Aku Bukan Wonder Woman

Aku Bukan Wonder Woman
Kebebasan Fajri


__ADS_3

Sena sudah bersiap. Jam 4.10 subuh Sena akan berangkat.


"Kamu berangkat sekarang, Sena?" Tanya Bunda yang baru bangun. "Gak nunggu adzan subuh dulu?"


"Sena sedang berhalangan Bun." Kata Sena.


Bunda membuka dompetnya. "Nih ongkosnya. Kalo Fajri sudah bebas langsung anter ke rumah Ibu nya." Pesan Bunda.


Ya Bun. Kata Sena seraya mencium punggung telapak tangan Bunda. "Sena titip Rizki ya Bun."


Bunda mengangguk. "Hati-hati...." Kata Bunda.


Sena mengangguk. "Assalamu alaikum..." Salam Sena.


"Wa alaikumussalaam..." Jawab Bunda.


"Bismillaahi tawakaltu Alallaahu....Lahaula walaa kuwwataa illaa billaah..." Sena membaca Doa.


Suasana perumahan masih sangat sepi. Hanya terdengar seseorang yang mengaji di Masjid.


"Mau kemana Mbak Sena?" Tegur salah seorang security perumahan.


Sena tersenyum. "Mau kesana Pak." Kata Sena.


"Pagi-pagi banget Mbak Sena. Saya antar ya?" Kata Security yang sudah bersiap diatas motornya.


"Gak usah Pak... Sena naik mikrolet saja. Udah banyak yang lewat kan?" Tanya Sena.


"Sudah Mbak....Dari jam 2 juga sudah banyak." Kata Security.


Sebuah mikrolet berhenti di depan gerbang perumahan. "Pak.. Sena duluan ya..." Pamit Sena.


"Ya Mbak....hati-hati...." Pesan Security.


15 menit kemudian Sena sudah sampai perempatan jalan utama. Suasana masih sangat sepi. Sena sedikit was-was. Bus yang ke arah Polsek C sudah ngetem disana. Tapi belum banyak penumpang yang naik.


Sena memilih duduk dekat pintu. Sesekali Dia menengok ke belakang. "Aduuuhh lama banget lagi berangkatnya."


Tak lama kondektur berteriak dan supir segera berlari dan mengemudikan bus nya dengan ugal-ugalan. Ternyata ada bus yang lain yang ingin menyalip.


"Ya Allah..." Sena sedikit khawatir.


"Bang...! Pelan-pelan dong! Tadi ngetem lama banget sekarang kaya setan ngebut-ngebut..." Tegur seorang Ibu yang sangat kesal.


Tapi Supir tak menghiraukan. Sena berpegangan kuat. Tak henti-henti Sena beristighfar.


Hanya butuh waktu 15 menit sampai di perempatan menuju Polsek C. Biasanya bisa 30 sampai 40 menit.


Sena menggedor atap Bus dengan kencang karena Bus yang tidak juga memperlambat lajunya.


"Kiriii Baaang!!! Huuhhh... Kelewat kan?!!" Bentak Sena.


Sena setengah melompat karena Bus yang tak sabar untuk berhenti lebih lama.


Kemudian Sena menunggu angkot yang menuju Polsek C. Tak lama angkot tersebut lewat.

__ADS_1


Angkot itu ngetem sebentar dan kemudian melaju dengan sangat lambat. Sena hanya bisa menghela nafas.


Jam 4.50 Sena tiba di seberang Polsek C. Sena menyebrang agak tergesa karena kondisi jalan yang masih sangat sepi. Sena masih sangat khawatir karena ini adalah daerah rawan begal.


setengah berlari akhirnya Sena sampai di Polsek C. "Alhamdulillaah...." Batin Sena.


Suasana Polsek juga sangat sepi. Pak Polisi yang berjaga masih terlelap. "Ngapain Aku kesini pagi-pagi? Polisinya saja masih pada tidur.... Huuuhhh.. Ada ada saja nih Tante... Ngerjain orang gak tanggung-tanggung." Gerutu Sena.


Sena menuju lantai Dua tapi ruangan masih pada tutup. Dia juga melihat hanya ada petugas kebersihan yang baru datang.


"Cari siapa Bu?" Tegurnya.


"Pak Yono, Pak." Kata Sena.


"Waahhh Pak Yono mah nanti datangnya jam 8, Bu... Ibu ngapain pagi-pagi buta kesini." Kata Petugas itu.


"Orang Saya disuruh datang, malah sebelum subuh...." Sena mengrucutkan bibirnya.


"Petugas itu tertawa... Ibu dikerjain. Polisi yang tugas malam saja masih tidur." Kata Petugas itu pelan. "Ya udah Bu, sabar aja. Kalau mau minum teh ke kantin aja ya Bu..." Kata Petugas itu.


"Ya Pak... Terima kasih..." Kata Sena.


Sena hanya mondar-mandir. Dia mau duduk tapi sofa panjangnya dibuat tidur oleh Pak Polisi yang tugas malam.


Sena melihat jam di ponselnya. Baru jam setengah 6... "Huuuhhh... Mereka mah enak-enakan masih selimutan di rumah." Gerutu Sena.


Perut Sena berbunyi....Dia tadi belum sempat sarapan atau minum air. Sena menahannya. "Tadi di luar belum ada yang dagang." Batin Sena.


