Aku Bukan Wonder Woman

Aku Bukan Wonder Woman
Demam


__ADS_3

Andi mengantar Sena sampai jalan raya di depan gang menuju pintu kecil perumahan Ibu Sena.


Andi terus memperhatikan Sena sampai Sena tak terlihat lagi. Sena memang tak mengijinkan Andi mengantar nya sampai depan rumah. Dia tak ingin para tetangga yang usil, bergosip ria tentang diri nya. Apalagi status nya belum sah bercerai dengan Fajri.


Pagi hari, sesuai kesepakatan, Andi menunggu Sena di tempat kemarin mengantar Sena.


Sena sudah terlihat oleh Andi, Andi dengan motor nya langsung menghampiri Sena.


"Kok lama Dek?" Tanya Andi.


"Maaf Bang, tadi Sena beli nasi uduk dulu. Abang belum sarapan juga, kan?" Tanya Sena.


Andi tersenyum. Dia mengelus kepala Sena. Sena naik ke jok motor. Andi melajukan kendaraannya.


Sampai Kantor baru jam 6.15. Terlalu pagi untuk Sena berada disana. Warung nasi depan kantor Sena juga belum buka.


"Kita sarapan di sana saja, Bang." Ajak Sena menunjuk kursi panjang yang berada di samping warung nasi.


Andi melajukan motor nya ke warung nasi. Baru saja Sena hendak duduk, Andi langsung memeluk Sena dan mencium bibir Sena.


"Aabbbaaaang... Hhmmmm..." Sena ingin menolak tapi hasrat nya terlanjur membuncah saat sentuhan itu tak dapat Dia tolak.


Hingga Mereka perlu mengambil udara, Sena langsung mendorong tubuh Andi. Abaaang... Sena kan mau sarapan. Sena mengrucutkan bibirnya.


"Abang kangen. Gak sabar ingin ketemu Kamu... Hehehehe.." Kata Andi sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Tapi kan gak harus ciuman kan? Sena kan udah di depan Abang." Sena masih mengrucutkan bibir nya.


"Kalau bibir nya masih manyun gitu, Abang tambahin nih." Goda Andi.


Sena langsung membekap bibir nya sendiri.


Andi tertawa senang karena bisa menggoda Sena. Andi mengambil bungkus nasi uduk nya dan langsung membukanya. "Kalau mulutnya ditutup terus, kapan makannya? Ini udah jam 6.25 loh." Kata Andi santai sambil menyuap nasi uduk nya.


"Lagian Abang... Pagi-pagi udah ngidam rujak!" Sewot Sena.


"Rujak bibir yah?" Andi tersenyum. "Makanya Sena, Kita cepat-cepat nikah, jadi Abang gak kesepian terus." Canda Andi.


Sena hanya diam sambil menyuap nasi uduk nya.


Sena teringat sebuah pesan dari orang Asing itu, kalau Dia mengetahui tentang Sena, semua nya. Sena menerka-nerka kalau Dia teman dekat kampus nya. Tapi masa iya temen Kampus berteka-teki pada nya.


"Kok bengong sih? Bukannya makan malah bengong." Andi mengusap bibir Sena dengan Ibu jari nya. Andi sudah selesai sarapan.


"Cepet banget Bang makannya?" Tanya Sena.


"Abis Abang laper, mau makan Kamu, ama Kamu gak boleh." Bisik Andi sambil menggigit telinga Sena.

__ADS_1


"Aauuuu... Abang iihhh..." Sena mengelus telinganya.


Andi hanya terkekeh. Dia mengambil sendok dari tangan Sena dan mulai menyuapkan nasi ke mulut Sena.


"Kalau gak disuapin, gak selesai-selesai makannya. Bengong mulu iihhh..." Ketus Andi.


"Sena gak bengong." Bela Sena.


"Terus ngapain lama makannya?" Tanya Andi.


"Sena seret Abang... Mau minum gak ada air nya..." Kata Sena berbohong.


"Biasa nya Kamu bawa minum." Kata Andi.


Sena terkekeh. "Oh iya.. Sena lupa." Sena langsung membuka ransel nya dan mengambil botol minum nya. Sena meneguk nya dan menyodorkan pada Andi.


Usia Sena dan Andi memang terpaut 9 tahun. Usia Sena 31 tahun dan Andi 40 tahun. Namun pembawaan Andi yang selalu ceria, membuat Dia nampak lebih muda dari usia nya. Andi memang tidak setampan Rasya. Namun Sena tak pernah mempermasalahkannya.


Tak lama Sena masuk ke gerbang kantor nya setelah sebelumnya Andi meminta jatah bibir Sena lagi. Kali ini Andi membuat bibir Sena sedikit bengkak. Andi sengaja agar teman kerja Sena yang laki-laki tidak lagi menggoda Sena.


