
"Saya gak terima, anak buah Saya dihukum tanpa ada koordinasi dengan Saya!" Danru Ridwan terlihat sangat marah pada Pak Taufik yang jabatannya setara dengannya.
"Dan Roni jangan pilih kasih, atau Saya perpanjang masalah ini sampai ke Pak Letkol. Jangan mentang-mentang Taufik enak di Kantor, bisa semena-mena dengan Anak buah Saya. Kamu itu gak punya anak buah, Fik!" Bentak Danru Riwan kembali.
Pak Roni menghela nafas. "Bagaimana Pak Taufik, Apa Anda mau berkata jujur, atau Kita ke ruang monitoring? Melihat rekaman CCTV?" Tanya Pak Roni.
Awalnya Taufik terus saja mengelak karena perbedaan jam di ruangannya dengan di Posko. Tapi Pak Ridwan dan Pak Roni tahu, kalau jam di dinding kantor tidak pernah berbeda dengan posko.
"Mungkin saja baterai nya sudah mau abis." Taufik membela diri belum mau mengaku.
"Baterai jam sudah diganti sama OB, kemarin siang." Kata Pak Roni.
Pak Taufik menunduk. Dia mengangguk. "Maafkan Saya Wan... Semua karena urusan pribadi." Kata Pak Taufik, pelan.
Pak Roni menghela nafas. Dia sudah tahu jawabannya. Berbeda dengan Danru Ridwan yang terkejut.
"Maksudnya? Masalah Pribadi apa Kamu sama Sena?" Danru Ridwan penasaran.
Pak Taufik hanya Diam. Akhirnya Pak Roni yang menceritakan semua nya.
"Bener-bener ya Pak Taufik." Danru Ridwan menepuk jidadnya sendiri.
"Kamu kan sudah punya Rina, mau dikemanain Dia? Istri mu di rumah saja gak jelas statusnya. Sekarang Kamu mau main api dengan Sena!" Pak Ridwan berdiri.
"Saya permisi Dan! Saya minta keadilan yang seadil-adilnya untuk Sena!" Kata Pak Ridwan ketus. Kemudian Dia langsung keluar ruangan sambil membanting pintu cukup keras.
"Lihat ulahmu!" Pak Roni nampak kecewa. "Hukuman apa yang harus Saya kasih buat Kamu!" Tanya Pak Roni.
Pak Roni menekan 4 digit angka di telpon. "Apa Pak Letkol masih ada di ruangan? Baiklah, Saya kesana." Pak Roni meletakkan telpon ke tempatnya.
"Taufik, Kamu ikut Saya." Pinta Pak Roni tegas.
Kali ini Roni tak bisa lagi membela Taufik, karena Danru Ridwan mengancam akan memperpanjang masalah ini kalau tidak ada keadilan buat Sena.
Di Posko.
Danru Ridwan mengambil ponsel nya. Dia menghubungi Lily. "Hallo Ly... Bagaimana keadaan Sena?" Tanyanya khawatir.
"Sena di lantai 3 Pak. Biarlah Dia disini, adem dan gak terlalu ramai." Kata Lily.
"Tina dimana?" Tanya Danru Ridwan.
"Mbak Tina baru istirahat Dan. Nanti Dia ke posko." Kata Lily.
"Ya sudah. Baik-baik ya." Pesan Danru Ridwan dan menekan tombol off pada ponselnya.
"Kenapa dengan Danru?" Tanya Sena. Wajahnya terlihat pucat karena sempat pingsan tadi.
"Nanyain Kak Sena ada dimana." Kata Lily.
__ADS_1
Sena mengangguk. "Terima kasih Ly." Kata Sena.
Lily menghampiri Sena yang duduk di seberang meja. "Kak Sena tenang saja. Selama Danru Kita Pak Ridwan, Kak Sena akan mendapat keadilan. Beda dengan Danru di grup 1 dan 3." Jelas Lily.
"Beruntung Aku jadi anak buah Pak Ridwan." Kata Sena.
Lily tersenyum. "Pak Ridwan diam-diam memantau Kak Sena waktu masih tugas di ATM. Kata Pak Ridwan, kerja Kak Sena bagus, disiplin dan bisa bekerja sama. Makanya Pak Ridwan kekeh memilih Kak Sena agar bergabung di grub 2." Jelas Lily.
"Oohh... Aku gak tahu." Kata Sena. Sena terlihat lega, ternyata Dia tak sendiri. Walau Dia orang baru, ternyata teman satu grubnya memiliki jiwa yang baik.
"Alhamdulillaah Ya Allah... Engkau memberiku teman-teman yang baik." Batin Sena.
Satu Jam Kemudian.
Tina tiba di posko.
"Sudah selesai istirahat, Tin?" Tanya Danru Ridwan.
"Sudah Dan. Malah kelewat." Kata Tina malu.
"Gak apa, asal jangan keseringan. Takutnya nanti ada yang lihat dari atas atau grup sebelah." Kata Pak Ridwan.
