
Beberapa hari kemudian, Rizki sudah mulai pulih walau tak secerah dulu. Nina sering pulang ke rumah Bunda kalau jam kerjanya selesai masih sore.
Nina akan mengajak Rizki jalan-jalan keliling naik motor walau hanya makan bakso dipinggir jalan atau burger yang sedang ramai dikunjungi pelanggan.
Usia Rizki kini sudah menginjak 2 tahu 4 bulan. Selama bulan puasa, Nina pulang lebih cepat. Karena sepi pengunjung yang bermain golf. Dia habiskan waktunya untuk keponakannya.
Rizki mulai bisa melupakan Fajri. Tapi seminggu sebelum idul Fitri, Tiba-tiba Fajri datang ke rumah.
Sena yang sedang tidur siang bersama Rizki, kaget karena wajahnya serasa ada yang menciumi.
Sena mengerjab. "Maaass..." Sena terlonjak. Dia segera bangun dan mengusap bibirnya yang basah karena Fajri mengulumnya.
"Kamu gak puasa, Mas?" Tanya Sena yang mengrucutkan bibirnya karena seenaknya saja Fajri mencium bibirnya.
Fajri hanya tersenyum. Dia duduk dipinggir ranjang. Dia membelai rambut Sena yang panjang. "Aku kangen sama Kalian." Kata Fajri.
"Tadi masuk kesini ketemu Bunda gak?" Tanya Sena.
Fajri mengangguk. "Bunda lagi menjahit. Kata Bunda, Kamu ada di kamar, makanya Aku langsung ke kamar." Kata Fajri.
"Ada apa Mas?" Tanya Sena tidak suka, walau tak dipungkiri Dia merindukan Fajri. Masih ada rasa di hati nya.
"Kita pindah dari sini, ya.... Kita ngontrak lagi. Kamu jual barang-barang Kamu yang ada disini." Kata Fajri.
"Terus kalau di jual, ranjang misalnya, terus Kita mau tidur di lantai? Kulkas dijual, terus Aku gak bisa lagi dong jual es mambo." Kata Sena.
"Terus nanti yang bayar kontrakan siapa? Aku lagi?" Ketus Sena.
"Ya sudah terserah Kamu lah. Aku tadi abis nganter motor dagangan Rino deket sini, jadi Aku mampir. Ya sudah Aku balik." Kata Fajri.
"Yayaahh..." Panggil Rizki yang terbangun. Rizki langsung berdiri dan memeluk Fajri.
Sena menghela nafas. "Heeeehhh...! Baru juga mendingan sudah datang lagi, cuma mau menoreh luka saja." Batin Sena.
Fajri menggendong Rizki keluar kamar. Sena mengikutinya.
"Aku mau bawa Rizki jalan-jalam keliling sebentar ya..." Pinta Rizki.
Bunda yang mendengar langsung mendelik ke araha Sena.
__ADS_1
"Aku ikut Mas... Nanti yang pegangin Rizki siapa? Aku gak percaya sama Kamu, tempo hari Kamu bawa Rizki naik motor, pulang malah luka pahanya." Sena mengrucutkan bibirnya. "Sampe nyeplak itu tulisan merk motornya."
Fajri terdiam mengingat dulu Dia sok tahu membawa Rizki naik motor tanpa Sena. Alhasil entah bagaimana ceritanya, esoknya Rizki rewel dan selalu menangis kalau pakai celana.
Pas diperiksa Bunda gak tahunya ada luka bakar dipaha Rizki yang bertuliskan merk motor yang digunakan Fajri. Sontak saja Bunda marah sama Fajri.
"Kamu takutkan, Rizki Aku bawa kabur?" Tanya Fajri ditengah jalan.
Sena tertawa... "Ya laaah... Enak saja Kamu mau bawa anak Aku..Lagi pula, Ibu Kamu kan gak suka sama anak Aku, mau ditampung dimana Anakku nanti, nanti Kamu jual lagi." Ketus Sena.
Fajri mengerem mendadak motornya. "Kamu tuh kalau ngomong ya, gak dipikir dulu!" Bentak Fajri.
"Loh mang kenyataannya begitu kan? Ibu Kamu gak pernah suka sama anak Aku. Aku ini juga menantu dan istri yang terbuang!" Sena jadi tersulut emosinya.
Sena segera membawa Rizki menjauh dari Fajri. Tapi Fajri menghalangi Sena. "Kamu mau kemana?" Tanya Fajri.
"Aku mau pulang. Aku lagi puasa, hilang amalan Aku gara-gara Kamu, Mas!" Ketus Sena.
"Dan lagi buat apa Kamu kembali, kalau hanya menorehkan luka lagi pada Anak Aku!! Rizki baru juga sehat, Mas! Mana tahu Mas, Rizki sakit!" Kata Sena lagi.
