
Hari ini Sena kembali bertukar shift dengan Ani. Sebenarnya Sena sangat malas kalau harus bertemu kembali dengan Rina. Kejadian tempo hari walau sudah diselesaikan oleh Dan Roni, tetap saja membuat Sena enggan berurusan lagi dengan Rina dan Danru Nurdin.
Kali ini Danru Nurdin tak banyak bicara pada Sena juga tak ikut mencomooh Sena. Rina pun seperti nya menjaga jarak dari Sena.
"Itu lebih baik." Gumam Sena.
Setelah apel pagi dan sudah dibagikan untuk area tugas. Sena dan anggota yang lainnya membubarkan diri untuk berganti shift dengan yang jaga malam.
Sena dan Martha ditempatkan di lantai 3, sedangkan Rina di lobby.
Setelah serah terima, Sena dan Martha langsung melaksanakan tugasnya. Pagi ini Mereka disibukkan dengan Keluar masuk karyawan ATM yang akan pulang dan juga masuk.
Jam menunjukkan pukul 10 pagi. Sudah tak ada lagi karyawan ATM yang keluar masuk. Hanya sesekali saja dari dalam menyerahkan laporan uang palsu. Atau para atasan yang akan keluar ke divisi lain.
Terlihat Martha sedang menekan tombol telepon. Tak lama tersambung, Dia berbicara dengan seseorang diseberang sana. Sena fokus pada CCTV dan sesekali melirik Martha.
"Sena.... Nih ada yang mau ngomong sama Kamu." Tiba-tiba Martha memanggil Sena.
"Siapa?" Tanya Sena.
"Sudah... Bicara saja dulu." Martha sedikit memaksa.
Sena hanya menghela nafas. "Kenapa Dia kesannya memaksa Aku mengenalkan pada temannya?" Batin Sena.
Dengan langkah malas Sena menghampiri meja telpon. Martha menyerahkan gagang telpon pada Sena.
Sena menghela nafas.
"Halo...." Sapa disana.
"Ya halo..." Jawab Sena malas.
"Sena ya?" Tanya disana.
"Iya..." Kata Sena singkat.
"Manis loh orangnya." Celetuk Martha.
Sena mendelik. Martha hanya terkekeh.
"Boleh kenal sama Sena, kan?" Tanya disana.
"Ya..." Jawab Sena masih enggan.
"Saya Andi, teman Martha." Kata disana.
"Oh Bang Andi." Kata Sena.
"Kamu tinggal dimana?" Tanya Andi.
"Di rumah." Sahut Sena.
"Hahahahaha.... Kamu suka bercanda yah?" Andi tertawa mendengar jawaban Sena.
"Sena serius, memang Sena tinggal di rumah. Di rumah Ibu Sena." Sena merasa jawabannya tidak salah.
"Ya... ya... ya... ya... Kamu benar. Tapi maksud Saya, rumah mu dimana?" Tanya Andi lagi.
"Rumah Sena ditinggal. Gak dibawa-bawa." Jawab Sena lagi.
"Ya ampun...." Terdengar sahutan Andi kecewa.
Sena langsung menyerahkan gagang telpon pada Martha. "Kak... Ini temannya mau ngomong." Kata Sena mencoba menghindar.
__ADS_1
Martha menjawab telpon itu sambil melirik ke arah Sena. "Sudah dulu yah. Nanti disambung lagi." Kata Martha lalu meletakkan gagang telpon pada tempatnya.
"Sena mau ke toilet dulu." Sena langsung keluar setelah Martha menekan tombol akses.
"Huuuhhhh.... Sena... Sena... Susah banget mau dikenalin juga." Gerutu Martha.
Saat di toilet ponsel Sena berdering. Sena mencuci tangannya. Saat akan mengambil ponsel di saku celananya, ponselnya berhenti berdering. Sena mengeringkan tangannya. Tanda pesan masuk ke ponsel Sena. Sena membuka nya.
"Saya temannya Andi. Nanti kalau sudah istirahat, Saya telpon Kamu, yah?"
Sena hanya membaca nya tak berniat membalas. "Pasti Martha nih." Sena nampak kesal. Sena bergegas ke ruangannya lagi.
Martha membuka pintu akses begitu melihat sosok Sena sudah berdiri di depan pintu besi.
Martha tersenyum pada Sena, merasa tak bersalah. Padahal Sena memasang wajah cemberut.
"Kak Martha ngapain sih ngasih nomor ponsel Sena?" Ketus Sena.
"Gak apa lah Sena. Biar ada teman menghibur Kamu. Siapa tahu jodoh." Canda Martha.
Sena hanya menghela nafas. "Tapi ini bukan dari Bang Andi, tapi temannya." Kata Sena.
"Siapa? Rasya?" Tanya Martha.
"Gak tahu." Kata Sena ketus.
"Hahahaha..." Martha malah tertawa.
Waktu berlalu. Jam istirahat pun tiba.
"Saya istirahat duluan yah. Nanti Rina kesini menemani Kamu." Kata Martha.
