
Hari-hari Sena jadi pengangguran. Setiap hari Aldi selalu menelponnya, 3x sehari. ( Kayak minum obat😎)
Janji nya akan transfer hanya tinggal janji. Malah Dia terkesan galak, mengatai Sena gak ada pikiran, gak tahu orang sedang dipelosok.
Terkadang caci maki yang Sena dapat dari Aldi. Rasanya Sena tak akan sanggup dengan hubungan ini, namun Aldi akan segera bersikap lembut pada Sena saat Sena sudah tak menanggapi telpon dari Aldi.
Sena hanya mengurut dada, sabaaarrrr.....
Andi pun sesekali mengirim pesan pada Sena agar tidak mempercayai Aldi. Namun Sena tak menanggapinya.
Mau gak mau Sena putar otak agar bisa menafkahi Putera nya dan tak bergantung pada Bunda dan Adik-adiknya. Namun Adik bungsu Sena gak pernah lalai, Dia selalu membelikan susu untuk Rizki kala Dia libur kerja dan pulang ke rumah Bunda.
Terkadang Nina meminta Sena membuat nastar walau bukan moment lebaran. Karena teman-temannya yang memang suka dengan nastar buatan Sena.
Apalagi harga yang ditawarkan Sena sangat terjangkau bagi Mereka. Kalau dulu Sena mengantarkan pesanan nastar bersama Fajri, kini Nina yang akan membawa saat Dia sedang pulang.
"Kak, hati-hati... Itu orang beneran gak sayang sama Kakak. Kakak udah berenti kerja, nanti Dia malah ninggalin Kakak." Kata Nina.
"Yah kalau jodoh gak akan kemana." Kata Sena.
"Jangan sampai gagal lagi Kak dalam berumah tangga." Pesan Nina.
"Aamiinn... Mudah-mudahan gak ya dek." Kata Sena.
"Ini pesanan nastarnya. Ada satu lusin. Dan ini buat Kamu nyemil dikosan." Sena menyerahkan satu dus nastar dan satu kresek toples isi nastar untuk Nina.
"Aku bayar aja Kak. Kasihan Kakak, nanti rugi." Kata Nina.
"Apaan sih? Gak lah.. Lagian juga Kamu udah beliin susu buat Rizki." Sena mengrucutkan bibirnya.
"Itu mah udah jatahnya Rizki, Kak..." Nina terkekeh.
"Udah bawa aja. Nanti kalau Kakak perlu, Kakak minta kok." Kata Sena akhirnya.
__________________________
Tubuh Sena terasa pegal karena seharian gak berhenti gerak. Membungkus es mambo, melayani orang belanja di warung, ditambah lagi Rizki yang urung-uringan hari ini. Sena juga gak ngerti dengan Rizki.
"Mungkin hari lahirnya kali, Sena..." Bunda mencoba menenangkan Sena karena Rizki yang terus merengek.
Sena mengingat. "Iya bener, ini hari lahir Rizki. Ada yang sakit gak, Nak?" Tanya Sena mencoba bersabar. Ada aja yang salah, apa yang diminta harus ada dan cepat.
Kepala nya juga terasa hangat. Dari tadi muntah-muntah setelah makan atau minum. Sena ingin memijitnya tapi Rizki gak mau dan malah berteriak.
__ADS_1
"Makanya diam kalau gak mau diurut!" Kata Sena agak kesal. Cape rasanya seharian menghadapi Rizki.
Sena menggendong Rizki dengan kain panjang. Menina bobokan, namun tidak juga terlelap. Akhirnya Sena menyerah, Dia membaringkan Rizki ke tempat tidur tapi Rizki malah terus menangis.
Bunda masuk ke kamar membawa piring kecil yang sudah dituang minyak kelapa. Lalu menuang minyak kayu putih, memcampurnya.
"Sini, dipaksa aja kalau cara lembut gak mau." Kata Bunda yang langsung memiting tubuh Rizki agar tidak bisa berontak saat diurut Bunda. Rizki sangat histeris menangis. Sena tidak tega namun apa hendak dikata, kalau tidak begitu, kepala Rizki akan terus panas.
Rizki muntah setelah diurut Bunda. Setelahnya Rizki yang merasa lelah menangis, akhirnya berhenti menangis walau masih sesegukkan. Sena mengelap tubuh Rizki yang sudah berkeringat. Mengganti pakaiannya dengan piyama.
"Uwo akal... hik... hik..." Rizki mengomel.
