
Rizki buang-buang air. Sena nampak panik. "Kenapa ya? Kemarin gak apa-apa." Gumam Sena.
"Masih buang-buang air?" Tanya Sella pada Sena.
Sena mengangguk sambil memberikan minyak kayu putih ke perut Rizki. "Anas Ma..." Kata Rizki.
"Sedikit aja Sayang..." Kata Sena lembut.
Apa gak cocok sama air isi ulangnya kali ya?" Kata Sella.
"Bisa jadi Sella... Ganti aja yah sama yang ada merknya." Pinta Sena.
"Ya gak apa. Nanti Aku pindahin air yang digalon supaya bisa beli yang bermerk." Kata Sella.
Sena memberikan lembaran uang pada Sella. Sella menerimanya.
Tak lama Abang yang membawa galon air bermerk datang sambil memanggul.
"Taruh situ aja Bang." Kata Sella.
Sena membukanya dan menuangnya sedikit. Dia ingin membuat teh manis hangat untuk Rizki.
"Kamu minum teh dulu ya Nak. Biar gak sakit perut lagi." Kata Sena lembut.
Rizki sangat senang. Dia memang suka minum air teh manis hangat.
Di waktu yang sama.
"Cape juga ternyata ngewarung. Gak bisa istirahat. Baru mau merem udah ada yang teriak beli. Begini kali ya yang Sena rasakan. Gak bisa istirahat." Keluh Bunda pada Kak Mita.
"Ya begitu Bun. Kelihatannya sepele tapi perjuangannya besar. Belum belanja sambil gembol-gembol anak." Kata Kak Mita.
"Terus gimana? Kamu sudah tahu Sena dimana?" Tanya Bunda.
Mita menggeleng. "Belum Bun. Semalam ditelpon Sena kaya sedang dipinggir jalan. Dia bilang udah dapat lapak untuk tidur." Kak Mita menahan airmatanya.
"Apa...!? Apa Sena dan Rizki tidur di kolong jembatan? Atau diemperan toko? Terus kemana Fajri?" Bunda terlihat khawatir.
Mita menggeleng. "Mita gak tahu Bun..Sena gak kasih tahu. Terus telponnya terputus, pas mau ditelpon lagi udah gak aktif. Sena juga gak bilang ada Fajri. Cuma Mita denger suara Rizki merengek minta gendong." Jelas Mita.
"Ya Allah... Semua salah Bunda. Harusnya Bunda gak mengusirnya. Bunda cuma ngegeretak saja tapi Sena malah beneran pergi... Huk... huk... huk.." Bunda menangis. Dia tak dapat membayangkan Puteri dan cucu nya tidur diemperan toko.
Kak Mita menghela nafas. Bunda curhat tentang kelakuan Lana. Sudah dibelanjaain tapi gak mau masak.
__ADS_1
"Ya bagaimana Sena mau pulang lagi kesini, Bun? Yang ada bakalan ribut terus. Yang itu ngandelin terus. Yang ini mati kecapean jadi babu." Kata Kak Mita.
"Gak... Dia tadi udah merapikan peralatan dapurnya dan bawa keatas. Dia masak sendiri diatas. Rugi kali Dia, masakannya dimakan sama keluarganya Tino." Kata Bunda.
"Kita dirumah sendiri tapi ngikutin aturan orang ya Bun." Sindir Mita.
"Ya gitu deh Mita. Bunda harus ngimbangin perasaan Mereka satu persatu. Kalau gak ingat sama Rizki dan Alvi, masih kecil, udah Bunda tinggal kabur pulang kampung." Bunda terlihat kesal.
"Sabar ya Bun." Kata Mita.
___________________________
Ponsel Sena kembali berdering tapi Sena enggan mengangkatnya. Sella hanya menggeleng melihat Sena yang gak mau menjawab panggilan telpon dari Fajri.
"Sena... Kak Novi nanyain Lo, kenapa Sena nginep disini? Kan udah punya suami." Kata Sella.
"Terus Lo bilang apa?" Tanya Sena.
"Gw bilang lagi ada masalah sama suaminya." Kata Sella. "Kata Kak Novi kalau ada masalah dengan suami Lo, selesaikan baik-baik, jangan malah kabur-kaburan." Jelas Sella.
Sena menghela nafas. Dia sudah mengerti maksud Kak Novi. Dia gak suka Sena disini lama-lama. Baru dua hari Sena disini.
"Maaf ya Sena... Gw jadi gak enak sama Lo. Kalau ini rumah Gw pribadi, Gw bodo amat Lo mau tinggal selamanya juga gak apa. Tapi Lo kan tahu, Gw tinggal bareng-bareng sama Kakak dan adik Gw." Kata Sella.