"Ya Dan." Kata Tina.
"Sekarang Kamu ke atas saja. Saya mau bicara dengan Sena." Pinta Pak Ridwan.
Di Lantai Tiga.
"Kak Sena... Kamu minum ini dulu biar kuat." Lily menyodorkan susu UHT jatah shift malam nya.
"Jangan Lily, itu kan punya Kamu." Kata Sena. Jatah Sena sudah habis Dia minum setiap jaga malam.
"Gak apa Kak. Kakak kan tahu Aku kurang suka susu. Di kosan numpuk tuh Aku bawa pulang. Sengaja biar kalau Kak Sena nginep Aku gak repot. Hahahaha...." Canda Lily.
Sena tersenyum. "Kamu bisa saja."
Lily melihat CCTV. "Ada Mbak Tina. Kok kesini?" Kata Lily sambil membuka pintu akses.
"Huuuuhhh... Cape juga ya tiap hari naik tangga tiga lantai." Canda Tina.
"Sena nih buat Kamu." Tina menyodorkan kantung plastik berisi susu.
"Apa ini?" Sena membuka plastik hitam. "Tapi Lily sudah kasih ke Aku nih." Sena memperlihatkan susu yang sedang Dia minum.
Gak apa Sena. "Itu Aku ambil dari kosan, punya Lily. Hehehehe... Maaf ya Ly... Takut kelamaan." Kata Tina.
"Gak apa Mbak, Aku juga barusan bilang sama Kak Sena kalau dikosan banyak." Lily tersenyum.
"Oh ya Sena... Kamu dipanggil Danru ke posko." Kata Tina.
__ADS_1
"Kak Sena sudah kuat jalan? Kalau belum Aku antar yah?" Kata Lily.
Sena tersenyum. "Gak usah Lily. Aku kuat kok. Kan sudah minum susu. Dan ini susu lagi." Sena tertawa melihat ada beberapa kotak susu UHT. "Aku taruh di loker saja." Kata Sena.
Tina dan Lily mengangguk sambil tersenyum. Sena meninggalkan lantai 3. Dia berjalan agak sempoyongan.
"Aku harus kuat demi anakku." Batin Sena.
Baru saja Sena menginjakan kaki nya di lantai dasar, sebuah tangan menariknya kedalam pelukannya. Sena terperanjat dan mendorong tubuh itu, tapi sayang tenaga nya belum kuat.
"Sena... Aku sangat menyukaimu... Kamu jangan marah padaku... Aku mohon." Suara itu menyadarkan Sena yang mengenalinya. Sena berusaha melepas pelukan itu walau tenaganya belum pulih.
"Hhhmm... hhmmm..." Sebuah deheman yang terdengar disengaja.
Sena mencoba melihat. "Dan Jimmy... Tolongin Sena." Pinta Sena.
"Dan... Tolong lepaskan Sena. Kalau tidak Saya bisa laporkan Bapak pada Pak Letkol atas dasar pelecehan!" Ancam Jimmy.
Taufik melepas pelukannya dengan kesal. Sena yang terlepas dari pelukan Taufik langsung melayangkan tangannya. Sekuat tenaga yang tersisa.
Plaaaaakkk!!!
"Jangan pernah menyentuh tubuh Saya...!!" Mata Sena menyalang. "Jangan samakan Saya dengan wanita yang ada dihidup Pak Taufik." Sena tegas. Tubuh nya sedikit terkulai.
Jimmy membantu Sena. Memapahnya ke posko. "Kamu masih lemas kenapa turun?" Tanya Jimmy.
"Danru Ridwan memanggil Saya." Kata Sena.
"Oohhh..." Kata Jimmy.
Pak Ridwan terlihat gelisah. Setengah jam Sena belum muncul juga. Dia sudah menghubungi lantai 3 tapi keterangan Lily, Sena sudah ke bawah dari tadi. Lily dan Tina pun ikut cemas.
Pak Ridwan melihat Sena yang dipapah Jimmy. Dia menghela nafas. "Apa Kamu masih belum kuat jalan, Sena?" Tanya Danru Ridwan. Dia memang sangat perhatian dengan anak buahnya.
Jimmy menempelkan telunjuknya ke bibir nya sendiri.
"Ada masalah apa lagi?" Tanya Danru Ridwan yang menarik bangku untuk Sena.
Sena pun duduk. "Terima kasih Dan Jimmy... Dan Ridwan." Kata Sena yang langsung menelungkupkan wajahnya ke meja dan menangis.
Pak Ridwan memandang Jimmy. "Ada apa?"
Jimmy pun menceritakan apa yang Dia lihat.
Pak Ridwan mengepalkan tangannya kuat. "Kurang ajar! Kayaknya musti dikasih pelajaran!"
Sena mendongak. "Jangan pake kekerasan Dan. Biarlah keadilan yang akan menentukan." Pinta Sena yang mengusap airmatanya.
Danru Ridwan mengusap bahu Sena. "Tenang saja Sena, Saya akan membela Kamu."
__ADS_1