Aku Bukan Wonder Woman

Aku Bukan Wonder Woman
Bayi Sena


__ADS_3

"Kak Rosa tadi dari sini. Katanya ada seorang Ibu akan melahirkan. Tapi karena anaknya sudah banyak, Dia akan memberikan anaknya pada Orang." Kata Bunda.


"Haaahh... Serius Bun? Kok anak sendiri dikasihin ke orang?" Sena tak percaya.


"Ya.. Dia gak sanggup menghidupi kesembilan anaknya. Ini yang kesepuluh akan lahir." Jelas Bunda.


"Memang Dia gak KB Bun? Kalau gak mampu kenapa terus hamil?" Sena tak mengerti.


"Dia gak cocok katanya kalau pasang alat KB. Dia darah tinggi." Jelas Bunda.


"Tadinya Kak Rosa menawarkan pada Rini, Rini sih mau tapi gak boleh sama mertuanya." Kata Ibu.


Sena mengangguk-angguk.


"Kalau Kamu mau, Kamu ijin dulu sama orangtua Fajri." Saran Bunda.


"Ya Bun, nanti Sena bilang ke Mas Fajri." Kata Sena.


"Kalau Bunda setuju saja Kamu mengasuh anak itu. Siapa tahu Dia membawa rejeki buat Kamu untuk punya anak." Kata Bunda.


"Memang berapa lama lagi Dia akan melahirkan?" Tanya Sena.


"Kata Kak Rosa 3 bulan lagi. Tapi Kak Rosa juga belum yakin." Kata Bunda.


"Ya Bun nanti Sena bicarakan dulu sama Mas Fajri. Kalau Mas Fajri setuju, Sena mau banget." Kata Sena berharap.


"Yang penting minta restu sama orangtua Fajri ya." Pinta Bunda.


Sena mengangguk. "Iya Bun."


_____________________


"Serius?" Tanya Fajri.


Sena mengangguk. "Tapi kata Bunda, Kita ijin dulu sama orangtua Mas Fajri."


"Ya, besok Kita ke rumah Ibu dan Bapak. Nanti Kita bicarakan pada Mereka." Kata Fajri.


"Serius Mas mau?" Tanya Sena senang.


Fajri mengangguk. "Kamu sudah siap kan jadi Ibu?" Tanya Fajri.


"Insya Allah siap, Mas." Kata Sena sangat senang.


"Ya Allah.... Permudahkanlah Aku mendapatkannya." Batin Sena.


Ke esokan Harinya.


"Memangnya Kamu bisa mengasuh bayi orang? Ngurus bayi gak gampang loh! Harus dikasih susu. Keperluan lainnya." Ibu Fajri nampak tidak suka.


"Insya Allah Sena siap, Bu." Kata Sena mantab.


"Lagian memang kalian sudah berapa lama sih menikah? Pake mau ngasuh anak orang segala." Ibu ketus.


"hampir 4 tahun Bu." Kata Sena.


"Nah baru 4 tahun. Masih banyak waktu." Kata Ibu.

__ADS_1


"Sudaaahhh.... Sena, kalau Kamu mau ngasuh itu anak, asuhlah Nak. Daripada nanti Dia terlantar di jalan." Tiba-tiba Bapak membuka suara dan mendukung keinginan Sena dan Fajri.


"Bapak merestui Kami?" Tanya Fajri.


Bapak mengangguk sambil tersenyum.


Sena memang sudah menceritakan perihal keadaan orangtua yang akan memberikan anaknya kepada Bapak dan Ibu Fajri.


Ibu terlihat tak suka. Tapi Dia pandai bermuka dua. Sehingga Sena tidak tahu apa yang ada di hati Ibu mertuanya.


___________________


Satu Bulan Kemudian. Dihari minggu.


"Assalamu alaikum...." Sapa Bunda.


"Wa alaikumussalam..." Jawab Sena. Sena sangat terkejut dengan kedatangan Bunda. Sena sedang menjemur cuciannya.


"Masuk Bunda. Tumben pagi-pagi Bunda sudah sampe sini." Tanya Sena.


"Tadi Bunda mau telpon Kamu, tapi gak jadi. Bunda pikir sekalian olahraga jalan kaki." Kata Bunda.


"Bunda udah sarapan?" Tanya Sena.


"Sudah dong. Bunda kesini mau kasih kabar. Tadi Kak Rosa ke rumah. Katanya anak Kamu sudah lahir." Kata Bunda.


"Haaahhh??!! Secepat ini? Kata Bunda tempo hari 3 bulan lagi." Sena terperanjat. Sena belum punya persiapan apa-apa. Karena Sena pikir masih punya waktu untuk mengumpulkan uang.


"Bunda juga kaget. Kak Rosa bilang tadi jam 5.50, Putera Kamu lahir." Kata Bunda.


"Jadi dia laki-laki, Bun? Ya Allah... Subhanallaah... Alhamdulillaah..." Sena mengusap wajahnya.


"Belum Bun. Mas Fajri sampe rumah jam 8 atau jam 9." Kata Sena.


