Aku Bukan Wonder Woman

Aku Bukan Wonder Woman
Di Usir Dari Kontrakan


__ADS_3

Sebulan berlalu. Waktunya bayar kontrakan. Yang punya rumah sudah menagih. Fajri belum pulang dari pelabuhan.


"Suami Saya belum pulang Bu." Kata Sena.


"Ini kok listrik belum dibayar dua bulan?" Ibu itu kesal. Tetangga Sena, Mama Ozi sudah pindah diam-diam meninggalkan kontrakan penuh sampah. Listrik dua bulan belum dibayar.


"Bu... Kalau listrik Saya kan berdua. Saya kalau mau bayar nunggu yang sebelah bayar. Tapi Mereka janji-janji terus. Saya gimana mau bayar listrik." Jelas Sena.


"Kalau dulu, Bu Juju yang bayarin nanti Saya tinggal bayar separuh dari tagihan." Kata Sena lagi.


"Ibu gak tahu, Mereka pindah kemana? Itu abis pada rusak temboknya. Bohlam satupun gak tersisa? dibawa semua sama Dia." Kata Ibu pemilik kontrakan.


"Saya gak tahu Bu. Saya gak terlalu kenal, hanya sekedar bertegur sapa saja." Kata Sena.


Anak Ibu itu sudah memasang wajah garang. Tapi Sena tak menggubrisnya.


"Ya sudah Bu, begini saja. Nanti listrik Saya bayar, Ibu tinggal bayar separuh saja." Kata yang punya kontrakan.


Sena mengangguk. "Kalau uang listrik, Saya ada Bu. Saya memang sudah menyimpannya." Sena beranjak ke kamar dan mengambil uang listrik.


"Nih Bu." Sena menyerahkan uang listrik selama dua bulan.


"Nanti kalau kurang saya minta lagi, ya Bu. Kalau lebih dipotong ke kontrakan saja." Kata Ibu itu.


Sena mengangguk. "Ya Bu terima kasih. Nanti uang kontrakannya Saya tunggu Suami Saya pulang."


Ibu itu memberikan nomor ponselnya. Sena mencatatnya. Mereka pun meninggalkan kontrakan setelah membuang sampah dari kontrakan yang sebelah.


Selang Satu Jam Fajri tiba di rumah.


Sena membiarkan Fajri istirahat sebentar sambil sarapan. Kemudian.


"Mas... Yang punya kontrakan sudah nagih. Sebelah rumah kabur, jadi Kita juga ikut dicurigai." Kata Sena.


"Aku belum ada uang. Baru nanti malam Aku terima." Kata Fajri.


Sena memberikan nomor telpon Ibu yang punya kontrakan. "Mas telpon yang punya rumah yah. Biar enak." Pinta Sena.


Fajri menuruti dan segera menghubungi Mereka. Tak lama....


"Nanti malam Aku kabari Mereka lagi. Aku mau tidur dulu." Kata Fajri seraya masuk ke kamar.


Sena menghela nafas. "Ya Mas."


___________________


Tok... tok.... tok.... Terdengar ketukan pintu tetapi seperti gedoran.


Sena mengerjabkan mata. Sena baru saja bisa terlelap karena semalaman Rizki rewel karena sedang sakit.


"Astaghfirullaah... Jam berapa ini? Sena melihat jam di ponselnya. Ya Allah... Jam 6 pagi, siapa yang gedor-gedor pintu?" Rizki menangis karena kaget mendengar suara gaduh dari luar pintu depan.


Sena langsung menggendong Rizki yang masih menangis. "Cep-cep-cep... Jangan nangis... Nih Mama..."


Gedoran tambah kencang. "Yaaa Sebentar..!!" Teriak Sena kesal.


Sena membuka kunci pintu dan membukanya sambil masih menggendong Rizki.

__ADS_1


"Eh Bu..! Mau ngebohongi Kami ya?" Anak Ibu yang punya kontrakan langsung nyap-nyap.


Para tetangga sudah menonton. Karena ada keributan di pagi hari.


"Bohong apa ya Mas?" Tanya Sena yang belum membuka gembok gerbang karena sudah disemprot duluan.


