Aku Bukan Wonder Woman

Aku Bukan Wonder Woman
Idul Fitri


__ADS_3

Fajri mengajak Sena jalan-jalan ke monas untuk takbiran. Fajri memang sengaja sebelum Mereka ke rumah Ibu nya.


Sena memegang mangkuk yang berisi rendang pesanan Ibu Fajri.


Suasana Jakarta sangat padat. Mereka mengumandangkan takbir keliling Jakarta.


Fajri melajukan motornya perlahan. Fajri memakai motor dagangan Rino yang belum terjual. Rencana nya besok ada yang akan melihat motor itu.


"Mas... Aku cape. Ini rendangnya lumayan berat." Rengek Sena.


"Satu putaran lagi ya. Aku kangen sama Kamu. Nanti di rumah Ibu Kita gak bisa berduaan. Sudah pada datang saudara-saudaraku." Kata Fajri.


Sena hanya mengangguk. Dia pasrah menahan rasa letih dari pagi belum istirahat.


Sena menyenderkan kepalanya ke pundak Fajri.


"Kamu ngantuk ya?" Fajri menarik tangan Sena.


Sena hanya mengangguk. "Aku belum istirahat dari pagi." Kata Sena.


"Ya sudah, Kita pulang ya." Kata Fajri. Dia melajukan motornya dengan kecepatan agak tinggi setelah melewati kemacetan di lingkungan Monas.


Jam 00.10, Mereka tiba di depan rumah Orangtua Fajri. Sena menunggu Fajri yang sedang memarkir motornya dan menggemboknya.


Fajri menggandeng tangan Sena dan membawakan tas baju yang Sena bawa.


Situasi rumah sudah gelap. Hanya Bapak yang masih terjaga sedang nonton tivi. Sena mencium punggung telapak tangan Bapak.


Assalamu alaikum... Salam Sena.


" Wa alaikumussalaam.... Kamu sehat Nak?" Tanya Bapak.


"Alhamdulillaah sehat Pak." Kata Sena.


Fajri sedang merapihkan kamarnya.


"Kamu istirahat sana. Sudah malam." Pinta Bapak.


Sena mengangguk. Dia merapihkan rendang bawaannya. Menaruhnya ke dalam lemari makan.


Fajri menghampiri Sena. Dia menggandeng tangan Sena dan mengajaknya masuk ke kamar.


"Aku cuci muka dan kaki dulu ya Mas." Kata Sena yang sudah terbiasa mencuci wajah dan kakinya, malah Sena biasa mandi terlebih dahulu jika akan tidur. Tapi disini Sena masih tak enak.


Fajri mengangguk. Dia meletakan Tas Sena di dalam kamar.


Tak lama Sena sudah berada didalam kamar. Fajri segera mengunci kamar dan mengajak Sena ke tempat tidur.


Fajri mulai melucuti pakaian Sena.


"Maaasss...." Sena malu.


"Aku kangen. Aku ingin..." Kata Fajri yang sudah menciumi leher Sena.


Mereka pun menyatukan cinta Mereka. Fajri mengulangnya hingga beberapa kali.


_____________________


Pintu kamar diketuk. Sena mengerjabkan matanya.


"Maaasss..." Sena membangunkan Fajri karena suara ketukan memanggil nama Fajri.


"Hhmmm..." Fajri masih malas membuka matanya. Dia malah memeluk tubuh Sena.


"Mas dipanggil Ibu." Kata Sena pelan.


"Kamu mandi gih, Ibu ngajak shalat Id." Kata Fajri.


Sena mengangguk dan membuka tas nya mengambil handuk. Juga pakaian dalamnya.


Sena membuka pintu.

__ADS_1


"Fajri sudah bangun?" Tanya Ibu.


Sena menggeleng. "Tidur lagi Bu." Sena bergegas masuk kamar mandi.


10 menit kemudian Sena keluar dari kamar mandi, Sena tak enak berlama-lama mandi. Karena sudah diketuk dari luar. Antri yang mau mandi.


Sena menunduk dan segera masuk ke kamar. "Mas... Bangun..." Sena membangunkan kembali Fajri.


Fajri malah menarik tubuh Sena ke kasur dan ingin mengulangnya kembali.


"Mas... Aku lagi dapet." Kata Sena tersipu malu.


Haah? Sejak kapan? Fajri nampak kecewa.


"Gak tahu. Kaya nya baru. Tadi Aku mandi Aku lihat sudah datang." Kata Sena.


Fajri bergegas bangun dan duduk dipinggir ranjang. Fajri melihat Sena yang membuka bajunya dan mengganti dengan baju muslim yang seragam dengannya.


Fajri tersenyum. "Kamu pintar ya ngejahit baju. Baju nya pas sama Kamu." Puji Fajri.


Sena tersenyum. "Mas mandi gih." Pinta Sena.


"Ada siapa di kamar mandi?" Tanya Fajri.


"Tadi sih Reza yang mau mandi." Kata Sena.


Fajri mengambil handuknya dan bergegas ke kamar mandi.


Sena menyiapkan baju dan celana panjang untuk Suaminya. Tak lama Fajri sudah berada di kamar.


"Cepet banget Mas mandinya. Bersih gak tuh?" Canda Sena.


"Aku sudah mandi junub." Fajri tersenyum.


"Mas gak shalat subuh?" Tanya Sena.


