
Sena benar-benar merasakan kebahagiaan sesaat bersama Rasya, walau hanya dengan peluk cium, tapi semua cukup mengobati luka hati nya atas perlakuan Abang dan Kakak Ipar nya di rumah.
Selama ini Sena kurang mendapatkan kasih Sayang, dari Keluarga atau dari Suami nya dahulu.
Sena tak mau ambil pusing apakah Rasya akan men cap nya sebagai wanita murahan atau gampangan. Yang jelas Sena benar-benar tulus mencintai Rasya.
"Kenapa melamun, hhmmm??" Rasya menyadari kediaman Sena.
"Bang, makan ya? Aku udah beliin nasi padang tadi deket terminal." Ajak Sena.
"Kamu saja yang makan, Abang nanti saja. Abang masih mau memandangi wajah Kamu." Kata Rasya yang terus mengusap wajah sayu Sena.
"Kenapa badan Kamu hangat? Kamu sakit?" Tanya Rasya cemas.
Sena menggeleng. "Aku gak apa, Bang. Cuma semalam kurang tidur karena kepikiran mau ketemu Abang." Kata Sena jujur.
Rasya kembali memeluk Sena. Rasya sedikit memijit tengkuk Sena karena badan Sena terasa panas. Rasya tahu Sena jujur. "Seneng yah kalau punya Istri perhatian kayak Kamu." Kata Rasya.
Sena hanya diam sesaat. "Aku gak peduli Abang nganggap Aku perempuan murahan atau gampangan." Kata Sena pelan.
Rasya melerai pelukannya. "Kok Kamu berpikir sejauh itu?" Rasya tak percaya dengan ucapan Sena.
"Aku teringat kata-kata Kak Martha, kalau Abang gak suka sama Rina karena Rina murahan. Tapi nyatanya sekarang Aku mau diapa-apain sama Abang." Sena menunduk sedih.
Rasya menarik dagu Sena. Menatap mata Sena. Ada bening kristal yang akan jatuh dari pelupuk mata Sena ke pipi. Rasya menarik tubuh Sena dalam pelukannya lagi. "Maafkan Abang. Abang sayang Kamu, Abang cinta Kamu. Kalau soal Rina, Abang memang menyuruh teman Abang menemui nya mengaku sebagai Abang, ternyata dengan mudah nya Dia menyerahkan kehormatannya." Jelas Rasya.
"Tapi tadi Abang bilang kalau ada kamar, Abang mau gitu juga." Sena mengrucutkan bibir nya.
Rasya melerai pelukannya. Kembali menyesap airmata Sena dengan bibir nya. Rasya menepati janji nya, jika Sena menangis Dia akan menyesap airmata Sena dengan bibirnya dan menelannya.
"Apa Kamu mau meladeni Abang?" Tanya Rasya.
Sena menggeleng. "Aku masih bisa menahan hasrat Ku, Bang. Untuk yang satu itu, Aku mau kalau Kita sudah menikah."
Rasya kembali memeluk Sena. "Maafkan Abang yah? Kamu tahu, Abang disini sudah enam tahun. Tak pernah bertemu wanita yang Abang Sayang. Dulu waktu Istri masih ada, Dia datang cuma minta tanda tangan buat mencairkan Deposito, Dia sama sekali gak mau meladeni Abang. Terakhir kesini minta tanda tangan surat cerai." Rasya mengelus kepala Sena dan turun ke bahu, merogoh kulit Sena dari atas leher. Rasya merasakan sesuatu di leher Sena.
"Kamu pake kalung?" Tanya Rasya.
Sena melerai pelukan Rasya. Dan mengangguk. "Bukan kalung emas, hanya kalung perak, tapi Aku suka liontinnya, ini pemberian Bunda." Sena mengeluarkan kalungnya. Sebuah kalung dengan Liontin batu mata kucing berwarna biru keunguan.
"Buat Abang aja, yah?" Rasya senang melihat kalung itu.
"Tapi ini dari Bunda..." Kata Sena.
__ADS_1
"Justru karena dari Bunda, Abang minta. Kamu kan tau, Abang udah gak punya Bunda." Rayu Rasya.
"Tapi jangan diilangin." Rajuk Sena.
"Nanti keluar dari sini, Abang pulangin. Kalungnya Abang ganti sama emas putih beneran." Janji Rasya.
"Aku gak perlu emas putih, asal Abang sungguh-sungguh menjaga kalung ini." Pesan Sena.
Rasya mengangguk. Sena menunduk, Rasya membantu membuka kalung Sena.
"Bagus banget mata kucing nya." Kata Rasya seraya memandangi liontin itu. Sena hanya mengangguk.
Waktu terus berjalan. Rasa nya pertemuan ini sangat singkat. Hari beranjak sore, Sena mulai gelisah.
"Waktu nya sudah akan habis, Sayang." Kata Rasya yang kembali mencium wajah Sena.
Sena menitikkan airmata. "Kapan Kita bisa ketemu lagi, Bang." Sena terisak.
Rasya memeluk tubuh Sena. "Tunggu Abang bebas yah. Kamu jangan kesini lagi, Abang gak mau nanti ada yang menandai wajah Kamu."
Sena mengangguk. Dia mengeluarkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan, untuk Rasya membayar di pintu Sel nya. "Ini Bang, uangnya." Kata Sena sambil mengulurkan uang itu.
