Aku Bukan Wonder Woman

Aku Bukan Wonder Woman
Masuk Bekerja


__ADS_3

Lima hari sudah Sena mengikuti pelatihan. Wajahnya mulai nampak lebih hitam karena sering terjemur di atas roof.


"Memang Kamu gak pake pelembab?" Tanya Bunda.


"Pake Bun, cuma memang panas banget, pelatihannya diatas gedung." Kata Sena.


"Ya sudah dirawat saja, nanti juga hilang." Kata Bunda.


"Ya Bun, cuma Bunda kan tahu, kalau sudah hitam belang gini, susah ilangnya." Sena mengrucutkan bibirnya.


Hari ini Sena libur. Baru hari Senin Sena kembali ke kantor tapi tidak pelatihan fisik lagi. Hari Senin pake baju putih bawahan hitam dan sepatu hitam.


Sena mulai melulur wajahnya yang terlihat belang karena terkena sinar matahari selama pelatihan di atas gedung.


"Mama.... Atut...." Rizki menjauhi Sena karena melihat sang Mama yang memakai seperti topeng.


"Uwoooo...." Rizki berteriak.


"Ada apa Sayang...?" Tanya Bunda.


"Mama.... atuuut...." Rizki menunjuk-nunjuk ke kamar.


Bunda masuk ke kamar Sena dan mendapati Sena sedang rebahan dengan wajah sudah dilulur dan mata ditutup irisan ketimun.


Bunda tersenyum. Bunda menggendong Rizki. "Mama lagi pake obat. Wajah Mama kena panas..." Kata Bunda.


"Atuuuttt...." Rengek Rizki.


Bunda tersenyum. "Ya sudah disini saja sama Uwo, ya...." Bunda meletakan Rizki di kursi dekatnya menjahit.


Tiga puluh menit kemudian.


Sena sudah membersihkan wajahnya. Dia bergegas ke warung. Karena dari tadi sepertinya Bunda kerepotan melayani pembeli.


"Mama...." Teriak Rizki. Dia langsung memeluk kaki Sena.


"Kenapa sayang...?" Sena berjongkok.


Rizki memegang wajah Sena. "Mama atit yah?" Tanya Rizki.


Sena tersenyum. "Mama gak sakit, cuma pake bedak aja." Sena mencium pipi Rizki. "Mama mau melayani yang beli dulu ya. Kamu tunggu sini."


Tapi Rizki mengikuti kemana saja Sena berjalan. Rizki mengambilkan kantong plastik untuk belanjaan orang.


"Duuhh Rizki pinter ya... Bantuin Mama nya ya...." Kata pembeli.


Sena tersenyum dan menggendong Rizki. "Iya nih Bu... Mau nya sama Mama nya terus..."


Rizki menciumi pipi Sena.


__________________________


Sena sudah kembali ke kantor. Hari ini Dia pengenalan tentang bagian-bagian di kantor. Karena bagi Secwan wajib mengetahui banyak ruangan, karena nanti akan banyak surat yang harus dikirim ke meja staff masing-masing.


Sena mencatat nama-nama Kepala bagian, ruang Dirut dan secretarisnya. Dan banyak ruangan lainnya.


Jam 5 sore Sena sudah selesai dan kembali ke rumah.


"Sena..!" Panggil salah seorang Danru yang sedang bertugas pagi ini.

__ADS_1


"Ya Pak..." Sena menghampiri.


"Mulai besok Kamu datang ke kantor ini. Kamu bertugas disana. Nanti Kamu kordinasi disana kapan Kamu mulai masuk." Kata Danru Ridwan yang menyerahkan surat tugas kepada Sena.


Sena mengangguk. "Ada barengan saya gak Pak?" Tanya Sena.


"Gak ada... Disana salah seorang Secwan mengundurkan diri, jadi Kamu yang menggantikannya." Kata Danru Ridwan.


Sena mengangguk. Pak Ridwan memberikan patokan kantor baru untuk Sena.


"Sudah jelas Sena?" Tanya Danru Ridwan.


Sena mengangguk. "Siap Dan...!" Tegas Sena.


"Yang lain mulai besok tugas di Gedung daerah Thamrin. Besok pagi sudah harus kumpul disini!" Kata Pak Ridwan.


"Siaaapp...!!!" Jawab yang lain. Barisan pun dibubarkan. Mereka saling bersalaman.


"Sena pulang bareng sama gw ya... Kita gak akan ketemu lagi..." Tiba-tiba James mencegat Sena.


"Nanti istri lo marah sama Gw!" Canda Sena.


"Aahhh Lo suka begitu. Rumah gw kan satu arah sama Lo, nanti Lo bisa turun di cawang dan Gw langsung ke cililitan." Kata James.


"Ya... Gw ikut." Kata Sena.


James mengambil motornya diparkiran dan segera membonceng Sena. Yang melihat langsung bersorak. Cieeeee...!!Suit...suit..!!


"Nih Gw gak pake helm gak apa?" Tanya Sena.


