Aku Bukan Wonder Woman

Aku Bukan Wonder Woman
Bangun Atas


__ADS_3

Selesai mandi, Fajri langsung mengganti pakaiannya. Tak lama Dia kembali masuk ke kamar mandi dan keluar membawa baskom yang berisi air.


Fajri langsung ke ruang tamu, dimana Bunda dan Bang Tino masih ada disana.


Sedangkan Sena sendiri sedang memandikan Rizki karena hari yang sudah sangat sore.


"Apa yang Kamu lakukan, Ji?" Bunda terhentak kaget ketika Fajri yang tiba-tiba mengambil kaki Bunda ingin mencucinya. Bunda langsung menaikan kakinya.


"Fajri mau mencuci kaki Bunda dan Bang Tino. Dan air cuciannya akan Fajri minum." Kata Fajri, entah benar atau sandiwara.


"Kalau Kamu mau mencuci kaki dan meminum airnya, cucilah kaki orangtua mu, bukan kaki Kita." Kata Bang Tino.


"Orangtua Kamu yang sudah berjasa selama ini membesarkan Kamu. Dan Mereka juga yang mengeluarkan Kamu dari penjara." Kata Bang Tino lagi.


"Tapi Bang... Fajri banyak salah sama Bunda dan Bang Tino selama ini." Kata Fajri.


"Kalau Kamu sungguh-sungguh bertobat, berubahlah sungguh-sungguh.... Tanggung jawab pada Istri dan anak mu." Nasehat Bang Tino.


"Sudah bawa masuk sana airnya...! Kaya apaan aja...!" Kata Bunda yang menggeleng-gelengkan kepala.


_________________________


"Aku menginginkan nya Dek..." Rengek Fajri.


"Aku gak bisa Mas. Aku sedang datang bulan." Kata Sena.


"Pake pengaman deeehhh..." Bujuk Fajri.


"Gak Mas... Dosa Mas kalau Mas menyetubuhiku dalam keadaan diriku sedang datang bulan." Kata Sena lagi.


"Aku sakit Dek... Sudah lama menginginkannya. Apa Kamu gak kasihan sama Aku?" Fajri terus membujuk.


"Sabar ya Mas. 2 hingga 3 hari lagi juga selesai." Kata Sena yang segera menutupi tubuhnya dengan selimut dan memeluk tubuh Rizki yang berada di sampingnya.


Fajri menghela nafas. Dia harus meredam hasratnya untuk beberapa hari ini.


"Dulu aja gak pernah mau.... Sekarang orang lagi datang bulan malah maksa mau dipake." Batin Sena yang mengrucutkan bibirnya. Dia memunggungi tubuh Fajri.


Tengah malam Sena terbangun karena Rizki menangis minta susu. Sena langsung bangun dan mendapati Fajri sedang menyetel video porno.


"Maaasss.... Masih aja ada itu CD nya? Aku sudah hancurkan semua, Kamu dapat darimana lagi?" Ketus Sena setengah mengantuk.


Fajri hanya diam. Dia tak menghiraukan ocehan Sena.


Sena ngegrutu dan segera menggendong tubuh Rizki ke dapur. Dia gak mau Putera nya melihat tontonan yang sedang diputar oleh Fajri.


Sena membuatkan susu untuk Rizki. Kemudian kembali ke kamar dan menidurkan kembali Rizki dengan botol susu di mulutnya.


Sena menghalangi tubuh Rizki agar tidak melihat tayangan Video. "Mas...! Matiin...! Rizki bangun dan mau melihat Film itu..!" Hardik Sena akhirnya karena Fajri tak juga menghiraukannya.

__ADS_1


Fajri mematikan Video dan Tivi.


"Besok pagi kan harus ke Polsek C, Mas. Pagi. Nanti kesiangan bangunnya." Kata Sena lagi dengan menurunkan nada suaranya.


__________________________


Fajri mengajak Sena dam Rizki ke Polsek C. Hari ini Dia akan menemui orangtua nya setelah melapor ke Polsek C.


"Aku gak usah ikut kan, Mas? Ibu kan marah sama Aku." Kata Sena.


"Nanti Kamu ajak Rizki keliling di Mall K. Aku kerumah Ibu. Nanti Aku akan menyusul Kalian ke Mall K." Kata Fajri.


Sena mengangguk. Mereka pun naik angkot kemudian berganti Bus sebanyak 2 kali.


Satu jam Kemudian.


"Kamu hati-hati ya. Aku gak lama kok." Kata Fajri.


Sena mengangguk. Sena memgambil Rizki dari gendongan Fajri.


"Anak Ayah sama Mama dulu ya....Nanti Ayah kesini lagi." Bujuk Fajri pada Rizki.


Rizki terlihat sedih. Tapi Sena langsung mengalihkan perhatian Rizki pada komedi putar yang ada di dalam Mall K.


