Aku Bukan Wonder Woman

Aku Bukan Wonder Woman
Pelet


__ADS_3

Fajri tak berkedip sedikitpun melihat Sena keluar dari gerbang kantornya. Tubuh Sena yang semakin berisi dengan seragam PDL yang pas di body membuat jantung Fajri berdetak tak beraturan.


"Kamu terlihat segar Sena." Batin Fajri tanpa mampu berkata.


"Makasih ya Mas. Kok cuma satu? Kan kemarin Aku bilang teman Ku dua." Sena mengrucutkan bibirnya sambil mengambil bungkusan dari tangan Fajri.


"Itu aja Aku pisahin buat Kamu..." Kata Fajri seolah tak ikhlas.


"Oh ya, ini titip buat Noval." Sena memberikan amplop pada Fajri, Sena memang sudah mempersiapkan dari rumah.


"Nanti pulang Aku jemput ya?" Tiba-tiba Fajri memegang tangan Sena yang hendak berbalik meninggalkannya.


"Loh?? Kan dirumah lagi sibuk?" Sena berusaha menepis tangannya dan menolak untuk dijemput.


"Kamu kenapa sih? Kok kaya jijik sama Aku?" Tanya Fajri.


"Maaf Mas, Sena buru-buru. Gak bisa lama. Nanti orang kantor lihat, gak enak kan?" Kata Sena lagi ngeles.


"Aku jemput ya!?" Fajri setengah berteriak melihat Sena sudah berbalik meninggalkannya.


"Terserah...!!" Sena Balas teriak tanpa menoleh.


"Siapa Yang?" Tegur Badri yang memang bertugas di Gerbang. Dia memang selalu memanggil Sena dengan sebutan "Yang" Sena hanya tersenyum.


Sena tahu dari Lili dan Tina kalau Badri seorang Duda, Dia memang kerap menggoda Secwan di grub Dua. Termasuk Lili dan Tina. Badri seorang pemabuk dan suka main perempuan. Tapi Dia tak mau kurang ajar dengan sesama teman kerjanya.


Awal nya Sena sempat risih dengan perlakuan Badri yang selalu perhatian padanya dan memanggil "Yang", namun akhirnya Sena tahu kalau Badri tak akan kurang ajar seperti Pak Taufik.


Sena mengambil sebuah jeruk dari kantong pemberian Fajri. "Ini untuk Abang Ku yang baik hati dan tidak sombong. hihihihi..." Sena cekikikan.


"Kok cuma satu?" Canda Badri.


"Kalau mau banyak, beli di pasar!" Sena mengrucutkan bibirnya.


"Iiihhh bikin gemes deeehhh... Peluk nih." Goda Badri.


"Hhiiiiihhhh!!" Sena bergidik sambil terkekeh dan segera berlari meninggalkan Badri.


"Makasih ya Yang!" Teriak Badri. Sena hanya melambaikan tangan tanpa menoleh dan bergegas ke lantai tiga.


Nafas Sena terengah-engah setelah tiba diruang Body checking.


"Kenapa? Kayaknya abis dapat pelukan mesra nih dari mantan." Goda Tina.


"Enak aja!" Ketus Sena.


"Hahahaha..." Lili dan Tina tertawa.


"Udah sana istirahat. Nih makanan dan kue nya. Aku ambil buahnya saja." Kata Sena yang mengambil jeruk dan apel dari dalam kantong dan menyerahkan bungkusan itu pada Tina dan Lili.

__ADS_1


"Beneran nih gak mau?" Lili membuka bungkusan itu. "Wiiihhh enak-enak... Ada ketan kuningnya juga." Lili meleletkan lidahnya ke bibir.


Sena menelan saliva nya. "Gak mau." Katanya dengan berat.


"Banyak banget porsinya. Cukup nih buat bertiga." Kata Tina menggoda Sena.


"Sudaaaahhhh sanaaa... Jangan nanti Aku berubah pikiran deeehhh..." Sena mendorong Tina dan Lili untuk segera keluar.


"Hehehehe..." Lili dan Tina terkekeh.


"Aku makan sebentar ya Kak... Tar Aku langsung balik selesai makan." Kata Lili.


"Ya gak apa. Lama juga gak apa." Canda Sena.


"Cieeeee.... mo ngelonjor nih kayaknya? Hahahaha...." Tina meledek Sena.


Sena melotot dan akan memukul Tina namun Tina dan Lili langsung berhambur keluar ruangan dengan tawa puas Mereka.


"Dasar....!!!" Teriak Sena sambil tertawa.


Sena meletakkan buah-buahannya kedalam loker. Ada dua jeruk dan dua apel. Sena mengupas satu buah jeruknya dan memakannya perlahan.


Situasi ruangan memang sudah lengang karena karyawan ATM sedang beristirahat. Sena agak bersantai.


Lima belas menit kemudian Lili sudah kembali.


"Kok cepet?" Tanya Sena yang baru saja memeriksa salah seorang karyawan ATM.


"Syukur deh kalau abis mah." Kata Sena.


"Eh tapi bener loh Kak. Masa ada kelopak mawar nya? Satu sih gak banyak." Kata Lili.


