteriak.
Bunda tak menyangka kalau gertakannya mengusir Sena, benar-benar Sena lakukan. Sena benar-benar nekad.
Bang Tino membawa kabur Rizki. Teriakan Sena tak di dengarnya.
"Sena...! Berisik!" Bentak Bunda. "Kamu mau bikin malu Bunda!? Gak ada yang membawa kabur Rizki, Abangmu cuma mengajaknya menjemput Vina..!" Bentak Bunda.
"Biar! Biar semua orang disini dengar!" Sena histeris.
"Ya Gw mang udah Setrees... Gw stress gara-gara kelakuan anjing-anjing di rumah ini. Eh anjing...! Turun Lo sini! Puas kan Lo sekarang!? Gw diusir dari rumah Ayah Gw! Lo denger ya, ini rumah Ayah Gw! Bukan rumah laki Lo! Lo numpang disini." Sena mencak-mencak.
"Gw gak pernah makan disini! Tapi Gw jadi babu Lo pada disini, nyuciin piring bekas Lo makan, masakin nasi buat Lo gegaras! Setiap Gw mau makan, mata Lo mendelik! Lo gak ikhlas kan Gw makan uang hasil kerja Abang Gw! Eh Anjing sini Lo turun! Jangan beraninya ada Laki Lo aja! Anjjiinngg!!!" Sena makin menjadi. Dia mengeluarkan uneg-unegnya.
"Diaaammm....!" Bunda berteriak.
Sena diam tak menjawab. Sena mengambil Dus mie instant. Dia mulai memasukan pakaiannya dan Pakaian Rizki ke dalam dus.
Kemudian Sena mengambil uang receh. Sena keluar rumah. Dia bergegas ke telpon umum. Dia menghubungi Fajri.
"Assalamu alaikum..." Sapa Bapak.
"Wa alaikumussalam Pak. Pak... Mas Fajri ada?" Tanya Sena.
"Ada... Sebentar Bapak bangunin." Bapak meletakkan gagang telpon. Tak lama Fajri menjawab.
"Ada apa?" Tanya Fajri tak suka karena tidurnya terganggu padahal hari sudah jam 10 pagi menjelang siang.
"Mas... Aku diusir dari rumah. Kata Mas, kalau Aku diusir, Aku pergi aja... Mas mau nampung Aku..." Sena menangis. Dia gak tahu lagi akan kemana.
"Ngapain sih pake kabur segala!? Bikin pusing aja!" Bentak Fajri. "Dah gak usah pergi, Diam aja di rumah." Kata Fajri.
Sena sangat kecewa dengan jawaban Fajri. Sena menutup telponnya. Sena menangis. "Aku kemana? Huk... Huk.. huk..."
__ADS_1
Sena menekan tujuh digit angka.
"Halooo..."Jawab disana.
"Alpa... Ada Sella gak?" Tanya Sena.
"Sena yah?" Suara cempreng Alpa.
"Iya..." Kata Sena pelan.
"Sellaaaa... Sena telpon nih...!" Terdengar teriakan Alpa.
"Halo Sena..." Sapa Sella.
"Sellaa... Tolongin Sena... Sena diusir dari rumah..." Kata Sena masih terisak.
"Ya Allah Sena... Kok bisa? Fajri mana?" Tanya Sella bingung.
"Ceritanya panjang. Gw gak tahu mau kemana. Tadi Gw udah telpon Mas Fajri, tapi Dia gak mau menampung Gw... hik... hik... hik..." Sena terisak.
"Ya udah Sena... Lo kesini aja... Gw tunggu ya... Nanti Gw jemput di depan jalan." Kata Sella.
"Ya Sella... Terima kasih... Gw pulang dulu ya. Anak Gw dibawa Abang Gw, dari tadi belum pulang." Jelas Sena.
"Ya... Nanti Lo kabarin Gw ya kalau mau berangkat." Pinta Sella.
Sena pun kembali ke rumah. Dia segera mandi. Kemudian Sena mengganti pakaiannya. Sena mengambil uang di kotak untuk ongkos ke rumah Sella.
Sena mengambil ponselnya. Dia menghubungi Bang Tino. Tapi gak diangkat. Sena mengirim pesan pada Vina. "Vina tolong bilangin Bang Tino, anak Gw balikin."
Tak lama Vina membalas. "Anak siapa? Rizki itu anak Gw, Gw yang nyusuin Dia." Balas Vina ketus.
"Berarti Bang Tino sudah cerita sama Vina. Dia pasti menambah-nambahkan, sampe Vina sewot sama Gw." Batin Sena. Sena membalas pesan Vina.
"Ya Lo yang nyusuin, tapi kan Lo gak mau nyebokin Rizki, gak mau ngurusin Rizki." Balas Sena.
"Kan Lo babu gw buat ngurusin anak Gw!" Balasan dari Vina sangat menyakitkan.
Sena mengirim balik pesan Vina ke ponsel Nina. "Nina gak akan membacanya sekarang. Dia masih kerja." Batin Sena.
"Ok kalau gitu! Bilangin sama supir Lo, ya. Kalau dalam 30 menit anak Gw gak kembali, jangan salahkan Gw kalau Polisi akan menunggu supir kesayangan Lo! Gw gak main-main. Lo boleh nyepelin Gw!" Ancam Sena.
Sena kembali merapikan pakaiannya. Dia mengikatnya. Sena mulai kesal karena Tino tak juga sampai.
"Eh Anjiiing.... Bilang sama laki Lo! Anak Gw balikin sekarang!!!"
Sena gak tahu kalau Kak Wely sudah datang. Bunda merasa malu. Bunda masuk ke kamar Sena. "Kamu tuh bisa diam gak, Hah!!! Bikin malu saja!!" Bunda menampar mulut Sena, meraupnya kencang.
"Ya Bun... Bunuh aja sekalian biar puaaasss!!!" Sena kalab. Dia tak memandang lagi siapa yang menyakitinya.
Bunda memukuli tubuh Sena dengan tangannya sendiri. Sena tak melawan tidak juga menangis. Sena hanya terus berteriak meminta anaknya.
"Ya terus Bun... Sampe puas! Biar mati sekalian..!" Sena terus meracau.
__ADS_1
"Diaaaammm....!" Bunda meraup mulut Sena. "Percuma Lo, Gw sekolahin tinggi-tinggi tapi gak punya etika sedikitpun." Bunda melempar kaleng uang dagangan Sena tepat kena kepala Sena.
"Makanya anak Gw balikin, Biar Gw cepat pergi dari sini! Dan gak bikin malu!!!" Sena terus berteriak sambil memunguti uang yang berserakan. Awalnya tadi Sena hanya mengambil untuk ongkos tapi karena Bunda melemparnya, Akhirnya Sena mengambil semua uang itu.