
"Sialan Lo! Lo bohongin Gw, Sena!" Aldi kembali murka saat Sena mengangkat telpon darinya.
"Boong apaan?!" Sena tak mengerti.
"Andi bilang: Lo dan Dia ng*nt*t semalam dan berkali-kali! Anjing Lo Bangsaaaatt!!!" Aldi sangat murka.
"Demi Allah! Sena gak melakukan itu!" Sena ingin berteriak tapi takut terdengar Bunda.
Aldi menyebutkan gambaran tubuh Sena dari Andi. "Apa bener?!" Tanya Aldi.
"Ii.. Iyaaa... Bener... tapi Sena gak sampai begituan sama Dia..." Sena terisak. Dia tak menyangka kalau Andi akan memfitnahnya dan menggambarkan tentang tubuh Sena pada Aldi.
"Lalu bagaimana Dia bisa tahu apa aja yang ada di badan Lo?! Kalau bukan Lo serahin tubuh Lo sama Dia?! Berapa ronde Lo semalaman sampe Lo sakit, Hah?!" Aldi masih murka.
"Gak... Itu gak bener, Sena tidak melakukan itu. Andi memang melihat tubuh Sena tapi tidak sampai kesana. Baju Sena ditarik sampai resleting baju Sena rusak." Sena menjelaskan.
"Makanya Lo jadi perempuan jangan murahan! Mau aja Lo diajak sama Anjing tengik begitu!" Aldi memaki Sena.
"Kalau Sena murahan, ngapain juga mau sama Sena!? Sena gak pernah minta kok dideketin." Sewot Sena.
Aldi menghela nafas. Dia memang penasaran sama Sena. Karena teman-temannya bilang, Sena itu aduhai, hitam manis dan sangat menggoda. Ditambah lagi omongan Andi yang mengatakan kalau Sena sangat hot diatas ranjang. Itu semua membuat Aldi gila ingin cepat-cepat bertemu Sena.
"Satu bulan lagi Kakak pulang! Kamu tunggu yah. Mulai besok Kamu gak boleh kerja lagi! Ngerti Kamu!" Aldi mengatur.
"Kalau Sena gak kerja, anak Sena beli susu dari mana?" Sena agak kecewa dengan keputusan Aldi.
"Eh bangsat! Lo gatel kan mau ketemu Si Andi itu! Lo denger gak gw bilang apa? Sebulan lagi Gw balik!" Ketus Aldi.
"Ya terus selama sebulan Sena dan anak Sena gak makan?!" Jawab Sena.
"Makan aja Lo pikirin! Pokoknya sekali Gw bilang Lo berenti kerja, berenti!" Bentak Aldi.
Sena terdiam. Sena berpikir akan tetap bekerja. Toh Aldi tak akan tahu.
"Eh... Lo jangan punya pikiran ngebohongin Gw yah?! Gw akan tahu Lo dengerin kata Gw apa gak?!" Kata Aldi.
"Tapi Sena kan gak enak sama Bunda, masa Sena ngerepotin Bunda lagi?" Sena mengrucutkan bibirnya.
"Mana Bunda? Sini Aku yang ngomong!" Aldi mulai melunak.
"Ngomong sama Bunda? Jangan..." Pinta Sena.
"Sudah mana Bunda?" Aldi memaksa. Mau gak mau Sena memberikan ponselnya pada Bunda.
Sena memang sudah mengenalkan Aldi pada Bunda. Aldi mengaku pada Sena dan Bunda kalau Dia seorang Tentara yang sedang tugas di pelosok. Jadi belum bisa bertemu dengan Sena dan Bunda.
"Ada apa Di?" Tanya Bunda.
Aldi menceritakan semua tentang Sena yang gak pulang semalaman. Bunda sesekali melirik kearah Sena, ada tatapan marah Bunda pada Sena. Sena hanya menunduk takut akan murka Bunda.
"Kalau Sena berhenti kerja, siapa yang akan menafkahi hidupnya dan anaknya." Kata Bunda kembali bicara sama Aldi.
Dengan mulut manisnya Aldi bicara pada Bunda, kalau Dia akan mentransfer uang untuk kebutuhan Sena dan anaknya sampai Dia kembali.
__ADS_1
Sambungan telpon terputus. Bunda memandang kesal kearah Sena yang dari tadi menunduk karena merasa bersalah dan telah membohongi Bunda.
"Kenapa Kamu gak bilang sama Bunda? Siapa Andi itu?" Tanya Bunda.
Sena akhirnya menceritakan perihal Andi dan kedekatan Sena dengan Andi.
"Ya sudah sebaiknya Kamu tinggalkan Andi. Tunggu Aldi pulang." Kata Bunda.
"Terus kerjaan Sena, Bun?" Tanya Sena.
"Tadi Kamu denger sendiri kan Aldi bilang apa? Kamu berhenti kerja!" Kata Bunda kesal. "Urusin nih warung." Bunda meninggalkan Sena yang terpaku.
Rizki memeluk tubuh Sena. Sena menciumi wajah Putera nya.
___________________________
Sudah satu minggu Sena gak masuk kerja. Transfer dari Aldi juga tidak ada. Sena kembali bergelut dengan warungnya. Membuat es mambo dan beberapa makanan ringan.
Ponsel Sena berdering. Dia melihat nama yang tertera dilayar ponselnya. Sena langsung mengangkatnya.
"Kak.... Apa kabar?" Tanya Lili.
"Aku baik Li..." Jawab Sena dengan nada sedih.
"Kalau Kakak baik, kenapa gak masuk kerja, Kak?" Tanya Lili.
Sena menghela nafas.
"Kata Pak Roni kalau Kakak resign, Kakak kembalikan seragam dan sepatu PDL nya ke kantor." Kata Lili lagi.