"Katanya Suami Ibu mau telpon, mana?! Dia gak kasih kabar!" Anak Ibu itu terus emosi.


"Mas kalau itu marahnya sama Suami Saya, kenapa bentak-bentak Saya yang gak tahu apa-apa? Pagi-pagi sudah cari keributan. Ini memang rumah Mas, tapi punya sopan santun dikit dong bertamu ke rumah orang." Kata Sena yang juga tersulut emosi.


"Alaahh.. Banyak omong lo!" Dia menendang gerbang teras hingga lepas dari rel nya.


"Ancurin aja Mas. Bukan rumah Saya ini. Gak punya malu, bikin keributan di kampung orang." Sena santai.


"Eh keluar Lo dari sini kalau gak mau bayar kontrakan!" Kata Anak Ibu itu lagi.


"Yang gak mau bayar siapa?! Baru telat 1 hari saja udah kaya nagih uang milyaran. Duuhhh gimana kalau Lo kaya ya?" Ejek Sena.


Anak itu ingin melompati pagar karena panas dengan ucapan Sena yang menusuk hati. Tapi tetangga Sena yang menonton tak tinggal diam. Dia memegang tubuh pemuda Itu.


"Eh Mas... Yang sopan ya di kampung orang. Disini yang punya kontrakan bukan Kamu aja, Saya juga punya kontrakan tapi gak begini caranya nagih." Kata Bang Mamat kesal.


Anak Ibu itu ditarik menjauh dari rumah Sena sambil teriak-teriak gak jelas.


"Sena ada apa?!" Tanya Umi kaget yang baru pulang dari warung.


"Gak tahu Umi. Sena juga kaget, semalaman gak bisa tidur karena Rizki lagi sakit. Pagi-pagi udah digedor-gedor. Tuh lihat Mi." Sena menunjuk pagar yang ditendang keluar dari rel nya.


"Astaghfirullaah..." Kata Umi.


"Bu Sena, maaf ya atas kelakuan anak Saya." Kata Ibu itu yang dari tadi diam saja dengan kebrutalan Puteranya.


Yati membantu menggeser gerbang. Sena sudah masuk kedalam. Ibu yang punya kontrakan masuk. Umi juga ikut masuk.


"Assalamu alaikum." Salam Ibu itu.


"Wa alaikumussalaam..." Jawab Sena. "Silahkan duduk Bu." Kata Sena yang menahan kesal.


"Maaf Bu Sena. Kemarin Suami Ibu janji mau kasih kepastian. Ditunggu-tunggu gak ada kabar." Kata Ibu itu.


"Bu... Saya gak tahu suami Saya janji apa. Tapi gak gini juga caranya. Gara-gara yang sebelah kabur, Ibu dan anak Ibu melimpahkan kekesalan pada Saya. Saya gak akan kabur Bu. Rumah Bunda Saya dekat dari sini. Ibu ajak saja Umi ke rumah Bunda kalau Saya kabur. Umi juga tahu rumah Bunda Saya." Kata Sena yang masih kesal.


"Bu.. Sena ngontrak disini sudah lama. Gak pernah ribut-ribut sama Bu Juju. Kadang kalau Bu Juju gak sempat nagih kesini, Sena yang ke rumah Bu Juju nganter uang kontrakan." Jelas Umi yang tahu kalau Sena orang jujur.


Ibu itu menunduk malu. "Maaf ya Bu Sena. Ini kemarin uang listriknya sisa 56 ribu." Kata Ibu itu menyerahkan pada Sena.


"Ibu pegang saja. Kaya nya Saya gak akan perpanjang ngontrak rumah disini. Belum apa-apa kasar kaya gini. Lihat Bu, anak Saya sampe ketakutan. Saya baru bisa tidur abis subuh tadi. Semalaman Rizki rewel." Kata Sena mencoba tegar.


Ibu itu terlihat kaget karena Sena yang gak mau lagi ngontrak rumahnya.


"Disini masih banyak kok Bu kontrakan kosong. Yang punya baik hati gak arogan kaya anak Ibu." Kata Sena lagi.


