
Sena bersungut masuk ke ruang di lantai 3. Sena menyeka airmatanya.
"Heii... Kenapa? Kamu menangis?" Tanya Martha sedikit bingung.
"Gak kok Kak. Aku cuma lelah saja." Namun airmata Sena kembali mengalir.
"Apa karena Rina?" Selidik Martha.
Sena nampak ragu tapi akhirnya mengangguk.
"Alaaahhh... Udah cuekin aja. Rina itu gak ada apa-apa nya. Dia itu cuma pinter merayu sehingga dapat backingan dimana-mana. Malah terkesan jual diri." Ucap Martha.
"Astaghfirullaah... Kak, kok ngomongnya gitu?" Sena terkejut.
"Sini Aku bilangin." Martha memanggil Sena agar mendekat. Sena menurut.
"Rina itu pernah Saya kenalin sama teman Saya yang tadi mau Saya kenalin ke Kamu. Dan teman Saya ngetes Rina, ternyata Rina itu murahan." Martha menghela nafas.
Sena menutup mulutnya tak percaya. "Tapi kenapa Kak Martha malah mengenalkan teman Kakak sama Aku?" Sena nampak bingung.
Martha tersenyum. "Ya Aku cuma mau ngenalin saja. Mang gak boleh?"
"Bukan begitu, Rina saja tidak dianggap sama teman Kakak, apalagi Saya yang janda belum tahu status nya." Sena menunduk.
"Justru Dia penasaran sama Kamu. Saya sudah bilang sama Dia, kalau Kamu janda. Dia gak masalah, bagi Dia wanita baik-baik dan setia." Jelas Martha.
Sena hanya diam tak merespon. Trauma nya dengan Fajri belum bisa Dia lupakan. Namun hati Sena sangat sakit mengingat penghianatan dan penghinaan Fajri.
Tapi sisi hatinya yang lain, masih kasihan pada Rizki yang begitu dekat dengan Ayah nya.
Seorang anak ATM keluar dari ruangan yang berpintu besi. Dengan sigap Martha langsung melakukan body checking dan Sena memeriksa wearpack anak ATM tersebut.
___________________________
Esok Hari
"Kak Sena...." Panggil Lily saat melihat Sena yang baru keluar dari kamar ganti.
Sena menoleh dan tersenyum. Lily menghampiri Sena dan memeluknya. "Kangen iihhh.... Dua hari libur. Kemarin gimana tuker shift?" Tanya Lily.
"Ya gitu deh. Benar kata Kamu dan Tina." Sena terkekeh.
"Kan Aku udah bilang, jangan mau." Kata Lily yang langsung paham ketidak nyamanan di Grup 3.
"Ya abis gimana. Ani kan teman baikku juga. Dia perlu, ya Aku bantu." Kata Sena.
"Terus ada kejadian apa? Kakak gak diapa-apain kan sama Rina?" Selidik Lily.
"Ya gitu deh. Kamu kan yang udah tahu banget gimana Rina." Sena menghela nafas.
"Terus Kakak diapain? Kakak lawan kan?" Lily makin penasaran.
Sena pun menceritakan kejadian hari kemarin. Lily nampak kesal.
"Sudahlah... Aku juga dah melupakannya kok. Aku disini niat kerja, nyari nafkah untuk anakku." Kata Sena.
__ADS_1
"Iihhh Kak Sena sabar banget sih. Kalau Aku mah, Aku perpanjang." Kata Lily kesal.
"Biarlah, toh walau bagaimana pun Kita satu kantor. Kalau gak ada kenyamanan kerja, gak enak juga." Kata Sena.
"Tapi Rina harus dikasih pelajaran sekali-kali." Sungut Lily.
"Ya, tapi bukan Aku.... Nanti ada yang akan membalasnya." Sena terkekeh.
Lily merangkul bahu Sena menuju posko. Dan disana sudah ada Tina yang menunggu.
"Kalian darimana? Sebentar lagi apel." Tanya Tina.
"Aku abis ganti baju." Kata Sena.
"Aku ketemu Kak Sena di sana. Sekalian kepo." Lily terkekeh.
"Kenapa?" Tina penasaran.
"Tenang Kak, nanti Aku ceritain di lantai 3." Kata Lily sambil merangkul bahu Tina yang sedang memakai sepatu PDL.
Sena hanya menggeleng sambil tersenyum. "Dasar Lily....."
Priiiiiitttttt....!!!
Wakil Danru, Jimmy meniup pluit. Memanggil anggotanya untuk segera berbaris untuk melakukan apel pagi.
