
Sena mencoba memejamkan mata, namun tak bisa. Dia melirik Andi yang sudah tertidur pulas. Panas, Gerah yang dirasakan Sena.
Sena bangun dari tidurnya dan akan beranjak meninggalkan Andi yang terlelap. Namun tangan Andi menarik tangan Sena.
"Mau kemana?" Tanya nya yang mengantuk.
"Gerah, Bang... Sena gak bisa tidur." Kata Sena merengek.
Andi bangun dan menyalakan kipas angin. "Tidur lagi yah. Abang gak mau jauh dari Kamu." Pinta Andi.
"Sena sempit Bang, tidur disitu." Sena mengrucutkan bibirnya.
Andi menggelar tiker di lantai. Kemudian Dia mengambil bantal dari atas kasur yang Sena tempati. "Kamu tidur deh. Abang dibawah saja." Kata Andi seraya merebahkan dirinya.
Sena menghela nafas. "Itu lebih baik." Batin Sena.
Sena kembali memejamkan mata nya. Tapi tak juga bisa Dia pejamkan. Tubuh Sena berguling ke kanan lalu ke kiri. Tempat tidur Andi berdenyit. Andi melongok ke atas tempat tidur.
"Ada apa, Sayang?" Tanya Andi.
"Belum bisa tidur." Kata Sena pelan.
Andi bangun dan duduk ditepi tempat tidur. Dia memijat pelan pelipis Sena dengan lembut. Sena terus mencoba memejamkan mata. Tapi tetap saja tidak bisa. Dia membuka matanya dan melihat Andi yang terkantuk mengelus kepalanya.
Sena akhirnya pura-pura tidur agar Andi melanjutkan tidurnya. Andi merasakan Sena yang sudah tenang. Dia kembali ke tikar dan merebahkan tubuh nya. Namun Andi juga tak bisa melanjutkan tidur nya. Dia beranjak bangun dan keluar dari kamar. Menutup pelan pintu kamarnya.
Sena membuka matanya. Sena mengambil tempat minum nya dan meneguknya. Dia mengambil tisu dan membasahi tisu itu kemudian mengelap tubuh nya yang terasa lengket karena belum mandi.
Sena merasakan adem dikulit. Kemudian Dia mengoleskan minyak kayu putih ke keningnya dan seluruh lehernya. Sena mencoba merebahkan lagi tubuh nya. Rasa hangat dari minyak kayu putih dan aroma nya yang sangat Sena sukai membuat Sena dapat terlelap.
Sena serasa bermimpi, baru saja seperti nya Dia terlelap, Seseorang menciumi wajah nya dan juga leher nya. "Sayaaaang... Makan dulu yuk, nanti tidur lagi." Sayup-sayup suara itu terdengar.
Sena masih memejamkan mata. Tapi tubuhnya serasa diguncang. "Dek, makan dulu yah, udah siang nih, dari pagi Kamu belum makan kan?" Suara itu lagi.
"Hhhmmmm... Aku masih ngantuk... Nanti aja..." Rengek Sena. Namun perutnya berbunyi dan terasa perih.
"Tuuhhh cacing perutnya udah gak sabaran minta diisi." Kata Andi yang langsung mengangkat punggung Sena agar duduk. Sena masih memejamkan mata.
"Iiihhhh Abang...." Sena mengrucutkan bibirnya tapi masih memejamkan mata. "Jam berapa lagi Aku bakal bisa tidur tenang?!" Sena menarik ulur kan kaki nya seperti anak kecil yang sedang ngambek.
"Abis makan Abang janji gak akan ganggu Kamu. Buka dong matanya, masa makan sambil merem?" Canda Andi.
Sena mengrucutkan bibirnya. "Tau gini mending tadi Sena pulang aja ke rumah. Kalau hari ini Sena libur sih, gak masalah, tapi Sena kan nanti kerja lagi." Gerutu Sena.
__ADS_1
"Yaaa... Abang minta maaf.. Tapi Ibu maksa Abang buat anter makan Kamu. Kamu kan belum makan. Teh manis aja tadi gak diabisin." Kata Andi.
Mau gak mau Sena membuka mulutnya karena Andi sudah menyendok nasi nya dan menyodorkan ke bibir nya. Dengan sabar Andi menyuapi Sena.
Sesekali Sena menguap karena ngantuk.
"Kenapa wangi minyak kayu putih?" Tanya Andi cemas. "Sena sakit?"
"Sena mual, enek..." Kata Sena enggan.
"Belum juga dimasukin masa udah hamil duluan?" Canda Andi.
Tangan Sena mencubit paha Andi dengan kencang. Andi menjerit kesakitan.
"Aaaaccchhhh.... Sena!!" Teriak Andi.