"Bun, Sena belum punya persiapan. Bulu kuduk Sena sampe merinding deh Bun. Sena bingung tapi juga senang." Kata Sena yang gak tahu dengan suasana hatinya.


"Tapi Kamu sudah ijin kan sama mertua Kamu?" Tanya Bunda.


"Sudah Bun. Pas Bunda bilang pertama kali. Aku langsung ngomong ke Mas Fajri dan Mas Fajri setuju. Terus besoknya langsung ke rumah orangtua nya." Jelas Sena.


"Ya sudah. Kamu gak usah khawatir. Adik-adik Kamu juga mau bantu. Vina juga mau ngasih buat keluarga Mereka." Kata Bunda.


Vina memang sudah menikah 11 bulan yang lalu. Dan Vina juga sudah mempunyai bayi. Usia bayi nya sudah 40 hari. Vina melahirkan bayi perempuan.


Keadaan Ekonomi Vina sangat lumayan. Dia menikah dengan seorang Dosen dan dari keluarga kaya Raya. Mertua Vina sangat senang mendapat kabar dari Vina, setelah menikah, tanpa kosong, Vina langsung hamil.


Nina juga mendukung Niat Sena yang akan mengadopsi seorang anak yang masih dalam kandungan seorang Ibu. Dan kini telah lahir.


"Ya sudah. Kalau gitu Bunda pulang ya. Bunda cuma mau nyampein itu saja." Kata Bunda.


"Bun....Sena belum punya apa-apa. Nanti siang Sena ke tanah abang beli kain panjang dan perlengkapan bayi.' Kata Sena.


Bunda tersenyum. "Bunda pamit ya."


Jam 8.30 Fajri tiba di rumah.


Sena terlihat senang tapi jantungnya terus berdebar.

__ADS_1


"Kamu kenapa? Kayanya seneng banget?" Tanya Fajri heran melihat Sena tak seperti biasanya.


"Mas.... Anak Kita sudah lahir. Laki-laki. Tadi jam 5.50 pagi." Kata Sena gugup bercampur senang.


"Alhamdulillaah..." Fajri nampak senang. Rasa lelahnya hilang manakala mendapat berita yang menggembirakan.


"Tapi Mas..." Sena terlihat murung.


"Ada apa?" Tanya Fajri bingung.


"Kita belum punya persiapan apa-apa. Uang saja Kita belum pegang untuk membayar biaya persalinannya." Kata Sena.


Fajri mengeluarkan dompetnya. "Mungkin ini memang rejeki bayi Kita. Tadi Mas dikasih tip sama supir, lumayan banyak." Fajri memberikan beberapa lembar uang 50 ribuan pada Sena.


"Ya Allah... Alhamdulillaah..." Sena terlihat senang.


"Rencananya Aku mau ke tanah abang, Mas. Mau beli kain bedongan, popok dan lain-lain." Kata Sena.


"Ya sudah... Tapi hati-hati ya." Pesan Fajri.


"Terima kasih Mas." Sena memeluk tubuh suaminya.


Fajri mencuci wajah, tangan dan kakinya. Kemudian.


"Kamu sudah masak?" Tanya Fajri.


"Sudah Mas. Seperti yang Mas minta kemarin sore. Goreng ikan sepat tumis jagung." Kata Sena.


"Enak gak?" Goda Fajri.


"Hhmmm... Enak gak ya?" Sena nampak berfikir.


"Kelamaan ah." Canda Fajri yang segera ke dapur dan membuka lemari makan. "Aku mau makan sekarang sebelum tidur." Pinta Fajri.


Sena mengangguk dan segera menyiapkan makan untuk suaminya.


Fajri sangat lahab memakan masakan Sena.


"Mas sudah libur, kan?" Tanya Sena, sambil membereskan piring-piring bekas makan Mereka.


"Sudah. Tadi terakhir." Kata Fajri yang bersender pada tembok karena kekenyangan.


"Berarti bisa ikut jemput bayi Kita, kan?" Sena berharap.


Fajri mengangguk. "Kamu jangan lama-lama di tanah abang ya. Kalau sudah selesai langsung pulang." Pesan Fajri.


"Ya Mas. Aku gak akan lama. Kalau sudah dapat semua, Aku langsung pulang." Janji Sena.


Tak lama, Sena pun berangkat ke tanah abang. Sena sudah mencatat apa saja yang akan dia beli agar mudah dan cepat.


2 Jam Setengah Kemudian.


Sena sudah tiba di kontrakan. Dia segera merendam dan mencuci popok dan kain panjang juga bedongan, agar lebih steril. Sena juga memberikan pewangi dan pelembut pakaian.


Fajri masih terlelap. Sena tak merasakan lelahnya. Dia sangat bersemangat menyambut kelahiran bakal bayi nya.


Jam 3 sore Fajri baru bangun. Jemuran Sena juga sudah kering. Karena bahan untuk bayi nya sangat mudah kering. Sena langsung menggosoknya.

__ADS_1


Fajri tersenyum melihat Sena yang terlihat bahagia. Sena tak tahu dengan suasana hati Suaminya yang sebenarnya.


__ADS_2