"Cep... cep... Udah yah, Uwo gak nakal, tapi Kamu nya lagi sakit." Hibur Sena. Sena menggendongnya sambil menina bobokan. Ditahannya bahu yang sudah sakit menahan berat tubuh Rizki.
___________________________________
Ponsel Sena bergetar. Sena sangat mengantuk, baru saja Dia terlelap setelah berhasil menidurkan Rizki.
"Hallo..." Sapa Sena dengan suara serak.
"Kenapa telpon dan SMS aku seharian gak dibalas?" Tanya Aldi kesal.
"Maaf Kak, seharian Rizki rewel. Gak enak badan kayaknya." Sena dengan suara lemah menjawab.
Sena hanya terdiam dengan tanggapan Aldi, Sena malas berdebat.
"Terus sudah dibawa ke Dokter, belum?" Tanya Aldi.
"Belum Kak, Aku gak punya uang untuk berobat" Tadi diurut sama Bunda.
"Ya udah... Kamu tidur lagi sana." Kata nya, tanpa menunggu jawaban Sena, Dia langsung memutus sambungan telpon.
Sena menon aktifkan ponsel nya, karena Sena yakin, tak lama lagi Aldi bakalan menelponnya kembali dan mengajaknya untuk melakukan S** By Phone.
Sena pusing kalau Aldi sudah meminta SBP, Sena selalu memutar otak agar Dia tak menuruti kemauan Aldi. Terkadang Sena berpura-pura mengeluarkan d*s*han padahal Sena sangat muak melakukannya. Namun Aldi selalu mengancam kalau Sena tak menurutinya.
________________________________
Seperti biasa, Sena bangun pagi-pagi sekali. Sena menyentuh kening Rizki. "Alhamdulillaah, sudah adem. Tubuh Rizki nampak berkeringat. Sena mengusapnya perlahan.
Kemudian Dia langsung mencuci piring dan bebenah sebelum Rizki terbangun. Membuka warung dan mengeluarkan barang dagangannya.
Bunda juga sudah sibuk di dapur, memasak nasi dan air.
__ADS_1
Sena sudah sibuk melayani pembeli yang tergesa akan berangkat ke kantor.
"Kamu bikin gorengan atau nasi uduk Sena, jadi Saya gak perlu jauh-jauh mencari sarapan." Saran tetangga Sena yang juga tergesa membeli beberapa bungkus roti.
Sena tersenyum. "Sarannya ditampung, Kak."
"Iya Sena, Kita kan kalau cari sarapan ke kampung sebelah, mana antri, kadang gak jadi beli karena kelamaan." Kata Ibu yang satunya.
"Ya Kak, Sena cari modal dulu." Canda Sena.
"Ya sudah, nanti sore ke rumah saja yah..." Kata Kak Nur. Dia segera berlalu tergesa-gesa takut ketinggalan jemputan.
"Sena, nanti ini tolong antar ke rumah yah. Ini uangnya." Kata Bu Rini.
"Oh ya Bu... Nanti Sena antar." Kata Sena.
"Makasih ya Sena." Dia pun segera berlalu.
Sena langsung memasukan kedalam kantok kresek belanjaan Ibu Rini dan mengantarkan ke rumah nya. "Bun, Sena titip warung sebentar."
"Memang Kamu mau kemana?" Tanya Bunda yang sedang memindahkan air panas ke termos.
"Ke rumah Bu Rini, nganterin ini." Sena menunjukkan kantong kreseknya.
"Ya udah, jangan lama-lama." Pinta Bunda.
"Ya Bun." Sahut Sena langsung berlalu.
Jam 9 pagi Rizki baru terbangun dari tidur nya. Sena sengaja tak membangunkannya karena semalaman terus merengek.
Sena memberikan teh manis hangat untuk Rizki. Karena Bunda melarang Sena memberikan susu, takut masih mual.
"Anas Mama..." Rengeknya.
"Gak... Ini anget. Biar perut Kamu anget, sayaang..." Sena mencium pipi Rizki.
Dengan sabar Sena menyendoki teh manis menyuapinya ke bibir Rizki.
"Mamam yah..." Pinta Sena yang sudah menyodorkan bubur.
"Ndak au... Ndak enak." Rizki menggeleng.
Sena menghela nafas. "Rizki lagi sehat aja gak suka bubur ayam, apalagi sakit." Batin Sena. Namun Sena tak dapat menolak pemberian Bunda.
__ADS_1
"Ya sudah, Mama aja yang Mamam." Akhirnya Sena yang menghabiskan bubur ayam milik Rizki.