Ponsel Sena berdering. "Bunda..." Sena tersenyum.


"Sudah keluar Fajri nya?" Tanya Bunda.


"Boro-boro Bun. Sena kan di Polsek C sedang Fajri di Polres S. Sena dikerjain sama Tante nya Fajri. Pak Yono aja baru nanti jam 8 datangnya. Huuhh... Brengsek banget sih tuh Tante." Sena sangat kesal.


"Kurang ajar memang ya keluarga nya Fajri. Gak mikir apa ya? Perempuan disuruh keluar pagi buta...Huuuhhh." Bunda terdengar kesal.


"Kamu yang sabar yah. Setelah ini Kamu bisa istirahat yang enak." Canda Bunda.


"Insyaa Allah Bun." Kata Sena.


Bunda pun memutuskan sambungan telponnya. Karena Rizki yang bangun dan mencari Mama nya.


Satu Jam Kemudian


Pak Yono menghampiri Sena. "Kamu istri nya Fajri ya?" Tanya nya.


"Ya Pak...." Kata Sena yang langsung berdiri dari jongkoknya.


"Aduuhhh maaf ya... Saya kesiangan. Semalam minta tanda tangan surat nya basa basi nya lama banget." Kata Pak Yono.


"Jam berapa sampe sini?" Tanya Pak Yono yang membuka kunci ruangannya.


"Jam 5 kurang, Pak. Abis katanya Tante, Saya suruh kesini sebelum subuh..." Kata Sena sedikit kesal.


Pak Yono mengangguk. Dia menyiapkan berkas-berkas kebebasan Fajri.

__ADS_1


Sena merogoh saku celananya dan mengambil amplop buat Pak Yono. "Pak....Ini ada titipan dari Tante." Kata Sena sambil menyodorkan amplop itu.


"Oh ya... Terima kasih." Pak Yono langsung mengambilnya dan memasukannya ke saku celananya.


30 menit kemudian


Pak Yono keluar dari gedung Polsek berdua dengan rekannya dan diikuti oleh Sena.


Rekannya mengemudikan mobil, Pak Yono duduk di sebelahnya sedang Sena duduk di jok tengah.


Jantung Sena berdegub kencang. Perut Sena mules.


"Sudah sarapan Dek?" Tanya Pak Yono mengajak Sena ngobrol.


Sena menggeleng.


Pak Yono memberikan dua bungkus roti dan satu botol air mineral pada Sena.


"Gak usah Pak, terima kasih. Rumah Saya dekat kok dari Polres S." Kata Sena.


"Sudah terima saja. Saya banyak kok nih..." Pak Yono menunjukkan dus kue memang jatah sarapan Dia dan Rekannya.


Mau gak mau Sena menerimanya. "Terima kasih Pak." Tapi Sena belum mau memakannya. Sena takut sakit perutnya menjadi apalagi kalau sampai buang angin, bisa pingsan Pak Polisi yang ada didalam mobil.


20 menit kemudian mobil Pak Yono memasuki pekarangan gedung Polres S. Rekannya memarkirkannya.


"Kamu tunggu disini saja ya Dek." Pinta Pak Yono.


Sena mengangguk. "Ya Pak."


Pak Yono membuka kaca jendela mobil agar Sena mendapat udara masuk.


Jantung Sena makin berdegub kencang. Perasaannya campur aduk, Senang, sedih, benci jadi satu.


__________________


Namanya Fajri dipanggil. Semalam teman satu sel nya ngomong, kalau tanda tangan kertas warna kuning berarti bebas tapi kalau tanda tangan kertas warna biru, berarti dikirim ke tangerang.


Jantung Fajri berdegub kencang. 21 hari sudah Dia jadi tahanan. Tak lepas Dia terus berdoa untuk kebebasannya.


Dia mengikuti Petugas yang membawanya ke sebuah ruangan. Fajri disuruh tanda tangan beberapa lembar kertas yang berwarna warni. Fajri terlihat putus asa karena tidak ada kertas berwarna kuning yang Dia tanda tangani.


Mata nya mulai berkaca-kaca karena Dia gak mau dikirim ke Tangerang. Semalam Dia mendengar kalau hari ini ada beberapa tahanan yang akan dikirim ke tangerang setelah ketok palu.


"Sudah Fajri?" Kata Pak Yono.


Fajri mengangguk, Dia terkulai lemas. Pupus sudah harapannya untuk bebas.


"Ayo ikut saya..." Tegas Pak Yono. Pak Yono memberikan surat pada penjaga Sel. Dan sedikit berbincang pada petugas disana.


Tak lama Rekan Pak Yono memberikan kertas berwarna kuning pada Pak Yono.


"Ji... Kamu tanda tangani ini." Pinta Pak Yono sambil menyunggingkan senyumnya.


Seketika wajah Fajri berubah. Dia sekilas membaca judul surat itu. Surat Pembebasan Bersyarat. Fajri langsung menandatangani dan segera Dia melakukan sujud syukur. Air matanya tak dapat terbendung lagi.

__ADS_1


Fajri menangis bercampur Senang juga bingung. Kenapa Sena tak menjemputnya. Dia bertekad kalau Sena tidak ada, Dia akan meminta ongkos 2000 pada Pak Yono untuk pulang ke rumah Bunda. Fajri sangat merindukan Sena dan Rizki.


__ADS_2