
Sikap Andi berubah drastis. Dia selalu memaksakan kehendaknya. Namun Sena berhasil meyakinkan Andi.
Entah angin apa, Sena juga gak mengerti, saat Mereka berciuman Andi seakan tak rela ciuman itu direnggut dari dirinya.
Terkadang bibir Sena terluka karena pagutan Andi yang kasar. Seringkali Sena menangis karena perlakuan Andi.
"Aku sangat mencintai Mu dan gak mau kehilangan Kamu." Andi mencoba meredakan tangisan Sena manakala diri nya menyakiti Sena.
"Abang berubah..! Sekarang Abang kasar sama Sena. Memang salah Sena apa? Hik... hik.. hik..." Sena kembali terisak. Sena kangen sikap manis Andi. Sena juga tidak mengerti kenapa Andi berubah.
Andi langsung memeluk Sena. "Maafin Abang yah... Abang sayang banget sama Kamu..." Dan saat itu Andi akan mengelus bibir Sena yang terluka karena perbuatannya.
Hari ini Andi berulah lagi. Andi menjemput Sena tepat jam tujuh malam. Sena memang sedang masuk shift pagi pertama.
Sena tersenyum melihat Andi yang sudah standby di atas motor nya di depan jalan gerbang Kantor nya. "Udah dari tadi ya Bang?" Tanya Sena lembut.
"Lumayan... lima belas menitan lebih." Kata Andi dingin.
"Maaf ya Bang... Abang kan udah tahu, kalau Sena keluar nya jam segini." Kata Sena seraya meraih helm dan memakainya.
"Malam ini Kamu nginep dirumah Abang yah." Tanpa minta persetujuan Sena, Andi langsung tancap gas. Sena memeluk erat pinggang Andi. Andi kumat lagi.
"Jangan malam ini, Bang.... Besok aja yah?" Sena mencoba meyakinkan Andi. "Besok Sena masih masuk pagi. Kalau besok malam kan Sena masuk malam jadi gak akan ngantuk."
"Gak... Ini kan malam minggu, Abang mau menghabiskan malam ini sama Kamu...!" Tegas Andi.
Deg..!! Perasaan Sena gak enak.
"Bang... Kalau Sena nginep di rumah Abang malam ini, besok pagi Sena bakalan ngantuk di Kantor. Pasti Abang akan ganggu tidur Sena..." Sena mengrucutkan bibirnya.
"Kamu bisa berangkat kerja dari rumah Abang. Abang kan selalu anter Kamu." Andi tak mau kalah.
"Bang... Abang kenapa sih?!" Sena akhirnya kesal.
"Abang ingin memiliki Kamu seutuh nya. Abang gak rela Kamu dimiliki orang lain! Kalau Kamu kembali sama Mantan Suami Mu, Abang ikhlas melepas Mu. Tapi kalau Orang lain? Gak akan!" Andi sangat emosional.
"Ya ampun Bang! Yang mau ngerebut Sena dari Abang, siapa? Sena gak punya siapa-siapa selain Abang!" Sena terus memberi pengertian pada Andi.
Tapi nampaknya Andi tak mau mendengarkan Sena lagi. Dia gas pool motor nya, Sena berteriak takut karena Andi yang selap selip mengendarai motor nya.
__ADS_1
Sena menangis karena takut. Kalau dulu Fajri pernah berlaku demikian, saat itu Sena tak takut mati karena masih sendiri, tapi kini Sena sudah memiliki Rizki. Dia tak mungkin meninggalkan Rizki yang masih kecil dan butuh kasih sayang nya.
Di pasar, jalan sangat macet. Sena langsung turun. Tapi Andi memegang tangan Sena dengan Kuat. Andi langsung melembutkan bicara nya. "Maafin Abang. Abang cuma mau malam mingguan sama Kamu. Kalau Kamu gak mau, ya udah gak apa. Abang antar pulang ya, sekarang. Tapi Kamu naik dulu." Rayu Andi.
Sena tak tega melihat tatapan Andi yang menghiba. Lagi pula kendaraan lain sudah berisik mengklakson motor Mereka. Sena kembali naik ke boncengan Andi.
Andi kembali selap selip. Tapi pas lampu merah berubah hijau, Andi tidak belok ke kanan arah rumah Sena, Dia malah melajukan lurus kendaraannya dengan kecepatan tinggi.
Sena memukul punggung Andi. "Abang bohong! Kata nya Abang mau nganter Sena pulang. Huk... huk.. huk.." Sena menangis.
"Iya nanti Abang antar pulang!" Teriak Andi. Setengah jalan, Andi melepas helm yang Dia pakai dan membantingnya sekuat tenaga sambil terus mengendarai motor nya.
BRAAAAAKKKK!!! Helm itu hancur menggelinding entah kemana.
