
Sena baru saja selesai membungkus es mambo nya dan segera memasukan kedalam freezer kulkas.
"Sebentar lagi Adzan Maghrib. Tapi kenapa Mas Fajri belum pulang, ya?" Batin Sena, dia mulai cemas.
Bunda sudah kembali dari mengajak Rizki jalan-jalan sore. "Assalamu alaikum.... mau maghrib... sampe rumah deh." Kata Bunda terlihat senang dengan Rizki.
"Wa alaikumussalaam... Duuhh seneng ya jalan-jalan sama Uwo." Kata Sena yang segera mengangkat Rizki dari kereta dorongnya.
"Masuk yuk....Mau maghrib." Kata Sena sambil mendorong keretanya.
"Fajri belum pulang juga, Sena?" Tanya Bunda.
"Belum Bun. Sena juga bingung, Bun. Gak kaya biasanya." Kata Sena.
"Kamu gak jadi belanja?" Tanya Bunda.
"Jadi Bun, nanti minta tolong Bang Tino saja supaya nganter atau naik angkot." Kata Sena.
"Tahu gak pulang-pulang mending dari sore Aku belanja." Batin Sena agak kesal.
Sena pun melaksanakan shalat maghrib. Sena memanjatkan doa.
Sena sudah melipat perlengkapan shalatnya. Ponselnya berdering. Sena mengerutkan keningnya melihat nomor yang tidak dikenal menelponnya.
"Nomor siapa ini? Apa jangan-jangan Mas Fajri?" Sena menekan tombol terima telpon.
"Hallo...." Sapa Sena.
"Dek... Ini Aku..." Kata Fajri.
"Mas Fajri? Kok nomornya beda?" tanya Sena.
"Iya Dek. Mas mau ngabarin, malam ini Mas gak pulang ya... Besok Mas pulang." Kata Fajri yang nampak tergesa-gesa.
"Ada apa Mas? Mas mau kemana?" Tanya Sena penasaran.
"Gak ada apa-apa Dek. Mas lagi ada urusan, besok Mas pulang." Kata Fajri lagi.
"Ada apa Mas sebenarnya?" Sena memaksa.
"Gak ada apa-apa... Mas cuma gak mau Kamu cemas menunggu Aku." Kata Fajri.
"Mas sekarang dimana? Di polsek mana?" Sena langsung menembaknya. Sena ingat akan mimpinya, Sena juga ingat perkataan teman-teman Fajri.
"Aku... Aku lagi di rumah teman.." Fajri masih tak mau jujur.
"Mas di polsek mana?!" Tegas Sena.
Fajri terdiam sesaat. Dia malu akhirnya Dia mengecewakan Sena kembali. "Aku di Polsek C..." Kata Fajri pelan.
"Kenapa Mas? Lalu motor Vina bagaimana?" Tanya Sena.
"Motor Vina ada. Tadi Ibu kesini sama Rino. Kunci motor dibawa Rino." Kata Fajri.
"Kenapa Kamu kasih ke Rino?" Tanya Sena sedikit kesal.
"Aku takut kalau ditinggal malah gak bisa keluar nanti." Kata Fajri.
"Sudah dulu ya. Kamu jaga kesehatan Kamu. Aku gak apa-apa kok. Jaga anak Kita." Pesan Fajri yang langsung memutuskan hubungan telpon.
Sena terkulai lemas.... "Ya Allah... Lagi-lagi Mas Fajri bikin ulah. Sekarang apalagi? Aku harus bagaimana? Aku harus bilang ke siapa? Gak mungkin Aku ngomong sama Bunda." Sena sangat bingung.
__ADS_1
Sena langsung menuju ke rumah Bang Tino. "Bun... Sena mau ke rumah Bang Tino ya." Pamit Sena.
"Ya... Hati-hati... Jangan lupa catatan belanjaannya." Pesan Bunda.
Sena tak menjawab. Pikirannya hanya satu, bicara sama Bang Tino.
"Assalamu alaikum...." Salam Sena setelah tiba di rumah Bang Tino.
"Wa alaikumussalaam.... Jawab Lis. Ada apa Kak Sena?" Tanya nya.
"Bang Tino mana? Kok sepi?" Tanya Sena.
"Bang Tino ke lapangan Kak, sama Kak Lana. Ngajarin anak-anak badminton." Jelas Lis.
"Oh ya udah kalau gitu, Sena ke lapangan Aja." Kata Sena yang langsung meninggalkan rumah itu tanpa menunggu jawaban dari Lis.
Di Lapangan.
Bang Tino sedang mengajari anak-anak yang akan mengikuti pertandingan bulu tangkis antar RT.
Sena menghampiri Bang Tino. "Bang... Sena ada perlu."
"Sebentar, Abang lagi tanggung." Kata Tino.
"Bang ini lebih penting." Mata Sena mulai berkaca-kaca.
Tino melihat wajah Sena yang sudah panik. Dia segera menyingkir dari lapangan. "Ada apa?"
Sena langsung menangis. "Mas Fajri ditahan Bang. Sekarang ada di Polsek C." Kata Sena tak bisa menahan tangisnya.
"Kasus nya apa?" Tanya Tino.