"Kayaknya sepatu Kakak dipake deh. Nanti Aku bilangin Ke Pak Taufik deh. Oh ya, Pak Taufik udah kembali lagi ke pusat. Dia mencari Kakak dari kemarin." Jelas Lili.
"Oohh... Biarin aja." Kata Sena.
"Dia titip salam buat Kakak. Dia minta nomor ponsel Kakak tapi Aku belum kasih, ijin dulu sama Kakak." Kata Lili.
"Wa alaikumussalaam. Gak usah." Jawab Sena.
"Ya udah Kak. Aku lagi kerja. Lain kali Kita ngobrol lagi. Kapan-kapan mampir yah ke kosan Aku dan Kak Tina." Kata Lili.
"Ya Li, Insya Allah... Makasih yah, Kamu dan Tina juga Ani selalu membantu Aku selama Aku kerja disana." Kata Sena.
"Sama-sama Kak. Kakak juga baik. Salam sama Anak Kakak ya. Dadah Kak Sena... Mmuuuaaacchhh..." Lili mencium ponselnya.
Sena terkikik. Sebenarnya Pak Taufik tidak jelek-jelek amat, bisa dibilang nilai plus untuk wajahnya. Hanya saja Sena gak mau merebut milik orang lain, apalagi memperebutkan. Walau Taufik bilang tidak suka sama Rina, nyatanya Rina mengharap. Itu berarti Taufik telah memberi harapan pada Rina. Dan Sena gak mau menyakiti hati perempuan lain.
__________________________
Sena sedang menggosok pakaian di ruang warungnya yang lengang.
"Assalamu alaikum..." Salam seseorang.
"Wa alaikumussalaam...." Jawab Sena seraya berdiri melihat siapa yang bertandang.
__ADS_1
Jantung Sena berdegub kencang. Tak menyangka siapa yang datang.
"Abang kenapa kesini? Tahu darimana juga rumah Sena?!" Sena sedikit kesal tapi menahan intonasi suaranya agar tak terdengar Orang rumah.
"Abang rindu sama Kamu... Setiap hari Abang nunggu Kamu dan jemput Kamu. Tapi Kamu gak pernah ada? Apa Kamu berhenti kerja?" Tanya Andi. Ada tatapan penuh rindu dan cinta disana.
Sena hanya mengangguk. "Abang tahu darimana rumah Sena?" Tanya Sena sekali lagi.
"Waktu itu Abang pernah ngikutin Kamu, saat Kamu bawa belanjaan sambil gendong Rizki. Abang lihat orang dari tadi keluar masuk nenteng belanjaan, makanya Abang tahu kesini." Kata Andi.
"Abang pulang aja yah..." Pinta Sena. Sena gak mau Bunda nya tahu dan akan mencaci maki Andi.
"Gak... Abang mau kenal Keluarga Kamu..." Andi keras kepala.
"Ada siapa Sena?!" Tanya Bunda dari dalam.
"Aduuuhhh... Abang mendingan pulang deh..." Pinta Sena.
"Siapa Sena?" Bunda sudah berada di pintu warung Sena.
"Ehh... Ini Bun..." Sena nampak ragu. Tapi Andi tak mendengarkan kata-kata Sena.
"Kenalkan, Saya Andi Bu... Saya temannya Sena." Andi mengulurkan tangannya.
Bunda masuk kedalam tanpa menyambut uluran tangan Andi. Sena memberi kode pada Andi agar masuk kedalam.
"Duduk Bang." Kata Sena pelan. Sena segera ke dapur membuatkan minum untuk Andi.
"Jadi Kamu yang sudah menyekap anak Saya semalaman?" Tanya Bunda sewot.
"Tapi Saya mencintai Anak Ibu. Saya menerima Sena dan Rizki." Bela Andi.
"Gak begitu cara nya kalau suka sama anak orang! Datang kesini baik-baik bukan main bawa kabur aja anak orang?!" Terdengar suara Bunda yang memarahi Andi.
"Saya sering minta Sena untuk bawa Saya kesini, mau kenal sama Ibu tapi Sena gak kasih." Kata Andi.
"Itu berarti Sena gak suka sama Kamu! Jadi mulai sekarang Kamu jangan ganggu Sena lagi, Dia sudah ada jodohnya." Tegas Bunda.
"Tapi Bu...." Andi mencoba menjelaskan namun Bunda sudah masuk kedalam kamar.
Sena keluar membawa minum. "Diminum Bang."
Andi meminum apa yang Sena suguhkan. "Sena... Abang mohon, Kamu tinggalin Aldi, Dia itu lagi di penjara sama kayak Rasya..."
"Abang dengerkan tadi kata Bunda apa? Kalau saja Abang sabar, mungkin hari ini Aku masih sama Abang..." Sena tertunduk.
Andi bangun dari duduknya. "Ibu Ku bilang, Kamu gak cakep-cakep banget. Aku bisa mendapatkan Wanita yang jauh lebih cantik dari Kamu. Kamu tahu, Wiwid dan Milla malah mau tidur sama Aku. Kita booking kamar di hotel."
Sena mendongak tidak percaya akan perkataan Andi. "Bagus kalau gitu, semoga Abang bahagia!" Ketus Sena.
Andi mengelus pipi Sena. Saat Sena menepisnya Andi malah menyolong ciuman ke bibir Sena. Andi langsung meninggalkan Sena yang terpaku sambil mengusap bibir nya.
"Kayak gitu pilihan Kamu? Udah dekil, kumel, Kamu itu kenal darimana Laki-laki kayak gitu?!" Ketus Bunda yang segera keluar setelah mendengar deru mesin motor Andi meninggalkan rumah.
__ADS_1
Sena hanya menunduk tidak menjawab. Lebih baik diam daripada panjang.