"Aaacchhhh!!!" Sena terkejut. Sena menangis. Dia takut akan sikap Andi yang sudah kesetanan.
"Abaaang... Huk... huk... huk... Jangan kayak gitu... Sena takuuut...." Sena memeluk pinggang Andi.
"Makanya diam! Dan nurut!" Bentak Andi.
Sena menangis. Dia pasrah dibawa Andi ke rumah Orangtua nya.
Andi mengelus tangan Sena. Dia tahu Sena sangat ketakutan. "Maafin Abang... Abang sudah meminta baik-baik sama Kamu." Tak bisa dipungkiri Andi takut kehilangan Sena.
"Ya Allah... Tolong Sena...! Jangan sampe Bang Andi berbuat yang tidak-tidak pada Sena." Batin Sena dalam doa nya.
Sena menyesal seharusnya di pasar tadi Sena langsung lari dan tidak mendengarkan nada memelas Andi. Kini Dia hanya pasrah. Mengingat Anak nya yang menanti nya di rumah. Mengingat Bunda nya yang cemas menunggu nya kembali.
Andi memarkirkan motor nya. Dia terus memegang tangan Sena. Andi mengambil tas ransel Sena dan meletakkan di kamar nya. Sena menahan tangisannya.
"Loh kok Sena nangis?" Tanya Ibu Andi.
"Bu... Sena mau pulang... Hik... hik... hik... Tapi Bang Andi maksa Sena kemari..." Sena kembali terisak meminta pertolongan pada Ibu nya Andi.
"Andi....Jangan kayak gitu, Ndi. Anterin Sena pulang. Kasihan anak nya nungguin Sena." Rayu Ibu nya Andi.
"Nanti Andi antar pulang. Andi mau berduaan dulu sama Sena. Ini kan malam minggu!" Sarkas Andi.
"Sabar Sena... Ayo masuk dulu. Nanti diantar pulang sama Bang Andi." Bujuk Ibu nya Andi.
__ADS_1
Sena mengikuti Ibu nya Andi. Sena melihat Andi ke arah belakang rumah hendak ke kamar mandi. Sena masuk ke kamar Andi dan mengambil ransel nya.
"Bu... Sena pamit yah." Sena langsung berlari. Namun Ransel Sena memang agak berat. Susah payah Sena berlari menjauh dari rumah Andi.
"Heeiii..!! Kamu mau kemana?!" Andi berteriak sambil membetulkan resleting celana nya. Andi berlari menyusul Sena.
Baru saja Sena hendak menyebrang jalan, Andi menarik Ransel Sena.
"Bang... Biarkan Sena pulang..." Sena memohon.
"Kamu itu gak bisa dibilangin yah?! Nanti Abang antar pulang, ngerti gak?!" Bentak Andi. Andi langsung merangkul leher Sena sambil mencengkram tangan Sena.
Tetangga Andi melihat kejadian itu. Ibu Andi berteriak. "Andi... Sena nya diantar saja pulang... Kasihan Nak... Anaknya pasti nungguin Sena..." Bujuk Ibu Andi.
"Ibu diam yah. Jangan ikut campur." Kata Andi pelan. "Dan Kamu, jangan bikin onar disini, atau sekalian Aku gak antar pulang Kamu!" Ancam Andi.
Sena terisak. Tangan nya sudah merogoh saku celana nya. Dia menghidupkan ponsel nya.
Andi kembali menaruh ransel Sena ke kamar. Sena buru-buru mengirimkan SMS kepada seseorang.
"Kak. Tolongin Sena."
Terkirim. Sena melihat Andi keluar dari kamar. Sena langsung memasukan kembali ponsel nya.
"Kamu mau telpon siapa?! Hah?!" Andi hendak merebut ponsel Sena. Tapi Sena tidak membiarkannya.
"Kamu mau minta tolong sama si Kunyuk itu?! Percuma! Dia gak akan bisa nolong Kamu!" Kata Andi menyeringai.
"Kamu sudah ditipu sama Kunyuk itu! Siapa nama nya? Aldi... Ya Aldi..." Andi mencibir.
"Maksud Abang apa?" Tanya Sena tidak mengerti.
Andi merangkul bahu Sena mengajak nya ke kamar. Tapi Sena menolak.
"Sena disini aja Bang... Sama Ibu." Sena memohon.
"Andi... Jangan begitu, Andi. Kalau Sena gak mau sama Kamu, jangan dipaksa." Pinta Bapak nya Andi, seperti nya Keluarga nya Andi sudah tahu dengan sikap berubah Andi. Hanya Sena yang tidak tahu.
"Bapak diam ya." Andi tetap membawa Sena ke kamar dengan memaksa.
__ADS_1
"Ikuti saja kemauan Bang Andi nya, Sena." Pinta Ibu Andi yang tidak mau Sena terluka.