"Sena... Tadi Kak Devi telpon. Dia kesepian, Mbak nya pulang kampung lagi. Gak betah." Kata Alpa yang tiba-tiba sudah masuk ke kamar.
Sella sedang mencari-cari sesuatu. "Lo ngapain sih dari tadi gak bisa diem? Tar jatuh aja, manjat-manjat." Kata Sena.
"Ini Dia..." Kata Sella. Dia menjatuhkan sebuah tas. Sena melihatnya.
"Gw punya tas, udah lama gak dipake. Kotor sama debu. Barangkali Lo mau pake, daripada Lo taruh baju Lo di kardus." Kata Sella.
"Punya Lo, Sella?" Tanya Sena.
"Iya punya Gw. Kalau bukan punya Gw, gak berani Gw kasih pinjem ke Lo." Kata Sella.
"Terima kasih Sella. Besok pagi Gw cuci." Sena nampak murung. Sena bingung mau pergi kemana. Airmatanya kembali menetes. Baru saja Dia agak tenang disini. Tapi ini bukan rumah keluarganya. Ini hanya rumah orang tua temannya.
Sella mengusap bahu Sena. "Maafin Gw ya, Gw gak bisa bantu Lo banyak."
"Gak apa Sella..." Kata Sena sedih. "Oh ya Sella, tadi kata Alpa Kak Devi lagi cari pembantu. Gimana kalau Gw aja." Kata Sena.
"Gw gak masalah gak dibayar, asal anak Gw dibeliin susu dan Gw ada tempat tinggal dan dapat makan." Kata Sena.
__ADS_1
"Ya ampun Sena... Sampai segitunya. Lo kan punya ijasah D3 masa jadi pembantu?" Sella merasa gak enak. "Lagian Kak Devi kan kenal sama Lo, gak bakal mau Dia memperkejakan Lo. Masa Teman Gw jadi pembantu Kakak Gw." Kata Sella.
"Ya gw bisa aja kerja di kantoran, terus anak gw sama siapa? Terus buat ongkos Gw kerja selama sebulan darimana?" Jelas Sena.
"Iya juga siihh..." Sela manggut-manggut.
"Kan Kakak sepupu Lo nawarin Lo tinggal di rumah nya. Kenapa Lo gak kesana aja?" Anjuran Sella.
Sena menghela nafas. "Kak Mita itu tinggal di rumah kontrakan. Dia punya anak laki-laki 2 orang dan satu keponakan perempuan. Terus tambah lagi Gw sama anak Gw nyempitin disana?" Sena merasa gak enak.
"Ya juga sih." Kata Sella.
Ponsel Sena kembali berdering. "Huuuhhh... ganggu aja." Gumam Sena.
"Kenapa gak coba lo angkat. Barang kali ada solusinya." Kata Sella.
Sena menggeleng. Dia segera menon- aktifkan ponselnya.
"Udah tidur. Aku pusing." Kata Sena. Sena merasa penat dengan masalahnya. Dia juga sudah memeriksa dompetnya. Uangnya makin menipis. Sena menghela nafas. "Ya Allah...." Batin Sena.
__________________________
Pagi-pagi Sena sudah mencuci pakaian dan tas yang dikasih pinjam Sella.
Rizki sudah bangun dari pagi mendahului Sena. Dia terus mengikuti Sena kemana saja Sena berjalan.
"Nak... Kamu duduk saja nonton tivi. Mama lagi cuci baju... Licin... nanti Kamu kepleset." Kata Sena lembut.
"Ndak au..." Kata Rizki.
Sena menggendong Rizki sambil membawa ember cucian yang tinggal dijemur.
Rizki ikut-ikutan menjemurkan pakaian. Dia terlihat senang membantu Mama nya.
"Ya ampun Sena... Kok anak Mu sampai ke atas?" Tiba-tiba Alpa sudah berada dilantai atas tempat menjemur.
"Iya.. Dari tadi ngintilin Aku terus. Ya udah Aku bawa aja sekalian keatas." Kata Sena.
Alpa tersenyum dan mencubit pipi gembil Rizki.
"Udah selesai..." Kata Sena. "Sekarang Kita mandi." Ajak Sena sambil membawa ember kosong dan menggendong Rizki.
"Ndak au endong." Kata Rizki yang meminta turun.
__ADS_1
"Ya sudah... Mama duluan yang turun tangga." Kata Sena. Sena mengawasi kaki-kaki Rizki yang menapaki anak tangga. Rizki sangat senang naik turun tangga, makanya Sena sangat mengawasinya takut gak ketahuan.