"Tenang aja... Kata James. Lo dah tahu kantor Lo yang baru?" Tanya James.


"Semoga Lo betah ya." Kata James.


"Ya... Lo juga ya." Kata Sena.


___________________________


"Dijah.... Gw belum punya seragam. Lo bisa pinjamin kan?" Tanya Sena di sambungan telponnya.


"Ya udah Lo kesini aja." Kata Dijah.


"Tapi Gw naik apa ke rumah Lo?" Tanya Sena.


"Tenang... tadi Gw udah telpon Fajri, Dia tahu Lo diterima di perusahaan tempat Gw kerja." Kata Dijah.


"Haaaahh??? Kenapa lo kasih tau?" Sena terdengar gak suka.


"Hahahahaha.... Biarin aja... Biar Dia nyesel udah ninggalin Lo." Kata Dijah. "Ya udah Lo kalau mau kesini Gw tunggu ya." Dijah langsung memutus sambungan telponnya.


Sena menghela nafas. "Dijaaahhh... Baru Gw mau tenang...."


Benar saja, tak lama ponsel Sena berdering. Dan Sena melihat nama dilayar ponselnya. "Mas Fajri...." Gumam Sena.


"Halo Sena...." Sapa Fajri.


"Ya Mas." Jawab Sena.


"Aku sudah di depan komplek perumahan Bunda. Kamu mau ke rumah Dijah kan?" Fajri tanpa basa-basi.

__ADS_1


"Haaahh?! Udah sampe? Ya udah tunggu ya." Sena mematikan ponsel dan langsung mengganti celana panjang dan memakai jaket.


"Bun... Sena pamit sebentar. Titip Rizki ya." Sena setengah berlari.


"Mau kemana?!" Bunda memanggil tapi Sena tak kembali.


Sena sudah tiba di gerbang komplek. Sebuah motor berhenti di depan Sena. Fajri tersenyum dan menyerahkan helm pada Sena. Sena langsung naik.


"Kok cepet banget Mas udah sampe?" Tanya Sena.


"Tadi Aku lagi lewat sini, Dijah telpon. Ya udah Aku langsung telpon Kamu. Mang kapan Kamu mulai masuk kerja?" Tanya Fajri.


"Besok Mas..." Kata Sena.


Fajri menarik tangan Sena agar memeluknya. Sena tak menolak hanya sedikit melonggarkan saja. Fajri melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi.


Sena hanya menghela nafas. Sena berpegangan pada pegangan belakang motor. Fajri kembali menarik tangan Sena. Mau gak mau Sena memeluk pinggang Fajri.


40 menit kemudian, Mereka sudah tiba di depan rumah Dijah. Dijah sudah menunggu Mereka di depan rumah.


"Masuk Sena....Ji..." Kata Dijah.


"Kita gak lama-lama... Tadi Gw gak ijin sama Bunda. Bunda manggil, Gw gak nyaut." Kata Sena.


"Jadi ngambil baju aja?" Tanya Dijah.


"Terus mau ngapain lagi?" Canda Sena.


Dijah tersenyum. "Ya udah nih. Kalo kurang pas Lo pasin lah sama badan Lo. Tapi jangan dipotong ya." Pinta Dijah.


"Siiippp... Mang Lo gak pake?" Tanya Sena.


"Gw ada satu lagi. Nanti kalau Lo dah dapat dari kantor, Lo pulangin baju Gw." Pinta Dijah.


"Ya lah... Masa gak Gw balikin." Kata Sena.


"Ji... mo ngopi dulu gak?" Tawar Dijah.


"Gw sih mau aja, tapi Sena kan buru-buru. Nanti aja lah ngopi di rumah." Kata Fajri.


"Ya udah... salamin buat anak Gw ya." Kata Dijah.


Fajri mengangguk. Sena berpamitan. "Gw pulang ya Jah... Makasih nih dah dipinjemin baju." Kata Sena.


Dijah tersenyum dan melambaikan tangan pada Sena.


Sena pun naik ke motor dan memakai helm. Fajri mengantarnya kembali ke depan gerbang rumah Bunda.


"Aku gak ada bensin nih buat balik ke rumah Ibu." Kata Fajri ditengah jalan.


"Ya Mas nanti Aku ganti uang bensinnya." Kata Sena sambil merogoh kantong celananya.


"Nih Mas... Maaf Aku cuma bisa ngasih segitu. Aku baru akan masuk kerja." Kata Sena sambil memasukan uang 20 ribuan ke saku kemeja Fajri.


"Ya gak apa, terima kasih." Kata Fajri.


"Aku yang makasih Mas. Mas mau nganterin Aku. Kalau gak ada Mas, Aku bingung mau minta tolong sama siapa." Kata Sena.


"Makanya Kamu balik lagi sama Aku yah!?" Pinta Fajri.

__ADS_1


Sena terdiam. Dia tak menjawab penawaran Fajri hingga motor Fajri tiba di gerbang komplek.


__ADS_2