Aku Bukan Wonder Woman

Aku Bukan Wonder Woman
Streesss


__ADS_3

Jantung Sena berdegub sangat kencang. Sena takut Andi berbuat kurang ajar padanya. Sena memalingkan wajah saat Andi melepas pakaiannya.


"Ganti baju Mu." Pinta Andi. Andi menyodorkan kaos milik nya yang baru saja diambil dari dalam lemari.


Sena menggeleng. Andi berjongkok di depan Sena. Andi mengelus pipi Sena dengan lembut. "Nginep disini yah, besok Abang antar kerja." Pinta Andi dengan lembut.


Sena menggeleng. "Aku mau pulang... Hik.. hik... hik... Rizki pasti mencari Ku..." Sena kembali terisak.


"Rizki lagi Rizki lagi. Dia kan bukan anak Mu, bukan darah daging Mu!" Andi sangat kesal.


Sena terkejut, tak menyangka Andi akan berkata demikian. Sena benar-benar kecewa dengan sikap Andi.


"Kalau sudah tahu Rizki bukan darah daging Ku, kenapa juga menahan Sena disini?! Sena bukan Wanita sempurna, jadi biarkan Sena pulang!" Sarkas Sena. Airmata nya berubah jadi benci.


Andi menangkup pipi Sena. Dia mencium bibir Sena dengan kasar. Sena mendorong tubuh Andi sangat kuat hingga Andi terjengkang ke belakang. Namun Andi menarik tangan Sena hingga Sena ikut tertarik menimpa tubuh Andi. "Aacchhhh...!" Sena berteriak.


Andi berguling. Tubuh Sena berada dibawah nya. Di atas lantai. Andi kembali menyentuh bibir Sena. Sena menggeleng gak mau menerima ciuman Andi. Kepala Sena terantuk lantai. "Aaadaaawww..."


"Ya ampun..." Andi mengangkat kepala Sena. Mengelus kepala Sena. Tidak tega Dia melihat Sena yang meringis sakit karena kepala nya terbentur.


Andi mengangkat tubuh Sena. Merebahkannya di ranjang. Namun Sena langsung bangkit lagi hendak kabur. Andi menarik tubuh Sena.


"Kamu itu bisa diam gak?" Bentak Andi.


Sreeeettttt


Sena merasakan resleting blus nya jebol. "Aaacchhh..!!" Sena mundur ke tembok. "Bang... tolong Bang... Sena mau pulang." Mohon Sena. Sena menangis karena baju bagian belakang nya terkuak. "Abang jahat!"


Andi mendekat. Tapi Sena kembali mendorong dada Andi. Andi menarik tubuh Sena kedalam pelukannya. Sena meronta.


"Ganti baju Mu yah. Kamu tidur disini malam ini. Abang ingin bersama Mu." Pinta Andi yang sudah mengecupi leher Sena.


"Aku gak mau... Aku mau pulang... Hik.. hik... hik..." Sena terus menangis.


Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Suasana rumah Andi sudah sepi. Seperti nya Orang Tua Andi sudah terlelap.


"Kalau Kamu mau pulang, silahkan pulang!" Andi membuka pintu kamarnya. "Tapi jangan harap Abang mengantar Mu pulang!" Kata Andi tak peduli.


Sena mengambil tas ransel nya. Dia membuka ranselnya dan mengambil baju PDL nya, melapisi blus nya yang sudah terkoyak belakangnya.


"Tapi ingat, Abang gak mau tahu kalau terjadi apa-apa sama Kamu diluar sana. Kamu bukan tanggung jawab Abang lagi." Kata Andi.

__ADS_1


"Tapi Abang tadi janji mengantar Sena pulang." Sena merajuk.


"Itu kalau Kamu nurut sama Abang. Sekarang sudah tengah malam. Udah gak ada lagi angkot. Naik ojek silahkan, tapi jangan harap sampe rumah dengan selamat." Andi menakuti Sena.


Sena terduduk di lantai. Sena menangis, Dia tak menyangka Andi setega itu pada nya. Kata nya Andi sayang dan cinta padanya tapi beginikah cinta dan sayang Andi pada dirinya?


Andi mendekat pada Sena, mengangkat bahu Sena, merangkul bahu Sena dan membawanya ke ranjang. Meletakkan kembali ransel Sena. Menutup pintu kamarnya.


Sena tertunduk. Bagai makan buah simalakama. Dalam hati nya hanya dapat memohon perlindungan Allah agar Andi tidak berbuat yang tidak-tidak padanya.


Sena meringkuk menghadap tembok. Memunggungi Andi yang masih duduk memandang Sena. Mencoba memejamkan mata. Sena kesal melihat wajah Andi.