Sena hanya mengangguk. Betul-betul badmood Sena hari ini. Sena berharap jam berputar dengan cepat.
Tak lama Rina duduk di belakang meja telpon. Sedang Sena duduk di dekat loker. Hanya kesunyian ada di ruangan itu. Hanya sesekali Sena berdiri kala karyawan yang baru akan istirahat ingin keluar ruangan.
Ponsel Sena bergetar. Ada pesan masuk. Sena merogoh ponselnya. Dan membuka pesan itu.
"Kamu lagi apa? Sedang istirahatkah?"
Sena menghela nafas. "Daripada Aku BT melihat Rina...." Batin Sena sambil membalas pesan itu.
"Saya masih kerja. Kak Martha yang sedang istirahat." Jawab Sena. Sena yakin temannya Martha ini sudah tahu pekerjaannya. Jadi Sena merasa tak perlu menjelaskannya.
Setelah pesan Sena terkirim, tak lama ponselnya berdering. Sena langsung menekan tombol terima.
"Halo..." Sapa disana.
"Ya Halo..." Jawab Sena. Sena melihat Rina meliriknya. Tapi Sena tak perduli.
"Kamu Sena yah?" Tanya nya lagi.
"Iya... Maaf, Abang tahu darimana nomor ponsel Sena?" Tanya Sena mencoba mencairkan suasana.
"Dari Andi. Tadi kata Andi, Kamu cuek aja. Saya langsung minta nomor Kamu." Jelasnya.
Sena terkekeh. "Sena lagi malas aja tadi, Bang."
"Sekarang sama Saya gak malas, kan?" Goda nya.
"Hehehehehe..." Sena hanya terkekeh. Sena terkekeh karena melihat Rina yang menatapnya sinis. Sena makin memanasi Rina.
"Kamu disitu sama siapa?" Tanya nya lagi.
__ADS_1
"Teman." Jawab Sena tak mau menyebut Nama Rina.
"Ani?" Tanya nya.
"Bukan." Jawab Sena.
"Oh Saya tahu. Pasti si ganjen itu yah?" Tebaknya.
"Siapa?" Tanya Sena. "Nih orang kayaknya benar-benar tahu teman-temannya Kak Martha." Batin Sena.
"Rina." Jawabnya.
"Hehehehe... Kok tahu sih?" Tanya Sena.
"Sena kok gak tanya nama Abang sih?" Goda nya.
"Iya... Lupa...." Jawab Sena. "Siapa Bang?"
"Rasya Aditya." Jawabnya.
"Bagus namanya." Puji Sena. "Mudah-mudahan bagus juga sifatnya." Canda Sena.
"Hhmmm.... Sena baik gak orangnya?" Tanya Rasya.
"Kalau Sena sakit, Sena gak kerja dong." Canda Sena.
"Oh ya... Kamu benar. Ternyata Kamu senang bercanda yah." Goda Rasya.
"Biar gak cepet tua, Bang." Kata Sena lagi masih tersenyum.
"Pasti orangnya cantik nih?" Goda Rasya.
"Biasa aja." Kata Sena.
"Masa sih? Suara nya aja merdu." Rasya makin menggoda Sena. "Kalau penyanyi, bagus banget nih suaranya."
"Tapi penyanyi yang suara nya merdu, gak semuanya cantik atau tampan kan?" Kata Sena.
"Kamu benar. Tapi kalau Abang gak melihat wajah Kamu, cantik atau gak, yang penting hati Kamu yang cantik." Kata Rasya.
"Memang Abang bisa melihat hati Sena?" Tanya Sena masih tersenyum.
Rina makin panas. Dia tak tahan mendengar Sena sedang bersenda gurau di telpon dengan laki-laki. Rina langsung meninggalkan ruangan tanpa pamit. Padahal jam istirahat Martha masih setengah jam lagi.
"Hahahahaha..." Sena tertawa. Sena melihat dari layar monitor CCTV Rina menuruni tangga.
"Kenapa Kamu tertawa begitu. Seneng banget." Tanya Rasya.
"Aku senang banget. Rina pergi dengan wajah cemberut. Dia kesel banget kayaknya." Jelas Sena.
Telpon di ruangan Sena berdering. "Bang... Udah dulu yah, lain kali sambung lagi." Pinta Sena.
"Baiklah... Selamat bekerja Sena..." Kata Rasya dan segera memutus sambungan telpon.
Sena bergegas mengangkat telpon. "Dari ruangan Pak Roni." Batin Sena.
"Selamat Siang, Dengan Secwan Sena disini, Ada yang bisa Saya bantu?" Sapa Sena.
"Sena... Kamu sama siapa jaga di lantai 3?" Tanya Pak Roni.
"Tadi sama Kak Martha, Dan. Terus diback up Rina. Tapi Rina nya keluar Dan, gak tahu kemana?" Jelas Sena.
"Oh baiklah. Tapi Kamu gak apa jaga sendiri?" Tanya Pak Roni.
__ADS_1
"Ya Dan gak apa. Masih pada istirahat. Sebentar lagi mungkin baru akan sibuk." Jelas Sena.