Rasya merasa tak enak mengambilnya. Tapi Dia juga gak bisa menolaknya. Rasya menghitung uang itu dan mengembalikan separo kepada Sena. "Kamu simpan ini. Nanti ongkos Kamu kerja tidak cukup." Rasya memang sudah tahu gaji Sena. Sena selalu terbuka pada Rasya.
"Gak apa. Nanti Abang yang nego didalam." Kata Rasya yang memasukkan uang Sena kedalam Tas Sena. "Jaga diri Kamu baik-baik. Langsung pulang yah. Nanti kalau Abang telpon Kamu belum sampe di rumah, Abang marah besar." Pesan Rasya.
Sena mengangguk. "Iya Bang... Memang Sena mau kemana lagi. Seharian Sena meninggalkan Rizki." Kata Sena.
"Ya, jagoan Ku. Kamu gak bawa foto nya yah?" Tanya Rasya.
"Bawa." Kata Sena yang langsung membuka dompet nya dan mengeluarkan foto Rizki.
"Lucu...." Rasya tersenyum. "Pasti ganteng kayak Aku nanti kalau besar." Canda Rasya.
Sena hanya tersenyum.
"Pulang yah..." Rasya mengecup kening Sena setelah Sena memasukkan kembali foto Rizki.
Sena menyerahkan bungkusan plastik berisi dua bungkus nasi padang dan beberapa bungkus biskuit, kepada Rasya. Rasya menerimanya.
Dengan berat hati Sena melepas tangan Rasya. Rasya mengantarnya sampai pintu menuju bodychecking.
Sena berbalik dan kembali memeluk tubuh Rasya.
__ADS_1
Rasya tersenyum. "Pulang yah...."
Sena mengangguk walau nampak sedih. Sena berjalan masuk ke dalam ruang body check tanpa menoleh lagi ke belakang.
Sena menyerahkan ID card nya untuk ditukar dengan KTP nya.
"Sudah Bu?" Tanya Opsir itu.
Sena mengangguk sedih.
"Besok jangan besuk kesini lagi yah, karena Rasya nanti malam akan dipindahkan ke Jawa Tengah." Kata Opsir tersebut.
Deg.... Jantung Sena berdebar keras. "Kenapa Abang gak cerita?" Airmata Sena kembali menetes.
"Bapak bercanda kan?" Tanya Sena tak percaya.
"Serius Bu, Ibu tadi besuk Rasya, kan? Ini nama nya terpampang di papan atas." Opsir itu menunjuk. Sena mengikuti arah telunjuk opsir itu. Ada nama Rasya disana yang akan dipindahkan malam ini bersama para Napi yang lain.
Lutut Sena terasa lemas. "Jadi ini pertemuan Ku pertama dan terakhir dengan Abang..." Batin Sena. Entah kapan lagi Dia akan bertemu dengan tambatan hati nya.
Sena meninggalkan gedung lapas itu dengan perasaan yang campur aduk. Sena berjalan agak menjauh dari Lapas. Setelah nya Dia menyetop metro mini ke arah terminal.
Sena memasang kembali ponsel nya. Dia mencoba menghubungi Rasya, namun tidak aktif. Sena menghibur diri nya dengan pemikiran yang baik-baik saja.
Sena mengirimkan pesan pada Rasya. "Bang... Kok Abang gak bilang kalau Abang akan dipindahkan malam ini ke Jawa Tengah?" Sena mengirim pesan itu. Masih pending. Sena menghela nafas.
Tak lama metro mini tiba di terminal dan Sena berganti Bis menuju arah rumah nya.
Di dalam bis Sena memandang keluar jendela. Air mata nya mengalir. "Salahkah Aku mencintai seorang napi? Salahkah Aku mempercayai nya begitu saja? Aku hanya ingin membuatnya percaya diri kalau tidak semua orang memandang hina terhadap seorang napi apalagi Dia sungguh-sungguh akan bertobat. Batin Sena.
Sena mengusap air mata nya kala seseorang duduk di bangku kosong sebelah nya. Sena tak mau menoleh. Wajah nya terus menatap keluar jendela.
Ponsel Sena berkedip. Pesannya terkirim kepada Rasya. Sena menunggu balasan dari Rasya. Namun lama menunggu tak ada jawaban dari Rasya.
____________________________
HAI READERS
SEMOGA TERHIBUR DENGAN CERITA AKU BUKAN WONDER WOMAN. SILAHKAN ANDA MENILAI CERITA DALAM NOVEL INI, TAPI ITULAH KENYATAAN YANG ADA YANG MUNGKIN PERNAH DIALAMI SEGELINTIR ORANG DI DUNIA.
AUTHOR GAK MAU MENUANGKAN TULISAN YANG PENUH DENGAN HALU.... TAPI INILAH GAYA AUTHOR MENUANGKAN CERITA. SEMOGA READERS TERHIBUR.
NOVEL INI PERNAH AUTHOR KETIK DALAM KERTAS DAN SUDAH DIKIRIM KE EDITOR, NAMUN MENDAPAT PENOLAKAN, MUNGKIN MASIH BANYAK KEKURANGANNYA. TAPI KEGAGALAN BUKANLAH AWAL KEHANCURAN. HINGGA AKHIRNYA AUTHOR BISA MENYUGUHKANNYA DISINI
__ADS_1
TERIMA KASIH UNTUK KRITIK DAN SARAN. MOHON DUKUNGANNYA UNTUK LEBIH MENYEMANGATI AUTHOR UNTUK UP EPISODE SELANJUTNYA