_______________________
"Wah kalau itu udah gak bisa dibiarin. Keterlaluan Rina. Dia gak boleh main hakim sendiri menuduh Sena yang tidak-tidak." Tina nampak kesal setelah Lily menceritakan perihal Sena kemarin di Grup 3.
Tina menghela nafas. "Sena belum tahu Rina seperti apa. Kayaknya nanti pulang, Kita temani Sena sampai naik bus." Pinta Tina.
Lily mengangguk. "Apa perlu Kita lapor ke Dan Ridwan?" Tanya Lily.
"Boleh, ide bagus. Nanti istirahat, Kamu bilang ke Dan Ridwan." Pinta Tina.
"Siap...!" Lily berdiri tegak sambil memberi hormat.
"Dasar Kamu!" Tina hendak menimpuk Lily dengan pulpen tapi pintu besi terbuka. Wakil Supervisor ATM, Dewi keluar.
"Mbak Dewi." Tina menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Bu Tina, ini ada uang palsu. Saya juga mau ke ruang CIT." Kata Dewi.
Lily melakukan body checking dan wearpack, sedang Tina menulis laporan uang palsu.
"Bu Sena kemana, Bu?" Tanya Dewi.
"Ada di Lobby." Kata Lily.
"Oohh lagi tugas di Lobby." Kata Dewi dengan mulut bulat.
"Iya, Seny senang banget kalau di lobby ditemani Kak Sena." Lily terkekeh. Padahal Sena paling sebel kalau jaga di Lobby. Dan tadi Sena sempat kesal karena Tina yang bertugas di Lobby minta tuker sama Sena dengan alasan sedang datang bulan. Padahal datang bulannya sudah hampir selesai.
Memang dasar Sena yang suka mengalah, mau gak mau Dia menuruti permintaan teman kerjanya. Dengan catatan setelah istirahat, Tina harus di lobby.
__ADS_1
____________________________
"Begitu, Dan....." Kata Lily menyudahi ceritanya tentang Sena.
"Yah sudah, kalau Sena bilang gak usah diperpanjang, Kita pantau saja. Kalau Rina bertindak diluar batas, Saya yang akan mengurusnya." Kata Danru Ridwan saat Lily sedang ke loker dan bertemu Danru Ridwan yang baru saja selesai beristirahat.
"Nanti Saya coba tegur Danru Nurdin kalau gak bisa mendidik anggotanya." Kata Danru Ridwan lagi.
"Komandan memang Danru yang paling TOP BGT!" Puji Lily sambil mengacungkan ibu jari nya.
"Kamu ini. Kamu sudah istirahat?" Tanya Danru Ridwan.
"Ini baru mau istirahat, Dan." Kata Lily.
"Sena dimana?" Tanya Danru Ridwan.
"Sena udah naik ke lantai 3, Dan." Kata Lily.
Yang di lobby? Tanya Danru Ridwan.
"Bagus, Dan. Wadan Jimmy kan, ganti anggota lain di loading dok." Jelas Lily.
Danru Ridwan mengangguk. "Sudah sana istirahat. Jangan telat. Kasihan teman-teman yang lain." Pesan Ridwan.
"Siap Dan." Kata Lily sambil memberi hormat dengan sikap sempurna.
Di Lantai 3
"Kamu jangan takut, Sena." Kata Tina.
"Aku gak takut kok. Cuma gak enak aja ribut di kantor. Gak enak kalau kedengeran sama Pak Letkol." Kata Sena.
"Tapi Kamu tetap harus waspada. Rina itu licik." Peringat Tina.
"Ya, terima kasih sudah mengingatkan Aku. Kamu dan Lily, dan teman-teman yang lain memang yang terbaik." Puji Sena. "Aku bangga bisa bergabung di grub 2."
Telpon berdering. Tina mengangkatnya. "Halo, Selamat Siang, dengan Secwan Tina disini, ada yang bisa Saya bantu?"
"Tolong kasih telponnya sama Sena." Suara jawaban disana.
"Ini dari siapa? Mohon ijin." Tanya Tina.
"Suami nya." Jawab diseberang sana.
Seketika Tina mengernyitkan dahi nya. Tina menatap Sena. Dan Sena memberi kode bertanya siapa. Tina langsung mengalihkan panggilan dengan memberikan musik pada si penelpon.
"Siapa?" Tanya Sena.
"Katanya Suami Kamu." Kata Sena.
Sena mengerutkan keningnya. "Suami Aku? Darimana Dia tahu, nomor telpon kantor ini?" Sena heran.
"Coba Kamu loadspeaker. Bilang aja, Aku lagi istirahat." Pinta Sena.
Tina menuruti Sena. "Halo.... Sena..." Sapa disana.
__ADS_1
Seketika Tina dan Sena terperanjat mendengar suara penelpon tersebut.