"Terus?!" Sena terperanjat.


"Aku sama Kak Tina langkahin aja tuh kotak nasi. Hehehehe... Tapi kan itu ditujukan buat Kak Sena bukan buat Aku dan Kak Tina." Kata Lili.


Sena terkekeh mengingat Dia juga melakukan hal yang sama sebelum memakan jeruknya tadi.


"Kayaknya Kak Sena ini spesial banget yah? Sampe-sampe pake mau dipelet lagi biar kembali. Hehehehe...." Canda Lili.


"Ada-ada aja Kamu. Nyesel kali Dia. Yah cari aja Istri kayak Aku yang mau kerja keras. Suami nganggur tapi Aku ikhlas membantu." Kata Sena.


"Mang bodoh tuh Mas Fajri. Aku belum lihat orang nya. Kok bisa selingkuh yah? Mang ganteng gitu?" Tanya Lili penasaran.


"Ganteng sih nggak, cuma ngangenin. Gitu kata Dia.. Hahahaha..." Sena tertawa.


"Masa sih Kak?" Lili penasaran.


"Orang nya jelek. Gigi nya agak maju." Sena mempraktekkan.

__ADS_1


"Kok Kakak mau sih? Apa jangan-jangan dipelet yah? Terus sekarang peletnya ilang, Kakak baru sadar?" Lili menerawang.


Sena meraup wajah Lili. "Anak kecil...."


"Iihhh Aku dah gede Kak. Cuma belum ada aja yang mau sama Aku..." Lili mengrucutkan bibirnya.


"Kamu nya milih-milih kali? ?" Tanya Sena.


"Yah sih..." Kata Lili.


"Ada yang ngefans banget gak dihiraukan." Sena terkekeh.


"Siapa Kak?" Tanya Lili penasaran.


"Badri.... Hahahaha..." Sena tertawa.


"Hiiihhhh... Amit-amit..." Lili bergidik.


___________________________


"Aku di dalam penjara." Kata Rasya yang sontak membuat Sena membungkam mulutnya karena takut histerisnya mengejutkan orang lain.


Sena sedang istirahat di kantin belakang dekat loading dok. Sengaja karena Rasya menelponnya. "Kok bisa? Kasus apa?" Tanya Sena saat dirinya bisa mengontrol keterkejutannya.


"Narkoba. Aku jadi kurir narkoba." Kata Rasya.


"Kok mau sih?" Tanya Sena penasaran. Rasya memang sudah meminta Sena untuk berjanji tak akan menutup telpon nya saat Dia akan jujur pada Sena.


"Berarti Bang Andi juga yah?" Tanya Sena. Sena baru tahu kalau Andi mantan pacar nya Martha dan dulu Martha sering menjenguk Andi ke Lapas. Tapi karena beda keyakinan, Martha meninggalkan Andi dan tak pernah menjenguknya lagi namun masih memberi kabar. Andi dan Martha jadi teman baik.


Apalagi Sena tahu, Martha akan menikah tahun ini di usia nya yang sudah tidak muda lagi. Dengan laki-laki satu agama dan satu suku.


"Kebutuhan." Kata Rasya singkat.


"Tapi gak harus jadi kurir barang terlarang juga kan?" Sena sengit.


"Iya sih. Mantan Istri Ku matre." Kata Rasya.


"Pasti cantik." Kata Sena.


"Cantik wajahnya tapi tidak hatinya." Rasya terdengar sedih. "Dia juga gak bisa menjaga Puteri ku. Asik bermesraan dengan selingkuhannya, anakku keluar rumah Dia tidak tahu sampai-sampai anakku ketabrak motor." Rasya terdengar terisak.


Sena merasa simpati pada Rasya. Tapi Sena tak bisa berbuat apa-apa. "Sabar yah Bang... Anak Abang jadi pembuka jalan Abang ke Syurga, asal Abang benar-benar bertobat." Sena mencoba menghibur Rasya.


"Kamu gak nyesel kenal sama Napi?" Tanya Rasya.


"Buat apa nyesel kalau Napi nya sungguh-sungguh mau tobat? Dari pada kenal sama orang bebas tapi penghianat!" Kata Sena, Sena memang belum bertemu Rasya namun entah mengapa perasaannya mengatakan kalau Rasya orang baik.


"Kamu mau nunggu Abang bebas dari sini?" Tanya Rasya. "Abang bebas dua tahun lagi. Belum lagi nanti ada Grasi dari Bapak Presiden, bisa lebih cepat Abang bebas. Abang janji akan membahagiakan Sena dan Rizky." Jelas Rasya.

__ADS_1


Sena memang sudah menceritakan perihal diri nya pada Rasya dan Rasya selalu menyemangati Sena. Sudah sebulan Mereka berkenalan walau hanya lewat telpon. Dan berulang kali Sena meminta bertemu namun Rasya belum bisa mengabulkannya.


Sena mengerti sekarang kenapa Rasya gak mau atau mungkin bukan tidak mau tapi belum bisa bertemu dengan Sena, ternyata Rasya sedang menjalani masa hukumannya.


__ADS_2