"Syukur.... Lagian punya mulut usil banget." Sena terkekeh. Rasa kantuknya hilang karena berhasil melampiaskan kekesalannya.
Andi menggosok-gosok pahanya yang kena cubit Sena. "Ya ampun Sena, kalau nyubit gak kira-kira."
"Biar rasa. Lagian dari tadi gangguin Orang tidur mulu." Kata Sena merasa puas.
Andi kembali menyuapkan nasi sambil sesekali mengelus paha nya.
"Baru juga lima suap." Kata Andi yang kembali menyodorkan sendok ke mulut Sena.
Sena menggeleng. "Gak mau... Nanti Sena beneran muntah nih." Kata Sena mengrucutkan bibirnya.
"Ya udah... Abang yang abisin." Kata Andi langsung menyantap nasi di piring. Sedangkan Sena kembali merebahkan tubuh nya sambil memegang perutnya yang terasa perih karena mual.
"Kenapa perutnya dipegangin?" Tanya Andi.
"Orang udah dibilang mual." Kata Sena yang mencoba memejamkan mata.
Andi meletakkan piring kosongnya diatas meja. Dia menyentuh kening Sena. "Hangat." Kata Andi.
Andi mengambil telapak tangan Sena dan memijat antara jari telunjuk dan Ibu jari. Sena meringis kala Andi memencet telapak tangannya.
"Sakiiitttt... Bang..." Rengek Sena.
"Lemasin aja.... Nanti sakit perutnya ilang deh." Kata Andi yang terus memencet telapak tangan Sena.
Sena makin meringis tapi Dia tahan. Mata nya kembali mengantuk. Tak lama Sena terlelap. Andi merasa Sena tak lagi meringis malah nafasnya terdengar teratur.
__ADS_1
"Aku tahu, Kamu menahan hasrat Mu... Makanya jadi mual." Gumam Andi. Andi kemudian keluar dari kamar membawa piring kosongnya. Tak lama Dia kembali masuk ke kamar.
Andi memandangi wajah Sena yang tertidur dengan tenang. Sesekali Andi melihat wajah Sena yang meringis seperti menahan sakit. Andi mengusap kepala Sena dengan lembut. Membalurkan minyak kayu putih yang dari tadi digenggam tangan Sena ke perut Sena.
Jam menunjukkan pukul tiga sore. Rasa nya baru saja Andi terlelap sambil duduk tertidur disisi ranjang Sena.
Sena mengerjapkan mata karena merasa perutnya terasa berat. Sena melirik ke samping, Andi tertidur duduk dilantai dengan kepala bertopang kasur yang Sena tempati.
Sena meraba ponsel nya yang berada di bawah bantal. Sena melihat banyak sekali panggilan tak terjawab dari Aldi. Dan juga beberapa pesan. Tapi Sena tak membukanya. Sena tak ingin nanti Andi marah pada nya karena masih meladeni telpon dari si KUNYUK itu.
Sena kembali memejamkan mata. Rasa nya kurang sekali Dia tertidur. Sebentar saja Sena kembali terlelap.
Baru saja, Andi terbangun. Dan menciumi wajah Sena. "Sayaaang... Bangun... Udah sore. Kata nya mau pulang dulu ganti baju...."
"Hhhmmmm.....Masih ngantuk..." Kata Sena.
"Nanti telat berangkat kerjanya." Kata Andi yang sudah menindih tubuh Sena.
"Iiihhhh... Abang... Berat...." Nafas Sena tersengal.
"Hehehehe... Lagian susah banget dibanguninnya. Udah jam setengah empat tuh." Andi menunjukkan jam pada ponsel nya.
"Iyaaaa... Tapi Abang minggir dulu dong, Sena keberatan nih." Kata Sena sambil mendorong dada Andi.
Andi malah menangkup punggung Sena dan berguling perlahan. Membuat tubuh Sena kini berada diatasnya.
Andi membungkam bibir Sena. Memainkan lidah nya disana.
"Hhhmmm... Bau iler Abang...." Kata Sena saat melepaskan bibir nya.
"Bau iler Kamu enak." Andi kembali merengkuh leher Sena. Dia berguling lagi. Kini posisi Sena dibawah Andi. Andi menyingkap kaos Sena ke dada.
"Abaaang.... Nanti Aku mual lagi..." Rengek Sena.
"Maka nya dimasukin aja biar gak mual." Canda Andi.
Sena memukul lengan Andi. Andi meringis. Andi mengesap dada Sena dengan lembut.
"Udaaahhh Baaang...." Sena menahan desahannya.
Andi meninggalkan tanda disisi puncak dada Sena. Kedua nya. Andi menurunkan kaos Sena. Dan mengecupi wajah Sena. "Abang sayang banget sama Kamu."
Sena memejamkan mata karena perlakuan Andi.
__ADS_1