Fajri menggeleng. "Belum insaf." Canda Fajri.


Tapi Sena mendapat laporan dari Ibu, Fajri selama pulang kesini tak pernah Puasa.


Sena memang sangat kecewa dengan sikap suaminya. Tapi Sena tak dapat berbuat apa-apa.


Padahal Bapak sangat rajin berpuasa, Senin dan kamis, juga puasa Ramadhan. Juga shalat lima waktu.


Fajri mengenakan baju Koko hasil jahitan Sena. Fajri sangat senang memakainya. Dia mencium kening Sena.


Kemudian Mereka keluar kamar. Keluarga Fajri sangat takjub melihat penampilan Sena dan Fajri yang seragam.


"Wah Sena... Tahun depan Mas Alif mau juga dong jahit baju seragam." Canda Mas Alif.


"Ya Mas, boleh." Kata Sena.


"Ibu juga mau, buatin juga buat Bapak." Kata Ibu.


"Insya Allah Bu." Kata Sena.


Mereka pun bergegas pergi ke lapangan dekat Masjid untuk melaksanakan Shalat Idul Fitri.


Sena dan istri Mas Alif, Dijah di rumah karena sedang berhalangan.


Sena merapikan rumah, menyapu dan mengepel. Kemudian memotong-motong ketupat.


Kata Kak Dijah: "Disini biasa kalau Hari Raya Idul Fitri, Ibu menyiapkan ketupat sudah dipotong, nanti Mereka tinggal menyendok."


Sena mengerjakan apa yang dikatakan Dijah. Dijah tak melakukan apa-apa. Dia hanya menonton tivi.


Jam 7.30, Keluarga Fajri sudah tiba di rumah. Mereka saling bermaafkan dan sungkem kepada Ibu dan Bapak.


"Ayooo... Semuanya... Makan...." Ajak Ibu. "Sudah dihangatkan sayurnya, Sena?" Tanya Ibu. Ibu tahu kalau Dijah tak akan melakukan pekerjaan itu karena Dijah pemalas.


Sena mengangguk. "Sudah Bu. Ketupat juga sudah dipotong." Kata Sena.

__ADS_1


Mereka pun mengambil makan yang sudah disiapkan Sena. Sena mengambilkan Fajri makan.


Mereka pun makan bersama di ruang tamu. Tak lama datang Suci, Adik bungsu Fajri bersama Suaminya, Rino. Mereka dari rumah orangtua Rino.


"Assalamu alaikum..." Salam Suci dan Rino.


"Wa alaikumussalaam..." Jawab Mereka.


Suci menggendong Putrinya yang baru berusia 3 bulan, tak jauh dari usia anak Bang Tino yang kecil.


Suci dan Rino sungkem pada Bapak dan Ibu. Ibu langsung menggendong Dara. "Cucu Umi." Kata Ibu.


"Bu... Ada yang lain nih rumah?" Tanya Suci.


"Lain gimana?" Tanya Ibu bingung.


"Lebih rapih dan bersih." Kata Suci.


"Pasti Kak Sena nih yang merapikan dan membersihkan. Kalau Kak Dijah gak mungkin." Canda Suci.


Mereka tertawa. Sena hanya menunduk. Fajri merangkul bahu Sena. Fajri menyuapi Sena.


"Pengantin baru, mesra mulu ya Bu..." Goda Rino.


"Sirik aja lo Rin." Kata Fajri.


Mereka tertawa melihat keakraban keluarga mereka.


Mereka telah selesai makan, piring kotor numpuk. Fajri menarik tangan Sena untuk tidak mencuci piring. "Biar yang lain yang mengerjakan." Bisik Fajri.


"Dijaahh...!" Panggil Mas Alif.


"Ya Mas..?" Tanya Dijah.


"Cuci piring... Tadi Sena sudah bebenah dan masak." Kata Mas Alif.


Dijah menggerutu.


Istri Mas Dwi, Wati membantu Dijah mencuci piring.


Seluruh keluarga bersenda gurau di ruang tamu. Ibu mengeluarkan nastar yang tempo hari dibuat. Memindahkan pada toples kristal.


Sena membantu Ibu menatanya. Mas Alif tersenyum melihat Sena yang rajin.


Mas Alif mengeluarkan Dompet dan memberikan beberapa lembar uang 10 ribu untuk Sena.


"Sena.... Ini buat Kamu." Kata Mas Alif.


Sena menoleh kearah Fajri. Fajri mengangguk.


"Terima kasih Mas." Kata Sena yang menerima pemberian Mas Alif.


"Kok Suci gak Mas?" Suci manja pada Kakak tertuanya.


"Kamu kan sudah dapat dari Rino." Canda Alif.


Rino memberikan uang pada Fajri. "Fajri, nih bonus yang kemarin."


"Thanx ya." Kata Fajri yang menerima uang bonus dari Rino.


"Kok Ibu gak ada yang kasih." Ibu juga minta.


Mas Alif memberi uang pada Bapak. "Ibu kan kemarin sudah." Kata Alif.


Ibu mengrucutkan bibirnya.


"Fajri sudah ngasih rendang buat Ibu. Sena yang masak." Canda Fajri.


"Enak loh rendangnya. Sena pinter masak ya." Puji Mas Alif.


"Sena masih belajar Mas." Kata Sena menunduk.

__ADS_1


__ADS_2