
Sampai di rumah Sena terperanjat. Dia mendengar Kakak ipar nya sedang memaki anaknya dan menyindir-nyindir. "Lo disini numpang! Jangan belagu!" Teriak nya.
Bunda yang melihat kedatangan Sena langsung menghalau Sena untuk tidak masuk ke rumah. "Kamu pergi lagi ya Nak.... Bunda gak mau ada keributan. Bunda mau tenang..." Bunda mengurut dada.
"Bunda ikut Sena aja yuk..." Ajak Sena.
"Tapi warung Kamu....?" Bunda terlihat bingung.
Sena mengeluarkan tulisan di papan "TUTUP SEBENTAR"
"Yuk Bun...." Ajak Sena sambil menarik tubuh Bunda. Sena sudah meletakan belanjaannya di depan pintu kamar.
"Ada apa sih Bun?" Tanya Sena sambil berjalan menggendong Rizki.
"Tadi Rizki nangis yang dicubit pipi nya sama Alvi. Ternyata Lana dengar. Dia baru bangun tidur. Terus langsung mukulin Alvi. Bunda kaget ada apa. Terus Dia berteriak-teriak." Bunda menangis.
"Astaghfirullaah...." Kata Sena.
"Bunda gak tega ngedenger Alvi nangis kejer dipukuli sama Kakak ipar Kamu. Dicubitin juga." Kata Bunda mulai terisak.
"Kalau kayak gini, Bunda lama-lama bisa mati berdiri... Huk... huk... huk...." Bunda menangis.
Sena membawa Bunda ke warung sate. "Bunda udah yah... Jangan nangis... Orang-orang pada ngeliatin." Kata Sena.
"Uwoooo...." Rizki menengadah ke pangkuam Bunda. Bunda menunduk dan menciumi Rizki.
"Kasihan Kamu, Nak... Kamu ngalah terus. Kadang pipi Kamu, kadang tangan Kamu atau apa saja milikmu pasti dijahili Alvi. Kalau Bunda menegur Alvi, pasti Lana langsung marah-marah." Bunda sesegukan.
Sena menghela nafas. "Bang minta air hangat dong segelas." Kata Sena.
Abang sate memberikan segelas air hangat. "Bunda minum dulu ya, biar tenang..." Pinta Sena.
Bunda menerima air minum dari Sena. "Bunda makan dulu ya. Tadi Sena lihat lauk di rumah sudah habis." Pinta Sena.
"Bunda mau sate kambing atau ayam?" Tanya Sena.
"Ayam saja Sena..." Kata Bunda. Sebenarnya Bunda enggan memakan sate, tapi tak enak tadi Sena sudah minta air minum.
"Bang... Sate ayam 10 tusuk. Sama lontong." Pinta Sena.
"Apa setiap hari seperti itu Bun, kelakuan Kak Lana?" Tanya Sena geram. Sena nampak kesal, karena tak ada dirinya di rumah, Lana malah tambah seenaknya di rumah.
"Sudahlah Sena.... Bunda sekarang sedang tak ingin ribut saja. Lain kali Bunda gak akan diam saja. Kamu yang sabar ya... Gak usah diladeni, malu..." Kata Bunda.
Sena menghela nafas. Disisi lain Sena tak terima melihat Bunda yang makan hati dengan kelakuan Kakak ipar nya. Tapi disisi lain, Dia tak ingin melihat Bunda jadi menepuk dada. "Kasihan Bunda... Tapi mau bagaimana? Itu rumah Bunda... Harus nya yang keluar Dia dari rumah itu..." Sena mengepalkan tangannya. Hati nya sudah mengancam.
__ADS_1
Pesanan sate sudah jadi. Abang Sate menyediakan.
"Nih Bun makan dulu..." Pinta Sena.
"Banyak banget Sena. Bunda gak akan abis." Kata Bunda.
"Bunda tenang aja... Tuuuhhh..." Sena menunjuk Rizki yang sudah mengambil setusuk sate dan menusuk lontong.
"Deekkk.... Itu kan punya Uwo. Kamu tadi sudah makan..." Kata Sena sambil mengangkat tubuh Rizki.
"Biarkan saja Sena. Ada yang bantuin Bunda makan." Kata Bunda sambil memaksakan senyum.
"Uwo mamam...." Kata Rizki yang menyuapi Bunda.
"Yaaahhh belepotan lagi deh..." Kata Sena.
"Nanti pulang di permak." Canda Bunda.
Sena dan Bunda akhir nya bisa tertawa melihat kelakuan Rizki yang sangat menggemaskan.
__________________________
Hari berlalu, Minggu berganti. Sena mulai banyak mengenal satu persatu anak-anak ATM juga nama supervisornya.