Andi berbaring disebelahnya. Andi memeluk Sena dari belakang. Sena menepis tangan Andi.


"Kenapa Kamu menghianati Abang, Sena?" Gumam Andi.


Sena mengernyitkan dahi nya. Sena berbalik menghadapa Andi. "Apa maksud Abang?" Tanya Sena bingung.


"Kamu setiap hari telponan sama Aldi, kan? Kamu terbuai dengan bujuk rayu nya." Kata Andi. Andi menempelkan keningnya pada kening Sena.


Sena terdiam. Dia tak habis pikir, darimana Andi bisa tahu kalau Dirinya telponan dengan Aldi.


"Dia itu penipu Sena." Kata Andi saat merasa Sena tak membalas ciumannya. "Dia berada di Lapas Jawa Tengah bersama Rasya, Sena. Dia sebentar lagi bebas dari sana. Abang gak mau Kamu bersama nya." Andi kembali mencium bibir Sena. Tapi Sena tetap tak membalasnya.


Sena memejamkan mata. Dia tak ingin terbuai dengan perlakuan Andi.


Andi mengusap kepala Sena dengan lembut. Merapihkan anak rambut Sena.


Sena tak mempercayai omongan Andi. "Bagaimana mungkin seorang napi bisa mengirim wesel pada dirinya. Tapi darimana Dia tahu alamat Kantor Sena?" Batin Sena, kepala Sena menggeleng menepis keraguannya.


"Kenapa Sayang?" Andi mengelus pipi Sena. Sena tetap memejamkan mata. Sena kembali memunggungi Andi.


Andi menarik pinggang Sena agar kembali menghadapnya.


"Sena ngantuk, Bang. Besok Sena masuk pagi." Ketus Sena dan kembali berbalik menghadap tembok.


Tangan Andi menelusup kebawah. Sena mencoba menarik tangan Andi namun Andi memaksa. Jemari Andi bermain disana. Sena menggigit bibirnya dan terus memejamkan mata.


Andi menarik pakaian bawah Sena. Sena menahannya. "Jangan Baaang..." Sena menangis.


"Jangan Bang... Hik... hik... hik... Sena mohon..." Sena menghiba. Sena menangis dan terus meronta.

__ADS_1


Andi tidak tega melihat wajah Sena yang memelas. Akhir nya Andi melakukannya sendiri dengan melihat milik Sena.


Setelah puas, Andi merebahkan tubuh nya disamping Sena yang masih menangis karena takut. Andi menyelimuti Sena. Andi terlelap memeluk perut Sena.


Sena terisak hingga subuh tiba. Tubuhnya meringkuk, Sena kedinginan. Badannya panas.


Andi merasakan gerakan tubuh Sena. Dia terbangun dan menyentuh kening Sena. "Sayaang... Kamu sakit?" Andi terlihat khawatir. Andi bergegas mandi dan membawa air dibaskom untuk membasuh wajah Sena.


"Aku mau pulang." Isakan Sena.


"Kita ke Dokter dulu yah." Andi terlihat sangat khawatir.


Andi membawa Sena ke klinik tak jauh dari gerbang perumahan Sena. Wajah Sena nampak pucat.


"Apa yang Anda rasakan, Bu?" Tanya Dokter Hendy.


"Pusing, mual, jantung Saya berdebar terus, dada Saya terasa sesak." Kata Sena. Bibirnya terlihat pucat.


Dokter Hendy tersenyum. "Istirahat yang cukup yah. Jangan lupa diminum vitaminnya." Saran Dokter Hendy sambil menulis resep.


"Saya kenapa, Dok?" Tanya Sena penasaran.


"Ibu stress, jadi jangan terlalu berpikir yang tidak-tidak yah." Kata Dokter.


Sena mengangguk. "Boleh Saya minta Surat Ijin Sakit, Dok?" Tanya Sena.


"Boleh, berapa hari?" Tanya Dokter Hendy.


"Hari ini saja Dok." Kata Sena.


"Baiklah." Dokter Hendy tersenyum.


Sena keluar. Perawat memanggil nama nya. Dan menyebut nominal pembayaran.


Andi bergegas ingin membayar tapi Sena melarangnya. "Pake uang Sena aja." Kata Sena dingin.


Dari Klinik, Andi mengantar Sena sampai depan pintu kecil masuk perumahan. "Besok Kamu kerja, kan?" Tanya Andi.


Sena turun dari motor, Dia tak menjawab pertanyaan Andi. Sena sakit hati sama Andi. Sena terus melangkah pulang.


Andi terpaku memandang Sena yang meninggalkannya tanpa satu kata pun.

__ADS_1


__ADS_2