"Sena gak tahu Bang. Tadi Sena tanya, Dia bilang besok juga pulang." Kata Sena masih menangis.
Bang Tino juga berpamitan pada Kak Lana.
Bang Tino langsung pulang mengambil motornya. Bang Tino menanyakan tentang Fajri tapi Sena gak bisa jawab.
Tak lama Mereka sudah naik motor menuju Polsek C.
30 Menit Kemudian Bang Tino sudah memarkirkan motornya di parkiran Polsek C.
Sena langsung menanyakan keberadaan Fajri pada Polisi yang sedang bertugas jaga.
"Di lantai 2 Bu, ruang B." Jelas Petugas itu.
Sena dan Tino bergegas ke tempat yang dituju. Di Lantai 2 Sena celingak celinguk di depan ruang B.
"Gak ada orang Bang. Ruang B sepi.. Di kunci." Kata Sena.
"Sena......" Panggil seseorang.
"Mas Fajri....Itu suara Mas Fajri.." Kata Sena.
"Mas.... Mas dimana?" Sena setengah berteriak.
Fajri mengulurkan tangannya. "Aku disini." Kata Fajri.
Sena melihat tangan yang terulur. Dia dan Tino segera menghampiri.
Fajri berada di ruangan kantor terkunci dengan jendela berjeruji besi.
__ADS_1
"Sena ngapain Kamu kesini? Kamu sama siapa? Aku kan tadi sudah bilang, besok Aku pulang." Kata Fajri yang terlihat sangat malu pada istrinya.
Sena menangis melihat kondisi suaminya yang sudah menjadi seorang tahanan.
Bang Tino menghampiri. Fajri agak terkejut. Dia menunduk malu.
"Kasus nya apa Ji?" Tanya Bang Tino.
"Aku pakai uang dagangan Kantor Bang. Tapi ada kok, cuma belum ditagih." Fajri terus berbohong.
"Memang Kamu pakai berapa banyak Mas?" Tanya Sena.
"29 juta tadi tuntutan dari kantor." Fajri menunduk.
"Buat apa uang sebanyak itu?" Tanya Bang Tino.
"Gak segitu Bang yang Fajri pake. Masih banyak barang yang belum Fajri tagih." Kata Fajri.
"Lalu yang terpakai buat apa?" Tanya Bang Tino sedikit kesal.
Fajri menunduk. "Abang Fajri sakit Bang, selama ini Fajri yang membantu membayar biaya pengobatannya." Kata Fajri.
Sena terperanjat. Fajri tak pernah cerita pada Sena. Dia minta uang buat susu Rizki saja, jawabnya selalu tidak ada. Tapi Sena hanya diam. Dia tak mau menambah beban Suaminya. Sena menahan rasa penasarannya.
"Terus motor gimana?" Tanya Tino yang coba menyelamatkan milik Adiknya yang gak ada sangkut pautnya sama kasus Fajri.
"Ada di depan Bang. Kunci nya sama Rino. Kalau gak gitu, Fajri takut diambil sama kantor. Tadi Ibu juga kesini." Jelas Fajri.
"Kira-kira Kamu bisa bebas dari sini, Ji." Tanya Bang Tino.
"Ibu lagi usahakan uang buat bayar uang yang sudah terpakai Bang. Besok juga Fajri pulang." Kata Fajri percaya diri.
Bang Tino hanya mengangguk.
"Dek... Kamu jangan pikirin Aku, Aku akan baik-baik saja. Malam ini Aku menginap disini, besok Aku pulang." Fajri coba menenangkan Sena.
Sena hanya terdiam.
"Dompet dan ponsel Aku juga sama Rino." Kata Fajri lagi.
Setelah Bang Tino mendapat kejelasan dari Pak Polisi yang baru saja tiba, Mereka pun berpamitan. Sena banyak diam. Banyak tanya dalam otaknya. Dia gak mau mengintrogasi Fajri, ada Bang Tino.
"Besok kalau Mas Fajri pulang, baru Aku akan meminta penjelasan darinya." Batin Sena.
___________________
"Loh mana belanjaannya?" Bunda terlihat heran.
Sena langsung masuk ke kamar menggendong Rizki.
Ibu terlihat bingung. Ibu meminta jawaban dari Bang Tino.
Tak lama Bang Tino masuk ke kamar Sena. "Kamu tenangkan diri Kamu. Gak usah dipikirin. Kan keluarganya sudah mengurusnya." Kata Bang Tino.
Sena hanya mengangguk. Bagaimana pun Sena sangat malu pada keluarganya, Fajri lagi Fajri lagi yang membuat ulah.
Terdengar deru motor Bang Tino meninggalkan rumah Bunda. Bang Tino sudah berpesan pada Bunda untuk tidak banyak bertanya pada Sena.
"Sena kelihatannya sangat terpukul, Bun." Itu yang dikatakan Bang Tino tadi pada Bunda.
Sena menangis di dalam kamarnya. Dia mengingat warungnya belum Dia tutup. Sena bergegas menutupnya dan membereskan semua barang dagangannya.
__ADS_1
Sena kembali menangis di kamarnya. Dia terus terisak hingga menjelang pagi.