"Paling Saya perpanjang 2 minggu saja sambil bebenah rumah." Kata Sena.


"Kalau bisa jangan ya Bu. Disini saja. Nanti anak Saya, Saya larang kesini. Dia memang emosian Bu. Tadi sudah Saya larang ikut. Tapi Dia memaksa."


Sena tersenyum. "Saya gak tahu Bu. Saya sakit hati diperlakukan seperti ini. Selama Saya ngontrak gak permah dikasarin kaya gini." Kata Sena.

__ADS_1


Akhirnya Ibu itu berpamitan. Tak lama Sena menangis. Dia menumpahkan kekecewaannya pada Fajri dengan menangis. Sena terus menghubungi Fajri tapi tak diangkat.


Sena pun mengirim pesan. Menceritakan insiden yang baru saja terjadi.


Yati dan Mila masuk ke rumah Sena. Kak Sena jangan nangis. Kasihan Rizki jadi ikut sedih.


"Gimana Kakak gak sedih, baru bisa tidur digedor-gedor terus dibikin malu." Sena terisak.


"Tapi Kak Sena tadi gak nangis depan Mereka kan?" Tanya Mila.


"Ya gak lah. Amit-amit." Kata Sena.


Yati dan Mila menghibur Sena. Tak lama Mereka berpamitan.


2 minggu kemudian Sena pindah dari kontrakan itu tak jauh dari sana, hanya beda RT saja.


__________________


Fajri mulai bekerja lagi menjadi sales. Dia menaruh ijasah SMP nya sebagai jaminan. Karena Ijasah SMA juga sudah dijaminkan waktu kerja terdahulu dan tidak diambil.


Semua karena Fajri yang tak bisa jujur dalam bekerja. Dia selalu kabur dari tanggung jawab.


"Aku mohon, kalau memang kerja, yang bener, jangan yang macam-macam lagi." Pinta Sena.


Sebenarnya berulang kali Sena ingin bekerja tapi Fajri melarangnya. Dia sanggup menafkahi Sena. Tapi nyatanya semua hanya dibibir manis Fajri saja.


Sena tetap banting tulang, mengambil jahitan ke rumah Bunda, juga menerima jahitan di rumah. Menjual pulsa, belanja ke roxi sambil menggendong Rizki. Sampe buka warung kecil-kecilan di rumah.


Fajri kalau sedang di rumah kerjaannya hanya tidur saja dan nonton VCD. Sena terus bersabar. Sena fikir yang penting Fajri gak macam-macam.


Jam 10 pagi Fajri sudah tiba di kontrakan. "Kok sudah pulang Yah?" Tanya Sena.


"Aku cuma mau unjukin sama Kamu barang dagangan Aku." Kata Fajri.


"Kamu bantu jualin ya. Aku titip di sini." Pinta Fajri.


Sena mengangguk dan segera memajang produk jualan Fajri. Berupa permen ada stikernya. Stikernya dikumpulin, ditempel pada bukunya sampai lengkap. Kalau sudah lengkap akan dapat hadiah berupa Tivi 14 inch. Dan di setiap stiker juga ada kejutan lainnya. Ada kipas angin, rice cooker dan lain-lain perlengkapan rumah tangga.


Sontak saja peminat yang jajan kebanyakan ibu-ibu.


____________________


"Ayah bawa stiker gak?" Tanya Sena ketika Fajri sudah tiba di rumah sedang menyesap kopinya.


"Memangnya abis?" Tanya Fajri tak percaya.


Sena menyetorkan uang hasil dagangan stikernya.


"Ya Allah... laku ya?" Fajri terlihat senang.


"Ya Mas, ibu-ibu sini sangat antusias mau dapat tivi." Canda Sena.


Fajri tersenyum. "Besok aku titip yang banyak ya."


Sena mengangguk. Sena kemudian mengambil Rizki yang terdengar ngoceh sendirian di kamar.


"Anak Mama udah bangun... Sena menggendongnya. Mandi yuk... Udah sore."

__ADS_1


Fajri bekerja memakai motor milik Bang Tino. Ada yang menggadaikan motor, Jadi Fajri memakainya yang satu.


__ADS_2