"Aku sudah di parkiran." Demikian isi pesan yang dikirim Fajri pada Sena.


Setelah sekian lama akhirnya Fajri tiba juga di Mall K. Sena sudah mulai bosan menunggu lama.


Ternyata diluar sudah ada Fajri dan Rino yang menunggu Mereka.


"Kok lo gak ke rumah Ibu, Sena?" Tanya Rino sambil cengar cengir.


"Lo kaya gak tahu aja, Rin. Kan Lo yang denger semua perkataan Ibu dulu." Jawab Sena.


Rino tertawa. "Ya tadi gw juga sudah cerita sama Fajri." Kata Rino.


"Maafin Aku ya..." Kata Fajri yang segera mengambil Rizki dari gendongan Sena.


Sena hanya tersenyum dan mengangguk.


________________________


"Terus rencana Mas selanjutnya apa?" Tanya Sena pada Fajri yang baru saja selesai shalat maghrib.


Fajri memang rajin shalat sejak keluar dari penjara. Sena berharap selama nya seperti itu tapi Wallaahu alaam...


"Aku gak tahu, Dek. Di Pelabuhan belum ada kerjaan. Dagang di pasar Aku belum begitu ngerti." Kata Fajri.


"Ya Bu... Kita diusir sama Bu Eni, karena rumahnya laku..." Terdengar suara Lana yang sangat kesal.

__ADS_1


"Loh kok gitu? Kan perjanjiannya dikasih waktu lah untuk bersiap-siap pindah." Kata Bunda.


"Itu Bang Tino lagi nego sama Bu Eni. Masa gak ada tenggang rasanya sama sekali." Lana mengrucutkan bibirnya.


Sena dan Fajri saling menatap di kamar mendengar percakapan Lana dan Bunda.


"Mas... Berarti Kita akan keluar lagi dari sini..." Kata Sena setengah berbisik.


"Kita tinggal saja di rumah Ibu Aku." Kata Fajri.


"Gak....Aku gak mau." Tegas Sena masih dengan suara setengah berisik.


"Kamu kayak gak tahu aja gimana Ibu Kamu. Apalagi sekarang ada Rizki, memang Ibu mau menerimanya? Gak kan?!" Kata Sena lagi.


Fajri menghela nafas. "Ya Kita lihat saja nanti gimana keputusan Bang Tino." Kata Fajri.


Sena mengangguk. Sena males satu rumah dengan Lana yang sok kuasa dan suka cari ribut.


Tak lama Bang Tino tiba di rumah..


"Gimana Bang?" Tanya Lana pada suaminya.


"Besok Aa Yoyo suruh kesini deh. Kita bangun atas saja. Dari pada ngontrak. Lagian kasihan juga Sena kalau Kita disini nanti Dia pergi lagi." Kata Bang Tino.


"Mang ada duitnya Bang mau ngebangun?" Tanya Lana terlihat tak suka.


"Insya Allah ada aja rejeki nya mah..." Kata Bunda.


"Nanti Aku mintain uang kompensasi sama Bu Eni. Enak banget Dia, udah bersih rumahnya, laku....Gw ditendang." Kata Bang Tino sewot.


"Berarti Kita tinggal disini, Mas. Alhamdulillaah..." Kata Sena pelan.


"Nanti Aku bantuin narik kabel." Kata Fajri.


"Ya dong Mas, harus begitu." Kata Sena senang.


______________________________


Akhirnya Bang Tino benar-benar membangun atas. Untuk pondasi sudah kuat karena dulu Almarhum Ayah Sena memang sengaja membangun dengan kokoh agar nanti kalau punya rejeki tinggal diteruskan ke atas.


Fajri membantu Abangnya Lana, Bang Tino juga membantu. Bang Tino memang tak menyewa jasa tukang bangunan. Dia fikir biar lebih irit.


Sena juga membantu sebisa yang Dia bisa lakukan. Semua Sena kerjakan jika pekerjaan rumah nya sudah selesai.


Bunda juga sesekali membantu. Anak nya Bang Tino yang besar juga Alvi, ikut membantu. Biar cepat selesai karena kondisi cuaca yang memang sedang musim hujan.


Kalau masalah listrik, Fajri lebih mengerti dari Bang Tino. Bang Tino juga mengerti, Dia mengawasi pekerjaan Fajri agar benar-benar dengan baik memasangnya.


Tapi memang Lana selalu gak mau rugi. Sore hari setelah pekerjaan diistirahatkan, Dia langsung pulang ke rumah Bu Eni tanpa mau membantu Sena dan Bunda yang sibuk membersihkan kotoran bekas semen dan pasir.

__ADS_1


Sena dan Bunda yang paling babak belur. Lana hanya mondar mandir kaya mandor. Capeee deeehhhh....


__ADS_2