Sena malah jadi sangat kesal pada Andi. Karena Sena malu kalau sampai terlihat oleh temannya, bibir nya biru dan sedikit bengkak.


Setengah berlari Sena menuju Loker untuk berganti pakaian. Sena melihat wajah nya di cermin. Sena membasuh wajah nya. Kemudian menyeka nya dengan tissu. Sena memulas bibir nya tipis-tipis dengan lipstik warna senada dengan bibir Sena yang tidak merah.


_________________________


Jam sudah menunjukkan pukul 19.30. Sena belum juga keluar gerbang. Andi mulai gelisah. Andi menghampiri Lili yang baru saja keluar gerbang.


"Dek... Maaf... Sena nya sudah pulang belum?" Tanya Andi ramah.


"Oohhh masih di dalam Pak. Tadi masih di loker, ganti baju." Kata Lili.


"Oohhh.. Terima kasih yah..." Kata Andi ramah.


Lili tersenyum dan berlalu dari sana.


Lili dan Tina berbisik. "Kak... Itu kayak nya semut kepala item yang bikin bibir Kak Sena bengkak." Lili terkikik.


"Kita tunggu Sena keluar. Kita gangguin nanti." Kata Tina.


Lima menit kemudian Sena keluar dengan tidak semangat. Wajah nya tertunduk ĺesu.


Andi yang melihat Sena langsung menghampiri nya dan menarik pinggang Sena. "Kamu kenapa?" Andi menyentuh kening Sena. "Kok anget? Tadi siang makan gak?" Kata Andi perhatian.


Sena hanya diam tak menjawab.


Tina dan Lili yang melihat Sena tak bersemangat, mengurungkan niat nya menggoda Sena.

__ADS_1


"Jangan sekarang Li....Kayak nya Sena gak enak badan. Tuh muka nya pucat gitu." Kata Tina.


"Iya Kak... Kita balik sekarang aja yuk...." Ajak Lili.


Tina mengangguk. Dan Mereka segera meninggalkan area kantor Mereka.


"Ditanya diam aja iiihhh..." Andi jadi gemas.


Sena tetap membungkam mulutnya.


Andi menstarter motor nya. Menarik tangan Sena dengan lembut agar Sena segera naik ke motor. Dengan lesu Sena naik ke motor.


Andi menarik tangan Sena agar memeluknya. Sena hanya menurut. Andi menggenggam telapak tangan Sena dengan tangan kirinya.


20 menit kemudian Andi menghentikan laju motor nya di sebuah tenda pecel Lele. "Kita makan dulu yah..." Bujuk Andi dengan lembut.


Andi memesan satu lele goreng, satu ayam paha, satu nasi uduk dan satu nasi biasa.


Andi merangkul bahu Sena. Dia sedikit memijit bahu Sena. Sena menyandarkan kepala nya ke bahu Andi. Andi menempelkan telapak tangannya ke kening Sena.


"Tambah anget. Makan dulu yah... Abis itu ke Dokter, terus langsung pulang." Kata Andi.


"Gak usah ke Dokter. Sena mau cepet sampe rumah. Sena mau tidur." Kata Sena manja.


"Yah udah... Tapi makan dulu yah?" Pinta Andi.


Sena mengangguk.


"Ya Allah... tadi pagi gak kenapa-napa... Kenapa sekarang jadi sakit begini?" Batin Andi.


Tak lama pesanan Mereka sudah tersedia. Andi melahab makanannya, tapi Sena hanya melihatnya saja.


Mau tak mau Andi mengambil piring nasi Sena dan menyuapkan ke mulut Sena. Kemudian gantian menyuap untuk dirinya.


Satu kali suapan Sena, tiga kali suapan Andi. Sena benar-benar tidak nafsu makan.


Setelah makan, Andi tak langsung mengantar Sena pulang. Dia malah mengajak Sena ke belakang gedung kemarin. Andi menstandar dua motor nya dan duduk berhadapan dengan Sena.


Andi melepas tas ransel dari punggung Sena dan menggantung di stang motor nya. Andi memeluk Sena. Andi memijit punggung Sena. Kemudian bahu Sena.


Sena terasa akan muntah. "Kamu masuk angin ini." Kata Andi. "Benerkan tadi siang gak makan?" Tanya Andi.


Sena mengangguk. "Maafin Abang yah... Abang belum dapat uang tadi siang, jadi gak mampir ke kantor Kamu." Kata Andi.


"Gak apa Bang... Sena ngerti kok." Kata Sena pelan.


Andi juga tahu kalau Sena sudah tak memegang uang karena kemarin Rizki sakit dan Bunda membawa nya berobat ke Dokter 24 jam.

__ADS_1


__ADS_2