Anak-anak ATM juga sangat sopan pada Sena karena pembawaan Sena yang selalu riang. Kadang Sena terpergok sedang bersenandung lagu dangdut.
Hari ini Sena sedang tidak enak badan. Tapi Sena memaksa masuk kerja. Karena Sena pikir pekerjaannya gak terlalu berat malah kebanyakan nyantai.
Perut Sena kembali melilit. Sudah beberapa hari ini Sena buang-buang air. Sepertinya Sena gak cocok dengan air minum yang ada di daerah itu.
Sudah satu minggu Sena gak membawa air minum di rumah karena termos air nya dibanting Alvi kala sedang berebut dengan Rizki dan mengakibatkan termos itu pecah. Kejadian ini membuat Lana ngamuk-ngamuk.
Tapi Bunda tak mau diam saja. Bunda sudah muak dengan kelakuan Lana yang semena-mena. Bunda membentak Lana dan itu membuat Lana sangat terkejut dan langsung ciut nyali nya.
Sena memegang perutnya. Sena sedang jaga malam. Jam menunjukan tengah malam. Dia sudah minta ijin untuk beristirahat tapi yang menggantikan Sena belum kembali dari pengawalan.
Akhir nya Sena mengunci pintu akses. Karena juga banyak anak ATM yang sudah meninggalkan ruang kerja Mereka.
"Bu Sena kenapa?" Tanya Linda salah satu anak ATM.
"Ibu sakit perut. Boleh gak Ibu duluan?" Wajah Sena memelas memucat menahan rasa sakit.
"Bu... Kan diatas ruang monitoring ada toilet. Enak lagi Bu disana, lebih bersih dan gak akan ada yang antri. Karena orang monitoring paling cuma dua orang yang berjaga." Kata Linda.
"Dimana ruang monitoring?" Tanya Sena sambil memegang perutnya.
__ADS_1
"Diatas ruang security Bu." Kata Linda.
"Oh yang naik tangga itu yah." Kata Sena.
"Iya Bu bener." Kata Linda.
"Ya sudah deh... Saya kesana saja." Kata Sena dengan bergegas berbalik. Sena tergesa berjalan ke arah ruang pengecekannya.
"Kata Linda diatas ruang Security, berarti tangga karpet ini." Batin Sena.
Sena mulai naik tangga yang ada di bekas pantry yang terbakar. Sebuah kayu dipalangin menghalangi tangga itu. Sena melompatinya.
Sena melihat seperti ada aktifitas diatas. Dia mendengar seperti orang sedang mengetik keyboard komputer.
"Berarti benar ini ruang monitoring." Sena mencari toiletnya. Sena melihat ada tiga kamar mandi. Memang terlihat bersih dan terawat.
Sena bergegas menyelesaikan hajatnya. Sena mendengar ada yang tertawa. Sena merasa lega karena ternyata ada orang di lantai itu.
Tak lama Sena menyelesaikan hajatnya. Sena juga mengoleskan minyak kayu putih di perut nya. Sena benar-benar bersantai di lantai atas.
Tak lama Sena keluar. Dia melihat seperti ada seseorang yang sedang menonton tivi. Sena juga melihat kursi putar yang seperti nya baru saja di duduki karena kursi itu berputar.
Sena juga masih mendengar suara orang yang sedang mengetik keyboard komputer.
Sena segera turun. Dia merasa bulu kuduk nya meremang. Tapi Sena menepis nya karena jelas-jelas Sena melihat ada seorang security yang sedang menonton tivi.
Sena kembali menuruni tangga berkarpet merah itu. Dia juga melewati palang bambu yang menghalangi tangga.
Sena bergegas membuka kunci ruangan body checking nya karena sebentar lagi anak-anak ATM akan segera masuk.
Pintu ATM diketuk dari dalam. Sena membukanya.
"Ibu darimana? Aku dari tadi mau keluar, Ibu gak ada." Kata anak ATM yang bernama Dewi.
"Maaf ya Dewi... Tadi Ibu ke toilet. Lagi buang-buang air terus." Kata Sena sambil meminta maaf.
"Kenapa Ibu gak ijin sakit saja? Kasihan kan Ibu." Kata Dewi tak tega.
Sena sambil body checking. "Gak apa Dewi... Kerjaan Ibu juga gak terlalu berat."
"Ibu sudah makan?" Tanya Dewi.
Sena menggeleng. "Security yang menggantikan Ibu belum datang dari pengawalan." Jelas Sena.
Dewi mengangguk. Dia pun keluar dari ruangan Body checking.
__ADS_1
Tak lama anak-anak ATM masuk secara bergantian. Sena melakukan body checking dan juga memeriksa kantong baju juga kantong celana Mereka.