"Kenapa Kamu gak telpon Aku kalau Rizki sakit? Aku gak mau menorehkan luka. Aku mau kembali sama Kamu, tapi Kamu nya aja keras kepala!" Bentak Fajri.
"Terus Aku harus menjual barang-barang Aku di rumah Bunda, dan mengikuti Kamu yang gak jelas mau kemana arah rumah tangga Kita!??" Sena malah mengikuti emosinya.
"Terus usaha Kamu mana Mas? Apa Kamu bisa membelikan barang-barang itu lagi kalau sudah terjual?" Tanya Sena masih ketus.
"Sudahlah Mas... Cape Aku berdebat sama Kamu! Kamu mang gak punya rasa tanggung jawab..!" Sena meninggalkan Fajri yang terpaku memandang istrinya dan anaknya naik angkot.
Rizki menangis menunjuk-nunjuk pada Fajri. "Yayah.... Yayah..."
Sena memeluknya. "Sudah ya Sayang... Dia gak sayang sama Kita, Dia cuma mau menyakiti Kita." Sena mencoba menenangkan Rizki.
Sena kembali ke rumah dengan Rizki yang terus menangis karena belum puas bertemu sang Ayah.
Nina baru saja sampai di rumah Bunda. Dia kaget melihat Rizki yang menangis dalam gendongan Sena.
"Kenapa Kak?" Tanya Nina yamg belum tahu Fajri tadi datang.
"Ada Ayahnya tadi kesini." Kata Sena menunduk.
__ADS_1
"Lagi kenapa masih diterima sih? Baru juga sehat Rizki." Nina terdengar kesal.
"Orang tadi Kakak lagi tidur sama Rizki dikamar, tiba-tiba dia sudah dikamar. Katanya Bunda yang ngijinin." Jelas Sena.
"Bunda gak kasih ijin. Dia nanya, Sena mana Bun? Terus Bunda bilang dikamar, lagi tidur, eh Dia malah langsung nyelonong masuk. Masa Bunda mau usir? Biar bagaimana pun Dia masih suaminya Sena, Bunda gak bisa melarang mau ketemu istri dan anaknya." Jelas Bunda.
Nina menghela nafas. Dia sangat kesal. "Ya sudaahh... Rizki mandi dulu ya, nanti Ateh ajak makan ucuk-ucuk." Kata Nina menghibur Rizki.
Rizki terdiam mendengar mau makan ucuk-ucuk. "Mama...andi.. au gih mamam ucuk-ucuk." Kata Rizki.
Sena tersenyum. "Ayo mandi... Mama diajak gak?" Tanya Sena.
"Ndak... Mama ndak itut..." Jawab Rizki.
Sena mencium pipi gembil Rizki. "Pelit iihh anak Mama... Nanti Mama nangis aja deh... Huuuu... huuuu... Rizki pelit... Mama gak diajak..." Canda Sena.
"Mama...." Rizki terlihat cemas melihat Mama nya menangis. Dia mencubit pipi Sena.
"Baaaaaa.... Mama gak nangis tuuhh..." Canda Sena.
Rizki tertawa. Sena segera membuka baju Rizki dan memandikannya. Kemudian mengelapnya dengan handuk, membaluri dengan minyak telon dan bedak. Kemudian memakaikan baju yang bersih.
"Hhhmmm... Dah wangi sekarang." Kata Sena yang mencium pipi Rizki dengan hidungnya yang mancung kedalam.
"Waahh dah cakep keponakan Ateh..." Puji Nina. Rizki langsung naik ke motor Nina. Nina dengan sigap memegangi tubuh Rizki. "Ya ampun, semangat banget..."
Bunda tertawa melihat kelakuan Rizki. Nina langsung menstarter motornya. Septi teman Nina, yang memang sering ikut sama Nina langsung memegang tubuh Rizki.
Septi memang teman baik Nina. Nina sering mengantar Septi pulang kerumah orangtua nya. Hari ini Mereka pulang kerja cepat. Mereka memang berniat belanja karena sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri.
Tak lupa Sena membawakan susu untuk Rizki. Takut dijalan merengek karena haus minta susu.
"Mau apa lagi, Fajri?" Tanya Bunda.
"Mau balik lagi sama Sena, Bun." Kata Sena.
"Terus?" Tanya Bunda.
Sena menghela nafas. "Gak tahu Bun. Sena masih ragu. Mas Fajri gak bisa menyakinkan Sena."
__ADS_1
Bunda hanya menghela nafas. Dia tahu, Sena menyembunyikan sesuatu. Sena masih gak mau jujur pada Bundanya.
Sena lebih suka memendamnya sendiri. Dia akan menyelesaikannya sendiri.